
Pagi menjelang menyambut sinar sang surya yang bersinar terang. Dengan garangnya dia menunjukkan kekuasaannya untuk menerangi dunia.
Satria sudah bangun sejak pagi tadi dan menghadap sang
Ilahi, tak lupa dia mengucapkan syukur alhamdulillah karena telah bisa kembali bersatu dengan putri kesayangannya. Biarlah Santika bahagia dengan uang yang telah dia terima, yang terpenting saat ini putrinya aman bersama dengannya. Soal uang itu bisa dicari.
Walau harus berhutang, tak masalah dia kan terus berusaha mengembalikan nya kepada Pak Dewa.
Selesai menjalankan kewajibannya, Satria bangun dan kemudian membangunkan putrinya Natasha.
"Sya...sayang bangun nak," pelan satria membangunkan Natasya.
Perlahan gadis kecil itu membuka matanya. Dia tersentak lebar pada sang ayah, "Ayah" ucapnya lalu duduk dan mengucek matanya.
"Bangun sayang, hari sudah pagi," ucap Satria dengan wajah senyum lebar, senyum itu segera menular pada putrinya.
"Mandi dulu ya, nanti setelah itu kamu sarapan."
"Iya yah,"
__ADS_1
Dengan begitu telaten Satria memandikan putrinya. Selesai mandi, pria itu baru tersadar sesuatu, dia tidak memiliki pakaian ganti untuk Natasya.
Satria mengambil kemejanya dan memakaikannya kepada putri kecilnya, lalu dia berjongkok dan berkata, "sayang disini tidak qdq pakaian kamu, dan ayah akan membelinya. Kamu jangan keluar kamu di sini saja. Ayah akan membeli baju baru untukmu jadi untuk sementara kamu pakai ini ya ."
Gadis kecil itu mengangguk, "iya yah" jawabnya.
"Anak pintar," puji Satria dan mengusap lembut kepala putrinya.
kemudian Satria berjalan keluar kamar dan segera pergi membeli pakaian untuk Natasha denganenggunakan sepeda motor mang Ujang, yang terparkir di garasi. Kendaraan yang biasa dia gunakan saat mengantar istrinya berbelanja ke pasar.
Untung saja tidak jauh dari rumah Pak Dewa ada sebuah minimarket yang menjual pakaian lengkap. Semua tersedia dengan sangat lengkap, mulai dari pakaian anak-anak hingga pakaian orang dewasa. Tak banyak memilih Satria membeli beberapa buah baju untuk putrinya lengkap dengan pakaian dalamnya.
Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan satria segera melajukan sepeda motornya kembali ke rumah, karena hari ini dia juga harus bekerja.
Zaskia sedang berolahraga di samping dan tidak sengaja dia melihat Satria melintas dengan menenteng kantong plastik yang sangat mencurigakan.
"Apa yang dia bawa?" batin Zaskia penasaran. "argh... kenapa aku kepo, itu bukan urusanku," batinnya lagi.
Gadis itu melanjutkan senam nya tapi baru beberapa gerakan dia kembali terpancing oleh rasa penasaran dihatinya, "Apa yang dia bawa? mengapa harus mengendap-endap seperti itu? apa jangan-jangan dia itu seseorang yang di kirim kan oleh musuh Papa? atau dia mata-mata yang berpura-pura polos selama ini.
__ADS_1
Zaskia menghentikan gerakannya dan berjalan masuk ke dalam rumah, gadis itu ingin memastikan apa isi dari kantong plastik milik satria tadi.
Dia berjalan pelan-pelan dia menuju kamar belakang dimana Satria dan putrinya tinggal.
Sayup-sayup dia mendengar suara gadis kecil itu yang berceloteh dengan riangnya, "Ayah, bajunya cantik sekali," ucap Natasya
"kamu suka?"
"Suka, makasih ayah," terdengar lagi suara gadis mungil itu,
jantung Zaskia seperti dipukul palu, dia malu tadinya dia berpikir macam-macam, padahal satria hanya membeli baju untuk putrinya, 'berarti kantong plastik tadi berisi pakaian Tasya," ucapnya dalam hati.
"sayang, dengarkan ayah. Ayah harus bekerja jadi kamu di rumah bersama dengan nenek Asih dan juga kakek Ujang.
Jangan nakal ya, tunggu hingga ayah pulang."
"Iya yah, Tasya akan tunggu ayah. Tapi Ayah nggak akan pergi lagi kan saya akan jemput Tasya kan tentu saja sayang kita tinggal di sini dan Ayah pasti akan kembali nanti sore setelah ayah selesai bekerja,"
Gadis kecil itupun mengangguk, dibalik pintu Zaskia merasa terharu sekaligus penasaran mengapa satria harus membawa putrinya. kemana istrinya?
__ADS_1
Cklek pintu terbuka, Zaskia terlihat gugup, begitu juga dengan Satria yang terlihat kaget.
"Kamu sudah di tunggu Papa," ucap Zaskia lalu berbalik dan berjalan cepat, sambil menetralkan detak jantungnya, "hampir saja ketahuan," batinnya