Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Terpesona


__ADS_3

Usai mengambil makanan yang telah disiapkan asistennya, Zaskia langsung beranjak menuju kamarnya. Selalu saja begitu, kehadiran Satria membuat Zaskia semakin malas saja untuk menemani papanya makan malam di meja makan. Ia lebih memilih menghabiskan makan malamnya di kamar sambil menonton film kesukaannya.


Bukan tanpa alasan Zaskia berbuat seperti itu, tetapi pembawaannya yang cuek dan juteklah yang membuat ia bersikap seperti itu, terhadap laki-laki kecuali papanya.


Sempat terbersit rasa bersalah di hatinya saat terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Satria, tetapi perasaan itu segera ditepis oleh gadis itu.


Selama ini Satria pun diam saja saat dihina oleh anak majikannya itu. Baginya dihina sudah hal biasa, bahkan menjadi makanan sehari-hari. Namun, Satria hanya sedikit heran saja, kenapa gadis cantik itu terlihat membencinya. Padahal Satria merasa tidak pernah melakukan kesalahan.


“Zas, kamu udah tidur, Nak?” tanya Pak Dewa dari luar kamar Zaskia yang tengah tertutup pintu.


“Belum, Pa!” jawab Zaskia setelah membukakan pintu untuk papanya.


Zaskia merasa heran, kenapa papanya datang malam-malam ke kamarnya. Biasanya jika ada hal penting, pasti Zaskia lah yang dipanggil untuk mendatangi papanya.


“Kenapa, Pa?” tanya Zaskia saat ia masuk ke kamarnya dan diikuti papanya dari belakang.


Pak Dewa mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang berada tak jauh dari ranjang Zaskia.


Pak Dewa tampak memandangi bagian demi bagian dari kamar berwarna putih itu. Beberapa hiasan semakin mempercantik kamar yang tampak sederhana tapi elegan itu. Zaskia memang menyukai hal yang netral dibanding sesuatu yang mencolok seperti yang disukai kebanyakan perempuan.


Kebanyakan teman perempuan Zaskia lebih menyukai hal-hal yang berwarna pink, ungu, atau pun warna-warna mencolok khas perempuan lainnya. Namun, itu tidak berlaku bagi seorang Zaskia.


“Kamu kenapa seperti tidak suka dengan kehadiran Satria, Zas? Apa dia membuatmu tidak nyaman? Atau dia mengganggumu?”


Akhirnya pertanyaan itu keluar dari Pak Dewa. Ia tak tahan untuk tidak menanyakan terkait sikap jutek Zaskia pada Satria, sebab ia pun tidak ingin membuat anaknya tidak nyaman dengan kehadiran seseorang, apalagi itu laki-laki.


“Zaskia gapapa, Pa. Papa tau kan gimana aku, males aja ladenin cowok, nanti kalo dibaikin malah ngelunjak, bahkan sampe jatuh cinta. Papa kayak gak tau aja gimana pesona anak papa ini,” ucap Zaskia dengan becanda.

__ADS_1


“Halah kamu ini, papa bicara serius kamu malah becanda. Tapi serius kan kalo kamu gam ada masalah khusus sama Satria? Dia gak pernah ganggu kamu juga kan?” tanya Pak Dewa memastikan.


“Enggak, Pa,” jawab Zaskia dengan jujur.


Karena sebenarnya Satria memang tidak pernah menganggunya apalagi melakukan sesuatu yang tidak ia suka. Ia pun heran sendiri dengan sikapnya yang tidak suka dengan Satria tanpa alasan. Padahal berdasarkan cerita asisten rumah tangga mereka, Satria sangat ramah dan juga alim.


Jangan salah sangka, Zaskia tidak menanyakan terkait Satria pada asisten rumah tangga. Hanya saja asisten rumah tangganya itu yang acap kali bercerita bahwa ia sering dibantu oleh Satria dan ia pun sering mendengar Satria sedang melantunkan ayat suci Al-Qur’an.


“Kalo emang dia gak pernah berbuat salah sama kamu, jangan terlalu bersikap seperti itu.


Kalaupun kamu ingin menjaga jarak dengan lawan jenis, tidak seperti itu caranya. Nanti takutnya dia merasa salah sendiri karena sikap kamu yang selalu tidak suka dengan kehadirannya,” tegur Pak Dewa pada anaknya itu.


“Iya, Pa. Aku usahain,” jawab Zaskia.


“Baiklah, memang tidak seharusnya aku bersikap begitu padanya,” batin Zaskia.


“Yaudah, sekarang udah malem, istirahat lagi. Jangan begadang. Papa juga mau istirahat dulu,” ucap Pak Dewa.


Pak Dewa pun keluar dari kamar putrinya itu dan Zaskia pun memilih membersihkan diri ke kamar mandi. Ia sudah selesai melaksanakan kewajiban salat isya tadi, sehingga ia langsung tidur untuk mengistirahatkan diri.


Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, Zaskia terbangun dari tidurnya karena merasakan haus dan serak pada tenggorokannya. Namun, ternyata air minum di kamarnya habis.


Dengan langkah gontai karena kantuk yang menyerang, Zaskia menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil air minum.


Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an di bagian belakang yang tak jauh dari dapur. Dengan mata yang sulit diajak bekerja sama, Zaskia berusaha menajamkan pendengarannya terhadap suara yang Zaskia tebak berasal dari kamar yang berada di dekat dapur.


Setelah mengambil minum untuk dibawa ke kamar, Zaskia melangkahkan kakinya menuju sumber suara tersebut. Kebetulan kamar itu tidak tertutup rapat, hingga Zaskia bisa mempunyai celah untuk mengintip sedikit.

__ADS_1


“Ah, ternyata Satria itu. Adem juga liat dia pake peci sama sarung gitu,” ucap Zaskia dalam hati yang terlihat mengagumi penampilan Satria menggunakan sarung dan peci.


Zaskia bisa menebak bahwa Satria baru saja melaksanakan ibadah malam. Selama Satria tinggal di rumahnya, baru kali ini Zaskia mendengar suara asli Satria yang tengah mengaji. Biasanya hanya mendengar pujian dan cerita-cerita dari asisten rumah tangganya itu.


Deg!


Belum sempat Zaskia berbalik menuju kamarnya, suara seseorang mengagetkannya.


“Sudah puas menatap saya, Nona?” tanya Satria yang menghentikan kegiatannya karena sedari tadi ia merasa ada yang memperhatikannya. Benar saja, ternyata itu anak majikannya.


“Astaghfirullah. Kenapa bisa-bisanya perhatiin dia segitu intensnya. Kan dia jadi besar kepala,” omel Zaskia pada dirinya sendiri.


Namun, sayangnya itu hanya berani dikatakan Zaskia dalam hati saja. Mana berani Zaskia, apalagi perempuan itu baru saja tertangkap basah sedang memperhatikan Satria.


“Kenapa diam?” tanya Satria lagi. Kali ini pria itu sudah berdiri dan merapikan peralatan ibadahnya tadi. Ia berjalan mendekat ke arah Zaskia masih menggunakan sarung dan pecinya.


“Aku tidak sengaja mendengar suaramu. Aku kira siapa, makanya aku cek ke sumber suara,” ucap Zaskia menjelaskan, meskipun sedikit terbata-bata karena gugup.


Ia gugup karena jaraknya begitu dekat dengan Satria ditambah lagi ia baru saja tertangkap basah memperhatikan pria itu.


Zaskia yang biasanya jutek dan tak jarang menolak laki-laki yang menyukainya dibuat mati kutu oleh Satria.


Ya, memang Zaskia seringkali menolak laki-laki yang menyatakan cinta padanya, bahkan berniat meminangnya.


Namun, sikap jutek Zaskia perlahan membuat laki-laki yang mengaguminya mundur, hanya seorang pria bernama Ahmad-lah yang tak putus asa mendekatinya, tetapi tetap saja ditolak oleh Zaskia.


“Kalau begitu, maafkan aku, Nona. Karena suaraku mengganggumu, aku pikir semua orang di rumah ini sudah tidur,” ucap Satria.

__ADS_1


“Ah iya, tidak apa-apa. Sama sekali tidak terganggu. Jika begitu, saya kembali ke kamar dulu,” ucap Zaskia dengan membawa botol minum yang sudah diisi air.


“Tumben sekali dia tidak jutek,” batin Satria dalam hati


__ADS_2