
Satria sempat tertegun melihat nona Zaskia berada di depan pintu kamarnya. Tarikan ditangan kanannya, membuat dia kembali ke dunia nyata.
"Ayah, Tante itu marah sama ayah?" tanyanya dengan ragu, wajahnya juga terlihat ketakutan.
Satria menatap putrinya yang bersembunyi dibelakang tubuhnya lalu dia berjongkok didepan Natasya.
"Tidak sayang,.Tante itu tidak marah. Tante itu lagi manggil ayah, karena ayah sudah di tunggu dan ayah harus bekerja."
"Tapi yah, Tante itu.."
"Shut! sayang enggak boleh bilang gitu, ingat selama kamu di rumah. Jangan lupa pesan Ayah ya, untuk tidak berkeliaran sembarangan. jangan mengganggu nek Asih dan juga jangan memegang benda apapun sembarangan, paham kan!"
Gadis kecil itu menganguk, "paham ayah, tapi ayah, apa Tante itu juga ada di rumah?" tanya bocah kecil itu dengan sorot mata takut.
"Sayang Ini rumahnya tante itu, dan kita menumpang di sini, tentu saja Tante itu ada di rumah."
"Aku takut yah," ucap Natasha lagi
"Tidak sayang, Tante itu baik hanya saja kamu belum mengenalnya."
"Benarkah? apa Tante itu nggak seperti Mama!" tanya gadis kecil itu lagi
Satria menarik napas berat, putrinya yang masih kecil telah banyak mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan bahkan meninggalkan trauma yang cukup dalam di hatinya, sampai sampai dia takut bertemu orang asing dewasa seperti ibunya.
"Yuk, nanti ayah kenalkan dengan nek Asih," satria menggendong putrinya menuju dapur.
__ADS_1
"Bik, saya titip Natasya ya, tolong jangan memarahinya, daya janji saya akan segera mencari baby sitter untuk menjaganya agar tidak lagi merepet Bibik."
"Ya Allah, nak satria. Kamu kayak sama siapa aja. Bibik mau kok jagain neng geulis. Sayang kamu sama nenek ya, ayahmu harus kerja cari uang yang banyak untuk kamu." ucapnya pada Natasya.
"Iya nek,"
"Gadis pintar, salam sama ayah."
"Hati-hati yah,"
"Bik, titip Natasya dan tadi dia belum sarapan."
"Beres, kamu tenang aja, biar Natasya sama bibik." sahut Bik Asih.
Wanita tua itu merasa kasihan dan prihatin dengan nasib Satria. Dia begitu terharu melihat Satria yang mau berjuang untuk mendapatkan anaknya kembali.
"Selamat pagi, Pak. Maaf membuat anda menunggu." ucap satria pada Pak Dewa.
"Pagi, tidak masalah saya juga tidak terburu-buru. Oh ya mana putrimu?"
"Dibelakang sama Bik Asih, dan maaf untuk sementara saya titipkan pada Bik Asih sebelum saya mendapat kan perawat yang akan menjaganya." ucap Satria
"Perawat?"
"Iya, maaf pak. Mungkin setelah saya mendapatkan perawat untuk Natasya saya akan keluar dari rumah ini, saya akan mengontrak."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Saya tidak ingin merepotkan bapak dan juga non Zaskia, saya takut kehadiran putri saya mengganggu ketenangan rumah ini, tapi saya janji Pak, saya tetap akan berkerja tetap waktu dan saya pastikan saya kan menyicil hutang saya."
"Apa kau yakin?"
"Iya, saya yakin Pak."
"Baiklah terserah padamu, tapi saya tidak pernah keberatan jika putri mu ikut tinggal disini." ucap Pak Dewa.
Kemudian pria paruh baya itu menghabiskan sarapannya dan mereka berangkat bekerja. Di depan pak Dewa melihat putrinya yang sedang berolahraga.
"Zaskia,"" panggilnya, gadis itu menoleh. lalu berjalan mendekat karena memang jaraknya tidak begitu jauh.
"Papa berangkat ya,"
"Hati-hati Pa." ucapnya mencium tangan pak Dewa, yang merupakan kebiasaannya sejak dulu.
Zaskia menatap kepergian papanya dengan Satria. Muncul pertanyaan di hatinya, dimana Natasya? apa benar pria itu mengurung nya di kamar? seharian lagi, kasihan sekali anak itu," batinnya.
Zaskia masuk kedalam rumah dan memakan sarapannya, lalu dia berjalan menuju kamarnya. Mandi dan bersiap ke butik. Hari ini dia akan mengunjungi butiknya, usaha sampingan yang hanya di kunjungi sekali dalam sebulan untuk mengecek laporan keuangan nya.
Setelah berdandan rapi, dia turun ke bawah. Gadis itu terlihat sangat cantik dan modis, meskipun dia berhijab tapi gadis itu mampu menyesuaikan hijabnya dengan trend saat ini tak lupa dengan kaidah-kaidah dalam berbusana muslimah.
Dia terus berjalan menuju garasi tanpa sengaja ekor matanya melihat bayangan Natasya yang tengah duduk bermain boneka lusuh miliknya.
__ADS_1
Perasaan penasaran itu kembali hadir, dia mendekat. Menyadari seseorang tengah memperhatikan nya membuat Natasya mendongak, gadis itu berubah pucat melihat wanita itu berdiri tegak tak jauh darinya.
"Maaf Tante," ucapnya terbata.