Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
100 juta


__ADS_3

Malam hari ini, Satria tidak tenang. Bahkan untuk tidur pun, kedua mata Satria enggan terpejam.


Dalam pikirannya penuh oleh satu nama, siapa lagi kalau bukan Natasya. Putri kecilnya yang sekarang tinggal bersama Santika, namun mendapat perlakuan buruk dari mantan istrinya.


Satria frustrasi memikirkan kondisi Natasya. Ada banyak sekali pertanyaan dalam benaknya mengenai putrinya. Seperti pertanyaan tentang apakah Natasya sekarang sudah makan atau belum, Natasya bisa tidur nyenyak atau tidak, apakah putrinya itu menangis dan masih banyak lagi pertanyaan dalam hati Satria.


Satria melihat jam di ponselnya, tak berselang lama Satria segera mengambil dompet, jaket, tas dan ponselnya. Satria akan pulang ke kampung malam ini juga. Satria tidak tenang memikirkan nasib Natasya.


Kebetulan besok hari minggu, jadi Satria tidak perlu izin ke kantor buat pulang.


Satria naik ojek untuk sampai ke terminal. Untungnya, masih ada bus malam untuk keberangkatan jam satu pagi nanti. Satria menunggu di terminal sekitar dua jam lamanya sampai akhirnya dia diangkut bersama bus menuju kampung halamannya.


Kepulangan Satria kali ini, dia akan langsung menuju rumah Bu Marni ketimbang ke rumah orang tuanya sendiri.


Setelah lima jam perjalanan, Satria sampai di kampung halamannya. Sebelum ke rumah Bu Marni, Satria menyempatkan diri buat salat subuh terlebih dulu di masjid terdekat. Dia pergi ke rumah Bu Marni memakai jasa ojek.


Sampailah Satria ke depan rumah mantan ibu mertuanya. Kondisinya masih pagi dan pintu rumah Bu Marni juga masih tertutup rapat.


Satria mengetuk pintu rumah Bu Marni beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Santika.


Berulang kali Satria mengetuknya tapi masih belum juga dibukakan oleh sang pemilik rumah. Hingga tak lama, Santika yang membukakan pintu buat Satria.


Santika sedikit kaget ketika melihat mantan suaminya berdiri di depannya, "Kamu lupa kalau kita sudah bercerai, Mas? Buat apa lagi kamu pulang ke sini?" tanya Santika tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.

__ADS_1


"Aku ke sini untuk melihat kondisi Natasya," jawab Satria. "Di mana Natasya? Aku ingin menemuinya." Satria mencoba masuk tapi ditahan oleh Santika. Satria tidak mau berbuat kasar, sehingga dia pun memilih mundur.


"Mending kamu pergi sekarang juga dari sini, Mas. Aku nggak mau kamu ketemu sama Natasya." Santika mengusir Satria dari rumah.


Satria menarik napasnya dalam-dalam, dia masih berusaha sabar menghadapi Santika yang menurutnya keterlaluan. Satria menatap tajam ke arah Santika, "Kenapa aku tidak boleh ketemu Natasya? Dia juga anakku, dan aku berhak ketemu sama dia." Satria terus saja memaksa supaya Santika memperbolehkan dirinya masuk.


"Kalau aku bilang nggak boleh ya nggak boleh. Kamu jangan ngeyel," sentak Santika.


"Apa jangan-jangan, alasan aku nggak boleh ketemu sama Natasya itu karena kamu nggak mau aku tahu bahwa Natasya nggak keurus di rumah ini?" Tadinya Satria tidak mau mengatakan hal ini, tapi dia juga sudah tidak bisa membendung kekesalannya lagi kepada Santika yang menurutnya sangat keterlaluan.


Santika terlihat kaget, kedua matanya melebar. Santika tidak tahu, kenapa Satria bisa mengetahui bahwa Natasya tidak terurus olehnya. Santika jadi menebak-nebak, siapakah yang sudah berani memberi tahu Satria.


Satria melihat-lihat ke dalam dari sela-sela tubuh Santika, dia melihat Natasya tidur di sofa ruang keluarga tanpa selimut. Kedua mata Satria melebar sempurna. Dia dorong tubuh Santika hingga perempuan itu bergeser dan Satria bisa masuk ke dalam rumah. Satria mengusap wajah Natasya, dia menangis melihat kondisi putrinya yang sangat memprihatinkan.


Santika tidak tinggal diam, dia tarik tangan Satria namun kali ini Santika kalah. Tenaga Satria lebih kuat dari tenaganya.


"Aku kangen Ayah," ucap Natasya dalam pelukan Satria.


"Ayah juga kangen banget sama kamu, Nak. Kangen banget, banget malah." Satria memeluk erat-erat putri kecilnya, dia ciumi wajah Natasya dan dia usap-usap kepala putrinya. Rasa rindu yang selama ini menggebu-gebu, tercurah sudah. Sayangnya, Satria harus menahan sakit ketika melihat putrinya begitu kurus dan tidak terurus.


Santika lagi-lagi menarik paksa Satria sampai pelukan Satria dan Natasya lepas.


Natasya menangis karena dipisahkan dari ayahnya. Martin yang mendengar keributan dari dalam kamar, dia segera keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Ini ada apaan sih ribut-ribut? Masih pagi nih!" Martin membanting pintu kamar Santika keras-keras hingga menimbulkan bunyi yang mengagetkan seisi rumah.


Martin pun sama kagetnya saat melihat ada Satria di dalam rumah. "Kamu ngapain di sini? Kamu lupa, kamu itu sudah bukan lagi suaminya Santika!" sentak Martin kepada Satria.


"Aku ke sini bukan untuk menemui Santika, tapi aku ingin menjemput Natasya!" Satria pun tak kalah membentak Martin.


Martin tersenyum sinis, "Sudah berani kamu membentak aku! Dasar, manusia rendahan!" ejek Martin kepada Satria.


Satria tidak peduli kalau dirinya diejek atau direndahkan oleh Martin, yang Satria pedulikan sekarang hanyalah mencari cara supaya dia bisa membawa Natasya keluar dari rumah Bu Marni.


"Aku ingin mengambil hak asuh Natasya. Bagaimanapun caranya, aku akan membawa Natasya keluar dari sini!"


Martin maju, dia mendekati Satria dengan wajah bantalnya. Santika pun juga tidak tahu apa yang akan Martin lakukan.


"Silakan kamu ambil anakmu, tapi kamu harus kasih uang ke kami sebanyak 100 juta. Kalau kamu bisa membawa uang sebanyak itu, maka kamu boleh membawa Natasya." Martin memberikan syarat kepada Satria.


"Iya, kamu bawa uang 100 juta ke sini dulu, baru nanti aku akan kasih Natasya ke kamu," sambung Santika yang malah ikut-ikutan idenya Martin.


Satria tidak habis pikir kepada Martin dan Santika yang tega melakukan itu kepadanya, "Kamu tega menjual anakmu sendiri, San?" Pandangan Satria sekarang tertuju kepada mantan istrinya.


"Kamu ini Ibunya, terus kamu tega ngomong begitu? Kamu nggak ingat, saat kamu mengandung dan melahirkannya dulu?" Satria menggeleng-gelengkan kepalanya tak dapat memahami isi pikiran Santika.


"Halah, dulu 'kan kamu yang kepengen punya anak, Mas. Bukan aku. Masih syukur aku mau melahirkannya, bukan aku gugurkan," balas Santika.

__ADS_1


"Astagfirullah, San. Tega kamu sama anak kamu sendiri."


"Halah, sudah lah. Jangan sok alim kamu di sini. Kalau kamu mau membawa Natasya, kamu harus bawa uang 100 juta. Kalau kamu nggak bawa uang, jangan harap kamu bisa membawa Natasya dari sini!" Martin langsung menarik tangan Satria dan dia dorong Satria ke luar rumah. Pintu rumahnya pun langsung Martin tutup supaya Satria tidak bisa masuk lagi. Sementara Natasya, dia menangis karena dipisahkan oleh ayahnya lagi.


__ADS_2