Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Pergi dengan Satria


__ADS_3

"Kau menceramahi saya?" tanya Zaskia menggelengkan kepalanya.


"mana saya berani nona, saya hanya mengingatkan saja, jika Janti adalah hutang dan hutang harus dibayar." ucap Satria panjang lebar.


"Terserah," sahut Zaskia pelan.


Mobil mereka terus melaju, di persimpangan lampu merah tak sengaja mata Satria melihat seorang perempuan berbaju merah yang sangat mirip dengan istrinya, wajahnya pias, dia terkejut.


Bunyi klakson mobil yang ada dibelakang membuat Satria melajukan mobilnya dan tak bisa lagi melihat sosok itu, bisa jadi dia benar adalah Santika, mantan istrinya.


Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satupun yang coba untuk bicara. Zaskia merasa tersinggung dengan ucapan satria tadi, dan Satria tengah memikirkan mantan istrinya.


"Apa yang dilakukan Santika disini? apa dia mencari Natasya? bukankah dia sudah menerima uangnya?' batin pria itu bingung.


Sesampainya di kantor, Satria tak langsung balik ke ruangan nya, dua berjalan menuju kamar mandi yang ada di lobi dan secara tidak sengaja dia mendengar perbincangan dua orang pria yang tidak bisa dia lihat wajahnya. karena tempat yang berbeda.


"lihat kan tadi Zaskia pergi dengan si anak batu itu?".


"Iya, pakai pelet apa ya dia, kok bisa bos dan anaknya dekat dan akrab dengannya"


"Kamu benar, malah yang aku dengar dia juga tinggal di rumah itu,"


"Hebat ya??" ucap pria yang satunya lagi


"Mau donk resepnya, hahahhaha..."


Satria tak lagi mendengar kan ucapan mereka dia keluar dan masuk kembali ke ruangannya.


Sayangnya kata-kata mereka masih terngiang, ada benarnya apa yang mereka ucapkan, dirinya memang orang baru dan langsung bisa naik ke posisinya saat ini, manager sekaligus asisten pribadi bos besar.


"Hai Sat, kok aku perhatikan sejak tadi kamu melamun" tegur temannya siapa lagi kalau bukan Toni, teman pertama dan sampai sekarang yang bersikap tulus padanya.


"Mikirin siapa? putrimu atau ibunya?" goda Toni


"Eh kamu ton, enggak aku cuma lagi kepikiran sama nasibku,,"


"loh kenapa? bukankah sekarang nasibmu baik, kamu nggak perlu lagi sudah payah, sekarang malah naik turun mobil."

__ADS_1


"Tapi Ton?"


"Apalagi, putrimu sudah bersama mu kan?"


"Nah itu masalahnya, aku mau cari kontrakan yang bisa aku tempati bersama putriku tapi aku bingung jika aku bekerja, pada siapa aku menitipkan nya?"


"benar juga, jadi sekarang dimana dia?"


"Sama Bik asih, tapi kan enggak mungkin aku membebani mereka, pekerjaan nya sendiri cukup banyak,"


"sewa pembantu? atau pengasuh?"


"entahlah, aku takut putriku tidak mau, dia trauma karena ibunya sendiri menerlantarkan dia."


"eh, aku cabut tugasku masih banyak," ucap Toni berlalu dari ruangan satria.


Pukul delapan malam, Satria dan pak Dewa baru tiba dirumah. Natasya duduk menunggunya di dalam kamar.


"Assalamualaikum," sapa Satria


"Waalaikum salam, ayah!" ucap bocah kecil itu kegirangan, dan berlari menyambut ayahnya pulang.


"Iya, tadi mandi sama nenek,"


"Udah makan?" bocah kecil itu menggeleng, "mau makan sana ayah"


Satria tertegun, putrinya me agan lapar hanya demi menunggunya pulang.


"Yuk kita makan, ayah juga sudah sangat lapar," sahut satria, sebisa mungkin dia menahan airmatanya yang hampir saja terjatuh.


"Satria..." panggil pak Dewa, satria yang tengah menggendong putrinya pun berbalik, "Ya pak "


"Kamu belum makan kan? yuk sekalian." ajak bosnya yang baik hati itu.


"Maaf pak, saya makan di belakang saja, sekalian mau menyuapi Natasya," tolak satria dengan sopan.


"Ya sudah,'

__ADS_1


"Say ke belakang duku pak, permisi." lagi satria berpamitan sebelum akhirnya menghilang di balik tembok.


"Pa..." tegur Zaskia


"Hemm..." sahut pak Dewa menoleh pada putrinya yang kelihatan cemberut.


"Ngapain sih papa ngajak satria makan bareng kita, dia itu enggak ,-"


"Kia, Papa tidak mengajarkan kamu seperti itu, dengar nak, semua manusia itu sama di hadapan allah SWT."


"Tapi Pa"


"Papa justru salut dengan nya, mana ada pria yang mau mengurus anaknya Setelah bercerai dengan istrinya, biasanya para pria malah sesegera mungkin mencari pasangan baru " lanjut pak Dewa


Zaskia tertegun, di dalam hatinya dia juga sempat berpikir seperti itu.


"Papa juga pria baik, buktinya Papa tidak menikah lagi setelah Mama tiada,"


"Inilah beda, sayang."


"Sama aja Pa."


"Oh ya Pa, Dandi ngajak makan malam"


"Untuk apa?"


"Awalnya aku juga nolak, tapi dia bilang sebagai perayaan kerjasama dengan perusahaan dia,"


"Kamu perginya sama Satria."


"Kok?"


"Papa takut terjadi hal yang tidak diinginkan, jadi biar aman kamu pergi dengannya."


"Aku pergi dengan mang Ujang aja, Pa"


"Tidak, pergi dengan Satria, itu keputusan Papa."

__ADS_1


Zaskia hanya bisa merengut mendengar keputusan papanya.


__ADS_2