Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Menemani Zaskia


__ADS_3

Sementara kehidupan Santika dan keluarganya di kampung sedang hancur berantakan. Berbeda dengan kehidupan Satria di kota.


Satria masih bekerja di tempat yang sama, tidak ada yang berubah sama sekali mengenai Satria selain tentang perubahannya yang semakin dipercaya oleh atasannya.


Tak jarang, sekarang melihat Satria menemani Pak Dewa makan siang atas permintaan atasannya itu.


Kadang Pak Dewa memanggil Satria ke ruangannya hanya untuk meminta waktunya saat makan siang buat pergi bersamanya.


Satria melakukan itu tentu saja karena dia tidak mau mengecewakan Pak Dewa yang sudah memberinya pekerjaan yang nyaman. Setiap yang diminta Pak Dewa, Satria sulit menolak. Mungkin karyawan lain mengira kalau Satria hanya ingin memanfaatkan Pak Dewa saja, tapi Satria tidak peduli tentang apa kata orang lain.


"Pak, dipanggil sama Pak Dewa. Bapak diminta ke ruangannya," ucap sekretaris Satria.


"Oh ya, makasih," balas Satria. Dia bergegas ke ruangan Pak Dewa untuk menemui atasannya. Satria mengira kalau Pak Dewa akan mengajaknya makan siang lagi nanti.


Seperti biasa, Satria akan dibukakan pintu oleh sekretaris Pak Dewa. Dia masuk ke dalam ruangan dan Satria sudah percaya diri kalau Pak Dewa mungkin saja mengajaknya makan siang, tapi Satria tetap tidak mengatakannya karena tidak enak.


"Bapak memanggil saya?" tanya Satria berbasa-basi.


Pak Dewa tersenyum, dia beranjak dari kursi kerjanya dan mendekati Satria.


Pak Dewa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Beliau melakukan itu karena Pak Dewa sebenarnya merasa kurang enak untuk mengatakan niatnya kepada Satria.


Satria masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Pak Dewa. Sekarang Satria yakin kalau Pak Dewa memanggilnya bukan hanya sekadar mengenai makan siang belaka, tapi ada perlu lain. Biasanya Pak Dewa tidak akan sebimbang ini kalau hanya mengajaknya makan siang bersama.


"Saya boleh minta tolong sama kamu?" tanya Pak Dewa sebelum dia mengatakan niatnya.


"Boleh, Pak," jawab Satria tanpa bertanya.


"Saya minta tolong, besok kamu antarkan anak saya ke Bandung untuk acara peresmian kantor cabang baru di sana.

__ADS_1


Kamu bisa 'kan?" tanya Pak Dewa hati-hati, karena takutnya kalau Satria mengantarkan Zaskia nanti akan ada yang marah dari pihak Satria.


Satria mengingat-ingat tentang anaknya Pak Dewa, Satria seketika teringat pada perempuan yang dikenalkan kepadanya beberapa hari lalu. Sebenarnya Satria sedikit tidak enak kalau harus mengantarkan Zaskia, tapi lagi-lagi Satria tidak bisa menolak.


"Tapi saya tidak ada kendaraan untuk dipakai mengantar putri Bapak," jawab Satria mencoba menolak secara halus dengan memberikan alasan.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu, nanti akan saya kasih pinjam mobil di rumah.


Soalnya sopir yang bekerja sedang pulang kampung karena keluarganya sakit, dan saya sedikit khawatir kalau membiarkan Zaskia menyetir sendiri. Minggu lalu dia baru saja menabrak orang, jadi saya takut ada apa-apa di jalan," jelas Pak Dewa.


Satria sebenarnya punya SIM A untuk menyetir mobil, tapi dia masih berpikir apakah dia akan mengantarkan Zaskia atau tidak. Lama Satria memikirkan hal itu, hingga akhirnya dia mengiyakan saja. Satria merasa kasihan kepada Pak Dewa.


"Boleh, Pak." Satria tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Pak Dewa tenang mendengar ini, jadi dia tidak perlu khawatir lagi mengenai keselamatan Zaskia.


"Terima kasih, saya jadi tenang sekarang." ucap pak Dewa


Zaskia tampak kesal karena dia harus pergi ke Bandung bersama Satria. Zaskia bahkan sudah berulang kali mengatakan kepada Pak Dewa kalau dia menyetir sendiri tapi Pak Dewa tetap tidak mengizinkan Zaskia. Hingga akhirnya, mau tak mau Zaskia pun menurut saja.


Satria sudah pamit kepada Pak Dewa, dia masuk ke mobil bagian kemudi. Sementara Zaskia, dia enggan duduk bersisian dengan Satria. Zaskia lebih memilih duduk di jok tengah. Zaskia menganggap Satria sebagai sopirnya hari ini.


Mobil sudah melaju membelah jalanan, tidak ada percakapan antara Satria dan Zaskia. Terlebih lagi Zaskia selalu fokus ke arah ponselnya. Dia sering tertawa-tawa sendiri dan seolah-olah menganggap Satria benar-benar tidak ada di sana.


"Mbak Zaskia nonton apa? Kok asik banget?" tanya Satria kepada Zaskia, berusaha akrab dengan putri atasannya.


Di belakang, Zaskia menatap tak suka kepada Satria, "Apaan sih? Sok kenal banget jadi orang. Tugas kamu itu cuma nyetirin aku, nggak usah banyak tanya. Bukan urusan kamu juga," balas Zaskia sambil membenahi hijabnya yang sedikit maju. "Dan satu lagi, jangan panggil aku 'Mbak'. Memangnya aku Mbak-Mbak warteg apa!" dengus Zaskia tidak suka dipanggil Mbak oleh Satria.


Satria benar-benar diam, dia tidak akan lagi bertanya apa pun kepada Zaskia.


Sekarang, Satria membiarkan Zaskia melakukan apa yang dia suka. Lagi pula yang dibilang Zaskia tidak salah. Dia hanya ditugaskan untuk mengantar Zaskia, tidak lebih.

__ADS_1


Namun satu yang membuat Satria salut kepada Zaskia, meskipun Zaskia sombong tapi perempuan itu mau menutup auratnya dari atas hingga bawah.


Sampailah mobil yang dikendarai Satria di kantor cabang yang dibuka di Bandung. Zaskia masuk sendirian tanpa menghiraukan Satria yang masih mencari parkiran.


Perempuan itu pun tak segan buat menyalami beberapa kolega papanya yang datang. Sebagian dari mereka juga memberi selamat kepada Zaskia.


Satria menyusul Zaskia masuk ke dalam gedung. Sekarang Satria sudah melihat kalau Zaskia telah berdiri di atas panggung dan bersiap untuk memotong pita peresmian pembukaan kantor cabang.


Pita telah dipotong, konfeti yang sudah disiapkan oleh panitia pun sudah beterbangan di udara.


Semuanya bertepuk tangan dan turut berbahagia. Ucapan selamat satu persatu didapatkan oleh Zaskia.


Begitu pula dengan Satria yang juga bertepuk tangan dari tempatnya berdiri.


Waktu terus berjalan, Zaskia menjamu tamunya dengan sangat baik. Dia menawarkan makanan kepada semuanya, mendatangi tamunya satu persatu hingga tak terasa adzan dzuhur sudah berkumandang. Sekarang Satria melihat Zaskia mendatanginya.


"Aku mau ke masjid sebentar, kamu di sini saja," kata Zaskia berbisik kepada Satria.


"Ini siapa, Zas? Kenapa nggak dikenalin sama kita kalau kamu datang bareng temen cowokmu?" tanya salah satu teman Zaskia yang juga menjadi kolega Pak Dewa.


Zaskia menoleh ke arah Satria sebentar lalu kembali fokus ke arah temannya, "Oh dia? Bukan siapa-siapa, cuma karyawannya Papa di kantor yang hari ini disuruh jadi supirku saja," jawab Zaskia seadanya.


Beberapa kolega Pak Dewa tadi mengangguk sopan kepada Satria dan juga mengajaknya bersalaman. Sementara Zaskia, dia melanjutkan niatnya yang ingin ke masjid buat salat dzuhur di sana.


Zaskia juga tidak lagi menghiraukan Satria bersama teman-temannya.


Sedangkan Satria, dia terjebak di antara teman-temannya Zaskia. Padahal dia juga ingin ke masjid untuk melaksanakan ibadah salat dzuhur berjamaah.


Namun dia merasa tidak enak kalau harus pamit ke masjid juga seperti yang dilakukan Zaskia.

__ADS_1


__ADS_2