Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Hak atas Natasya


__ADS_3

Beberapa tetangga dekat rumah Bu Marni melihat kasihan kepada Natasya yang sering sekali mendapat perlakuan kasar dari Santika dan Martin.


Mereka akhirnya sepakat untuk melaporkan semua yang mereka lihat kepada Satria.


Ada yang mendatangi rumah orang tua Satria tapi orang tuanya bilang bahwa Satria tidak di rumah dan berada di kota.


Untungnya orang tua Satria mau memberikan nomor ponselnya Satria kepada kepala desa tempat Santika tinggal. Menurut kepala desa serta warga, perlakukan Martin dan Santika itu sudah sangat keterlaluan.


Mereka sering mendengar Natasya dimarahi habis-habisan oleh sepasang suami istri yang baru menikah beberapa bulan itu.


Kepala desa tadi memang sengaja tidak memberi tahu orang tua Satria mengenai apa yang terjadi kepada Natasya, itu karena kepala desa tidak mau membuat orang tua Satria mengkhawatirkan kondisi cucunya.


"Jadi ini sepakat untuk memberi tahu Mas Satria, Pak?" tanya salah satu warga yang berkumpul di rumah kepala desa.


"Kita harus memberi tahu Mas Satria, soalnya kasihan anaknya kalau terus-terusan tinggal sama Ibu sama Ayah tirinya." Kepala desa mengiyakan dan dia mulai menekan nomor ponselnya Satria.


Di ruang kerjanya, Satria masih sibuk mengerjakan beberapa berkas dari Pak Dewa. Ada sekretarisnya juga di dalam ruangannya yang ikut berdiskusi dengan Satria.


Ketika Satria sedang fokus mengerjakan beberapa laporan tentang pemasukan dan pengeluaran bulan ini, tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara ponselnya yang berdering.


Kening Satria mengerut, dia tidak tahu itu nomornya siapa karena itu nomor baru.


Namun Satria memilih menerimanya, karena siapa tahu Santika membelikan ponsel untuk Natasya buat bisa berkomunikasi sendiri dengannya.


"Hallo, assalamualaikum." Satria mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, ini dengan Mas Satria mantan suaminya Mbak Santika apa bukan ya?" Sebuah suara berat dari seberang membuat Satria kembali mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Iya, benar. Ini dengan saya, Satria," jawab Satria. "Maaf, ini dengan siapa?" tanya Satria.


"Ini dengan saya, kepala desa di kampung, Mas. Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan mengenai Natasya." Kepala desa tadi segera mengucapkan maksud dan tujuannya menelepon Satria.


Mendengar kepala desa tadi mengucapkan nama Natasya, hal itu membuat Satria menatap ke arah sekretarisnya dan memberi isyarat agar dia keluar dari ruangannya dulu.


Sekretaris Satria tadi mengangguk dan mengiyakan apa kata Satria. Kini tersisa Satria sendiri di dalam ruangannya.


"Kenapa dengan Natasya ya, Pak?" tanya Satria. Dalam hatinya sudah was-was, dia takut mendengar kabar buruk mengenai Natasya, karena yang meneleponnya seorang kepala desa. Bukan Santika sendiri.


"Begini, Mas. Beberapa warga sudah sering melihat kalau Mbak Santi dan suami barunya itu sering memarahi Natasya. Mereka bahkan tak segan-segan membentak putrinya Mas Satria sampai Natasya menangis.


Sebagian warga juga sudah menegur Mbak Santi, tapi Mbak Santi malah memarahi warga balik karena bilangnya Natasya itu anaknya, jadi terserah Mbak Santi untuk mendidik Natasya mau bagaimana juga. Kami sebagai tetangga tentu saja resah, takutnya Mbak Santi dan suaminya semakin menjadi-jadi," jelas kepala desa tadi kepada Satria.


Satria yang mendengar bahwa Natasya mendapat perlakuan tidak baik dari mantan istri dan suami barunya, tentu saja dia kaget dan khawatir.


Ada perasaan marah juga dalam hatinya kepada Santika dan Martin. Rasa tidak terima mencuat di dalam benak Satria.


"Kondisinya memprihatinkan, Mas. Natasya tidak terurus, tubuhnya semakin kurus. Warga sering mendengar kalau Natasya menangis meminta makan, bahkan dia sering tidak dimandikan oleh Mbak Santi. Maaf kalau saya harus bilang begini, Mas, tapi putrinya Mas Satria benar-benar jadi kucel dan dekil."


Hati Satria terpukul mendengar penjelasan kepala desa. Rasa marahnya kepada Santika sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Satria merasa darahnya mendidih.


Padahal satu minggu lalu dia baru saja mengirimkan uang untuk biaya Natasya.


"Kebetulan saya sedang kerja di kota, Pak. Jadi saya belum bisa pulang sekarang. Saya boleh minta tolong kepada Bapak?" tanya Satria.


"Boleh, Mas. Mas Satria mau minta tolong apa?" Kepala desa tadi akan menyanggupi apa saja yang diminta oleh Satria.

__ADS_1


"Tolong, Bapak dan warga setempat untuk turut mengawasi Natasya. Tolong kabari saya kapan saja kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Saya minta tolong banget, Pak." Untuk saat ini, Satria hanya bisa melakukan ini.


Sebenarnya Satria juga ingin langsung pulang ke kampung untuk menjemput Natasya, tapi pasti Santika juga tidak akan memberikannya begitu saja.


"Boleh, Mas Sat. Kami akan mengawasi Mbak Santi dan Natasya. Kami akan mengabarkan kondisi Natasya kalau sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan."


"Terima kasih banyak, Pak." Sambungan telepon terputus, kepala desa yang lebih dulu mematikan sambungan telepon.


Sekarang, Satria jadi tidak fokus untuk mengerjakan pekerjaannya.


Suara alarm adzan dzuhur terdengar dari ponsel Satria.


Pandangannya sekarang beralih ke jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Satria putuskan buat segera ke masjid supaya dia bisa meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa untuk putrinya.


Satria juga ingin menenangkan hatinya yang gelisah dan takut terjadi apa-apa kepada Natasya.


Toni melihat Satria sedikit berbeda hari ini. Padahal Toni masih ingat kalau tadi pagi Satria tidak kenapa-napa. Toni putuskan buat mendekati Satria yang duduk di pojok masjid seusai salat dzuhur. Toni menepuk pelan paha Satria, "Mikirin apa kamu, Sat?" tanyanya berbasa-basi.


Satria menggelengkan kepalanya, "Aku mikirin anakku, Ton. Tadi aku mendapat kabar kalau mantan istri dan suami barunya sering memarahi Natasya." Satria ingin membagi bebannya kepada Toni, supaya bahunya terasa lebih ringan.


Toni menepuk-nepuk bahu Satria beberapa kali, "Kamu yang sabar ya, semoga dilapangkan lagi hatinya sama Allah biar kamu kuat menghadapi ini semua. Semoga mantan istri kamu juga cepat sadar." Hanya ini yang bisa Toni katakan kepada Satria karena Toni juga tidak tahu bagaimana caranya menghibur Satria.


"Amin. Terima kasih ya, Ton. Kamu sudah perhatian sama Natasya," balas Satria seraya memaksakan senyumnya.


"Kamu tidak makan siang sama Pak Dewa?" Toni sengaja mengalihkan pembicaraan supaya Satria tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan putrinya di kampung.


Satria menggelengkan kepala, "Pak Dewa ada janji temu sama klien siang ini sampai sore."

__ADS_1


"Ya sudah, kita makan siang sekarang saja. Kamu tetap harus makan, jangan sampai kamu sakit terus nanti tumbang. Kamu tetap harus sehat demi bisa menyelamatkan putrimu." Toni berdiri, dia menarik tangan Satria untuk dia ajak ke tempat biasa mereka makan siang.


Satria menurut, dia mengekor di belakang Toni. Menurut Satria, apa yang dibilang Toni tidak ada salahnya. Satria tetap harus menjaga kesehatannya supaya dia bisa menyelamatkan Natasya.


__ADS_2