
Sepulang kerja, Pak Dewa menghadang Satria. Lelaki paruh baya itu mendapatkan ide untuk menolong Satria. Pak Dewa meminta Satria masuk ke mobilnya sebentar buat mendiskusikan niatnya.
"Bapak meminta saya menjadi asisten pribadi, Bapak?" tanya Satria memastikan.
Pak Dewa menganggukkan kepala, "Iya. Kamu juga harus tinggal di rumah saya, karena saya pasti butuh kamu 24 jam. Lagi pula, kalau kamu tinggal di rumah saya, kamu tidak perlu lagi memikirkan tentang biaya kontrakan dan makan. Kamu bisa lebih mengirit, uangnya bisa kamu tabung buat mendapatkan hak asuh putri kamu itu." Pak Dewa menjelaskan kepada Satria mengenai keuntungan yang bisa didapatkan oleh Satria kalau lelaki itu mau menerima tawarannya.
Satria kembali berpikir, dia berusaha menimbang-nimbang apakah pilihannya nanti adalah pilihan yang benar. Satria tidak mau mengambil jalan yang salah.
"Jangan banyak berpikir, yang perlu kamu pikirkan itu hanyalah keselamatan putri kamu." Pak Dewa sengaja menjadikan putri Satria sebagai alasan supaya Satria menerima tawarannya.
Satria membenarkan apa yang dikatakan Pak Dewa. Dia harus mendapatkan banyak uang agar bisa membawa Natasya keluar dari rumah Bu Marni. Terlebih lagi, Satria tidak tahu sampai kapan Santika dan Martin akan memarahi Natasya. Bisa jadi nanti-nanti mereka berdua akan main tangan juga kepada Natasya. Satria tidak bisa membayangkan hal itu terjadi kepada putrinya.
"Ya sudah, Pak. Saya terima tawaran Bapak." Satria mengangguk kali ini, dia tidak bisa lagi menolak karena Satria juga tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak 100 juta kalau dia tidak memiliki pekerjaan tambahan. Ditambah lagi, Satria tidak mungkin bekerja di dua tempat dalam waktu bersamaan. Jadi menurut Satria, ini pilihan terbaik buat dirinya sekarang.
Pak Dewa senang mendengar keputusan Satria, ditepuknya berulang-ulang bahu Satria untuk menenangkannya. Pak Dewa menatap Satria lama, "Kalau begitu. Sore ini kamu bisa langsung datang ke rumah saya."
"Baik, Pak. Saya akan ke sana nanti setelah selesai beres-beres di kontrakan."
Mereka berpisah di sana. Satria keluar dari mobilnya Pak Dewa dan pulang ke kontrakannya untuk mengemasi barang-barangnya serta berpamitan kepada pemilik kontrakan kalau dia tidak akan mengontrak di sana lagi.
Satria menuju ke rumah Pak Dewa, kebetulan dia juga masih ingat di mana alamat rumah Pak Dewa.
Setibanya di depan gerbang rumahnya Pak Dewa, seorang satpam sudah membukakan pintu buat Satria.
Pak Dewa menyambutnya dengan hangat. Bahkan Pak Dewa menunjukkan di mana kamar yang harus ditinggali oleh Satria.
__ADS_1
"Kamarnya sudah dibersihkan oleh asisten rumah tangga, kamu tinggal istirahat saja," kata Pak Dewa berbaik hati.
"Terima kasih banyak, Pak. Bapak sudah baik sekali kepada saya," ucap Satria kepada Pak Dewa.
Kamar Satria memang berada di bagian belakang, berderetan dengan para pekerja di rumah. Hal ini Pak Dewa lakukan supaya Satria tidak merasa dikasihani olehnya.
"Dia ngapain di sini, Pa? Pakai bawa-bawa tas gede segala?" Sebuah suara dari dapur membuat Pak Dewa dan Satria menoleh. Ternyata yang bertanya barusan itu adalah Zaskia.
Pak Dewa tersenyum kepada putrinya, "Mulai hari ini, Satria akan tinggal bersama kita di sini, Zas."
Zaskia menatap tak suka kepada Satria, dia tersenyum sinis dan seolah-olah merendahkan Satria, "Memangnya dia semiskin itu ya, Pa? Sampai-sampai dia nggak punya tempat tinggal?"
"Zaskia, kalau ngomong itu dijaga. Jangan sembarangan begitu," tegur Pak Dewa. Dia merasa tidak enak kepada Satria karena tingkah putrinya.
Zaskia tidak mendengarkan apa kata Pak Dewa, kakinya kembali melangkah menuju tangga sambil membawa satu gelas smoothies alpukat yang barusan dibuatkan oleh asisten rumah tangga.
Jadi Satria sudah tidak kaget dan tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati.
Hari-hari Satria sebagai asisten pribadinya Pak Dewa berjalan lancar. Satria melakukan pekerjaannya dengan baik karena motivasinya hanyalah Natasya. Satria ingin segera membebaskan Natasya dari genggaman Santika dan Martin.
Begitu pula Pak Dewa yang puas pada pekerjaan Satria. Belum pernah Pak Dewa merasa dikecewakan oleh Satria. Apalagi setelah melihat Satria begitu saleh.
"Tolong kamu letakkan tas kerja saya di ruang kerja saya ya, Sat," titah Pak Dewa saat dia baru saja turun dari mobil.
"Baik, Pak." Satria mengangguk, dia mengiyakan. Satria lanjut memarkirkan mobil ke garasi dan menuju ruang kerja Pak Dewa seperti apa yang diperintahkan oleh Pak Dewa tadi.
__ADS_1
Kegiatan Satria dari sepulang kerja, dia akan langsung mandi dan salat maghrib. Seusai salat maghrib, Satria bakal mengaji di kamarnya seperti hari-hari biasa dan lanjut ke salat isya.
Seperti yang dilakukan Satria kali ini. Dia sedang mengaji di kamarnya. Suaranya terdengar merdu, hingga membuat Pak Dewa senang mendengarnya. Beberapa asisten rumah tangga pun turut senang mendengar lantunan ayat suci yang dibacakan oleh Satria.
Suara adzan isya telah berkumandang, Satria menyudahi acara mengajinya. Sekarang Satria akan salat isya lalu ikut makan malam bersama Pak Dewa ataupun Zaskia. Karena seringnya, di meja makan hanya ada Satria dan Pak Dewa saja. Sedangkan Zaskia, dia lebih sering makan di kamar atau makan di luar bersama teman-temannya.
Zaskia jarang sekali menemani papanya makan. Apalagi setelah ada Satria, Zaskia terang-terangan bilang kalau dia tidak suka harus makan semeja dengan Satria.
Mulanya Satria merasa tidak enak, tapi Pak Dewa bilang kalau Satria tidak perlu mengambil pusing tentang hal itu.
Sebenarnya, Pak Dewa menyukai kesalehan Satria. Dia ingin menjadikan Satria sebagai menantunya untuk putri semata wayangnya yang terkenal jutek dan sombong. Apalagi setelah Pak Dewa tahu bahwa Satria pandai mengaji dan taat beribadah, Pak Dewa jadi semakin suka.
Namun Pak Dewa ragu, dia takut kalau Satria menolak Zaskia.
"Bagaimana caranya aku bilang ke mereka berdua?" gumam Pak Dewa di meja makan menunggu Satria selesai salat.
Satria datang, dia ikut duduk di kursinya yang biasa. Kali ini lagi-lagi hanya ada mereka berdua. Namun tak lama, Satria melihat Zaskia turun dari lantai dua.
Satria kira, Zaskia akan ikut makan bersama dengan Pak Dewa di meja makan.
"Sini makan malam sama Papa, Zas," panggil Pak Dewa.
"Enggak ah, Pa. Aku takut nggak nafsu kalau makan di meja makan," sahut Zaskia tanpa menoleh ke arah Pak Dewa.
Zaskia lanjut meminta asistennya untuk mengambilkan makan malam buatnya.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan tawaran papanya, Zaskia membawa sepiring nasi untuknya ke kamar dan berlalu begitu saja. Pak Dewa hanya bisa mendesah pasrah melihat tingkah Zaskia.