
"Buruan," ucap Zaskia dengan Ketus.
"Kan mulai galaknya," batin Satria, Pria itu tak bersuara, dia terus berjalan membukakan pintu untuk Nona Zaskia yang menatapnya kesal, kemudian dia memutari mobil, masuk dan duduk di belakang kemudi.
Tak ada percakapan diantara keduanya, Satria memilih menutup rapat-rapat mulutnya, takutnya salah bicara dan lagi dia tau Zaskia masih kesal karena harus menunggunya tadi.
Mobil terus melaju, dan Zaskia betah melihat jalanan yang dia lalui.
Sesekali satria meliriknya, memastikan apakah Nonanya masih bad mood atau tidak. Tak butuh waktu lama mereka tiba di restoran, dimana mereka bertemu janji.
"Kota sudah sampai nona," ucap Satria membuka pintu.
"Jangan memanggilku Nona, kau tidak cocok,"
"Baik Bu."
"Ibu? memangnya aku ibumu, cih dasar!!!" omel gadis itu lagi dan melangkah masuk kedalam. Satria masih diam dan terpaku di tempatnya, dia bingung harus bersikap bagaimana. Sebutan saja di permasalahkan oleh Zaskia padahal biasanya dia memanggil Zaskia nona. lalu mengapa hari ini salah?" tanya Satria di dalam hatinya.
Dia tersadar, Zaskia telah jauh melangkah di depannya dan dia segera berlari mengejar. Jarak parkiran dengan bagian depan gedung lumayan jauh, dan mereka harus berjalan kaki,
Tiba-tiba sebuah motor malaju kencang dari arah belakang, dan Zaskia tidak menyadarinya, merasa Nonanya dalam bahaya, refleks Satria berlari dan memeluknya lalu Keduanya jatuh berguling di tanah dengan posisi Zaskia berada diatas satria, dan pria itu memeluknya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Syukurlah," ucap satria tak memperdulikan Omelan gadis itu.
__ADS_1
Zaskia bangkit, "Kau!" ucapnya geram Gadis itu kembali merapikan pakaiannya.
"Maaf, " ucap satria yang ikut berdiri dan merapikan dasi serta membersihkan bajunya yang kotor.
"Saya hanya ingin menyelamatkan Anda, tanpa berniat apapun. Tadi ada motor yang hampir menabrak anda nona, dan maaf saya tidak bermaksud lancang." ucap Satria lagi.
Kemudian pria itu berbalik, dan Zaskia sadar jika dia salah, pria itu justru ingin menyelamatkan nya dan dia malah menuduhnya yang bukan-bukan.
"Mari Nona, kita sudah di tunggu." ucap Satria menyadarkan Zaskia dari lamunannya.
Mereka kembali berjalan beriringan masuk kedalam gedung.
Meeting kali ini berjalan lancar, dan sebuah kontrak kerjasama telah mereka sepakati.
"Iya Ok, tapi saya pribadi ingin mengundang anda makan malam bersama, sebagai perayaan kerjasama kita." ucap Dandi, CEO Multy jaya group.
"Maaf, tapi sepertinya saya tidak bisa, mungkin lain kali."
"Kenapa? apa itu artinya saya di tolak?"
"Tidak, saya tidak menolak, tapi saya ada urusan lain, mungkin lain kali," tolak gadis itu secara halus.
"Ok, saya terima, tapi kalau minum teh bisa kan, saya tunggu besok di kafe Doremi jam Lima, dan saya tak suka di tolak." ucapnya sambil tersenyum
"Ok," jawab Zaskia setelah terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Kemudian mereka pamit, dan Zaskia menggerutu sepanjang perjalanan menuju mobilnya.
"Sat, kamu bisa wakilkan saya,"
"Saya? kemana Bu?"
"Kok masih nanya kemana? kamu bego atau apa sih, ya ketemu Dandi besok sore."
"Maaf Bu, tapi pak Dandi kan mengundang ibu, bukan saya."
"Iya saya tau, tapi saya malas bertemu dengannya, gimana kalua kamu saja."
"Maaf Bu, saya tidak bisa?"
"Kamu menolak perintah saya?"
"Tidak, mana saya berani, tapi bukankah ibu yang berjanji padanya, jadi ibu yang harus pergi,"
"Alasan!"
"Beda Bu, ini bukan alasan, lagipula seorang muslim yang baik tidak akan mengingkari janjinya,"
"Kamu menceramahi saya?"
"Mana saya berani, saya hanya mengingatkan."
__ADS_1