
Setelah berhasil mendapatkan anaknya, Satria langsung membawa balita berusia 4 tahun itu ke dalam mobil. Dia tidak peduli lagi dengan pakaian ataupun barang lain sang anak yang tertinggal di rumah Santika, yang dia pedulikan saat itu adalah keadaan putri satu-satunya.
Di dalam mobil, Satria mendudukkan Natasya di kursi sebelah, kemudian memasangkan sabuk pengaman pada tubuh mungil sang anak.
"Ayah kita mau kemana?"
"kamu akan ikut ayah nak, kamu akan tinggal dengan ayah." ucap sedih dan juga haru
"ayah nggak akan pergi lagi kan?'
"enggak sayang ayah janji"
"aku enggak mau sama Mama, mama jahat,"
"iya Ayah enggak akan kembalikan kamu ke Mama mu."
**
Di sepanjang jalan Satria terus mencuri-curi pandang ke arah putrinya yang duduk anteng dengan sebuah boneka Barbie kecil di tangannya. Putrinya itu sekarang terlihat semakin kurus, matanya terlihat cekung ke dalam, lengannya pun terlihat tidak berisi seperti dulu saat masih tinggal bersama dengannya.
Tanpa terasa, setitik cairan hangat rembes dari netranya. Hatinya perih melihat keadaan putrinya, bahkan Satria sempat menyalahkan dirinya sendiri karena tidak becus mengurusi anaknya itu.
“Maafkan Ayah Nak, karena Ayah kamu menjadi begini. Andai saja Ayah bisa bekerja keras lagi mungkin dirimu tidak seluruh ini,” lirih Satria, tangan kirinya mengelus pucuk kepala Natasya. Natasya yang masih balita sama sekali tidak mengerti dengan keadaan, dia masih anteng dengan satu mainan yang dia bawa dari rumah ibunya.
Detik berlalu, menit ikut berjalan, tidak terasa akhirnya Satria dan Natasya pun sampai di kediaman atasannya, atasan yang ramah, baik, dermawan dan begitu peduli dirinya. Jika tidak bertemu dengan Pak Dewa, mungkin saat ini Satria belum bisa mengambil putri semata wayangnya itu, entah dari mana Satria akan mendapatkan uang sebesar 100 juta.
Satria membuka pintu utama pelan-pelan takut Pak Dewa yang mungkin tengah beristirahat terganggu karena kedatangannya.
Satria bermaksud untuk langsung membawa Natasya ke kamarnya yang berada di belakang, tetapi saat tiba di dapur Pak Dewa yang ternyata tengah makan malam bersama Zaskia memanggilnya.
“Satria. Sini,” titah Pak Dewa.
Satria yang masih menggendong anaknya pun berjalan pelan mendekati kursi Pak Dewa.
“Duduklah, kita makan bersama, suapi anakmu.”
__ADS_1
“Tetapi Pak!“
“Ayo cepat duduk, kasihan anakmu.”
Sebenarnya satria ingin menolak, tetapi dia tidak enak kepada Pak Dewa yang selalu baik kepadanya. Namun, di sisi lain Satria juga merasa segan karena makan malam kali ini ada Zaskia di samping tuannya. Satria takut nafsu makan Zaskia menghilang saat dirinya dan anaknya ikut makan bersama mereka di meja makan. Apalagi jarang sekali Zaskia mau makan bersama dengan ayahnya, itu pasti karena dirinya tidak ada di sana sehingga Zaskia mau menemani papanya.
“Tidak usah Pak, nanti saya dan putri saya makan di dalam saja.” Satria yang memang belum menjatuhkan bobot di kursi berusaha menolak ajakan tuannya dengan lembut berharap tuannya mengerti.
“Kamu ini, masih saja sungkan! Ayo suapi anakmu dia pasti lapar.”
Satria mengarahkan pandangan ke arah Zaskia, rupanya saat itu Zaskia juga tengah menengok ke arahnya sehingga pandangan mereka pun beradu until beberapa detik.
“Duduklah,” ucap Zaskia yang kini sudah kembali mengarahkan pandangannya ke arah makanan. Zaskia tahu kenapa asisten ayahnya menolak saat di ajak makan malam itu pasti karena lelaki berhidung mancung itu sungkan kepadanya.
Pak Dewa terbelalak, dia tidak menyangka putrinya itu akan mengajak Satria untuk makan malam bersama karena biasanya putrinya itu selalu ketus kepada asisten pribadinya. Begitu pun dengan Satria yang terbelalak tidak percaya oleh tingkah anak majikannya.
Karena sudah mendapatkan izin dari Zaskia, Satria pun mendudukkan Natasya di kursi yang persis berasal di sebelah Zaskia, sedangkan dirinya duduk di sebelah kiri Pak Dewa.
Dengan rasa malu yang masih menggerogoti perasannya, Satria menyendok nasi ke piring berikut sayur sop yang menjadi lauk nasi.
Natasya yang memang memiliki sifat penurut pun langsung memakan makanan tersebut tanpa ada drama bantah-membantah.
“Kamu makan sekalian Sat.”
“Saya masih kenyang Pak. Saya menyuapi Natasya saja.”
“Baiklah kalau begitu.”
Natasya tersenyum-senyum sendiri saat memainkan boneka Barbie yang bajunya sudah terlihat sobek di beberapa bagian, rambutnya pun terlihat acak-acakan, tidak di sangka senyumannya itu menular kepada Zaskia yang berada di sampingnya.
Ini adalah pertama kalinya Satria melihat senyuman Zaskia, selama dia bekerja di sana dia tidak pernah melihat Zaskia tersenyum kecuali senyum kecut yang biasa tunjukan kepada asisten rumah tangga maupun kepadanya.
Rupanya kedatangan Natasya mampu membuat gadis yang super duper jutek dan pendiam menjadi sedikit terbuka.
Kebahagiaan kembali Dewa rasakan saat melihat anak semata wayangnya tersenyum kepada putri dari asisten pribadinya itu, sebelumnya Dewa tidak pernah berpikir jikalau kehadiran Natasya akan membuat Zaskia meluluh, jika tahu begitu mungkin sedari Satria bekerja dengannya Dewa akan membawa anak tersebut.
__ADS_1
Mendapat respons positif dari Zaskia, Natasya yang sedari tadi diam dan tidak berbicara pun mulai berbicara dan tersenyum kepada Zaskia, insting balitanya seolah baru kembali.
Saat Satria akan kembali menyuapinya, Natasya berucap, “ Ayah aku ingin ayam.”
Satria menoleh dan hendak mengambil ayam di piring karena tadi dia memang melihat jikalau di atas meja makan terdapat ayam goreng. Namun, rupanya daging ayam tersebut sudah tidak ada, ternyata sudah berpindah ke piring Zaskia.
Zaskia yang mendengar permintaan Natasya pun memberikan ayam yang baru di ambilnya itu kepada bocah berpipi cubby tersebut.
“Ini ayamnya, makan saja,” tawar Zaskia.
“Benarkah Non?” Satria kembali memastikan.
“Tentu saja. Ambillah, Natasya menginginkannya.”
Satria tersenyum, kemudian mengambil ayam goreng dari piring Zaskia dan memindahkannya ke piring Natasya.
“Bilang apa Nak?”
“Telima kacih Tante cantik,” ucap Natasya sembari tersenyum manis ke arah Zaskia.
Zaskia mengangguk kemudian berlalu ke arah wastafel untuk mencuci tangan.
Setelah mencuci tangan Zaskia pun pamit untuk kembali naik ke kamarnya yang memang berada di lantai atas.
Begitu juga Pak Dewa dan Satria, mereka sama-sama meninggalkan meja makan.
Tiba di kamar Satria mendudukkan putrinya di atas ranjang, sedangkan dirinya pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Ya, Satria harus segera menunaikan kewajibannya itu sebelum azan isya berkumandang.
Usai mengambil wudu, Satria pun kembali ke kamarnya.
Lelaki manis berkulit sawo matang itu menggelar sejadah, kemudian memakai sarung dan peci yang tergantung di dinding sebelum menjalankan kewajibannya, tentu saja dengan Natasya yang berada di sebelahnya.
Usai salat, Satria mengangkat kedua tangannya, dia memuji Sangat Pencipta yang sudah berbaik hati mengabulkan keinginannya untuk bertemu dan memeluk putrinya itu.
Satria juga berterima kasih karena sudah di pertemukan dengan orang-orang baik yang masih peduli kepada dirinya dan anaknya.
__ADS_1