
KELAS 10-2
SMA DHARMA BHAKTI, KOTA X
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bulan depan, ujian semester ganjil akan segera dimulai.
Semua murid di sekolah mulai disibukkan dengan berbagai tugas dan catatan materi untuk persiapan diri menghadapi ujian. Tidak terkecuali di kelas Irina.
Iya, tak berbeda dengan kelas lainnya, kelas Irina pun sedang sangat disibukkan dengan semua tumpukan materi dan catatan untuk bekal mereka menghadapi ujian semester ganjil.
Sudah beberapa hari ini Rian tidak masuk sekolah karena kepentingan keluarga. Jika Irina tidak salah menghitung hari, mungkin sudah seminggu lebih Rian tidak masuk mengikuti pelajaran di kelas.
Irina dengar Rian pergi ke luar kota mengikuti urusan orangtuanya dan hal ini sepertinya sudah biasa terjadi, mengingat sebulan pertama Irina duduk di bangku kelas 10-2 Rian pernah tak nampak batang hidungnya sama sekali selama sebulan.
Dan pagi ini, Irina tak menyangka bisa melihat sosok Rian hadir kembali di kelas. Entah kenapa membuat Irina terkejut dan merasa bahagia, rasanya seperti Dirinya menemukan harta karun yang lama terpendam di dasar bumi. Ah, terlalu berlebihan.
Rian duduk di samping Irina.
"Irina...." Sapa Rian sambil menyiapkan buku-bukunya.
"Iya, Rian. Ada apa?" Irina pun sibuk menyiapkan buku-bukunya dan menyimpan rasa bahagia dalam hatinya melihat kehadiran Rian.
Yaa, beberapa hari ini Irina merasakan kesepian saat Rian tidak masuk sekolah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jika Irina tidak salah hitung, maka Rian sudah tidak masuk sekolah selama seminggu lebih.
Awalnya Irina mengira rasa kesepian muncul mungkin karena duduk sendirian ditemani bangku kosong di sampingnya.
Tapi lama kelamaan Irina menyadari, Irina merasa kesepian bukan karena sekedar dia harus berdampingan dengan bangku kosong. Melainkan Irina merasa kesepian dan hari-harinya terasa berbeda tanpa kehadiran sosok Rian.
Agak berat sebenarnya bagi Irina mengakui hal yang sedang menyerang perasaannya. Irina menyadari kalau sebenarnya dirinya sedang dilanda.... RINDU!
"Aku bisa pinjam catatan-catatanmu? Mau lihat seberapa banyak aku ketinggalan pelajaran." Tanya Rian dengan serius.
Irina mengambil kesempatan untuk memperhatikan Rian dengan seksama. Menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Rian.
"Apakah ini efek lama nggak ketemu yaa? Kenapa rasanya Rian terlihat lebih........ tampan?!" Batin Irina.
"Irina..." Panggilan Rian menyadarkan Irina dari rasa kekagumannya yang sedari tadi membuatnya hilang fokus. Irina kemudian berusaha kembali fokus memperhatikan Rian.
"Nanti sore aku ke rumahmu saja yaa? Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Rian.
"Apa? Ke rumahku?" Irina mencoba memahami lebih baik maksud kata-kata Rian.
__ADS_1
"Iya, aku ke rumahmu. Beberapa hari ini aku terlalu banyak ketinggalan pelajaran, jadi aku mau merangkum semuanya. Itupun kalau kamu tidak merasa terganggu dengan kedatanganku."
"Eh... Nggak kok, nggak! Iya, datang aja. Nanti sore aku akan menunggumu." Irina buru-buru mengatakan kesediaannya seolah takut Rian akan berubah pikiran bila Ia tak segera memberi jawaban.
Debaran jantung Irina mulai mengganggu, Ia merasa kacau. Satu sisi dirinya merasa senang mengetahui Rian akan datang ke rumahnya. Sedangkan satu sisi dirinya merasa canggung mengingat lagi-lagi mereka akan menghabiskan waktu bersama di luar jam sekolah.
"Baru saja bertemu, kenapa sudah begini yaa? Aku ini kenapa sih?" Batin Irina sambil menarik nafas panjang.
Mereka berdua kini sibuk memperhatikan guru yang telah memulai memberi arahan materi pertama di pagi itu.
Irina menyembunyikan perasaan tak menentu yang menyerangnya dalam sikap seriusnya memperhatikan guru.
***
Kediaman Keluarga Domino,
Sore hari sebelum Rian datang, Irina sudah menyiapkan berbagai buku materinya di ruang tamu. Irina sibuk menandai materi-materi miliknya yang dirasa tak diikuti oleh Rian selama tak masuk sekolah. Satu persatu Irina menyusunnya di atas meja ruang tamunya.
Adrian yang sedari tadi terlihat sibuk di ruang tengah sambil memainkan gadgetnya diam-diam memperhatikan gerak-gerik Irina dengan seksama.
Adrian bisa melihat senyuman tipis tersungging di bibir Irina yang mungil. Adrian sedikit penasaran dan curiga, mungkinkah teman sebangku Irina yang bernama Rian itu akan datang lagi?
Setelah sekian lama Adrian tidak melihat Irina bersama Rian, entah kenapa saat ini Adrian merasakan was-was.
***
Adrian lagi-lagi mencuri pandang ke arah pintu sambil tetap berpura-pura sibuk dengan gadgetnya. Sosok laki-laki yang tidak diharapkan Adrian akhirnya muncul.
Kehadiran Rian membuat Adrian merasa kesal walaupun tentu saja Adrian berusaha menutupi rasa kesalnya dengan bersikap dingin seolah tak peduli dengan kedatangan Rian.
"Dia lagi!!!" Rutuk Adrian dalam hatinya.
Di ruang tamu, Rian dan Irina tak mengambil waktu lama untuk berbasa-basi. Mereka segera memulai kegiatan mereka yang memang sudah direncanakan sejak pagi di sekolah, merangkum catatan materi yang diperlukan Rian.
"Irina, terimakasih yaa sudah meluangkan waktu buatku." Ucap Rian dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Ahh... Kata-kata Rian terasa aneh di dengar Irina.
Walaupun Irina menyadari maksud dari perkataan Rian hanyalah sesuatu yang sederhana, hanya sebuah rasa terimakasih atas kesediaan Irina membantunya mengejar ketertinggalan materi, tetap saja mampu menimbulkan semburat merah merona di wajah Irina.
"Eng... Nggak apa-apa kok Rian, santai aja." Irina mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa canggung yang meliputinya.
__ADS_1
"Irina, ini maksudnya apa yaa?" Rian menunjuk sebuah rentetan tulisan yang agak sulit dibacanya.
Irina tidak terkejut, itu adalah catatan materi sejarah yang sangat banyak sehingga di tengah-tengah catatannya tulisan Irina berubah drastis, agak mirip resep obat dari dokter karena terlalu lelah menulis.
Irina akhirnya mendekatkan dirinya ke tempat dimana Rian duduk. Wajahnya mencoba menunduk lebih dekat ke arah tulisan yang ditunjuk oleh Rian.
Agak lama Irina memperhatikan tulisannya sendiri, mencoba mengingat apa yang sebenarnya Dia tulis di dalam buku catatannya.
Irina terlalu sibuk memperhatikan tulisannya sendiri sedangkan Rian mulai menyadari kedekatan posisi dirinya dan Irina. Rasa canggung mulai meliputi Rian, entah kenapa terasa menyenangkan bagi Rian.
"UHUK!!! UHUK!!!"
Suara batuk Adrian dari dalam ruang tengah mengagetkan Irina. Spontanitas malah membuat Irina mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wajah Rian untuk memastikan bahwa Rian tidak terkejut dengan suara batuk yang terkesan mengganggu milik Kakaknya, Adrian.
Sedangkan Rian, tentu saja masih fokus menatap Irina. Kedekatan yang terasa aneh dan canggung.
Mereka berdua segera saling menjauhkan diri. Semburat merah merona di wajah mereka tak bisa disembunyikan lagi.
Irina menyibukkan diri dengan segera menarik buku catatan miliknya dan bersikap seolah-olah membacanya dengan seksama, sedangkan Rian hanya terpaku dan bingung harus bersikap seperti apa.
"Biar aku diktekan catatanku, kamu tulis saja sesuai yang aku katakan." Irina memberi perintah dengan cepat kepada Rian. Berusaha menyembunyikan rona merah wajahnya di balik buku catatannya.
Rian pun tak banyak bicara, Ia segera mengambil posisi yang nyaman untuk mulai mendengarkan dan siap menulis setiap kata yang keluar dari mulut Irina. Suasana di ruang tamu terasa hening dan canggung.
Sedangkan di ruang tengah, Adrian yang sedari tadi tak bisa melepas pandangannya dari kebersamaan Irina dan Rian sedang menahan geram melihat suasana yang tercipta di ruang tamu.
Adrian tidak bodoh, dia sangat peka dengan suasana yang tercipta di sana. Itu adalah suasana canggung yang tercipta dari sepasang remaja yang sedang saling jatuh cinta.
Hal ini begitu menyebalkan bagi Adrian. Ingin rasanya Ia meminta Rian untuk pulang dan menjauhi Irina. Tapi atas dasar apa?
Bagaimana mungkin Adrian bisa menyatakan dengan gamblang kecemburuannya?
Apalagi jika Adrian harus menyampaikan bahwa Irina adalah tunangannya.
Adrian merasa jengah, Ia memilih membiarkan keadaan dan beralih pergi menuju kamarnya sendiri.
"Aku harus berpikir jernih..." Adrian menguatkan dirinya sendiri.
***
BERSAMBUNG...!
__ADS_1