SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 20. Berbagi Masalah


__ADS_3

Seminggu selama masa ujian telah berlalu. Pada akhirnya masa pertempuran sesungguhnya yang harus dihadapi para pasukan putih abu-abu sebelum melepas masa pendidikan di bangku sekolah berhasil dilewati dengan lancar.


Seluruh murid hari ini mengakhiri sesi ujian terakhir mereka dengan menghembuskan nafas penuh kelegaan secara serempak. Sebagian mulai bersorak sorai gembira seolah telah melepaskan beban yang berat dari balik punggungnya. Lega tak terkira.


Meskipun diam-diam di dalam hati mereka semua masih ada rasa was-was yang mengganjal mengingat mereka masih harus menunggu hasil ujian, tapi setidaknya hari ini mereka tak harus sibuk di pagi hari dihantui rasa takut dan terpaksa memutar otak untuk berpikir keras mengerjakan semua deretan soal yang menuntut jawaban dari mereka.


Sekarang waktunya menikmati relaksasi sejenak untuk mengasihani diri yang terlalu banyak berpikir keras selama seminggu lamanya. Refreshing!


Adrian telah selesai merapikan seluruh perlengkapan alat tulisnya, memasukkan semua ke dalam tasnya dan bersiap untuk berdiri meninggalkan bangku tempatnya mengerjakan ujian.


Belum sempat Ia keluar dari ruangan, sepasang bola matanya yang memiliki tatapan tajam seperti elang menangkap sosok Revano yang berdiri tepat di pintu masuk ruangan. Revano tersenyum hangat kepadanya.


"Ada apa lagi?" tanya Adrian datar dan memperlihatkan sikap dingin yang tak bersahabat ketika Ia telah sampai di hadapan Revano. Revano hanya cengar-cengir konyol sebelum mulai angkat bicara.


"Kau ini, aku belum melakukan apa-apa, belum bicara apapun, sudah memasang sikap waspada seperti itu. Aku bukan penjahat," canda Revano dengan sengaja memasang wajah cemberut.


"Baiklah, ada apa?" tanya Adrian lagi yang kini melembutkan sedikit nada bicaranya untuk memuaskan keinginan Revano.


"Gitu dong!" celetuk Revano tersenyum puas.


Revano mengajak Adrian untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu. Lebih tepatnya untuk menyingkir dari jalur pintu masuk dimana para murid lainnya mulai keluar dari kelas dan tubuh mereka berdua secara otomatis telah menghalangi jalur pintu keluar dari ruangan.


Kali ini mereka sudah berjalan sejajar dan berdampingan di sepanjang koridor sekolah untuk menuju motor mereka masing-masing di halaman parkiran sekolah.


"Jadi, ada apa?" tanya Adrian lagi yang berjalan dengan pandangan lurus tanpa memperhatikan Revano.


"Kalau Kau hanya ingin menyampaikan amanah dari Senna Zain, entah itu salam ataupun surat, lebih baik urungkan niatmu." celetuk Adrian lagi membuat Revano mencibir konyol.


Revano tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Adrian, sahabat karibnya itu. Adrian sungguh kaku dan dingin, serta cara Adrian kesal malah menjadi bahan yang sempurna untuk membuat Revano merasa lucu.


Walaupun secara keseluruhan tampilan fisik, Revano lebih terkesan sebagai pria yang ramah dan baik layaknya pangeran charming tetapi adakalanya Dia malah terkesan lebih licik dan penindas ahli untuk Adrian. Seperti saat ini, Revano tertawa lepas karena merasa berhasil membuat Adrian kesal.


Butuh beberapa saat untuk Revano meredakan tawanya dan Adrian hanya diam menipiskan bibirnya geram dengan kelakuan Revano. Entah kenapa sikap Adrian yang dingin tak pernah menakutkan bagi Revano dan itu seringkali membuat Adrian heran.


"Aku tidak bermaksud menyampaikan amanah apapun dari Senna Zain. Aku mendatangimu karena mau mengajakmu menikmati kopi di kafe kecil dekat sekolah." ujar Revano masih sedikit terkekeh melihat sikap Adrian yang benar-benar kaku.


"Bagaimana?" tanya Revano lagi, ingin kepastian dari Adrian.


Adrian terlihat sedang berpikir dari raut wajahnya. Menimbang-nimbang ajakan Revano yang rasanya tak diinginkannya. Adrian hanya ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat.


Seolah tahu bahwa Adrian akan menolak ajakannya, Revano mencoba meyakinkan sekali lagi agar Adrian mau bersantai sejenak menyeruput secangkir kopi di kafe bersamanya.


"Ayolah, kita baru selesai melewati beban berat, sekali-kali kita duduk santai dulu menikmati minuman yang enak sambil ngobrol ringan. Bagaimana?" tawar Revano lagi, tak ingin cepat berputus asa.


Adrian menghembuskan nafas berat, meskipun tetap tidak berminat, tapi Adrian ingin menyenangkan hati sahabatnya.


"Baiklah...."


Adrian dan Revano kini telah sampai di motor mereka masing-masing yang tadi pagi secara tak sengaja mereka parkir berdampingan. Mereka mulai menancap gas, membawa motor mereka masing-masing menuju kafe kecil yang masih berada dekat di lingkungan area sekolahan mereka.


***


Hari itu masih terasa sejuk oleh nuansa pagi yang menyegarkan. Meskipun mereka baru saja selesai menghadapi ujian yang terasa berat, tetapi durasi kegiatan ujian akhir sekolah yang mereka hadapi hanya memakan waktu dua jam saja sejak jam 08.00 pagi waktu setempat. Karena itulah, saat ini mereka telah keluar dari lingkungan sekolahan di akhir pagi mulai menjelang siang di mana terik matahari belum berani beraksi untuk menyengat tubuh-tubuh manusia sehingga suasana di kafe yang didatangi Adrian dan Revano terasa menyenangkan.


Kafe yang mereka datangi sebenarnya memiliki ruangan yang difasilitasi mesin penyejuk udara dan diiringi musik yang menenangkan di dalamnya. Namun, berhubung cuaca di luar ruangan masih sangat bersahabat dan sayang bila tak dinikmati, Adrian dan Revano memilih untuk duduk di kursi yang disediakan di luar ruangan.


Jejeran meja kursi di luar ruangan kafe ini sebenarnya diperuntukkan bagi para pelanggan tipe perokok yang ingin duduk santai menyeruput minuman dan menikmati makanan sambil ngobrol, menyulut rokok, mengepul asap.


Meskipun Adrian dan Revano sendiri bukanlah seorang perokok, mereka pikir tak ada salahnya duduk di area tersebut mengingat saat ini masih sangat kepagian bagi pelanggan yang ingin bertandang ke kafe tersebut. Terbukti saat ini hanya ada Revano dan Adrian di area tersebut dan segelintir pelanggan di dalam ruangan yang bisa dihitung dengan jari jemari tangan.


Secangkir espresso telah siap di hadapan Revano sedangkan Adrian memilih memesan secangkir caffe latte untuk dirinya. Dua hidangan dessert berupa cheese cake yang menggugah selera tak lupa menemani mereka. Revano mulai meneguk minuman di hadapannya. Membuat satu tegukan lalu meletakkan minumannya kembali dan menghela nafas lega.


"Aah, nikmat tiada tara," ucapnya dengan raut wajah yang riang seolah telah meminum ramuan yang sangat amat membuatnya bahagia.

__ADS_1


Adrian masih sibuk mengaduk-aduk minuman caffe latte miliknya, membuat busa tipis di permukaan minumannya yang tadinya membentuk hiasan berupa lambang hati yang indah kini porak poranda tak berbekas.Kepalanya menunduk, matanya memandang dengan tatapan kosong ke dalam cangkir minumannya. Terus mengaduk tanpa sadar, berputar-putar seperti pikirannya yang sedang kalut.


Revano yang sedaritadi memperhatikan kelakuan Adrian mulai mengernyitkan dahinya hingga menimbulkan kerutan halus. Revano mulai merasakan kejanggalan dari sikap Adrian.


"Adrian, Kau kenapa?" tanya Revano menyadarkan Adrian dari kesibukkannya mengaduk-aduk minuman tanpa tujuan.


"Ha?" Adrian mendongakkan kepalanya, memandang Revano dengan tatapan terkejut.


"Hais, Kau kenapa?" tanya Revano lagi.


"Aku... Aku..." Adrian terbata-bata untuk menjawab pertanyaan Revano.


"Minumlah dulu.... "


Adrian segera menyeruput minumannya, mencoba menenangkan dirinya dan sedang berpikir untuk memutuskan berbagi masalah atau tidak dengan Revano, sahabatnya.


Adrian sudah lelah menyimpan masalahnya sendiri, terlebih lagi mulai hari ini Adrian telah selesai dengan tahap fokus ujian dan Ia masih tidak tahu apalagi langkah yang harus dilakukannya untuk mempertahankan komitmen yang sudah lama dijaganya secara sepihak.


Terlebih lagi sejak kehadiran Rian di dalam hati Irina, sesuatu yang tidak ada dalam prediksi Adrian selama ini. Semua strategi perencanaannya mendadak kacau balau dan Dia harus memulai dari nol lagi untuk mempertahankan komitmennya, terutama untuk meraih hati Irina.


Jadi, wajar bukan bila Adrian butuh teman untuk berbagi masalah?


Seolah mengerti kegalauan Adrian yang berada dalam batas bimbang antara ingin berbagi masalah atau menyimpannya sendiri, Revano tiba-tiba angkat bicara yang terasa semakin memancing Adrian untuk menceritakan unek-unek dalam hatinya.


"Haa... Akhirnya selesai juga ujian, rasanya hilang satu beban. Entah apalagi selanjutnya, Masih banyak yang harus dipikirkan, dihadapi, dikerjakan. Benar, tidak? celetuk Revano sambil mengangkat kedua tangannya untuk melakukan peregangan otot-ototnya.


Adrian meletakkan minumannya kembali ke atas meja, mengiyakan kata-kata Revano dengan mengangkat alis matanya secara singkat.


"Begitulah." katanya singkat, padat, dan jelas.


Revano mulai memutar otak untuk memancing Adrian bercerita. Namun pada akhirnya Revano mulai menyadari bahwa cara satu-satunya adalah bertanya langsung tanpa basa-basi dan bersikap tenang untuk memberikan ruang nyaman bagi Adrian bercerita.


"Kau kenapa? Ceritalah. Aku akan mendengarkanmu," ujar Revano sambil mengambil satu suapan cheese cake dihadapannya.


"Hmm..." Revano menanggapi dengan santai sambil menikmati satu suapannya.


"Irina tunanganku," ucap Adrian lagi tanpa kata pengantar, tanpa prolog, tanpa basa-basi, terucap begitu saja langsung pada inti permasalahan.


"Uhuk!" Revano yang tak menyangka atas apa yang dikatakan Adrian, terkejut setengah mati hingga satu suapan cheese cake yang masih tahap lumer di lidahnya dan belum mencapai tenggorokannya kini membuatnya tersedak akibat shock therapy yang dialaminya telah mengacaukan sistem otaknya untuk memerintahkan lidahnya mengantarkan makanan ke ruang eksofagusnya dan terjebak diantara saluran yang menuju pencernaan maupun pernafasan. Tersedak parah!


Revano memukul-mukul dadanya sendiri, mencoba melegakan dirinya dari reaksi tersedak yang menyulitkannya. Dengan sergap Ia meraih secangkir espresso miliknya dan meneguknya hampir setengah cangkir, berharap dapat melegakan tenggorokannya.


Adrian benar-benar tenggelam dalam kekalutannya, hingga tak bisa menyadari bahwa sahabatnya saat ini sedang kesulitan karena tersedak. Adrian hanya diam tak bergeming, semburat merah merona nampak jelas di wajahnya, rasa malu sekaligus lega mendera batinnya setelah mengucapkan kalimat terakhirnya barusan.


Revano menenangkan dirinya sejenak sebelum akhirnya Dia mulai angkat bicara, tak lupa Dia sedikit mengumpat dalam hatinya karena Adrian telah membuatnya tersedak namun mengabaikannya begitu saja.


"Sialan! Aku hampir mati tersedak, Dia malah diam saja seperti patung tak bernyawa. Kurang ajar!" umpat Revano hanya di dalam hatinya saja.


"Ehm..." Revano mulai berdehem.


"Tunggu, aku tidak mengerti maksudmu? Irina? Adikkmu? Tunanganmu? Maksudnya bagaimana?" Revano keheranan, menatap Adrian lekat-lekat dan menunggu jawaban Adrian dengan tidak sabar.


Adrian menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya sembari menopang kedua sikunya di atas permukaan meja. Menarik nafas panjang, menghembuskan dengan keras, terasa berat untuk mulai angkat bicara kembali.


Adrian tidak terbiasa melakukan hal semacam ini, berbagi masalah, bercerita dari hati ke hati. Ini bukan gaya Adrian. Satu-satunya orang yang diajak berbagi masalah oleh Adrian, itupun lebih tepat dianggap seperti sebuah diskusi secara profesional adalah Riffan, Ayahnya.


Kali ini Adrian menundukkan sedikit wajahnya, memindahkan tangkupan kedua telapak tangannya ke atas dahinya agar tak ada penghalang yang menghalangi suara untuk keluar dari bibir tipisnya.


"Aku Kakak angkatnya Irina. Aku anak adopsi," kata Adrian perlahan dan lirih, nyaris tak terdengar oleh Revano.


Lagi-lagi Revano mengernyitkan dahinya semakin dalam, setiap kata-kata Adrian sukses membuatnya terkejut habis-habisan. Revano tak pernah menyangka sejarah di balik kehidupan Adrian, padahal sejak kecil mereka bermain bersama, mereka tumbuh berkembang bersama.


Kenapa Revano tak pernah menyadarinya?

__ADS_1


Revano mulai mengingat-ingat kembali masa kecilnya, mencoba mencari kenangan saat pertama kali bertemu Adrian.


Ah, benar!


Revano saat itu masih sangat kecil, mana mungkin bisa menarik benang merah dari kemunculan Adrian yang mendadak hadir di tengah-tengah Keluarga Domino. Saat itu usianya masih sekitar 7 tahun, tiba-tiba saja Adrian dikenalkan kepadanya sebagai Kakak dari Irina yang kemudian menjadi teman sepermainannya.


Dan sekarang, Revano mulai mengerti.


"Sejak memasuki usia remaja, Ayah dan Ibu menginginkanku dan Irina bertunangan," tutur Adrian lagi masih bercerita secara sepenggal-sepenggal.


"Lalu?" sahut Revano cepat, tak sabar ingin segera mendapatkan cerita lengkap dari Adrian.


"Irina tidak tahu apapun, hanya aku yang memegang komitmen ini," lanjut Adrian lagi.


"Itu juga yang membuatku berubah bersikap dingin kepada Irina sejak memasuki bangku SMP. Aku tidak ingin Irina melihatku sebagai Kakak, tapi sebagai pria yang bisa dicintai."


Adrian menghentikan kalimatnya, Ia menyeruput kembali minuman miliknya yang sudah mulai dingin. Satu suap cheese cake berhasil mendarat di mulutnya. Rasa nikmat dari cheese cake membuatnya merasa nyaman untuk kembali melanjutkan ceritanya tanpa diminta. Revano sendiri kini mulai menikmati cheese cake nya sambil menunggu Adrian melanjutkan cerita.


"Tunggu, kenapa Kalian harus bertunangan?" celetuk Revano tiba-tiba.


"Huffh..." Adrian menghela nafas panjang dan mulai kembali bercerita.


"Perusahaan Domino adalah perusahaan keluarga yang mengusung sistem ahli waris sebagai pemimpin secara turun temurun. Itu berarti setelah Ayah, maka setelah itu Irina-lah yang merupakan anak kandung yang berhak memimpin perusahaan. Ayah dan Ibu ingin Aku memimpin perusahaan dan satu-satunya cara mewujudkannya adalah menikahkan Irina denganku."


Revano mengangguk-angguk perlahan tanda mengerti dengan penjelasan Adrian sambil tetap terus menikmati cheese cake di hadapannya.


Ya, Revano sangat paham.


"Tunggu! Bukannya Irina sedang menjalin hubungan dengan Rian? Anak pemilik yayasan sekolah, teman sebangkunya itu?" celetuk Revano menyadari hal-hal yang baru saja terjadi berdasarkan cerita Veronica, Adiknya.


Adrian hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Revano, kembali menyeruput minumannya untuk mengalihkan rasa cemburu yang mulai menderanya ketika Revano membahas Rian.


"Kau menyukai Irina atau hanya karena tuntutan komitmen?" tanya Revano lagi.


"Maksudmu tuntutan komitmen? Apa Kau mengira aku bersedia bertunangan dengan Irina demi kepentingan kekuasaan dalam perusahaan?" tanya Adrian menyelidik.


"Bukan begitu, maksudku apa Kau benar-benar mau bersama Irina atau hanya ingin memenuhi kemauan Ayah dan Ibumu? jawab Revano meluruskan maksud pertanyaannya sekaligus menenangkan Adrian yang terlihat tersinggung.


Adrian terdiam.


Wajahnya mulai merona, semburat merah tercetak dengan jelas disana dan membuat Revano segera mengerti jawaban yang ingin disampaikan Adrian tapi sulit untuk diungkapkan.


"Baiklah, Aku mengerti." celetuk Revano tak ingin membuat Adrian kesulitan menjawab pertanyaannya.


"Sejujurnya saat ini aku sedang bingung, aku merasa kembali dari nol. Kehadiran Rian, perasaan Irina. Ujian sudah selesai dan Aku tak tahu harus bagaimana lagi?" tutur Adrian kembali menatap ke arah jalan raya yang kosong. Tentu saja lagi-lagi menghindari kontak mata dengan Revano.


"Adrian, apa yang sekarang dirasakan Irina hanyalah sebuah perasaan yang bersifat kontemporer, maksudku hanya sementara. Sederhananya, cinta monyet," tutur Revano yang kali ini menguarkan aura bijaksana.


"Jika Kau memang ingin meraih hati Irina, belum terlambat. Kau harus percaya diri. Lagipula, sekarang ujian sudah selesai, Kita hanya tinggal menunggu hasil. Sekarang Kau bisa fokus menaklukkan hati Irina sedikit demi sedikit."


"Aku tidak punya banyak waktu," celetuk Adrian.


"Kalau begitu, Kau butuh bantuan Pangeran Charming seperti diriku untuk membimbingmu." celetuk Revano sembari terkekeh, begitu percaya diri memuji dirinya sendiri.


.


.


.


BERSAMBUNG...!!!


__ADS_1


__ADS_2