SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 26. Memulai Kembali


__ADS_3

Masa liburan telah usai, hari ini Irina kembali menjalani rutinitasnya untuk melaksanakan kewajiban menuntut ilmu di bangku sekolah. Irina telah selesai mempersiapkan dirinya tepat tiga puluh menit sebelum waktu masuk belajar di kelas, masih ada waktu untuk menikmati sarapan dengan santai.


Setelah dirasa semua keperluannya untuk sekolah telah siap Irina segera bergegas turun menuju ruang makan, rasa lapar telah mengganggunya dan Irina tak sabar rasanya ingin segera melahap sepiring nasi goreng buatan ibunya yang sedaritadi aromanya telah menguar dan mengusik indera penciumannya.


Irina telah sampai di ruang makan dan mendapati ibunya telah menyibukkan diri menghidangkan sepiring nasi goreng yang disandingkan dengan potongan telur dadar serta tak lupa segelas susu cokelat kesukaan Irina.


"Irina sudah siap? Ayo, makan dulu." sapa ibunya sembari memberikan senyum manis untuk Irina.


Irina mengangguk dengan semangat lalu kemudian segera mengambil posisi duduk di kursi yang biasa ditempatinya. Matanya menangkap sosok Adrian yang sudah lebih dulu duduk di sampingnya, Adrian terlihat rapi walaupun tak menggunakan seragam sekolah. Setahu Irina seharusnya Adrian sudah libur untuk menunggu hasil ujian lalu kemudian akan mempersiapkan diri untuk acara perpisahan sekolah. Kenapa rapi?


"Pagi Irina..." ucap Adrian datar namun terasa sedang mencoba ramah ketika Irina telah duduk di sampingnya. Senyum tipis yang dipaksakan terukir dengan kaku berhasil menghiasi bibir tipisnya.


"Pagi, kak..." sahut Irina lembut kemudian tersenyum tipis sedikit canggung namun masih terlihat lebih baik daripada senyum milik Adrian.


"Eh? Tumben?" celetuk Marinka sedikit heran melihat kedua anaknya saling sapa yang tak seperti biasanya.


Irina dan Adrian hanya saling menatap dengan tatapan tak berarti, meninggalkan kesan canggung yang menyiratkan berbagai makna yang tak dapat dipahami oleh siapapun.


Marinka mengernyitkan dahi melihat sikap kedua anaknya, terlalu sulit untuk menilai arti dari keadaan yang sedang tersaji dihadapannya.


Apa ada sesuatu?


Irina dan Adrian memilih menyibukkan diri untuk menikmati sarapan mereka, membiarkan Marinka yang terpaksa menelan rasa penasarannya sendirian.


Marinka menggidikkan bahunya dengan halus, mengabaikan tanda tanya yang meliputinya dan segera menyibukkan diri kembali menyajikan hidangan. Marinka tak ingin ketika suaminya yang sudah bisa dipastikan akan segera turun untuk sarapan, mendapati semua sajian tidak tertata rapi dan sempurna hingga membuatnya kehilangan selera untuk sarapan pagi.


Marinka tentu saja tak ingin membuat masalah di pagi hari.


"Aku akan mengantarmu," celetuk Adrian sembari tetap menikmati sarapannya.


"Juga akan menjemputmu sepulang sekolah." lanjutnya lagi.


Irina tak mengatakan apapun, hanya memberikan anggukkan halus tanda mengerti dengan apa yang disampaikan Adrian. Irina juga tak merasa keberatan. Bukan karena Irina sudah terbiasa pulang dan pergi sekolah dengan Adrian, melainkan karena kesepakatan yang telah mereka berdua sepakati bersama semalam, untuk lebih akrab, mencoba memulai kembali, membangun hubungan yang lebih baik diantara mereka.


"Bisakah kita mulai lebih akrab lagi? Kembalikan suasana hangat yang dulu? Aku bersalah padamu Irina. Izinkan aku memperbaiki keadaan. Aku akan berusaha tapi takkan ada hasilnya bila kau tak memberi kesempatan."


Tawaran mengejutkan semalam oleh Adrian untuk Irina masih terngiang-ngiang di telinganya. Irina seakan tidak percaya dengan apa yang dilontarkan Adrian dan sampai hari ini rasa hangat genggaman erat tangan Adrian masih terasa di telapak tangannya, tak mau beranjak pergi.


Bagi Irina, saat ini yang terpenting adalah memberi kesempatan kepada Adrian sekaligus Irina juga berharap kedepannya hubungan mereka sebagai kakak-beradik akan lebih baik, sungguh Irina rindu kehangatan di masa kecil mereka.

__ADS_1


Mungkinkah?


***


"Jangan lupa sepulang sekolah aku akan menjemputmu," ucap Adrian setelah Irina turun dari motornya.


Irina yang kini tengah berdiri menghadap Adrian yang masih duduk manis diatas motornya hanya mengangguk pelan tanda mengerti titah kakaknya.


Tiba-tiba saja Irina merasa kikuk, haruskah Ia segera memasuki gerbang sekolahnya ataukah ada yang seharusnya dia lakukan untuk berpamitan dengan Adrian seperti....


Mencium punggung tangan kakaknya, mungkin?


Di tengah kegundahan singkat yang menyerangnya, Irina tiba-tiba kembali menyadari komitmen yang telah disepakatinya, mengakrabkan diri!


Tanpa pikir panjang, Irina segera mengulurkan tangannya, memilih untuk berpamitan dengan cara leluhur yang dirasa lebih santun dan beradab.


Irina menarik tangan Adrian, bersaliman dan mencium punggung tangan Adrian sebagai sikap hormat terhadap seseorang yang lebih tua darinya.


"Irina...." Adrian bergeming dan suaranya tercekat ketika menggumamkan nama Irina. Kelakuan Irina membuatnya kikuk namun juga menyenangkan.


"Aku pergi dulu," ucap Irina cepat dan berlari kecil memasuki area sekolahan.


Tentu saja hal ini sangatlah wajar, sudah lama hingga mencapai hitungan tahun Irina tak bisa bersikap akrab dengan Adrian.


Yaa, tentunya selama ini Irina hanya berusaha tahu diri dan peka bahwa Adrian selalu membangun dinding kaca tak kasat mata yang menciptakam jarak diantara mereka.


Entah karena apa?


Adrian yang ditinggalkan Irina sendirian memilih untuk menjalankan motor kesayangannya, melesat bebas meninggalkan sekolahan sembari menyimpan rasa bahagia yang begitu menjalari seluruh tubuhnya.


Meskipun ada perbedaan yang jauh antara sudut pandang Irina dan Adrian dalam melihat hubungan mereka saat ini, Adrian tidak merasa keberatan.


Bukankah masalah perasaan harus dibangun secara bertahap?


Adrian tersenyum bahagia di balik kaca helm yang dikenakannya. Sangat bahagia.


***


Kelas 10-2

__ADS_1


SMA Dharma Bakti, Kota X.


Irina menarik nafas panjang ketika akhirnya bisa mencapai tempat duduknya. Dia terlalu asyik berlari kecil atau lebih tepatnya terlihat berjalan cepat sembari menundukkan wajahnya dari pertama kali memasuki area sekolah hingga masuk kelas.


Irina mengedarkan pandangan ke segala arah lalu kemudian memusatkan pandangan matanya ke bangku di sebelahnya yang terlihat masih kosong, sosok Rian belum terlihat sama sekali.


Baru saja Irina ingin mulai mempertanyakan keberadaan Rian di ruang pikirannya, yang dicari kini muncul melintasi pintu kelas dan segera menuju bangku kosong di samping Irina yang sejatinya memang bangku miliknya.


"Hei, kamu tadi nggak lihat aku?" celetuk Rian terburu-buru ingin segera mendapatkan jawaban.


"A.. A... Apa?" tanya Irina sedikit tergagap karena bingung.


"Sejak kapan lantai sekolah begitu menarik sampai kamu harus fokus menunduk bahkan nggak mendengar panggilanku sama sekali, tante?" celetuk Rian dengan nada meledek.


Irina hanya mengerucutkan bibirnya sebagai tanda kesal dengan ucapan Rian. Irina tak menjawab sama sekali, tatapannya tajam mengintimidasi kelakuan Rian.


Hal ini tentu saja tak membuat Rian bergeming sedikitpun melainkan sebaliknya membuat Rian tertawa kecil merasa lucu dengan sikap Irina.


"Nggak lucu, tahu?!" celetuk Irina kesal.


"Siapa bilang nggak lucu? Semua sikapmu selalu lucu di mataku, Irina. Kamu selalu membuatku senang," ucap Rian dengan nada santai namun tersirat serius mengucapkan kata-katanya sambil bertopang dagu dan menatap Irina lekat-lekat.


"Astaga, ada apa dengan hari ini?" batin Irina sembari mengatur detak jantungnya yang terasa berdebar tanpa ritme yang beraturan serta Irina yakin saat ini wajahnya tengah kembali merona merah menahan rasa malu atas sanjungan Rian.


Ini masih pagi, belum separuh hari dilewati Irina tapi Irina sudah dua kali secara berturut-turut merasa panas membara di wajahnya.


Sungguh memalukan!


Pertama karena keberaniannya sendiri bersikap lebih akrab kepada Adrian dan yang kedua adalah karena sikap Rian yang tak pernah terduga selalu berhasil membuat Irina tersipu malu.


Ah, Rian!


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2