SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 23. Janji Temu


__ADS_3

Irina tercenung beberapa saat atau mungkin sesungguhnya tanpa sadar Irina telah mengambil waktu yang sangat lama untuk berdiam diri sebab saat ini mobil telah memasuki area parkiran mall.


Adrian sendiri yang sedari tadi hanya sibuk menyetir mobil sengaja memberi waktu untuk Irina berpikir sebelum menjawab pertanyaan yang setengah hati diutarakannya.


Sebuah pertanyaan yang keceplosan terlontar dari mulutnya yang tak sinkron dengan pola pikir Adrian seperti biasanya yang selalu berpikir dengan seksama sebelum bertindak maupun berbicara.


Berpikir berat mengenai perasaannya sendiri dan mencoba meraba dengan hati-hati perasaan Irina malah membuatnya semakin impulsif.


Adrian sengaja tak menanti jawaban apapun dari Irina, sungguh tak sedikitpun ingin tahu.


Jika boleh, Adrian ingin rasanya memundurkan waktu saja dan membatalkan pertanyaan yang sudah terlanjur diucapkan olehnya.


Mobil mereka kini tengah berada di area parkiran basement mall. Adrian berusaha fokus menyetir mobil, pikirannya sedikit teralihkan karena sibuk mencari lahan parkir kosong. Terutama, Adrian berusaha mencari lahan parkir yang paling dekat dengan area pintu masuk mall.


Selama Adrian membawa mobil berkeliling untuk menemukan posisi parkir ternyaman dan sesuai seleranya, selama itu pula Irina hanya bisa diam, menunduk, menatap kedua lututnya lekat-lekat seolah ada jawaban yang bisa Ia contek disana.


Adrian diam-diam mengamati bahasa tubuh Irina dari sudut matanya. Adrian menyadari betapa Irina masih kebingungan sendiri untuk menjawab pertanyaannya.


Iya, Irina memang tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Adrian yang terkesan tiba-tiba dan bahkan itu bukan pertanyaan yang bisa dianggap sepele.


Itu adalah pertanyaan yang berat.


"Irina, apa kau membenciku?"


Pertanyaan singkat dan sederhana namun membuat Irina tak tahu sama sekali harus menjawab apa.


Bahkan, Irina pun jadi mempertanyakan kepada dirinya sendiri.


"Apakah aku membenci Kak Adrian?" tanya Irina pada dirinya sendiri yang sedari tadi terus menggema berulang di dalam kepalanya sepanjang perjalanan.


Adrian kini telah menemukan tempat parkir yang dirasa sesuai dengan keinginannya.


Dengan sangat hati-hati Adrian memposisikan mobil terparkir dengan rapi tepat di samping pintu masuk area mall.


Pas sekali, sesuai selera.


"Kita sudah sampai," ucap Adrian membuat Irina sedikit terperanjat.


Kata-kata Adrian menyadarkan Irina dari lamunannya yang berlangsung sepanjang perjalanan.


Irina tak mengucapkan sepatah kata apapun. Ia segera membuka sabuk pengaman yang telah berjasa sepanjang perjalanan membuatnya tetap selamat dari guncangan mobil yang mungkin tak terelakkan.


Irina berpura-pura sibuk merapikan rambut lurus panjangnya, tak tahu apakah harus memberi jawaban kepada Adrian atas pertanyaan sebelumnya atau abaikan saja dan bersegera keluar dari mobil untuk kemudian memasuki area dalam mall untuk menemui Rian, kekasihnya.


"Lupakan saja pertanyaanku tadi."


Irina terkesiap mendengar rangkaian kata-kata singkat yang baru saja meluncur dari mulut Adrian.


"Apa?" tanya Irina polos sembari menatap lekat pada wajah Adrian yang hanya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Aku bilang, lupakan saja pertanyaanku tadi," ucap Adrian datar lalu mulai sibuk melepas sabuk pengamannya, bersiap untuk keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobil yang menderu halus.


Kini Adrian telah keluar dari dalam mobil diikuti Irina yang akhirnya juga memantapkan diri untuk keluar dari mobil untuk menyusul Adrian setelah sedari tadi hanya diam saja dan tak tahu harus bagaimana.


Adrian lebih dulu melangkah menuju pintu masuk mall sedangkan Irina tergopoh-gopoh berusaha menyusul Adrian dengan langkah kecil dan cepat.


"Menyebalkan!" rutuk Irina.


"Kenapa sih Kak Adrian selalu saja membingungkan, dasar manusia es batu!" rutuknya lagi sambil menatap punggung lebar Adrian yang membelakanginya


.


Irina mulai pasrah untuk berusaha mengejar langkah Adrian. Pada akhirnya Irina memilih berjalan dengan santai di belakang Adrian.


Sebelumnya Irina sudah memberitahu dimana Irina dan Rian membuat janji temu. Dan kelihatannya Adrian tidak perlu menunggu Irina hanya untuk menunjukkan kafe tempat mereka bertemu. Langkah Adrian terlihat mantap untuk mendekati tempat tujuan dengan sendirinya.


***


Irina memerhatikan sosok Adrian yang berada agak jauh di depannya. Punggung yang terlihat lebar khas seorang lelaki dewasa milik Adrian terasa mengeluarkan aura dingin bagi Irina.


Hampa.


Irina menghela nafas panjang lalu tiba-tiba saja pikiran Irina melayang ke masa lalu, pada belasan tahun yang telah terlewati dan takkan kembali.


Irina sejatinya tengah teringat masa kecil saat dirinya dan Adrian sering bermain bersama dengan penuh kehangatan, riang tanpa beban.


Sosok yang hangat itu kini telah berubah begitu dingin. Sungguh Irina merasa bodoh bila untuk kesekian kalinya secara berulang-ulang harus kembali ke titik keluhan yang sama bahwa Adrian, kakaknya telah berubah.


Irina tidak benci.


Irina hanya merasa, asing!


Irina terus memperhatikan sosok Adrian yang membelakanginya dan menyadari bahwa kakaknya ini bukan lagi anak-anak.


Ya, Adrian telah bermetamorfosa menjadi lelaki dewasa.


Tubuh yang tinggi, punggung yang lebar dan kokoh serta potongan rambut yang rapi ditambah dengan cara berpakaian Adrian yang terlihat keren, khas lelaki cerdas berkualitas.


Sebenarnya Adrian hanya menggunakan kaos T-shirt berkerah berwarna biru gelap polos dan dipadukan dengan celana jeans panjang serta sepatu kets putih, namun dari tampilan yang sederhana itu malah memberi kesan dewasa yang bersahaja.


"Kakakku memang keren!" puji Irina untuk Adrian yang tak tersampaikan, hanya disimpan di dalam hatinya saja.


Irina sendiri sebenarnya juga terlihat manis dengan tampilannya yang selalu menonjolkan sisi feminim yang kuat.


Irina mengenakan rok terusan berwarna pink pastel polos, dihiasi dengan tas selempang kecil berwarna cokelat dan sepatu boots pendek berwarna cokelat senada yang selalu menjadi favoritnya. Rambut panjangnya sengaja diikat kuncir kuda, mengenakan ikat rambut berwarna senada dengan baju yang sedang dikenakannya. Modis, sederhana, dan cantik.


Ah...! Jika saja Adrian dan Irina memilih untuk berjalan bersisian, mereka akan terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi.


Dan, sudah semestinya mereka begitu.

__ADS_1


Sayangnya, mungkin memang belum waktunya.


***


Adrian telah sampai di depan area kafe tempat dimana Irina dan Rian berjanji untuk bertemu.


Tempat itu adalah sebuah kafe yang berada tempat di tengah-tengah area dalam mall.


Sebuah tempat berkumpulnya para pengunjung untuk sekedar menikmati kopi panas dan sejenisnya yang disandingkan dengan kue-kue pastry.


Nuansa interior yang nyaman dengan warna cokelat pastel yang mendominasi terlihat sangat memanjakan mata yang memandang.


Tertulis dengan jelas identitas dari kafe yang akan dikunjungi Adrian dan Irina untuk bertemu Rian sebagai "D'Cafey - Coffe and Pastry".


Dari kejauhan Adrian bisa melihat sosok Rian yang tengah duduk santai sambil menikmati secangkir cappuccino.


Adrian bisa menangkap sepasang mata Rian yang sangat bersemangat melihat ke arah Irina yang kini telah berhasil menyusul Adrian dan telah berdiri di sampingnya.


Rasa cemburu lagi-lagi mulai merayapi hati Adrian. Ingin rasanya Adrian menarik Irina untuk tak menghabiskan waktu bersama Rian meskipun hanya sekedar duduk manis dan berbincang-bincang ringan.


"Sabar!" rutuk Adrian dalam hatinya.


Rian yang terlihat mengenakan kaos putih bertuliskan kata "VANZ" yang mendominasi seluruh area dada bidangnya juga mengenakan topi cokelat muda berwarna senada dengan celana panjangnya kini melambai-lambaikan tangannya ke arah Irina, berusaha memudahkan Irina untuk menemuinya.


Berhasil menemukan keberadaan Rian, Irina menunjukkan wajah sumringah dan ikut melambaikan tangan ke arah Rian, tak sabar untuk menghampirinya.


Adrian tentu saja semakin cemburu!


Tak ingin terperangkap dengan konflik batin, Adrian memilih melepas Irina untuk mendatangi Rian.


"Pergilah, jangan kemana-mana sampai aku kembali," celetuk Adrian dingin, mempersilahkan Irina.


"Tunggu aku kembali."


Irina sedikit heran mengetahui Adrian ternyata akan meninggalkannya menghabiskan waktu di kafe tanpa pengawasannya.


Sebuah pertanyaan kini lolos dari mulut mungilnya, mempertanyakan sikap Adrian.


"Kakak, mau kemana?" tanyanya.


Adrian melengos pergi setelah sempat menjawab dengan singkat dan terkesan setengah hati untuk menjawab pertanyaan Irina.


"Beli koper," jawab Adrian cepat.


"Koper?" batin Irina sedikit bingung sembari melepas sosok Adrian hingga hilang di tangga eskalator, menuju lantai atas.


***


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2