SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 16. Penat


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama memasuki masa liburan akhir semester yang akan berlangsung selama dua minggu lamanya. Pagi ini Irina masih bermalas-malasan di dalam kamarnya, enggan beranjak dari kasurnya yang empuk meski matahari pagi sudah memancarkan sinarnya yang hangat di seluruh permukaan bumi.


Beberapa menit sebelumnya, Irina bisa mendengar derap langkah Adrian yang keluar kamar lalu kemudian melangkah terburu-buru untuk turun ke lantai bawah. Irina tahu bahwa Kakaknya tetap harus berangkat sekolah sepagi mungkin dan belajar lebih keras di sekolah dalam rangka menyambut ujian akhir sekolah yang akan dilaksanakan bulan depan.


Tapi, Irina tak bergeming dari tempat tidurnya, tak juga ingin keluar kamar walaupun sekedar untuk melepas Adrian berangkat sekolah. Irina sedang libur sekolah. Tidak ada urusan dengan Adrian. Begitulah menurut pemikiran sederhana Irina.


Irina meraih hp miliknya yang tergeletak tenang di atas nakas samping tempat tidurnya. Tak ada pesan pemberitahuan yang masuk di layar gadgetnya. Sudah jelas Irina menunggu pesan dari Rian, kekasihnya. Meski Irina mengharapkan pesan sambutan pagi dari Rian, namun Irina tahu saat ini Rian masih terlelap dalam tidurnya.


Semalaman mereka menikmati saling berbalas pesan singkat satu sama lain, bercerita berbagai macam hal yang seolah tak ada habisnya hingga mereka mulai mengantuk dan saling melempar izin berpamitan untuk segera tidur.


Sudah sejak tiga hari yang lalu, mereka berdua menjalani drama sepasang kekasih seperti yang biasa dilakukan sepasang kekasih ala remaja lain pada umumnya. Saling melempar rindu dengan berjuta kata-kata manis dalam layar gadget mereka setiap malam tiba, seolah mereka tak bertemu jutaan tahun lamanya. Klasik.


Rian benar-benar mengalihkan dunia Irina. Setiap hari Irina hanya memikirkan kebersamaannya bersama Rian. Dan hari ini, ini akan menjadi hari pertama Irina tak bertemu Rian dalam waktu 1x24 jam karena liburan sekolah dan itu akan berlangsung selama dua minggu lamanya.


Tentu saja, mereka sudah mulai memikirkan, mendiskusikan, menentukan, kapan waktu dan tempat yang tepat untuk mereka saling bertemu di luar jam sekolah selama masa liburan ini. Hanya saja, masih terus dalam perbincangan.


Irina meletakkan kembali gadgetnya setelah sebelumnya melayangkan sebuah pesan singkat untuk Rian, menegaskan sebuah bentuk perhatian sebagai rasa kasih sayangnya.


"Jangan lupa bangun tidur, Om...."


***


"Adrian!"


Revano berlari-lari kecil mencoba mensejajarkan dirinya di samping Adrian yang berjalan santai di koridor sekolah dan berada agak jauh di depannya. Adrian hanya menoleh sedikit sebagai tanda bahwa Ia mendengar panggilan Revano namun tak memilih untuk menghentikan langkahnya. Ia tetap terus berjalan dengan lebih perlahan agar Revano dapat dengan mudah menyeimbangi langkahnya.


"Heh! Berhenti dulu!" celetuk Revano sembari memukul pundak Rian.


"Ada apa?" Adrian akhirnya menghentikan langkahnya dan memasang wajah datar menanggapi Revano.


"Aku dapat pesan dari Senna untukmu. Katanya, salam sayang untuk Adrian," ucap Revano tanpa beban sambil cengar-cengir tanpa dosa di depan wajah Adrian yang kini merengut karena tidak suka.


"Ck!" Adrian berdecak kesal, lalu kembali melangkah menjauh pergi. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya dan tak mempedulikan Revano yang memasang muka keheranan ditinggalkan begitu saja oleh Adrian tanpa ada jawaban sepatah kata apapun.


"Adrian!" Revano kembali berlari kecil mencoba menyusul Adrian yang sudah berbelok memasuki ruang kelas dan kini sudah duduk tenang di bangku miliknya.


Revano mengambil posisi duduk di samping Adrian. Selama ini memang Adrian dan Revano adalah teman sebangku di kelas. Baru saja Revano bermaksud akan kembali angkat bicara, Adrian segera memutus pembicaraan dengan kalimatnya yang dingin.


"Kalau Kau hanya mau bicara mengenai Senna, lebih baik tutup mulutmu!" ujar Adrian dengan aura mengintimidasi dan membuang wajahnya ke luar jendela kelas yang tepat berada di sampingnya.


Bukan Revano jika Ia sangat peduli dengan sikap dingin Adrian. Sebagai sahabat karib Adrian dan dikenal sebagai sosok malaikat tampan yang penuh kehangatan, Revano sudah terbiasa dengan cara Adrian. Revano bahkan akan menjadi lebih usil dengan caranya yang cuek menghadapi Adrian yang dingin.


"Haaa~ perempuan cantik seperti Senna kok dicuekkin. Sayang sekali..." goda Revano.


"Ck!" Adrian kembali berdecak kesal, Ia tahu lebih baik memperlihatkan ketidaksukaannya melalui caranya bersikap daripada angkat bicara yang hanya akan membuat Revano semakin gencar mengajaknya berdebat kusir.


Biasanya Revano akan mengakhiri perdebatan dengan tertawa terkekeh-kekeh setelah melihat Adrian telah mencapai puncak emosinya yang mulai membuncah hingga ke ubun-ubun.


"Menurutku..." kata-kata Revano terputus ketika Ia menyadari Adrian sudah meliriknya dengan tajam dan penuh aura suram yang seolah menguar dari tubuhnya dan siap menerkam Revano. Revano akhirnya mengurungkan niatnya menggoda Adrian dan nyengir kuda.


"Cih! Aku sudah cukup lelah memikirkan Irina dengan drama romeo julietnya bersama Rian. Belum lagi harus berjuang keras untuk ujian bulan depan, jangan sampai kelakuan Senna yang memuakkan menambah kesal dalam hidupku!" rutuk Adrian dalam hati.


Adrian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menopang kepalanya dengan tumpuan kedua sikunya di atas meja. Adrian merasa penat dengan semua hal yang tiba-tiba berada di luar prediksinya, ditambah lagi dengan permainan perasaan yang mulai merasukinya.


Adrian hanya ingin terus mengutamakan logikanya. Dia harus fokus. Menghadapi ujian dengan kerja keras lebih penting dari apapun. Adrian harus memprioritaskan ujian akhir sekolahnya. Selangkah lagi menuju tahapan yang lebih tinggi, lebih dekat dengan pencapaiannya. Meskipun sebenarnya Adrian juga merasa....


PENAT!!!


***


Di kediaman Keluarga Domino,


Irina sedang duduk manis di sofa ruang keluarga. TV yang menyala di depannya tak membuatnya ingin memusatkan perhatiannya pada sajian acara TV yang terlihat tak menarik sedikitpun.


Diliriknya jam dinding di atas TV telah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat. Irina teringat bahwa sudah seharusnya Adrian pulang dari sekolah. Benar saja, belum sempat Irina mempertanyakan dalam benaknya mengenai kepulangan Adrian, tiba-tiba seseorang membuka pintu utama rumah mereka. Siapa lagi kalau bukan Adrian yang membuka pintu, baru saja tiba dari pulang sekolah.


Irina melirik ke arah Adrian yang terlihat sibuk membuka sepatu di ruang tamu. Tak ada rasa ingin menyambut kedatangan Adrian sedikitpun.

__ADS_1


Bagi Irina, lebih baik diam daripada berusaha beramah-tamah lalu kemudian kecewa dengan sikap Adrian yang dingin. Irina memilih menyibukkan dirinya menatap layar gadgetnya, berpura-pura seolah tak menyadari kedatangan Adrian.


Canggung. Selalu begitu.


"Apa kerjaanmu cuma main hp seharian?" celetuk Adrian tiba-tiba ketika melewati Irina hingga membuat bahu Irina bergidik terkejut.


Hampir saja hp di tangan Irina terlepas dari genggamannya karena terkejut dengan sapaan Adrian yang tak disangka-sangka.


Sapaan yang dingin namun setidaknya sangat langka dalam kehidupan Irina beberapa tahun belakangan ini.


"Aku... Aku..." Irina memperbaiki posisi duduknya dan terbata-bata ingin menjawab pertanyaan Adrian.


"Sial!" rutuk Irina lagi dalam hatinya, merasa dirinya sangat konyol di depan Adrian.


Adrian melengos pergi setelah sebelumnya mengucapkan beberapa kata yang membuat Irina sedikit terperangah tak percaya.


"Jaga matamu Irina, melihat hp terus tak baik untuk kondisi matamu," ucap Adrian yang terdengar tak sedingin biasanya.


"Aku capek, mau istirahat dulu...."


***


Adrian meletakkan tas sekolahnya di kursi yang biasa digunakannya untuk duduk melangsungkan kegiatan belajar di kamarnya.


Raut wajahnya terlihat lelah hingga membuatnya ingin sekali segera membaringkan tubuh penatnya di atas kasurnya yang nyaman dan empuk.


Meski begitu ingin segera menikmati kasur empuknya, Adrian tak melupakan untuk menanggalkan seluruh pakaian sekolahnya dan berganti dengan pakaian rumahnya berupa kaos oblong berwarna hitam polos dan celana pendek berwarna senada.


Belum sempat Adrian menghempaskan tubuh penatnya di atas kasur, sebuah ketukan di pintu kamarnya menghentikan niatnya untuk segera berbaring. Adrian menghampiri pintu dan membukanya perlahan.


Sosok Irina sedang berdiri di ambang pintu dengan bahasa tubuh yang canggung dan sedikit senyum tipis tersungging di bibirnya. Diam-diam Adrian merasakan desiran tak wajar menyerang jiwanya yang dengan segera Ia tutupi melalui sikap dingin dan wajah datar seolah tak ada yang istimewa dari kehadiran Irina di depan matanya.


"Ada apa?" tanya Adrian datar.


"Eng... Itu... Ibu memintaku untuk memanggil Kakak makan siang," ujar Irina dengan santun.


"Aduh, kenapa Aku menahan pintunya?" batin Irina yang tak menyangka atas tindakan refleks dari tubuhnya.


"Irina..." gumam Adrian pelan, tak mengerti apa maksud sikap Irina menahan pintu kamarnya.


"Itu... Aku pikir... Maksudku... Kakak sebaiknya... Kakak..." Irina salah tingkah.


"Yang jelas Irina!" Adrian mulai geram.


"Emm.. Kakak sebaiknya makan dulu. Aku tahu Kakak lelah tapi melewatkan makan siang bisa membuat kondisi tubuh tidak fit nantinya," Irina berusaha menjelaskan dengan tenang, sebuah perhatian yang tulus dari dalam hati Irina untuk Adrian.


"Sebaiknya Kakak makan dulu." sambungnya lagi.


Irina kemudian pergi tanpa menunggu sepatah kata apapun keluar dari mulut Adrian. Adrian menghela nafas berat dan berpikir untuk menuruti kata-kata Irina. Adrian keluar dari kamar dan menutup pintunya.


Sedikit rasa penat yang membebaninya terasa menyublim begitu saja ketika Adrian merasakan sebentuk perhatian kecil Irina untuk dirinya.


Perasaan yang menyenangkan~


Adrian kemudian juga menyadari, rasa penat yang menderanya bukan sekedar karena kegiatan belajarnya di sekolah yang sangat diforsir, melainkan juga dia memang lapar.


Aroma hidangan di meja makan yang sedang disiapkan Marinka untuknya mengusik indera penciumannya ketika Adrian menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan, membuat Adrian sadar bahwa dirinya kelaparan.


Adrian menghampiri kursi makan yang biasanya Ia gunakan, segera duduk dan mulai mengambil beberapa hidangan yang disatukan di atas piringnya hingga membentuk kombinasi hidangan makan siang yang sempurna dan terlihat menggugah selera.


Adrian segera menikmati makan siangnya, begitupun Irina yang sedari tadi sudah duduk di samping Adrian dan sibuk menikmati makan siangnya lebih dulu dari Adrian.


Adrian melirik ke arah piring Irina dan melihat Irina menyisihkan beberapa potongan cabai merah yang berasal dari hiasan lauk tumis brokoli dan wortel yang merupakan menu sayuran mereka siang ini.


Adrian teringat ketika mereka berdua masih menjalin hubungan yang hangat sebagai kakak beradik, Adrian sering mengambil potongan cabai merah yang disisihkan Irina di tepi piringnya untuk dimakannya sendiri.


Biasanya Irina akan bersyukur dan menunjukkan pandagan mata yang berbinar-binar sebagai rasa terimakasihnya seolah Adrian adalah pahlawan baginya yang membuatnya terbebas dari omelan Marinka, Ibunya, karena telah menyisihkan makanan.

__ADS_1


Perasaan Adrian sedikit tergelitik teringat kenangan lalu, sebuah tawa kecil lolos dari mulutnya yang tak disadari oleh Irina karena terlalu sibuk menikmati makanan.


Tanpa sadar, Adrian kembali mengulang kelakuannya terdahulu, tanpa basa-basi segera mengambil potongan cabai merah yang disisihkan Irina di tepi piring menggunakan garpu dan sendoknya.


Irina terperanjat kaget dan segera menoleh ke arah Adrian dengan pandangan penuh tanda tanya. Adrian hanya kembali sibuk menikmati makanannya tanpa menghiraukan Irina yang masih mematung dan memperhatikan Adrian dengan seksama.


"Apa?" tanya Adrian ketika menyadari Irina terus memperhatikannya hingga membuat Adrian merasa sedikit risih.


"Kakak..." ucap Irina lambat.


"Kenapa? Salah?" celetuk Adrian dengan datar.


"Bukan begitu," ucap Irina lagi semakin canggung.


"Kakak biasanya tidak begini..." gumam Irina dalam hati saja.


"Terimakasih," ucap Irina dengan santun dan sebuah senyum simpul jelas terpampang nyata di bibir Irina yang disadari oleh Adrian.


"Hmm..." Adrian hanya mengangguk sambil tetap melanjutkan kegiatan makannya.


Irina pun kembali melanjutkan kegiatan makan siangnya, hanya tinggal beberapa suapan lagi Irina akan selesai.


Adrian yang menyibukkan dirinya dengan menikmati makan siangnya, diam-diam merasa hangat di dalam hatinya. Rasanya sudah sangat lama sekali Adrian tak menjadi dirinya sendiri yang begitu bahagia bersenda gurau dan memperhatikan Irina dengan penuh kehangatan.


Terlalu lama hingga hampir lupa~


***


Adrian kini merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Setelah memanjakan perutnya dengan hidangan yang lezat di ruang makan hingga kenyang, kini Adrian tak ragu lagi untuk memanjakan tubuhnya yang sangat penat.


Bukan hanya tubuhnya, Adrian juga perlu mengistirahatkan sejenak kepalanya yang terasa panas setelah dipaksa berpikir lebih keras selama di sekolah.


Meskipun begitu, rasa penat yang menderanya sedikit berkurang setelah mendapati satu hingga dua momen menyenangkan yang dirasakannya bersama Irina sebelumnya.


Sangat menyenangkan~


"Irina, semoga Kau bisa menungguku," gumam Adrian lirih sambil menutup matanya yang sudah sangat berat diserang oleh rasa kantuk.


"Sedikit lagi...." ucap Adrian lirih yang kemudian telah tenggelam dalam dunia mimpinya. Terlelap.


***


Irina yang kini juga berada di kamar pribadinya tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sama seperti Adrian, Irina juga memikirkan momen yang baru saja terjadi di ruang makan.


SUNGGUH TAK BISA DIPERCAYA!


Iulah yang kali ini menjadi pikiran Irina. Sudah lama Irina tak melihat sikap Adrian yang paling tidak sedikit melunak daripada biasanya. Begitu tak menyangka hingga Irina mengabaikan pesan singkat dari Rian, Kekasihnya.


Irina begitu senang, secercah harapan mulai tumbuh dalam diri Irina. Perasaan yakin bahwa Adrian akan kembali menjadi sosok Kakak yang hangat dan menyenangkan bagi Irina.


"Apa belajar terlalu keras membuat Kak Adrian menjadi berubah?" Irina terkekeh.


"Kak Adrian... Kembalilah seperti dirimu yang dulu. Aku rindu." gumam Irina lirih, hingga tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya, hangat membasahi pipinya.


Tak bisa dipungkiri, sudah sekian tahun berlalu, Irina begitu terpukul dengan sikap Adrian yang begitu dingin dan kaku secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Lebih tepatnya, untuk alasan yang tak pernah diketahui oleh Irina.


"Kakak~ Aku ingin dirimu yang dulu.... "


***


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1



__ADS_2