SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 25. Bicara dari Hati ke Hati


__ADS_3

Adrian menghampiri Irina yang tengah duduk manis sembari menyeruput minuman chocoforest frappe ice blended miliknya. Kelihatannya minuman itu masih penuh, bahkan belum mencapai setengah volume gelas, pertanda Irina baru saja memesan lagi untuk yang kedua kalinya minuman untuk dirinya.


Meja yang ditempati oleh Irina juga bersih, sisa-sisa wadah makanan dan minuman sebelumnya sudah dibersihkan oleh pelayan kafe. Kali ini mata Adrian tertuju pada sebuah cangkir putih yang terletak di meja serta sebuah kue cheese cake yang ditata tepat di depan kursi kosong yang akan digunakan Adrian untuk duduk.


"Itu...." gumam Adrian sebelum mengambil posisi duduk di hadapan Irina.


"Oh, itu aku baru saja memesan semuanya untuk Kakak," ucap Irina cepat sambil tetap menyeruput minumannya.


Mata Irina tak berani melihat sosok Adrian yang berdiri di dekatnya. Irina sedang merasa bersalah telah melupakan Adrian hampir satu jam lamanya tanpa bertanya kabarnya atau basa-basi lainnya.


Lagipula, entah kenapa rasanya baru saja Irina merasa sangat riang gembira saat bersama Rian, namun seketika saja berubah menjadi rasa canggung, kaku, rasa yang begitu suram meski mereka sedang berada di area mall yang cenderung ramai akan hiruk pikuk manusia.


Sekarang Irina harus berduaan dengan Adrian, kakaknya.


Adrian menatap dengan penuh selidik terhadap gelagat Irina. Jelas sekali Adrian sadar bahwa Irina sedang salah tingkah dan semua hal yang dilakukan Irina sebagai bentuk penebus rasa bersalahnya.


Tanpa ba-bi-bu Adrian segera duduk dengan pembawaan yang tenang dan senyum tipis tergurat di bibirnya melihat hidangan di depannya. Meskipun Adrian tahu semua yang dilakukan Irina hanyalah cara Irina menebus rasa bersalahnya, namun tetap saja membuat Adrian sedikit senang karena ternyata Irina ingat dengan jelas semua minuman dan makanan kesukaannya.


"Tak disangka, ternyata Irina masih ingat kesukaanku," batin Adrian.


"Tapi... Astaga! Aku baru saja minum segelas espresso, perutku bisa kembung kalau minum lagi!" rutuk Adrian dalam hatinya sedikit panik karena tak mungkin menolak untuk tidak meminumnya. Itu pastinya akan membuat Irina kecewa.


"Kakak suka espresso dan cheese cake, kan?" tanya Irina memastikan tetap memusatkan pandangannya pada minuman yang tengah diseruputnya.


"Duh! Kenapa awkward begini sih?" rutuk Irina dalam hatinya.


"Hmm..." gumam Adrian sembari mengangkat kedua alisnya sebagai tanda mengiyakan pertanyaan Irina.


Merasa sudah puas meneguk secangkir espresso sebelumnya, Adrian lebih memilih untuk menikmati cheese cake yang tersaji di depannya saja. Satu suapan kecil berhasil membuat perasaannya merasa lebih tenang akibat lumernya cream cheese yang terselip di tengah tumpukan dua potong bolu bertekstur lembut nan manis berperisa vanilla yang memanjakan indera pengecapnya.


Sama seperti Irina, sebenarnya Adrian juga merasa canggung duduk berdua di kafe bersama Irina. Hanya saja, Adrian sangat ahli menutupi perasaannya dengan bersikap dingin dan memasang wajah datar adalah keahlian yang sudah dikuasainya selama bertahun-tahun. Jadi, Irina tidak sedikitpun menyadari rasa canggung yang dimiliki Adrian.


"Ehm..." Adrian berdehem pelan setelah menghabiskan satu suap cheese cake di dalam mulutnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Irina spontanitas.


Pandangan Irina yang sedari tadi menunduk segera menatap lurus ke arah Adrian dengan raut wajah cemas. Cara Irina yang tiba-tiba memperhatikannya dengan seksama malah membuat Adrian terkejut hingga sedikit membuatnya tersedak. Terbatuk.


"Kakak baik-baik saja? Ini cepat minum!" Irina menyodorkan minumannya.


Adrian menyambut minuman milik Irina. Syukurlah Irina tidak memilih untuk memberikan secangkir espresso yang masih panas untuk Adrian sehingga Adrian merasa lega telah memanjakan tenggorokannya dengan aliran cairan dingin dari minuman Irina.


"Tunggu! Bukankah ini berarti...." Adrian memekik dalam hatinya, menyadari sesuatu.

__ADS_1


Tindakannya saat ini bukankah berarti sama saja mereka sedang berciuman secara tidak langsung?


Adrian segera mengembalikan minuman milik Irina, wajahnya sedikit merona, merasa malu sendiri dengan apa yang ada dalam pikirannya.


Sedangkan Adrian sendiri menyadari ketika mencuri pandang ke arah Irina saat mengembalikan minuman, tidak ada sedikitpun gelagat Irina yang memperlihatkan rasa canggung atau menyadari tindakan yang mereka lakukan. Irina murni diliputi rasa khawatir akan apa yang sedang dialami Adrian, tidak ada rasa lainnya.


Adrian malu sendiri, hanya dia yang berpikir di luar logika dan tentu saja wajar Irina terlihat biasa saja, apa yang aneh ketika Kakak dan Adik berbagi minuman?


Iya kaan?


***


Adrian masih menikmati cheese cake dihadapannya dan Irina masih sibuk menyeruput minumannya. Kegiatan mereka berdua ini telah sukses menyibukkan mereka dan mengalihkan perhatian mereka dari memilih untuk berbincang-bincang secara empat mata.


Padahal, situasi mereka saat ini sangat tepat untuk bicara dari hati ke hati, setidaknya seharusnya bisa dimanfaatkan Adrian dengan baik.


Ah! Ego Adrian terlalu besar.


"Dukk!"


Seorang pengunjung kafe yang melewati meja mereka tak sengaja menabrak koper baru milik Adrian dengan lututnya. Koper hitam polos itu meskipun berukuran kecil memang sedari tadi hanya dibiarkan di pinggiran luar meja dan sudah semestinya memang akan menghambat arus jalan bagi orang lain yang lalu lalang melewati mereka.


"Oh maaf, saya nggak sengaja," ucap pengunjung yang menabrak koper tersebut.


Pengunjung tersebut hanya tersenyum sebagai tanda tak ada yang perlu dipermasalahkan dari situasi mereka saat ini.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi pengunjung tersebut kemudian berlalu menuju meja yang sudah lebih dulu ditempati oleh beberapa rekannya.


***


"Emm, kenapa kakak membeli koper?" tanya Irina seketika setelah mereka kini telah kembali tenang berdua saja.


Adrian tidak menyangka bahwa Irina akan mempertanyakan koper yang telah dibelinya dan tiba-tiba saja akhirnya Adrian menyadari sesuatu. Pertanyaan Irina ini adalah kalimat pembuka yang paling tepat untuk akhirnya mereka bicara berdua dari hati ke hati.


Kali ini Adrian tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada.


Sebelum akhirnya mulai angkat bicara, Adrian memilih untuk menyeruput espresso miliknya yang sudah mulai dingin. Adrian mencoba menenangkan diri dari gejolak perasaan yang mulai menguasainya. Tidak. Tak boleh ada rasa gugup. Adrian harus bicara.


Adrian berpikir keras memilah berbagai kalimat yang tepat dan pantas untuk digunakannya beberapa waktu kedepan yang akan digunakannya untuk bicara.


"Ehm..." Adrian berdehem sejenak, membuat Irina memasang titik fokus perhatian pada Adrian.


"Aku membeli koper karena aku akan berangkat," ucap Adrian singkat.

__ADS_1


"Berangkat? Kakak mau kemana?" Irina mengernyitkan dahinya, selama ini Irina tidak mendapatkan kabar apapun tentang rencana Adrian.


"Setelah lulus, aku akan melanjutkan sekolah ke Inggris, sudah sejak dulu direncanakan oleh Ayah. Aku akan lama tidak ada di rumah, Irina." ucap Adrian dengan tatapan yang terasa lebih luruh.


Irina hanya terdiam, sedangkan Adrian juga memilih menyibukkan diri dengan kembali menyeruput minumannya setelah mengucapkan kata-katanya. Adrian merasa sedikit lebih lega. Meskipun Adrian ingin sekali menyatakan perasaan sukanya, rasa cemburunya, bahkan komitmen pertunangan mereka, tapi Adrian tahu bahwa Ia tak boleh bersikap impulsif.


Semua harus dijelaskan perlahan-lahan agar tidak menjadi terapi shock untuk Irina.


"Irina, apa kau membenciku?" Adrian mengulang kembali pertanyaannya.


"Tidak," ucap Irina tegas.


Diam beberapa saat membuat Irina menyadari ketika Adrian mengatakan bahwa akan pergi ke Inggris ternyata membuat perasaan Irina merasa kehilangan meski sedikit, entahlah, Irina tak mengerti.


Sedang selama ini Adrian selalu bagaikan orang asing untuk Irina, tetap saja ada rasa takut kehilangan menjalari sekujur tubuh Irina ketika mendengar apa yang diucapkan kakaknya. Mungkin rasa itu muncul karena mereka terbiasa selalu bersama.


"Aku minta maaf selalu bersikap kaku dan dingin kepadamu," ucap Adrian lirih.


"Hah! Dia sadar!" pekik Irina dalam hatinya.


"Waktuku tidak banyak Irina. Bisakah di waktu yang tersisa, sebelum aku ke Inggris, kita menjalin hubungan yang baik?" Adrian menatap lurus pada Irina, menunjukkan sikap sungguh-sungguh dengan pertanyaannya.


"Aku tidak pernah bersikap buruk pada kakak," celetuk Irina kembali tegas.


"Deg!" Adrian terkesiap, Ia tahu Irina telah berhasil mengutarakan rasa kecewa terhadap dirinya.


"Aku mengerti Irina, aku minta maaf."


"Kenapa kak?" tanya Irina yang kali ini menatap lekat dengan sepasang mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Aku salah apa selama ini?" tanya Irina lagi dengan suara yang menyiratkan perasaan getir.


Adrian berusaha tenang dan memikirkan pilihan kalimat yang bisa meredakan emosi Irina. Adrian tak ingin ada drama yang bisa dikonsumsi publik saat ini. Bagaimanapun juga, ini tempat umum.


Adrian meraih tangan kanan Irina, menggenggam telapak tangan Irina dengan erat, mencoba menenangkan.


Irina tentu saja terkesiap, tak pernah sedikitpun Adrian melakukan kontak fisik dengannya seperti ini, rasanya aneh tapi menenangkan seolah mengusik kerinduan Irina akan sosok Adrian kecil yang hangat kepadanya.


"Bisakah kita mulai lebih akrab lagi? Kembalikan suasana hangat yang dulu? Aku bersalah padamu Irina. Izinkan aku memperbaiki keadaan. Aku akan berusaha tapi takkan ada hasilnya bila kau tak memberi kesempatan."


***


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2