
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 dan Irina sudah sedari tadi duduk manis di sofa ruang tamu menunggu kedatangan Rian, kekasihnya.
Sore itu Irina begitu cantik dan wangi. Seperti biasanya, Irina selalu memiliki penampilan yang berkesan feminim dan sederhana. Kali ini Irina menggunakan rok terusan selutut berwarna dusty pink.
Rambut panjangnya diikat kuncir kuda dengan ikat rambut berwarna senada dengan bajunya. Tas selempang bertali panjang dan berukuran kecil berwarna cokelat gelap menggantung dengan pas di salah satu bahunya.
Raut bahagia dan kilat senyum yang malu-malu ditampakkan Irina nampak jelas terlihat di wajahnya yang terlihat manis dengan polesan natural.
Irina memang hanya menggunakan alas bedak dan bedak tabur yang membantu wajahnya terlihat lebih cerah serta polesan pewarna bibir yang juga tak nampak begitu merah melainkan hanya memberikan kesan segar pada bibirnya.
Cara Irina memoles wajahnya sukses membuatnya nampak begitu manis dari biasanya. Sebuah bentuk kecantikan yang sederhana namun sungguh mempesona.
Tak berapa lama, hampir tak sampai hitungan menit, Irina bisa mendengar suara mesin motor khas milik Rian telah memasuki pekarangan rumahnya. Irina menghela nafas dan mencoba menenangkan dirinya yang semakin gugup mengingat ini adalah kencan pertamanya dengan kekasih pertama dalam hidupnya.
Irina berlarian kecil mendatangi Ibunya yang sedang asik duduk manis membaca majalah di ruangan keluarga untuk pergi berpamitan.
Sambil lalu Irina bisa melihat Adrian turun dari lantai atas dimana kamar pribadi masing-masing mereka berada. Irina bisa melihat Adrian menggunakan tampilan yang tak biasa dilihatnya.
Adrian menggunakan kaos putih polos yang ukurannya sangat pas di tubuhnya disandingkan dengan celana training olahraga panjang berwarna hitam. Adrian juga menggunakan topi hitam miliknya.
Sungguh asing bagi Irina, tidak biasanya Irina melihat Adrian berpenampilan sporty seperti itu hingga membuat Irina tak dapat menahan rasa ingin tahunya dan tanpa sadar Ia pun spontanitas melontarkan pertanyaan.
"Kakak, mau kemana?" Tanya Irina sembari mengernyitkan dahinya sebagai tanda keheranannya.
"Apa? Hanya ingin refreshing." Jawab Adrian datar tanpa melihat Irina.
Adrian berlalu begitu saja melewati Irina dan Marinka, Ibunya. Adrian segera mengambil sepatu olahraga miliknya dan menggunakannya dengan serius tanpa melihat ke arah Irina sedikitpun.
Marinka menyembunyikan tawa kecilnya yang merasa lucu melihat tingkah laku Adrian dan merasa semakin lucu melihat sikap Irina yang terlihat tak nyaman.
"Mau jogging?" Tanya Irina lagi.
"Iya, kenapa?" Jawab Adrian cepat, lalu segera berpamitan dengan Marinka dan menghilang dari pandangan mereka.
Irina segera memasang wajah cemberutnya, begitu kesal dengan Adrian yang selalu bersikap dingin dengan dirinya.
Irina menggelengkan kepalanya secara halus dan berulang demi menetralkan kembali jalan pikirannya. Hari ini Irina harus mengumpulkan energi positif dalam dirinya agar Ia bisa menikmati kencan pertamanya bersama Rian.
Marinka mengantar Irina hingga ke depan teras rumah dimana Rian sudah menunggu. Begitu melihat Irina, Rian tak sanggup menyembunyikan perasaan terpesonanya.
Irina begitu manis hingga Rian hampir saja tak menyadari bahwa dirinya saat ini hanya bisa diam mematung, lupa bahwa saat ini seharusnya Ia segera menawarkan Irina untuk naik di atas boncengan motornya dan membawanya menelusuri jalan hingga sampai di taman sesuai rencana yang telah mereka sepakati berdua sejak pagi.
"Permisi, Tante. Saya bawa Irina jalan-jalan dulu." Izin Rian dengan santun kepada Marinka.
"Iya, jangan lama-lama yaa... Tolong dijagain baik-baik." Ucap Marinka tak lupa dengan senyum manisnya yang penuh kehangatan sambil menepuk lembut pundak Rian.
"Baik, Tante...." Rian sedikit membungkukkan badannya sebagai rasa hormatnya.
Sore itu Rian pun tampak begitu menawan. Rian menggunakan kaos polos berwarna biru dongker lengan panjang yang terlihat kontras dengan kulitnya yang bersih dan putih. Rian juga menggunakan celana panjang jeans warna hitam yang semakin mendukung penampilannya yang terlihat santai namun tetap menawan. Sepatu putih polos yang dikenakan Rian juga terlihat sangat modis.
Wangi semerbak parfum maskulin juga bisa dirasakan Irina ketika duduk diboncengan yang membuat posisinya tanpa jarak dengan Rian. Irina menahan senyum malu-malu di wajahnya yang saat ini tertutup oleh helm yang dikenakannya.
Rian sengaja mengendarai motornya dengan santai, tidak terburu-buru seakan ingin menikmati lebih lama sepanjang perjalanan dengan Irina.
__ADS_1
Mereka berdua terlihat begitu bahagia seakan tak ingin jalan yang menghubungkan antara rumah Irina dan taman yang mereka tuju memiliki ujung.
***
Di taman,
Rian dan Irina kini berjalan beriringan menyusuri jalan setapak di taman. Taman yang mereka datangi tidaklah jauh dari rumah Irina, bahkan masih satu area dengan kawasan perumahan di mana Irina tinggal.
Hanya butuh waktu 10-15 menit untuk tiba di taman ini, hanya saja karena Rian dan Irina begitu ingin menikmati perjalanan mereka berdua di atas motor, mereka telah menghabiskan waktu dua kali lebih lama dari waktu tempuh seharusnya. Mereka menghabiskan waktu 30 menit untuk tiba di sana.
Taman Tiga Generasi, begitulah taman ini dikenal. Sebuah taman yang luas dan memiliki tiga area sesuai usia, satu area merupakan area ramah anak yang ditandai dengan banyaknya fasilitas mainan umum untuk dinikmati para anak-anak. Sebuah kandang burung dara yang sangat besar dan dapat menampung puluhan burung dara berdiri kokoh di salah satu sudut area.
Beberapa pedagang asongan mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan menawarkan dagangan berupa makanan burung yang sudah dibungkus di plastik ukuran kecil untuk memudahkan anak-anak yang ingin berinteraksi dengan para burung dara dengan cara menabur makanan untuk menarik perhatian.
Area kedua memiliki jogging track dan lapangan serbaguna serta bangku-bangku taman yang bertebaran dimana-mana. Area ini bisa dibilang sangat cocok untuk masyarakat berusia produktif dan energik.
Mayoritas di area ini adalah para remaja siswa-siswi yang masih duduk di bangku SMP dan SMA serta para mahasiswa-mahasiswi dari universitas setempat di Kota X.
Sebagian dari mereka sedang asik melatih gerak tarian modern kreasi sendiri, melakukan pemanasan untuk bersiap jogging atau olahraga lainnya, dan sebagian lagi juga terlihat bermain futsal di lapangan serbaguna yang berupa tanah lapang berukuran luas.
Segelintir remaja juga terlihat hanya duduk-duduk manis di bangku taman, baik bersama pasangan ataupun bersama teman-teman sebaya.
Irina dan Rian tak berhenti di area tersebut, mereka memilih tetap menyusuri jalan setapak hingga sampai di area ketiga yang ramah lansia.
Area yang didesain agar nyaman digunakan oleh para lansia ini memiliki fasilitas yang memudahkan para lansia beraktivitas di taman seperti jogging track dipenuhi dengan bebatuan yang biasanya digunakan para lansia untuk berjalan dengan tujuan melancarkan peredaran darah yang terpusat di titik refleksi pada kaki manusia.
Terdapat banyak bangku taman dan gazebo serta tanah lapang yang beralaskan rumput jepang dan tidak lebih luas dari tanah lapang area sebelumnya namun cukup untuk digunakan para lansia untuk sekedar duduk mengatur pola pernafasan atau melakukan senam taichi yang banyak disukai oleh para lansia.
Ditengah-tengah dari keseluruhan luas taman terdapat kolam air mancur yang sangat besar. Kolam ini masih masuk di area ramah anak.
Meskipun sebelumnya Irina tak merasa canggung untuk duduk berdua di atas motor bersama Rian untuk sekedar bercanda riang bersama begitupun ketika mereka mencoba menghabiskan waktu dengan menyusuri jalan setapak yang terbentang mengitari taman, namun kali ini duduk berdampingan dengan Rian membuat degupan jantung Irina tak terkendali. Canggung.
Rian mencoba mencairkan suasana dengan membelikan Irina es krim dari pedagang terdekat yang dilihatnya. Meninggalkan Irina sendirian yang tak tahu apa yang sedang Rian coba lakukan secara tiba-tiba tanpa mengatakan apapun.
Dari tempat dimana Irina duduk, Ia memperhatikan gerak-gerik Rian dengan seksama hingga Ia bisa menyadari bahwa Rian sedang membeli es krim. Irina terus memperhatikan Rian hingga selesai membeli es krim dan membawakan sebuah es krim vanilla kepadanya.
Irina begitu senang karena Rian membawakan es krim yang tepat sesuai seleranya walaupun Irina belum pernah sama sekali mengatakan mengenai varian es krim kesukaannya. Dari kejauhan juga Irina melihat Rian dengan rasa kagum yang menyenangkan. Pria itu adalah kekasihnya, Irina meyakinkan dirinya sendiri yang masih belum percaya sepenuhnya dengan kencan sore ini.
Kini mereka kembali duduk berdampingan sebagai sepasang kekasih yang bahagia, menikmati es krim mereka sambil mencuri pandang satu sama lain tanpa bicara, hanya sesekali tersenyum lucu melihat cara mereka satu sama lain menikmati es krim.
***
Di kejauhan, nampaklah Adrian yang begitu kelelahan sehabis jogging. Rasa kesal juga menderanya ketika hanya bisa melihat pemandangan tak menyenangkan di depan matanya tanpa mampu melakukan tindakan apapun.
Adrian meneguk air mineral dari kemasan botol yang di genggamnya. Sesekali mengeringkan keringat yang mengganggu kenyamanan kulit tubuhnya baik di wajah, leher dan yang berhasil lolos mengucur di permukaan kulit lengannya.
"Cih! Jelas-jelas Aku hanya berjarak tidak jauh di belakangnya pun, Mereka berdua tidak menyadarinya sama sekali!" Rutuk Adrian.
Sebenarnya Adrian memang tidak berniat untuk jogging tadinya meskipun Ia mengenakan pakaian yang sporty dan mendukung untuk melakukan olahraga ringan di taman itu.
Hanya saja, jogging track serasa menggoda Adrian, selain itu Adrian juga bosan menunggu kedatangan Irina dan Rian yang ternyata memerlukan waktu lebih lama untuk tiba di taman.
Adrian kini duduk di bangku yang masih bisa melihat Irina dari kejauhan. Rasa cemburu sesungguhnya sangat menguasai Adrian, namun sebagai seorang pria yang masih bisa mengutamakan logika daripada perasaannya, Adrian memilih tetap mengawasi dari kejauhan selama masih aman.
__ADS_1
Adrian merebahkan punggungnya di sandaran bangku taman dan melepas topi yang sedari tadi dikenakannya. Topi yang sedikit basah karena keringat di kepalanya kini beralih fungsi menjadi kipas yang dikibas-kibaskan Adrian ke tubuhnya sekedar untuk memberikan rasa sejuk tambahan selain semilir angin sepoi yang secara alami sudah lebih dulu berusaha mensejukkan tubuh Adrian, namun tidak hatinya.
"Adrian!!!"
Suara seorang perempuan yang dirasa sangat dikenal oleh Adrian mengejutkannya. Adrian menoleh ke arah suara di sisi kanannya. Itu adalah suara milik Senna Zain, murid tercantik di sekolahnya yang juga diketahui Adrian sebagai salah satu perempuan yang memujanya.
"Sialan! Kenapa ketemu dia disini?!" Rutuk Adrian hanya di dalam hatinya.
"Adrian.... Sama siapa?" Senna segera melangkah cepat untuk menghampiri Adrian.
Suara manja yang terdengar begitu bahagia karena bisa bertemu dirinya sedikit membuat Adrian merasa tidak nyaman.
Sore itu sebenarnya Senna Zain terlihat sangat cantik. Kenyataannya memang Senna adalah perempuan yang cantik dan mempesona. Senna menggunakan kaos putih polos ketat yang semakin menonjolkan seluruh lekuk tubuhnya yang memang seksi dan menggoda mata lelaki. Senna juga menggunakan celana pendek hitam yang mendukung tampilannya. Rambut sebahu miliknya yang berwarna kecokelatan diikat kuncir kuda dengan tinggi sehingga semakin memperlihatkan leher jenjangnya. Sore itu tampilan Senna sukses sempurna dikategorikan sebagai perempuan seksi menggoda siapapun. Tapi, tidak untuk Adrian. Hanya perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh Adrian.
"Aku sendirian." Ucap Adrian datar.
"Senna juga sendirian, rumahku dekat dari sini, dan aku biasa jogging disini setiap akhir pekan." Senna lagi-lagi menjelaskan dengan manja.
Adrian hanya tersenyum simpul dan matanya masih terus melihat gerak-gerik Irina dan Rian di tepi kolam. Adrian sungguh takut sedikit saja Ia melepaskan pandangan maka Ia akan kehilangan mereka.
Senna menyadari bahwa Adrian sedang tidak fokus bicara dengannya, melainkan sedang memusatkan perhatiannya ke arah lain. Senna memperhatikan baik-baik kemana Adrian melihat dan menyadari bahwa Adrian sedang mengawasi Irina, Adiknya.
"Adrian sedang mengawasi Adik?" Senna memecah konsentrasi Adrian.
"A.. apa?" Adrian terkejut.
"Irina kan? Adrian sedang mengawasi Irina tapi tidak berani mendekat." Senna memberikan penjelasan analisanya.
"Itu.... " Adrian tak tahu harus bicara apa.
"Senna mengerti kok, Adrian seorang kakak yang sangat protektif rupanya yaa..?" Tanya Senna menggoda namun juga begitu lugu membuat Adrian lega bahwa Senna tak menyadari tujuan pengawasannya yang sesungguhnya.
"Senna bisa membuat Adrian lebih nyaman mengawasi Irina sampai kembali pulang." Lanjut Senna lagi.
"Maksudnya?" Adrian yang kini penasaran.
"Kencan denganku, pura-pura saja, kita bisa double date nantinya. Senna bisa membuat Adrian lebih dekat dengan mereka." Senna tersenyum menggoda dan sebenarnya gagasan miliknya ini berlandaskan strategi licik untuk bisa lebih dekat dengan Adrian.
"Emm..." Adrian mencoba mengambil waktu untuk sejenak untuk berpikir.
"Sudahlah, ayo ikut denganku. Kita kencan dadakan." Goda Senna yang kemudian menarik tangan Adrian dan menggandengnya untuk menghampiri Irina dan Rian yang masih asik di tepi kolam air mancur.
Tanpa sengaja pakaian yang mereka kenakan pun sepadan satu sama lain, berupa kaos putih dan celana hitam. Sosok keduanya yang tampan dan cantik pun membuat semua orang yang melihat mereka merasa kagum, mereka terlihat seperti pasangan yang serasi satu sama lain.
Adrian dan Senna benar-benar kencan dadakan!
.
.
.
BERSAMBUNG...!
__ADS_1