SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 19. Ungkapan dari Hati


__ADS_3

Setelah kencan akhir pekan yang menyebalkan di hari sabtu kemarin, Irina yang masih kesal dengan sikap Adrian benar-benar tidak ingin menganggap keberadaan Adrian sepanjang hari.


"Kenapa sih, hari minggu ini lama sekali berakhir?" rutuk Irina dalam hatinya. Dirinya begitu kesal setiap melihat Adrian.


Seperti siang ini, setelah selesai makan siang bersama, Irina duduk santai di sofa empuk yang berjajar rapi di ruang keluarga. Meskipun layar kaca televisi menyajikan berbagai tayangan menarik, Irina lebih memilih sibuk dengan layar gadgetnya.


Dari sudut matanya, Irina bisa melihat Adrian menghampirinya dan duduk manis di sofa lainnya, sama sepertinya, mulai sibuk dengan layar gadgetnya. Irina menipiskan bibirnya, mendengus kesal melihat Adrian.


Dalam diamnya, Adrian sebenarnya menyadari sikap Irina yang acuh tak acuh terhadap dirinya. Namun Adrian tidak peduli. Bagi Adrian, saat ini membiarkan Irina sejenak menikmati kekesalannya lebih baik daripada mencoba mengklarifikasi masalah yang tercipta dalam keheningan mereka, apalagi jika harus menghibur Irina yang pastinya bukan keahlian Adrian. Sama sekali tidak mungkin.


Sejak semalam mereka pulang berdua, tidak ada pembahasan apapun diantara mereka. Bahkan basa-basi sekedar mengobrol ringanpun tidak. Hening. Seolah mereka adalah makhluk dari dua galaksi yang berbeda sedang terjebak dalam ruang waktu yang sama tanpa saling mengerti satu sama lain.


Bahkan ketika mereka berada dalam satu mobil, hanya keheningan dan wajah datar Adrian yang menemani Irina.


MENYEBALKAN!!!


Dan hingga menjelang siang, hingga detik ini, tetap tak ada pembicaraan terjadi diantara mereka, seolah kejadian semalam bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, lewat begitu saja, seolah tak pernah ada.


Benar-benar membuat Irina kesal seharian.


Ya, Irina sangat ingin mengeluarkan semua unek-uneknya, namun apa daya Irina tak berani memulai pembicaraan dengan Adrian.


Jelas sekali, berdebat dengan Adrian sama artinya Irina sedang terjun bebas secara sukarela ke dalam kolam berisikan hiu ganas.


Bukan!


Lebih tepatnya kolam piranha! Pasti!


Irina menarik nafas panjang, terlalu bosan mengutak-atik gadgetnya, apalagi bertahan berada di dalam satu ruangan bersama dengan Adrian. Rasanya ada, tapi seperti tak ada. Makhluk astral. Setidaknya begitulah Irina menganggap sosok Adrian saat ini.


Irina memilih pergi dari ruang keluarga dan menuju kamar pribadinya.


"Mendingan di kamar, ngobrol sama Rian," batin Irina sambil berlalu menuju kamarnya.


Melihat sosok Irina yang menjauh pergi, membuat Adrian menghela nafas panjang. Irina tidak tahu bahwa keadaan yang menimpanya tidak lebih berat dari yang dirasakan Adrian.


Perasaan Adrian lebih kacau dari yang dirasakan Irina. Ujian akhir sekolah yang sudah di depan mata, menuntut Adrian untuk fokus. Lalu perasaan Adrian? Jelas lebih miris.


Seorang Adrian yang sudah sangat lama menyimpan perasaan cinta untuk Irina, mengendalikan diri menanti waktu yang tepat untuk menyatakan segalanya, memandang Irina sebagai tunangan secara sepihak dan berharap secepatnya bisa membuat Irina memandangnya dengan pandangan yang sama dengannya.


Lalu kenyataannya saat ini, Irina hanya melihat Adrian sebagai seorang Kakak yang menyebalkan. Mengetahui Irina memiliki seseorang yang mencuri hatinya sudah cukup membuat Adrian hampir hilang kepercayaan dirinya. Dan dengan semua yang terjadi saat ini, Adrian hanya bisa mengabaikan semuanya sementara waktu. Adrian harus menekan perasaan yang campuraduk dan menggebu-gebu di dalam dirinya.


Pria mana yang sanggup menekan ego, membiarkan wanita yang seharusnya mencintainya malah berbahagia dengan pria lain? Tidak ada.


"Aku harus fokus dengan ujian besok. Irina, maafkan aku. " batin Adrian.


***


Pagi harinya di sekolah,


Tidak seperti hari-hari biasanya, suasana sekolah lebih hening dan tenang. Sebuah papan pengumuman yang baru saja dibuat secara mendadak bertuliskan "HARAP TENANG, ADA UJIAN" berdiri tegak tepat di depan pintu gerbang masuk sekolah.


Tidak banyak murid yang terlihat datang ke sekolahan. Semua itu karena hari ini hingga seminggu kedepan, hanya murid-murid kelas 12 yang aktif dan wajib masuk sekolah untuk menghadapi ujian. Sedangkan murid-murid kelas 10 dan 11 sedang diliburkan demi suasana ujian yang kondusif.


Adrian memarkir motornya di halaman sekolah, membuka helmnya lalu menghela nafas panjang sejenak. Matanya tertuju pada tulisan pada papan pengumuman yang sempat dilihatnya ketika memasuki gerbang sekolah.


Memang pantas papan pengumuman tersebut diletakkan di depan pintu gerbang sekolah, semua pasang mata para murid 12 yang melihatnya termasuk Adrian segera tersadar bahwa ketika mereka memasuki gerbang, mereka harus siap mengadu nasib dengan ujian akhir sekolah yang menjadi langkah awal bagi mereka melepas masa putih abu-abu dan terjun di masyarakat nantinya, entah lanjut sebagai mahasiswa perguruan tinggi atau mulai bekerja mengais pundi-pundi rupiah dari hasil keringat yang bercucuran oleh kerja keras mereka.


Ya, hari ini hingga seminggu kedepan akan menjadi penentu kemana nasib akan membawa mereka.


"Ujian. Aku harus fokus selama seminggu ini. Ya, aku harus!" gumam Adrian sebelum akhirnya menuju ruang kelas tempat dimana Adrian harus duduk sesuai denah yang sudah ditentukan untuknya dalam melaksanakan ujian.


***


"Adrian! Adrian! "


Suara yang sangat dikenal Adrian menghentikan langkahnya untuk memasuki ruang kelas yang sebelumnya telah disulap menjadi ruang ujian. Itu adalah suara Revano, sahabatnya.


"Kita beda ruangan, Aku harus bagaimana?" rengek Revano.


"Astaga, anak ini sudah gila. Tidak malu," rutuk Adrian.


"Pergilah Revano, kembali ke habitatmu!" celetuk Adrian.


"Apa? Habitat? Kamu kira aku apaan?" pekik Revano yang mengundang beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.


"Pergi!" celetuk Adrian lagi dengan dingin, buru-buru untuk masuk ke dalam ruangan menghindari pandangan penuh tanya dari murid-murid lain, meninggalkan Revano sendirian yang kemudian melengos pergi namun seperti biasanya tak pernah sakit hati dengan sikap dingin Adrian.

__ADS_1


Ya, wajar bila Revano dijuluki Pangeran Charming yang keramahannya seperti malaikat yang turun dari surga.


Berlebihan? Mungkin.


Tapi mau bagaimana lagi, begitulah julukan yang disematkan oleh para pemuja Revano di sekolahan yang terpaksa diterima Revano dengan senang hati.


Sambil berlalu pergi, belum sampai beberapa langkah, Revano berhenti sejenak untuk menepuk jidatnya pelan. Revano yang terlalu panik sampai lupa memberi surat yang dititipkan oleh Senna Zain untuk Adrian.


Tujuan Revano sendiri menemui Adrian bukan sekedar ingin merengek karena mereka terpisah ruangan, melainkan karena Revano seharusnya memberi surat yang sempat dititipkan oleh Senna Zain untuk Adrian. Katanya, surat untuk memberi semangat kepada Adrian.


Revano berbalik ingin kembali menemui Adrian. Namun akhirnya Ia mengurungkan niatnya mengingat Ia harus segera kembali ke ruang ujiannya sendiri.


"Nanti sajalah." batin Revano yang kembali menjauh meninggalkan ruangan ujian Adrian, kembali ke ruang ujiannya sendiri.


Ya, ada hikmahnya surat itu tak tersampaikan kepada Adrian. Sebab, sudah pasti bukannya memberikan semangat untuk Adrian, melainkan hanya menjadi pemicu kekesalan Adrian. Beruntung Revano melupakannya.


Oh, Senna Zain. Sungguh wanita yang keras kepala. Obsesinya terhadap Adrian sungguh berlebihan. Senna tak bisa menerima penolakan, sebagai wanita berparas cantik dan menjadi idola hampir seluruh murid pria di sekolahan membuatnya terlalu percaya diri bahwa Ia akan mampu menaklukkan pria seperti Adrian. Mungkin?


***


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat dan ujian hari inipun berakhir. Semua murid yang mengikuti ujian merasakan kelegaan sejenak mengingat mereka sudah berjibaku selama dua jam dengan semua rentetan soal yang membuat mereka berpikir keras, memutar otak, bahkan membuat drama.


Meskipun mereka semua tahu masih ada ujian untuk esok hari dan seterusnya yang menanti mereka, setidaknya ujian hari ini sudah berakhir. Pasrah. Lega.


Adrian keluar dari ruang ujian dengan wajah yang datar dan dingin. Tak ada raut wajah penuh drama seperti teman-temannya seolah ujian yang baru saja dihadapinya hanyalah angin lalu. Murid cerdas seperti Adrian tidak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya.


"Puk!"


Adrian merasakan seseorang menepuk pundaknya ketika Ia telah mencapai ke parkiran motor untuk segera pulang. Adrian berbalik dan melihat sosok Revano telah berdiri di belakangnya dengan memasang wajah ramahnya. Sedikit menampilkan senyum receh yang membuat Adrian kesal.


"Untuk apa wajah malaikatmu itu?" celetuk Adrian yang kemudian sibuk memakai helmnya.


"Wajah apa? Wajahku memang seperti ini, memangnya salah jika aku tampan?" celetuk Revano penuh percaya diri.


"Sudahlah, ada apa?" celetuk Adrian mengabaikan kelakuan konyol Revano.


"Aaah, tadi pagi aku lupa menyampaikan amanah," ujar Revano dengan riang.


Adrian mengernyitkan dahinya. Ia teringat terakhir kali Revano mengatakan ingin menyampaikan amanah kenyataannya hanyalah sebuah pesan yang sangat tak diharapkan Adrian, bukan sesuatu yang penting dan bukan pula sesuatu yang mampu menyenangkan hati Adrian. Pesan dari Senna, begitulah yang diingat Adrian


"Sebentar yaa... Tunggu," Revano kemudian merogoh tas miliknya. Mencari-cari sesuatu yang hampir saja membuat Adrian hilang kesabaran.


"Penting?" celetuk Adrian mulai kesal.


"Tunggu! Ah... Ini dia!" Revano menunjukkan selembar surat yang berhasil diambilnya dari dalam tas dengan riang.


Adrian lagi-lagi mengernyitkan dahinya dan mulai memicingkan matanya menatap Revano dengan tatapan menyelidik.


"Surat?" tanya Adrian heran.


"Iya, ini surat dari Senna Zain. Tadi pagi Dia menitipkannya padaku, katanya untuk menyemangati dirimu. Begitu. Aku lupa memberikannya sewaktu bertemu denganmu di depan ruang ujian." ujar Revano panjang lebar tanpa mempedulikan raut wajah Adrian yang semakin terlihat geram.


"Revano, Kau tahu kan bahwa Aku sangat tidak peduli," celetuk Adrian dengan sikap yang dingin.


"Jangan membantunya lagi." lanjutnya.


Revano menunjukkan wajah tidak peduli dengan kata-kata Adrian, memasukkan surat yang sedaritadi digenggamnya ke dalam saku baju Adrian. Tidak peduli Adrian mau menerimanya atau tidak.


"Tugasku selesai." celetuk Revano kemudian meninggalkan Adrian untuk menuju motornya sendiri dan segera pulang.


"Dasar!" rutuk Adrian dalam hatinya.


Adrian tahu, apapun yang dilakukan Revano seyogyanya adalah untuk kebaikan Adrian. Suatu hari Revano pernah bilang bahwa Adrian sesekali harus menjalin hubungan dengan teman wanita, memiliki pacar.


Toh, sangat banyak perempuan yang berlomba-lomba ingin menjadi pacar Adrian. Surat-surat cinta yang terus menerus mengalir untuk Adrian adalah bukti betapa popularitas Adrian di sekolahan tak bisa disepelekan.


Tapi, Adrian tak bergeming sedikitpun.


Saat ini, Adrian bisa menebak betapa inginnya Revano membuat Adrian menerima Senna Zain. Ya, ini Senna Zain. Perempuan yang tak seharusnya dipandang sebelah mata dan pastinya pantas berdampingan dengan Adrian.


Dan, memang begitulah yang ada dalam pikiran Revano. Sungguh Adrian bisa menebak jalan pikiran Revano, sahabatnya.


"Mungkin nanti aku harus menceritakan semuanya pada Revano," batin Adrian.


***


Di kediaman Keluarga Domino,

__ADS_1


Adrian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah akhirnya bisa mencapai rumahnya dari perjalanan pulang sekolah yang begitu melelahkan.


Adrian merasa ingin santai sejenak sebelum beranjak pergi menuju kamarnya. Tubuh dan pikirannya terasa penat. Meskipun waktu yang dihabiskannya di sekolah hari ini hanyalah dua jam saja, namun menghadapi ujian akhir sekolah sangat menguras tenaganya.


Marinka, Ibunya yang melihat Adrian sedang duduk dengan wajah lelah di ruang tamu segera menghampirinya. Segelas minuman dingin nan segar berupa sirup jeruk dengan beberapa bongkah es batu juga ikut dibawa oleh Marinka untuk disuguhkan pada Adrian.


"Minum dulu, Adrian. Cuaca di luar sangat panas, pasti Kamu haus, kan? ucap Marinka dengan penuh kelembutan dan meletakkan minuman dingin yang dibawanya ke atas meja tepat di hadapan Adrian.


Adrian segera meraih gelas di hadapannya dan meneguk air di dalam gelas sampai habis tak bersisa. Adrian memang sangat haus.


Minuman dingin yang menyegarkan itu berhasil menyejukkan tenggorokan Adrian yang terasa kering juga mendinginkan hati dan pikiran yang sedaritadi terasa lebih panas dari cuaca di luar sana.


Sepanjang perjalanan pulang, Adrian terus memikirkan Irina, ada rasa bingung yang mengganggu Adrian dimana Adrian semakin tak tahu bagaimana harus bersikap di depan Irina. Adrian semakin lelah dengan drama sepasang kekasih milik Irina dan Rian, rasanya sangat memuakkan! Sangat mengganggu!


Namun, Adrian juga tak mungkin tiba-tiba sesumbar bersikap impulsif memperlihatkan kecemburuan, mengaku bertunangan dan terlebih lagi yang paling penting Adrian tidak mungkin memaksakan perasaan Irina untuk menerimanya. Tidak mungkin!


"Aku harus bagaimana?" batin Adrian.


Rasa penat dan lelah membuat Adrian merasa tidak bisa berpikir dengan baik. Seluruh perasaannya mulai bergejolak, hampir mengalahkan logika yang sangat dijunjung tinggi oleh Adrian dalam menyikapi setiap masalah yang dihadapinya.


"Cih! Permainan perasaan sungguh memuakkan!" rutuk Adrian dalam hatinya.


"Adrian..." sapa Marinka, Ibunya, masih dengan nada yang penuh kelembutan dan membuat Adrian tersadar dari lamunannya.


"Iya, Ibu?" sahut Adrian setelah akhirnya lepas dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Ibu bisa lihat dari wajahmu bahwa Kau sedang memendam masalah, mungkin sesuatu yang sangat berat," ujar Marinka sembari menatap lekat ke arah Adrian.


"Ada apa? Ceritalah." sambungnya lagi sembari menunggu Adrian menanggapi tawarannya.


Marinka tahu, tak mudah mengajak Adrian untuk bicara dari hati ke hati. Adrian sangat kaku bila bicara mengenai perasaan.Meskipun Marinka menyadari dengan pasti bahwa Adrian bukanlah kepikiran masalah ujian atau kelanjutan nasibnya setelah lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas saat ini.


Pasti tentang Irina.


Marinka bisa memaklumi bahkan sangat salut dengan Adrian di usianya yang seharusnya masih labil dan impulsif, Adrian masih sanggup menahan seluruh ego melihat Irina yang dengan lugunya menari di atas penderitaan Adrian. Kejam.


"Ibu, sepertinya Adrian mau istirahat dulu di kamar. Terimakasih sudah mengkhawatirkan Adrian, Bu. Adrian hanya lelah." ucap Adrian dengan santun lalu kemudian beranjak naik menuju kamar pribadinya setelah mendapatkan persetujuan dari Marinka untuk meninggalkannya sendiri di ruang tamu.


"Oh, Adrian...." batin Marinka sembari meletakkan satu telapak tangannya di dadanya ketika memandangi sosok Adrian yang pergi membelakanginya hingga hilang dari pandangan.


***


Irina baru saja keluar dari kamarnya karena merasa bosan bersantai seharian. Ketika menutup pintu kamarnya, muncullah Adrian yang melewatinya tanpa menyapa Irina sedikitpun, pandangan lurus ke depan seolah Irina tak ada disitu.


Sedangkan Irina, walaupun Ia menyadari bahwa Kakaknya sangat lelah setelah menghadapi ujian, entah angin apa yang berhembus menghampiri Irina hingga tiba-tiba saja Ia memanggil Kakaknya dengan niat melakukan klarifikasi atas semua kejadian yang terjadi di bioskop pada akhir pekan kemarin.


"Kakak!" panggil Irina dengan penuh keberanian dan segera menghampiri Adrian.


"Hmm...?" sahut Adrian yang baru saja mencapai gagang pintu kamar untuk membukanya namun tertahan oleh panggilan Irina.


"Kakak, kita harus bicara." ucap Irina lagi dengan tegas.


Adrian sangat tahu apa yang ingin dibicarakan Irina. Lelah dan kesal sudah terlalu menumpuk di dalam diri Adrian hingga Adrian memilih untuk mendominasi pembicaraan.


"Dengar, kalau Kau hanya ingin mempermasalahkan kejadian di bioskop. Lebih baik urungkan niatmu," celetuk Adrian mematahkan seluruh kalimat yang ingin diucapkan oleh Irina.


Irina menelan ludah, mulai merasakan aura mengintimidasi dari Adrian. Rasa menyesal mulai menjalar di tubuh Irina, mau tidak mau Irina harus siap menerima konsekuensi mengganggu manusia seperti Adrian.


"Aku bilang, jangan pacaran. Lebih baik mulailah berpikir untuk mengakhiri hubunganmu dengan Rian karena itu tidak akan mungkin berakhir baik. Tidak akan," Adrian mengucapkan kalimatnya dengan tegas dan penuh penekanan yang membuat Irina semakin tak sanggup angkat bicara.


"Dengar, jangan menggangguku. Aku sedang ingin fokus dengan ujianku. Kau mengerti? Jangan membuat masalah terutama drama sepasang kekasih yang memuakkan antara Kau dan Rian."


Setelah puas dengan kalimatnya yang menohok dan mewakili segala unek-unek yang berkecamuk di dalam dadanya, Adrian segera masuk ke dalam kamarnya, mengabaikan Irina begitu saja yang diam mematung tak percaya dengan semua kata-kata Adrian.


"JAHAT!" rutuk Irina dalam hatinya, perasaan sedih diam-diam mulai merambat dan menelusup ke dalam hatinya.


Irina berlari menuju kamarnya, hanya ingin menangis dan mengadu kepada keheningan di dalam kamarnya.


***


.


.


.


BERSAMBUNG...!!!

__ADS_1



__ADS_2