
"BRAKK!!!"
Irina menghempaskan tubuhnya dengan keras di atas kasur empuk yang ada dalam kamar pribadinya setelah sebelumnya melempar tas selempangnya secara asal ke kursi belajar yang berada tepat di dekat pintu masuk kamarnya. Perasaannya tidak baik.
Wajahnya merengut kesal dan penuh dengan rasa amarah yang siap meledak kapanpun Dia inginkan. Meskipun wajah Irina sudah merah padam seperti kepiting rebus, Irina memilih menarik nafas panjang, menghembuskan nafasnya bersama dengan semua amarah yang menumpuk di dalam jiwanya seolah ikut dihembuskannya keluar, meluap, dan segera berusaha melapangkan dadanya.
"hufh~" Irina memejamkan matanya kemudian setelah merasa sedikit lega sebagai hasil dari relaksasi yang baru saja dilakukannya.
"Kak Adrian menyebalkan!" rutuknya dalam hati.
"Apa sih yang ada dalam pikirannya?!" rutuknya lagi sembari mengerucutkan bibirnya.
Jam di kamar Irina menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Irina merasa sangat lelah setelah selesai menonton film di bioskop terutama sebagian besar rasa lelah yang dirasakan Irina tercipta karena adanya pergolakan batin yang menyerangnya selama berada di bioskop.
Rasa kesal dan amarah menumpuk di dalam dada Irina mengingat sepanjang pemutaran film hingga selesai Irina tak dapat menikmati alur cerita yang disajikan oleh film favoritnya dengan seksama.
Irina menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menekan lebih rapat untuk membekap mulutnya yang sedang berusaha memekik lebih keras untuk melampiaskan amarahnya.
Pikiran Irina kembali melayang ke masa dimana tiba-tiba saja Adrian muncul di hadapan Irina dan Rian yang sedang asyik duduk berdua sembari bersenda gurau untuk membunuh waktu selama menunggu pemutaran film sesi kedua saat itu.
***
Di bioskop,
"Irina...."
Sosok Adrian tiba-tiba saja muncul dihadapan Irina dan Rian dengan suara sapaan Adrian yang terasa datar dan tak bersahabat.
Suara Adrian yang memanggil namanya terasa mengejutkan Irina hingga tanpa sadar Irina segera bangkit dari tempat duduknya, mematung, menunduk dengan gugup, meninggalkan Rian sendiri yang kebingungan di tempat duduknya melihat sikap canggung Irina yang terjadi secara mendadak.
"Lagi?" celetuk Rian dalam hatinya merasakan dejavu ketika sedang berdua dengan Irina di taman sebelumnya.
Rian yang cuek dan merasa tak ada yang harus dipermasalahkan menanggapi kehadiran Adrian dengan santai, bangkit dari tempat duduknya tanpa rasa canggung sedikitpun dan menyapa Adrian dengan sikap penuh hormat mengingat sosok di depannya adalah Kakak dari kekasihnya dan juga seorang senior di sekolah yang terkenal kecerdasan, kehebatan, dan ketampanannya.
Adrian bukan orang yang pantas disepelekan walaupun Rian sendiri adalah orang yang punya kuasa tinggi di sekolah sebagai anak pemilik yayasan sekolah mereka.
"Hai, Kak Adrian..." sapa Rian dengan ramah tanpa beban melihat kehadiran Adrian.
"Hai, Rian..." balas Adrian dengan datar namun terkesan lebih ramah daripada sebelumnya.
"Aku menyusul Kalian karena Aku ingin ikut menonton bersama Kalian. Tidak keberatan kan?" ujar Adrian yang sebenarnya merupakan sebuah basa-basi yang tidak dipahami Adrian sendiri kenapa Dirinya mengatakan hal semacam itu. Peduli apa dengan harga diri, Adrian rasa harus terus maju dan tak bisa mundur lagi.
Rian mengangkat sebelah alisnya sebagai reaksi heran atas apa yang diucapkan Adrian. Namun Rian segera menepis rasa heran yang menerpanya, segera menanggapi kata-kata Adrian dengan santai seolah semua baik-baik saja.
"Tentu saja, itu bukan masalah. Tunggu disini, Aku akan belikan tiket lagi," ucap Rian dan dengan sigap segera melangkah pergi untuk membeli tiket lagi.
"Gila apa! Dia tidak pernah berkencan atau terlalu protektif dengan Irina hingga menjadikan momen 'ingin nonton bareng' sebagai alasan?" batin Rian ketika sudah menjauh dari Irina dan Adrian.
Lalu, bagaimana dengan Irina?
Irina tentu saja sama terkejutnya dengan Rian. Bukan, rasa terkejut Irina pastinya lebih parah berkali-kali lipat dari yang dirasakan Rian. Ketika Rian menggunakan logikannya dalam menanggapi sikap dan kata-kata Adrian yang tidak terduga, sehingga secara sadar segera menjawab kata-kata Adrian dengan santun, Irina tengah sibuk terperanjat kaget, terbelalak, dan tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun.
Irina hanya terdiam melihat Rian yang begitu santai menanggapi Adrian hingga melangkah menjauh pergi untuk membeli tiket.
"Gila! Apa kebanyakan belajar membuat Kak Adrian tidak waras?!" pekik Irina dalam hatinya.
"Aku sedang kencan!" rutuknya lagi sambil mencuri pandang ke arah wajah datar Adrian yang membuat Irina tak bisa menebak apa yang dipikirkan ataupun dirasakan oleh Adrian.
Adrian menatap tajam ke arah Irina ketika menyadari Irina sedang mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
Rasa kesal dan cemburu kembali menyerang Adrian. Adrian bisa merasakan tatapan Irina begitu dingin kepadanya dan itu tentu saja sangat menyebalkan mengingat betapa hangatnya pandangan Irina untuk Rian.
"Sial!" rutuk Adrian mengasihani dirinya sendiri.
"Apa?" kata tanya yang ditujukan untuk Irina dengan singkat, datar, dan dingin berhasil lolos dari kerongkongan Adrian.
"Tidak ada," balas Irina dengan nada kesal yang tertahan. Irina segera kembali duduk dengan sedikit menghempaskan tubuhnya seolah memberi tanda kepada Adrian betapa kesalnya Irina melihat Adrian muncul sekarang.
Sejak kecil Irina dan Adrian hidup dan tumbuh bersama hingga membuat Irina sangat kenal dengan selera Adrian dan ini sama sekali bukanlah hal yang disukai Adrian.
Wajar saja Irina sangat terkejut dengan kedatangan Adrian ditambah lagi Adrian berkata "ingin nonton bareng". Serius?
Irina benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Sebagai sosok yang serius dan cerdas, Adrian bukan tipe manusia yang senang dengan dunia hiburan. Jelas sekali Adrian hanya menganggap hal-hal yang bersifat hiburan seperti menonton film sebagai kegiatan yang sia-sia dan membuang waktu. Ini sama sekali bukan gaya Adrian.
__ADS_1
Sejak mulai remaja, Adrian sudah sangat berminat mempelajari dasar-dasar bisnis dan menghabiskan hari liburnya untuk ikut ke kantor bersama Ayahnya.
Adrian sangat menikmati menghabiskan waktu-waktu luangnya untuk belajar bisnis hingga rasanya Irina tidak pernah melihat Adrian asyik bermain dengan riang bersama teman sebayanya kecuali dengan Revano.
Ya, mungkin hanya Revano satu-satunya manusia yang tak kenal sakit dengan sikap dingin, serius, dan membosankan dari Adrian sejak Adrian beranjak remaja.
Mungkin juga, semua itu karena Revano yang tahu keceriaan Adrian di masa kecilnya hingga Revano selalu memperlakukan Adrian dengan cara yang tak pernah berubah sejak mereka berdua masih kecil walaupun Revano menyadari perubahan sikap Adrian yang berubah drastis.
Pengaruh pubertas, mungkin?
Di usianya yang masih remaja awal, Adrian bahkan bisa membantu membuat laporan keuangan untuk Ayahnya. Bukan cuma itu, Adrian bahkan bisa memberikan gagasan dan solusi dari setiap permasalahan di perusahaan yang diceritakan oleh Riffan, Ayahnya.
Ya, karena itulah Adrian adalah sosok permata yang sangat membanggakan bagi Riffan dan Marinka.
Pelajaran sekolah?
Pada dasarnya semua itu bukan apa-apa untuk Adrian. Hanya saja, bukan Adrian Domino namanya kalau tidak bersungguh-sungguh dan gigih berjuang untuk meraih pencapaian yang maksimal dalam setiap target kehidupannya.
Perfeksionis dan ambisius.
Sungguh kedua hal tersebut merupakan modal utama yang berharga bagi para manusia yang ingin berkecimpung di dunia bisnis yang keras dan penuh perjuangan.
Adrian melihat Rian masih berada dalam barisan antrian untuk mendapatkan tiket ketiga. Adrian tidak peduli dengan apa yang dilakukan Rian, tak sedikitpun merasa tersentuh dengan sikap Rian yang terlihat seperti berjuang untuk dirinya. Adrian malah sedikit lebih lega bisa menjauhkan Rian dari Irina sementara waktu.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Adrian segera duduk di samping Irina. Wajahnya hanya memandang lurus ke depan, diam seribu bahasa. Begitupun Irina, hanya duduk manis dan menundukkan wajahnya. Menatap lantai di mana kakinya berpijak yang tak sedikitpun menyajikan hal menarik tapi cukup untuk mengalihkan Irina dari sikap canggung akibat perasaannya yang sungguh campuraduk.
Rasanya sangat berbeda.
Tak sama seperti saat Dia bersama Rian sebelum kemunculan Adrian.
Menyebalkan!
"Kenapa Kakak kesini?" celetuk Irina tiba-tiba yang sebenarnya lebih seperti keceplosan.
"Aku mau nonton, tidak boleh?" ujar Adrian tetap datar.
"Kakak kan bisa menonton dengan Kak Revano atau dengan siapa saja, di waktu lain mungkin," celetuk Irina yang semakin memperjelas rasa tidak sukanya atas kehadiran Adrian.
"Jangan banyak bicara. Aku mau menonton sekarang, bersama kalian," ucap Adrian datar, menipiskan bibirnya dan diam-diam menahan geram mendengar celetukan Irina yang terasa sangat berani menyatakan ketidaksukaannya.
Irina terdiam dan tak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Irina tak ingin berdebat dengan Adrian, terlebih lagi Irina memang tak pernah menang jika harus bertengkar dengan Adrian.
Seketika saja Irina benar-benar membayangkan Kakaknya yang tampan dan keren itu telah berubah menjadi patung dengan wajah datar tanpa ekspresi dalam bentuk gantungan kunci. Irina membayangkan dirinya berjalan dengan tas selempangnya dengan gantungan kunci Adrian yang bergelantungan, terhempas ke kanan dan kiri tanpa henti. Irina sedikit terkekeh kecil yang tak disadari Adrian.
"Dasar, Aku!" rutuk Irina dalam hati, merasa lucu sendiri dengan imajinasinya.
***
Rian telah kembali dari antriannya membeli tiket untuk Adrian tepat sebelum pemutaran sesi kedua akan dimulai dalam waktu beberapa menit lagi. Petugas wanita yang biasanya bertugas membuka pintu teater yang telah siap dibersihkan untuk dinikmati oleh penonton gelombang berikutnya kini tengah berdiri di depan pintu masuk teater untuk menyambut kedatangan pengunjung. Seperti biasa tampilan para petugas sangatlah anggun, rapi, dan mempesona, terlihat seperti seorang pramugari yang sedang tidak mengudara, melainkan tersesat bekerja di daratan.
Tak berapa lama, petugas wanita yang sedaritadi sudah siap menyambut pengunjung mulai angkat bicara, mempersilahkan para pengunjung untuk masuk dan menyerahkan tiket kepadanya terlebih dulu sebelum memasuki ruangan teater.
Irina, Rian, dan Adrian yang sedaritadi memang sudah duduk di kursi tunggu tepat di samping pintu masuk teater segera berdiri serentak. Ketiganya terdiam sejenak. Irina sendiri yang berada di tengah keduanya agak kikuk untuk beranjak menuju masuk teater.
Tadinya Irina berniat untuk berdiri kemudian berjalan berdampingan dengan Rian untuk memasuki teater. Namun setelah kehadiran Adrian, Irina mulai canggung untuk menikmati kebersamaan dengan Rian.
Berbeda dengan Irina, Rian sebenarnya tidak begitu mempedulikan kehadiran Adrian. Meskipun Rian merasakan aura tidak menyenangkan yang menguar dari tubuh Adrian, tapi Rian tidak begitu merasa harus canggung. Rian merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Rian menjaga Irina, memperlakukan Irina dengan baik, tidak macam-macam, segala sesuatunya bersifat wajar dan yang lebih penting, Rian juga sangat percaya diri bahwa kebersamaannya dengan Irina atas dasar suka sama suka, tidak ada yang salah.
Jika cara nekat Adrian mendatanginya hanya untuk menunjukkan sikap posesif dan protektif dari seorang Kakak terhadap Adiknya, Rian tidak harus merasa tertuduh atas dasar apapun. Begitulah yang ada dalam pikiran Rian. Hanya saja, Rian tidak tahu...
Ini bukan tentang hubungan kakak beradik.
Ini tentang cinta yang bersifat klandestin dari seorang Adrian terhadap seorang Irina.
Adrian menyadari dari bahasa tubuh Irina, bahwa Irina sedang canggung dan berharap memiliki ruang bersama dengan Rian. Merasa jengah dengan sikap Irina yang terkesan tak menghargai Adrian, membuat Adrian melengos pergi, mendahului keduanya, menyerahkan tiket lalu segera mencari tempat duduk sesuai lokasi yang tertera di tiket miliknya.
"Cih! Lihat saja nanti!" rutuk Adrian dalam hatinya, benar-benar kesal dengan Irina.
Irina yang melihat Adrian melengos pergi begitu saja, mendadak sumringah. Irina menatap ke arah Rian dengan tatapan riang, rasa bahagia terpancar dari binar matanya karena kini mendapatkan ruang leluasa untuk berdua dengan Rian walaupun hanya berupa peluang untuk masuk teater dan berjalan berdampingan berdua dari pintu masuk teater hingga menuju bangku penonton sesuai yang tertera di tiket mereka masing-masing.
Rian dan Irina pun memasuki ruangan bersama. Sejenak mereka bisa merasakan kebersamaan sebagai sepasang kekasih hingga sampai di tempat duduk mereka. Irina juga merasa sedikit senang dengan apa yang dilakukan Adrian, Kakaknya. Ya, Irina mengira Adrian sengaja mendahului mereka masuk ruang teater untuk memberi ruang kepada Irina dan Rian berduaan.
Padahal, Irina hanya tidak tahu Adrian sudah sangat muak dengan drama sepasang kekasih yang disajikan Irina dan Rian. Emosi amarah dan cemburu sudah sangat mendidih hingga ke puncak ubun-ubun Adrian. Tapi, sekali lagi, bukan Adrian namanya jika tidak bisa bersikap dengan hati-hati dalam bertindak.
__ADS_1
Belum waktunya~
Adrian sudah duduk dengan tenang di kursinya, pandangannya lurus ke depan menatap layar besar di ruang teater yang sedang memutar berbagai trailer film lain sebagai ajang promosi sebelum akhirnya film yang dinantikan mulai diputar. Irina duduk tepat di samping Adrian kemudian disusul oleh Rian yang duduk di samping Irina. Pada akhirnya posisi Irina tepat di antara Rian dan Adrian.
Adrian sengaja mengesankan dirinya sibuk menatap layar walaupun diam-diam dari sudut matanya Adrian terus memperhatikan gelagat Irina dan Rian
Tidak ada yang mengkhawatirkan, Irina dan Rian sibuk menonton sambil sesekali berbagi berondong jagung karamel yang dipegang Irina. Irina juga menawarkan berondong jagung karamel miliknya kepada Adrian, namun Adrian tak mengindahkan sama sekali tawaran Irina.
Ya, Irina bisa memaklumi. Irina sangat tahu bahwa Adrian tidak menyukai makanan manis, tindakan Irina hanyalah sekedar basa-basi sebagai rasa hormatnya kepada Adrian.
Hanya saja, cara Adrian menolak tawaran Irina dengan dingin membuat Irina kesal.
"Tinggal ngambil walaupun satu biji untuk menghargai tawaranku, kenapa sih?" batin Irina.
Irina mengerucutkan bibirnya di dalam gelapnya ruangan teater, matanya mendelik kesal melihat wajah Adrian yang diakuinya sangat tampan namun sayang sangat tidak berperasaan.
Tanpa sadar Irina membandingkan sikap Adrian dengan Rian yang sangat jauh berbeda. Rian mungkin cuek namun selalu membuat Irina merasa senang, membangkitkan keceriaan Irina yang dulu selalu menyertainya ketika Adrian masih seorang Kakak yang hangat dan perhatian.
Keceriaan yang telah bertahun-tahun hilang dari diri Irina dan kini Irina seolah melihat sosok Adrian yang dulu pada diri Rian. Sedangkan Adrian, malah semakin seperti orang asing bagi Irina.
"Tunggu?!" Irina memekik dalam hatinya, terkejut atas pemikirannya sendiri.
"*Kenapa aku membandingkan mereka berdua?"
"Kenapa aku mengganggap Rian pengganti Kak Adrian yang dulu?"
"Sebenarnya apa yang kurasakan*?"
Tiba-tiba saja Irina terkejut oleh genggaman tangan Rian, membuat Irina tersadar dari lamunannya, dari semua pertanyaan yang berjibaku dalam kepalanya. Irina menoleh ke arah Rian dengan perasaan gugup, begitu canggung mengingat Adrian saat ini sedang berada di sampingnya.
Dan, Adrian?
Tentu saja Adrian mengetahuinya.
Tanpa banyak bicara, Adrian berdiri dan mengisyaratkan Irina untuk bertukar tempat duduk dengannya.
Lagi-lagi Irina dibuat bingung dengan kelakukan Adrian. Irina tidak mungkin membantah Adrian, dengan cepat mereka bertukar tempat duduk dan Rian hanya tersenyum kecut melihat sikap Adrian namun berusaha memakluminya.
"Gila ini orang, benar-benar posesif!" batin Rian yang tentu saja hanya mengira dirinya sedang berada di tengah drama Kakak-beradik.
Sepanjang pemutaran film Irina benar-benar dibuat tidak bisa fokus menonton oleh sikap Adrian. Perasaannya tidak nyaman, memikirkan Rian yang kini tak disampingnya. Beruntung Rian melayangkan pesan whatsapp kepada Irina yang membuat Irina sedikit lega.
"Tante, pengawalnya ngeri banget," ledek Rian yang membuat Irina terkekeh.
"Maaf yaa, Om...."
***
Waktu terasa cepat berlalu hingga akhirnya pemutaran film telah selesai. Mereka bertiga keluar dari ruang teater. Benar-benar Adrian memberi kesan tidak nyaman, meskipun mereka saat ini terhitung sedang bersama, Adrian hanya diam seribu bahasa dengan raut wajah yang begitu datar dan membosankan.
Baru saja Rian ingin angkat bicara untuk menawarkan makan malam sebelum pulang, Adrian tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membuat Irina dan Rian tertohok.
"Film sudah selesai. Sekarang kita pulang. Irina, Kau ikut denganku," ucap Adrian lagi-lagi tanpa mempedulikan perasaan orang lain.
"Tapi..." Irina mencoba membantah perintah Adrian namun segera dipotong oleh Rian.
"Pergilah Irina, Aku baik-baik saja."
Tanpa basa-basi berpamitan, Adrian segera berlalu dengan Irina menyusulnya. Rian hanya menanggapi dengan santai, meskipun dalam hatinya Rian mulai merasa jengah dengan kelakuan Adrian.
"Aku harus menemukan waktu yang tepat untuk bicara dengannya, meluruskan keadaan ini."
***
Kembali di dalam kamar Irina yang masih terbaring kesal di tempat tidurnya,
"Kak Adrian benar-benar menyebalkan! Aku benci!" rutuk Irina.
***
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...!!!