SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 7. Jatuh Cinta


__ADS_3

Kelas 10-2


SMA DHARMA BHAKTI, KOTA X


Pagi itu suasana kelas begitu tenang seperti biasanya, hanya suara guru yang sedang memberikan arahan di depan kelas yang mendominasi suasana.


Guru meminta murid untuk mengerjakan tugas secara berkelompok dengan teman sebangku masing-masing. Mereka diminta untuk membuat karangan essay mengenai alam bebas.


Irina sangat cemas, karena Rian sebagai teman sebangkunya belum juga datang sedangkan kegiatan tugas kelompok akan segera dimulai.


Guru membebaskan para murid untuk mencari inspirasi di luar kelas selama jam mengajarnya berlangsung.


Para murid tentunya senang. Sebagian besar dari jumlah murid di kelas segera berhamburan keluar kelas. Sebenarnya, kebanyakan mereka sedang modus, berpura-pura cari inspirasi di luar kelas padahal mereka ingin nongkrong di kantin.


"Aduh, Rian kok belum datang siih? Apa aku harus kerjakan tugas ini sendirian?" Irina merengut sendiri di tempat duduknya.


"Irina, kamu nggak cari inspirasi di luar kelas?" Veronica menghampirinya.


"Emmm... Itu aku..." Irina kebingungan.


Veronica sudah siap keluar kelas bersama teman sebangkunya yang juga menjadi teman sekelompoknya pada tugas kali ini. Sembari menunggu jawaban Irina yang terlihat kebingungan, tiba-tiba muncul sosok siswa dari luar kelas. Dia adalah.... Rian!!!


"RIAN!!!"


Irina terperanjat dan sentak berdiri dari tempat duduknya. Veronica dan teman kelompoknya ikut terkejut dengan sikap spontanitas dari Irina.


"Eh? Aku..." Irina salah tingkah.


"Aku kenapa sih? Kenapa sikapku jadi berlebihan begini?" batin Irina.


Veronica dan teman sebangkunya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Irina. Mereka memilih segera pergi dari kelas untuk mulai mengerjakan tugas kelompok milik mereka.


Rian yang tiba di depan pintu kelas melihat ke arah Irina dengan tatapan penuh keheranan sesaat lalu segera menghampiri Ibu Guru yang sedang duduk manis di depan kelas.


"Ibu, mohon maaf saya terlambat..." ucap Rian santun.


"Oh kamu. Iya, tidak apa-apa. Silahkan duduk, kamu bisa minta tolong teman sebangkumu untuk menjelaskan ulang tugas yang Ibu berikan."


"Baik, Bu..."


Rian menghampiri bangkunya, duduk dengan tenang lalu kemudian memandangi Irina. Entah kenapa Irina menjadi salah tingkah dan merasa tidak nyaman dengan cara Rian memandanginya.


"Ada apa?" Irina bertanya dengan canggung.


"Kita mau ngapain?" tanya Rian singkat.


"Apa?!" Irina terkejut, masih salah tingkah.


"Heh, tadikan Ibu Guru suruh aku nanya sama kamu, kita mau ngapain?"


"Oh... Itu... Pertanyaanmu ambigu!" Irina sedikit malu.


"Sudahlah, waktu terus berjalan. Jelaskan, kita disuruh ngapain?" Rian bersikap tegas.


Irina kesal dengan sikap tegas Rian sekaligus ada rasa kagum menyerang dirinya. Irina mulai kembali fokus dan menjelaskan kembali arahan yang telah diberikan Ibu Guru sebelumnya.


Rian mendengarkan dengan saksama. Diam-diam sikap Rian yang terlihat fokus dengan penjelasan Irina membuat Irina merasa nyaman dan semakin kagum.


"Baiklah, ayo kita keluar kelas," Rian bangkit dari tempat duduknya.


"Eh?" Irina bingung.


"Kalau mau cari inspirasi tentang alam bebas yaa kita sebaiknya keluar kelas, kan?"


"Kamu bukan modus ke kantin kan? Aku mau tugas ini selesai dengan baik,"


"Pffftt.. Iya, dasar murid ambisius. Ayo, buruan ikutin aku."


Rian segera meninggalkan kelas diikuti Irina yang mencoba mensejajarkan langkahnya. dengan Rian.


Irina tidak tahu mau kemana, dia hanya mengikuti kemana Rian mengajaknya pergi. Rian benar-benar tidak membawanya ke kantin melainkan membawa ke taman penghijauan area lingkungan sekolah.


Rian segera memposisikan dirinya duduk di bangku taman yang berada tepat di bawah pohon yang rindang. Irina agak ragu untuk ikut duduk bersama Rian, dia hanya mematung dihadapan Rian.


"Kamu ngapain diam disitu? Sini, kita mulai kerjakan tugasnya,"


"Ini kenapa rasanya kayak lagi pacaran yaa?" batin Irina.

__ADS_1


"Heh, sini!" Rian mengisyaratkan tangannya mempersilahkan Irina duduk.


Meskipun sebenarnya Irina merasa agak canggung tapi pada akhirnya dia menuruti perintah Rian untuk duduk disampingnya.


Irina mulai membuka buku dan menyiapkan alat tulis. Dia melamun sejenak, berpikir keras apa yang akan ditulisnya di atas kertas kosong miliknya.


Rian tersenyum simpul melihat tingkah laku Irina yang terlihat sangat serius. Dia sendiri memilih merebahkan tubuhnya di sandaran bangku taman, menengadahkan kepalanya sembari menutup mata.


Wajahnya berpura-pura sedang ikut berpikir keras padahal saat itu Ia sedang melepas penat dan merasa nyaman dengan suasana yang terjadi.


Rian merasa sangat bahagia, meskipun biasanya Ia lebih suka sendirian, entah kenapa kehadiran Irina di sampingnya tidak mengganggunya sama sekali.


Iya, karena memang situasinya mereka harus bersama kan? Mereka sedang ada tugas kelompok. Jadi, wajar kan bila kebersamaan ini terasa baik-baik saja? Begitulah kira-kira yang dipikirkan Rian dalam diamnya.


"Hei!" Irina menyadarkan Rian.


"Hei... Rian!" Irina mulai menggoyangkan pundak Rian.


"Ih... Kamu tidur yaa?!" Irina mulai kesal.


Rian segera membuka matanya lalu mengangkat kepalanya. Tak disengaja, wajahnya malah jadi semakin dekat dengan wajah Irina yang sedari tadi memerhatikan Rian yang tertidur.


Situasi terasa canggung, Irina dan Rian segera memalingkan wajah mereka masing-masing. Rona merah di wajah mereka terlihat jelas.


"DEG... DEG.... " Debaran jantung Irina terasa begitu cepat. Irina merasa malu dan semakin salah tingkah.


Begitupun Rian, entah kenapa Rian pun sesungguhnya merasakan debaran yang sama, hanya saja Irina tidak mengetahuinya. mereka berdua berusaha fokus mengerjakan tugas essay mereka dalam keadaan canggung.


Mereka benar-benar hanya membicarakan masalah tugas essay, begitu fokus hingga tak terasa mereka telah selesai dengan tugas mereka sebelum waktu yang disediakan untuk tugas kelompok mereka berakhir.


***


"Waaah.... Akhirnya selesai juga, lega rasanya!" Irina tersenyum puas sambil memandang kertas essay yang tadinya kosong kini telah dipenuhi deretan tulisan tangan dari hasil pemikirannya dan Rian.


Tak disangka Rian yang terlihat cuek dengan pelajaran bahkan selalu datang terlambat ternyata sangat cerdas, semua pemikirannya sangat membantu dalam tugas kelompok kali ini, Irina hanya menanggapi sesekali dan sedikit memberi gagasan, sedangkan beberapa ulasan yang mereka tuangkan dalam tugas essay mereka kebanyakan adalah hasil pemikiran Rian.


Diam-diam Irina kembali menemukan sesuatu dari diri Rian yang pantas untuk dikagumi. Ah! Lagi-lagi Irina harus mengakui bahwa dirinya semakin kagum dengan sosok Rian.


Rian melihat jam tangannya, masih ada sisa waktu 15 menit dari durasi waktu yang disediakan. Rian kembali merebahkan tubuhnya di sandaran kursi taman, menengadahkan kepalanya dan menutup matanya.


"Heh, mau kemana?" tanya Rian masih dengan posisi tidurnya.


"Eng... Mau ke kelas, kan kita sudah selesai,"


"Duduk! Kamu bodoh yaa, masih ada waktu tersisa buat apa cepat kembali?"


"Siapa yang bodoh? Kalau kamu mau disini, yaa silahkan saja!"


Irina bergegas akan pergi namun tiba-tiba Rian meraih tangan Irina, menahannya. Jantung Irina kembali berdebar-debar. Irina berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Rian menyadari kelancangan sikapnya, Ia segera melepas tangan Irina dan dengan canggung memberi penjelasan kepada Irina yang mematung.


"Maksudku... Kita sedang tugas kelompok, kalau kamu kembali maka aku juga harus kembali. Aku masih mau nikmati waktu yang tersisa."


"Eng... Itu... Aku...." Irina sangat canggung.


"Sudahlah, duduk saja dulu disini. Tunggu waktu habis baru kita kembali."


Irina tidak mau berdebat dan kembali duduk di samping Rian. Lagipula, alasan Rian juga masuk akal. Apa salahnya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk beristirahat sejenak.


Begitu, kan?


Rian masih dengan posisinya semula, bersandar, menengadahkan kepala, dan menutup matanya. Sedangkan Irina hanya duduk diam dengan perasaan canggung.


Sesekali dia membaca ulang tulisan essay di tangannya hanya sekedar demi membunuh waktu.


"Rian..."


"Hmmm..."


"Kamu kenapa selalu terlambat?"


Entah apa yang membuat Irina terdorong untuk bertanya. Sebenarnya Irina hanya iseng karena tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, berdiam diripun terasa salah dan membosankan, namun mengajak Rian mengobrol sepertinya juga kurang tepat karena Rian terlihat sedang menikmati tidurnya.


"Eh... Maaf Rian, lanjutkan saja tidurmu. Aku tidak bermaksud mengganggumu,"


"Aku tidak merasa terganggu," Rian membuka mata dan memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Aku tidak suka terlambat tapi aku sengaja melakukannya," lanjutnya lagi.


"Eh?" Irina terkejut dengan jawaban Rian.


"Guru bersikap berbeda, tidak mau menghukumku, aku tidak suka,"


"Itukan sudah jelas karena mereka tahu statusmu... " Irina tersenyum canggung.


"Kalau begitu biar saja aku terlambat terus," Rian memandang Irina dengan senyum konyol.


Irina merasa campuraduk dengan tatapan Rian. Sikap Rian saat ini membuatnya merasa lucu juga canggung. Irina memikirkan sejenak setiap jawaban dari Rian. Melihat tingkah laku Irina yang seperti berpikir keras dengan wajah yang lugu membuat Rian merasa lucu.


Ini sudah kesekian kalinya Rian merasa bahwa Irina sangat lucu dengan segala keluguan dan sikap canggungnya. Rian tertawa kecil.


"Kamu mikirin apa?" tanya Rian menyadarkan Irina.


"Eh.. Itu... Aku pikir kalau kamu tidak suka terlambat, sebaiknya datang tepat waktu saja,"


"Kenapa begitu? Kan apapun yang aku lakukan, pihak sekolah tidak akan marah,"


"Huu~ sombong!" Irina menunjukkan wajah merengut.


"Hahahahaha...!" Rian tertawa lepas.


"Dasar! Malah tertawa!"


"Kamu siih, lucu..."


"Apaan sih?! Tapi Rian, kalau menurutku jadi dirimu sendiri saja, kalau kamu memang orang yang disiplin kenapa harus berubah karena orang lain? Kalau kamu memang cerdas kenapa harus berubah karena orang lain? Jadi dirimu sendiri saja, dengan begitu kamu tidak akan lelah berpura-pura. Menurutku siih begitu," Irina tersenyum manis.


"Lagi ceramah, Bu?" canda Rian sembari tertawa kecil.


Irina kembali merengut, merapikan seluruh kertas dan alat tulis dan bergegas untuk kembali ke kelas tanpa menjawab ledekan Rian.


Tepat bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi, Irina meninggalkan Rian sendirian yang masih tertawa kecil di posisi duduknya.


"Terimakasih Irina..." batin Rian sembari memandangi sosok Irina yang telah menjauh darinya. Rian segera menyusul Irina untuk kembali ke kelas.


***


KELAS 12 IPA 1


SMA DHARMA BHAKTI, KOTA X


Pagi itu Adrian sedari tadi tidak begitu fokus dengan materi pelajaran yang sedang diterangkan oleh Guru di depan kelas. Sepasang mata miliknya tak berhenti memandang ke arah luar jendela.


Yaa, sejak tadi selama jam pelajaran berlangsung Adrian hanya fokus memperhatikan sepasang murid yang duduk di bangku taman penghijauan area lingkungan sekolah. Kebetulan area itu dapat dijangkau dalam pandangan Adrian mengingat posisi kelasnya tepat berseberangan dengan taman tersebut.


Sepasang murid itu tentu saja adalah Irina dan Rian. Adrian bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, sedang apakah mereka berduaan disana di saat jam pelajaran sedang berlangsung?


Adrian mencoba mencari jawaban dari setiap gerak-gerik Irina dan Rian dalam jangkauan pandangannya. Hingga akhirnya Adrian menyadari mereka berdua sepertinya sedang mengerjakan tugas sekolah di sana. Meskipun tidak ada hal aneh yang ditangkap oleh Adrian, kecuali saat Rian meraih tangan Irina, tetap saja Adrian merasa cemas.


Yaa, kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya yang sudah beranjak dewasa itu wajarkan? Terlebih lagi bila mengenai pergaulan dengan lawan jenis, wajarkan bila Adrian sebagai seorang kakak sedikit lebih waspada?


Adrian menghela nafas berat, dia sedang kebingungan. Satu sisi dirinya ingin mengklarifikasi kedekatan Irina dengan teman sebangkunya itu. Sikap Irina begitu berbeda, Adrian tahu itu, bukan sehari dua hari Adrian mengenali sikap Irina.


Meskipun Adrian selalu menjadi sosok kakak yang dingin selama ini, bukan berarti Adrian tidak kenal dengan baik kepribadian Irina.


Disatu sisi dirinya juga tidak ingin membuat Irina tidak nyaman dengan sikap Adrian yang terlalu over-protective. Menjadi sosok kakak yang dingin sudah cukup membuat Irina menjauh dan canggung terhadap Adrian, meskipun memang sikap itu yang diharapkan Adrian dimiliki Irina untuk dirinya, tetap saja Adrian tidak ingin menambah kedinginan hubungan kakak beradik mereka menjadi kebencian.


Adrian kembali menghela nafas berat. Perasaannya sungguh kacau, begitupula dengan pikirannya saat ini. Adrian benci dengan keadaannya saat ini. Entah kenapa Adrian merasa benci untuk merasa peka dengan perubahan sikap Irina.


Maksudnya, Adrian sangat tahu bahwa Irina saat ini mungkin sedang dalam tahap pubertas yang selama ini tidak dipikirkan oleh Adrian.


"Irina, kamu pasti sedang jatuh cinta sama laki-laki itu!" batin Adrian.


***


.


.


.


BERSAMBUNG...


__ADS_1


__ADS_2