
Tak terasa telah masuk akhir pekan di minggu pertama liburan sekolah. Irina tengah duduk di teras rumahnya, menunggu kedatangan Rian yang akan menjemputnya.
Semalam mereka berdua berjanji untuk menghabiskan akhir pekan kali ini dengan menonton di bioskop setelah kebetulan bioskop yang akan mereka datangi ternyata telah launching film baru yang sangat populer dan sudah sangat ditunggu banyak penggemarnya untuk penayangan perdana.
Irina menanti dengan sabar kedatangan Rian.
Kali ini Irina memang bersiap lebih awal dari waktu yang dijanjikan, karena itulah Irina tak merasa keberatan menunggu sedikit lebih lama kedatangan Rian ke rumahnya. Irina menikmati semilir angin sore di teras rumahnya sembari membayangkan betapa menyenangkan hari yang akan dilewatinya bersama Rian kali ini. Sudah lama tidak bertemu. Rasanya rindu hampir setengah mati!
Irina yang tengah duduk manis di kursi teras terlihat sangat cantik dengan kesederhanaannya. Irina menggunakan gaun selutut berwarna cokelat muda polos tanpa corak apapun. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Irina juga menggunakan sepatu flat berwarna cokelat tua yang senada dengan warna tas selempang kecil yang sedang dikenakannya. Jelas sekali, Irina terlihat sangat cantik dan anggun dalam kesederhanaan.
Suara mesin motor yang tak asing di telinga Irina terdengar memasuki pekarangan rumah Irina. Sosok pemuda tampan di atas motor besarnya menarik perhatian Irina. Siapa lagi kalau bukan Rian, kekasihnya. Irina sumringah dengan wajah yang berseri-seri melihat kedatangan Rian. Irina segera berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan Rian.
"Sudah siap, Tante?" canda Rian dengan senyun jahilnya ketika sudah turun dari motornya dan menghampiri Irina.
"Siap dong, Om!" balas Irina sembari memberi hormat dengan lucu seolah sedang melakukan penghormatan bendera.
"Hari ini kamu cantik," goda Rian lirih ketika memasangkan helm di kepala Irina.
"Sayangku..." lanjutnya lagi masih dengan nada lirih yang hampir tak terdengar.
Irina hanya diam dan menundukkan sedikit pandangannya. Semburat rona merah di pipinya begitu jelas dan debaran di dalam dada Irina terasa lebih kencang.
Irina tersipu malu.
Mereka akhirnya berlalu pergi setelah sebelumnya Irina berpamitan terlebih dulu kepada Marinka, Ibunya. Marinka sendiri akhirnya pergi keluar rumah menemui Rian yang tetap menunggu di teras rumahnya.
"Jaga Irina baik-baik yaa," pinta Marinka pada Rian.
"Jangan lama-lama, selesai nonton segera pulang yaa.." lanjut Marinka lagi yang disambut dengan anggukan santun dari Rian.
"Baik, Tante... Saya akan menjaga Irina dan segera membawanya pulang, terimakasih atas kepercayaannya." sahut Rian dengan mantap.
Lagi-lagi Irina dibuat terpesona dengan sikap Rian. Rian sangat tahu bagaimana beretika dengan baik di depan orang tua Irina. Rian juga selalu bersikap bertanggung jawab setiap kali akan membawa Irina pergi.
Selain itu, Rian juga tahu bagaimana bersikap manis dan menyenangkan ketika berdua dengan Irina. Hari ini akan menjadi momen malam minggu yang istimewa untuk Irina dan semua itu karena Rian adalah seorang yang...
Istimewa~
***
Adrian terbangun dari istirahat siangnya. Terlalu lelah dengan kegiatan belajar yang lebih keras di sekolah hari ini membuat Adrian tertidur lelap hingga menjelang sore hari.
Adrian melirik jam tangannya dengan malas yang menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat. Kemudian Adrian mengusap wajahnya dan mengucek kedua matanya, berharap caranya dapat menyadarkannya dari rasa malas yang masih memberatkannya untuk bangun dari tidurnya.
"Aku tidur terlalu lama," batin Adrian.
Adrian berusaha mengumpulkan semangat dalam dirinya. Mencoba bangkit dari tidurnya lalu kemudian duduk sejenak di tepi tempat tidurnya. Hening dalam kesendirian.
Entah kenapa Adrian merasa hatinya tidak tenang secara tiba-tiba, pikirannya mulai tertuju pada Irina. Rasanya Adrian ingin sekali melihat Irina.
Adrian mencuci mukanya lalu merapikan dirinya. Adrian beranjak keluar dari kamar tidurnya dan menuju kamar Irina. Kali ini Adrian sudah menyiapkan alasan ingin meminjam buku untuk belajar. Mana mungkin Adrian mendatangi Irina tanpa alasan yang masuk akal seperti hanya ingin melihat Irina. Pastinya itu akan sangat konyol.
Adrian telah berdiri di depan pintu kamar Irina dan merasakan keheningan seolah tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar Irina. Demi memastikan prasangkanya, Adrian mulai mengetuk pintu kamar Irina. Ketukan pertama, tak ada jawaban.
Adrian menunggu sesaat sebelum akhirnya kembali mengetuk pintu kamar Irina. Ketukan kedua, masih tak ada jawaban.
Adrian kembali menunggu sejenak, hingga kemudian Ia melakukan ketukan ketiga yang masih tak ada jawaban apapun dari dalam kamar.
Adrian kemudian mencoba membuka pintu kamar Irina. Adrian tahu Irina terbiasa tidak mengunci pintu kamar, karena itu dengan mudah Adrian bisa membukanya kapan saja.
Adrian memilih mengetuk pintu terlebih dulu setiap mau menemui Irina di dalam kamarnya hanya sebagai sebuah penghormatan kepada ranah pribadi Irina dan tentu saja sebagai bentuk etika sopan santun terhadap kamar pribadi orang lain.
"KRIEEETT~"
Adrian membuka pintu kamar Irina dengan perlahan hingga terbuka lebar. Tak ada Irina di dalam kamarnya, pantas saja Adrian merasa seperti tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam kamar Irina. Kosong.
Adrian kembali menutup pintu kamar Irina. Kali ini Adrian berpikir untuk turun ke lantai bawah dam bersantai di sofa ruang keluarga, mungkin juga akan bertemu Irina yang duduk santai menonton TV. Setidaknya begitulah kebiasaan sore dari Irina yang diketahui Adrian.
***
Adrian telah sampai di ruang keluarga namun tak ditemukannya sosok Irina di sana. Hanya ada Riffan dan Marinka, kedua orangtuanya yang sedang duduk santai berdua sambil menikmati cemilan berupa kue bolu buatan Bi Anah sambil menonton acara TV yang Adrian lihat seperti sebuah siaran yang sangat membosankan.
"Adrian..." sapa Riffan ketika menyadari Adrian telah berada di ruang keluarga.
"Duduklah," ucap Riffan sembari mempersilahkan Adrian untuk duduk.
__ADS_1
Adrian tidak bergeming dari tempat Ia berdiri. Sebenarnya Adrian enggan untuk bergabung duduk bersantai bersama kedua orangtuanya.
Saat ini Adrian hanya ingin mencari sosok Irina yang sedari tadi tak nampak batang hidungnya sejak Adrian pulang sekolah hingga sekarang dirinya terbangun dari istirahatnya.
"Ada apa, Adrian?" tanya Marinka dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.
Marinka memang seorang Ibu yang peka, tanpa Adrian harus menjelaskan sedikitpun, Marinka bisa merasakan ada hal yang mengganjal di benak Adrian hanya dengan melihat raut wajahnya saja.
"Ayah, Ibu... Irina mana yaa? Daritadi, Adrian tidak melihatnya," tanya Adrian.
"Kamu mencari Irina? Sekitar satu jam yang lalu, Irina pergi dengan Rian. Katanya sih, mau nonton di bioskop X," Marinka menjelaskan dengan santai dan tanpa beban sambil tetap menatap layar TV.
"DEG!"
Adrian merasa degup jantungnya terhenti sesaat mendengar apa yang dikatakan Ibunya. Untuk sepersekian detik, Adrian diam mematung.
"Irina pergi dengan Rian?" tanya Adrian dengan nada datar dan menekankan kalimat tanyanya sebagai rasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Marinka, Ibunya.
"Kenapa dibiarkan?" tanya Adrian lagi. Pertanyaan ini sebenarnya hanya terbersit di dalam pikirannya yang tak disadari Adrian lolos keluar dari lisannya secara lirih dan terkesan dingin. Tidak suka!
"Adrian, kamu baik-baik saja?" tanya Riffan sedikit heran dengan sikap Adrian yang terlihat kaku dan dingin.
"Kenapa dibiarkan?" Adrian mengulang pertanyaannya. Kali ini bukan sebuah pertanyaan yang keceplosan keluar dari mulutnya, melainkan memang secara sadar diutarakan Adrian. Perasaan cemburu mulai menguasai Adrian, membuat Adrian merasa geram.
"Adrian, bukannya Kamu sendiri yang bilang untuk membiarkan saja Irina dengan kesenangannya? Kamu lupa dengan kata-katamu sendiri?" celetuk Marinka yang lebih cenderung menggoda Adrian, sengaja memancing emosinya.
"Itu..." Adrian tak bisa melanjutkan kalimatnya. Lebih tepatnya Adrian tak tahu menentukan sikap.
Adrian memang ingat bahwa dirinya sendirilah yang meminta kedua orangtuanya untuk membiarkan Irina bersenang-senang sesuai keinginan Irina.
Semua itu karena Adrian merasa tidak perlu memprioritaskan urusan drama romeo juliet yang sedang dijalani Irina bersama Rian. Prioritas Adrian saat ini adalah belajar untuk menghadapi ujian akhir sekolah. Cukup.
"Sialan!" rutuk Adrian dalam hatinya untuk dirinya sendiri.
Adrian merasa sangat konyol dan semua ini karena permainan perasaan mulai menguasainya.
Tidak!
Sekali lagi, tidak!
Adrian harus tetap menggunakan akal sehatnya, mengutamakan logika daripada perasaannya. Adrian harus melihat kedepan, bukan terjebak oleh rasa cemburu yang meruntuhkan harga dirinya. Begitulah Adrian memandang perasaannya sendiri, rendah!
"Pergilah...." lanjut Marinka lagi.
"Maksudnya?" tanya Adrian mulai gagal memahami maksud sepatah kata yang diucapkan Ibunya. Pikiran Adrian sedikit kacau hingga tak bisa mencerna kata-kata orang lain dengan baik.
"Maksud Ibumu, pergilah menyusul ke bioskop. Lagipula tadi Irina bilang sedang ada pemutaran film perdana yang digemari banyak orang, sekalian saja kamu nonton." celetuk Riffan, Ayahnya.
Adrian terdiam sejenak. Satu sisi dirinya merasa tak ingin pergi. Adrian bukan orang yang suka mencari hiburan. Sosok serius seperti Adrian lebih suka tenang di rumah yang terasa lebih nyaman dari tempat manapun di luar sana.
Namun...
Mengingat dan membayangkan Irina sedang menghabiskan waktu berdua bersama Rian membuat Adrian merasa terbakar cemburu.
Ego mulai menguasainya yang kemudian membuat Adrian bersemangat untuk pergi. Entah bagaimana nanti di sana, Adrian belum memikirkan apapun. Saat ini bagi Adrian yang penting mengawasi Irina, biar bagaimanapun juga...
"Irina adalah tunanganku~" celetuk Adrian dalam hatinya.
Adrian kemudian mohon izin kepada kedua orangtuanya untuk pergi menyusul Irina yang langsung disetujui oleh Ayah dan Ibunya.
Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, Adrian segera naik ke lantai atas, menuju kamarnya dan menyiapkan dirinya untuk pergi ke bioskop yang didatangi Irina dan Rian. Dalam hatinya, Adrian memantapkan egonya sendiri...
"Irina, tunanganku~"
***
Bioskop X,
Rian dan Irina masih duduk-duduk manis di
sofa empuk yang disediakan oleh pihak bioskop. Jejeran sofa berbentuk balok tanpa sandaran nan empuk sengaja disiapkan oleh pihak bioskop untuk para pengunjung menunggu waktu tayang film kesayangan mereka sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Pemutaran film perdana hari ini membuat bioskop begitu ramai dengan pengunjung yang membludak. Pada akhirnya Irina dan Rian ketinggalan pemutaran film perdana karena semua tiket telah habis. Mereka berdua harus bersabar untuk menunggu pemutaran kedua yang akan berlangsung dua jam lagi.
"Maaf yaa, meleset dari rencana," ucap Rian lirih di samping Irina yang asyik menikmati berondong jagung rasa karamel kesukaannya.
__ADS_1
"Seharusnya Aku booking terlebih dulu tiket nonton hari ini." celetuk Rian dengan nada penuh penyesalan.
Irina tertawa terkekeh melihat sikap Rian yang tak seperti biasanya. Biasanya Irina melihat Rian sebagai seorang pria yang cuek dan usil. Kali ini melihat sisi melankolis Rian yang terasa berlebihan, membuat Irina tak sanggup menahan tawa. Harusnya Irina merasa haru, tapi sebaliknya Irina merasa lucu.
"Bukan hal yang harus disesali, Om..." celetuk Irina dengan nada usil.
"Aku suka kok menunggu disini," ucap Irina malu-malu.
"Maksudku, tempat ini nyaman." lanjutnya lagi mencoba menjelaskan dengan pemilihan kata yang terkesan lebih netral.
Rian terkekeh menyadari bahwa Irina hanya malu mengatakan bahwa Ia senang berduaan dengan dirinya. Jiwa usil Rian muncul kembali.
"Maksudmu, senang berdua denganku?" celetuk Rian dengan percaya diri sambil terkekeh.
"Bukan begitu!" Irina memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan semburat merah merona yang sudah mulai tercetak jelas di kedua permukaan pipinya.
"Hahahaha~" Rian tak bisa lagi menahan tawanya.
Irina sedikit cemberut dan berusaha fokus melahap berondong jagung dalam genggamannya untuk mengalihkan rasa canggung yang membuatnya salah tingkah.
Rian, lagi-lagi sukses membuat Irina setengah kesal setengah senang. Aneh tapi nyata, Irina selalu merasa senang dengan gaya usil Rian untuk dirinya. Irina juga suka melihat Rian yang tertawa terkekeh karena merasa lucu akan dirinya.
***
Adrian telah sampai di dalam bioskop X. Matanya tak henti-hentinya memindai seluruh ruang bioskop, mencari keberadaan Irina.
"Apa mungkin sudah masuk ke dalam ruang teater?" batin Adrian.
Adrian hampir saja pasrah dan merasa konyol dengan keberadaannya saat ini. Ia mulai mempertanyakan sikapnya sendiri yang tiba-tiba saja sudah berada di tempat ini, di bioskop ini. Untuk apa?
"Untuk apa aku di sini?"
"Apa yang mau kulakukan bila bertemu Irina dan Rian?"
"Sekarang aku harus bagaimana?"
Adrian mulai bingung dengan sikapnya sendiri.
Langkah kakinya hingga berada di mana Dia berdiri saat ini seolah terjadi begitu saja tanpa Ia pikirkan dengan matang. Ini bukan Adrian yang biasanya, jelas Adrian menyadari bahwa kacaunya perasaannya telah mempengaruhi tindak tanduknya. Saat ini Adrian merasa sangat impulsif!
Adrian kembali memindai sekali lagi seluruh sudut gedung bioskop, barangkali kali ini Dia beruntung bisa menemukan sosok Irina.
Mungkin~
Tiba-tiba pandangan mata Adrian terhenti setelah menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya sedang duduk manis di salah satu sofa tunggu yang terletak di koridor menuju ruang-ruang teater.
"Irina!" pekik Adrian dalam hatinya.
Adrian bermaksud melangkahkan kakinya untuk menuju di mana Irina berada sebelum kemudian mendadak seperti ada rantai mengikat kedua pergelangan kakinya dan memberatkan langkahnya.
Ya, sebuah rantai imajiner yang merupakan wujud dari ego milik Adrian.
"Atas dasar apa aku mendatangi Irina?"
"Lalu apa? Apa yang akan kukatakan ketika Aku berada di depan mereka berdua?"
"Ck!" Adrian berdecak kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar dalam kepalanya.
Rumit!
Perasaan sungguh rumit.
Baru kali ini Adrian merasa kehilangan akal sehat dan lepas kendali dari pengaturan rencana dan strategi yang selalu dia buat dengan sangat matang dan penuh kehati-hatian.
Adrian menjadi impulsif!
Adrian menghela nafas panjang dan berat, mulai berpikir secara cepat menggunakan akal sehatnya. Adrian menenangkan pikiran dan perasaannya, mulai melangkahkan kakinya dengan mantap, menanamkan dalam pemikirannya, meyakinkan dirinya bahwa...
"Irina adalah tunanganku. Irina adalah prioritasku. Titik!"
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...!