SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 30. Penerimaan


__ADS_3

Sudah hampir semingguan Irina tak banyak bicara. Di rumah Irina hanya banyak diam dan semua orang mencoba memaklumi sesuai arahan Marinka untuk membiarkan Irina bersikap sesuai kemauannya selama bukan hal yang membahayakan.


Begitupun di sekolah, Irina juga mendiamkan Rian. Rian yang sebelumnya sudah merasa bersalah karena sempat salah bicara dan membuat Irina sakit hati juga berusaha memaklumi dan memberi waktu untuk Irina.


Hanya saja, Rian tidak tahu bahwa diamnya Irina bukan lagi karena masalah salah bicara di hari senin yang lalu, melainkan sesuatu yang lebih rumit. Irina sedang kalut dengan keadaannya sendiri. Perasaannya, analisanya, keputusannya, semua itu membuatnya berpikir keras hingga tak bersemangat untuk beramah tamah dengan siapapun.


"Ini sudah hari sabtu, mau sampai kapan Irina cuek begini?" batin Rian ketika masih sibuk tenggelam dalam kegiatan belajar terakhir di hari itu. Matanya sesekali melirik ke arah Irina yang benar-benar tak peduli dengannya dan terlihat fokus belajar.


"Besok libur, aku ingin bicara dengannya," batin Rian lagi.


Bel tanda jam belajar telah berakhir sudah berbunyi nyaring menggemparkan seluruh isi sekolah. Seperti biasanya semua murid langsung sibuk mempersiapkan diri untuk pulang. Setelah guru keluar dari kelas dan Irina melengos begitu saja keluar kelas kemudian, Rian segera menarik lengan Irina untuk menahannya.


"Irina, tunggu!" cegah Rian yang membuat Irina menghentikan langkah dan menoleh kearahnya.


"Sampai kapan mau diam? Ini sudah seminggu, kita harus bicara," ucap Rian memohon kepada Irina.


Memang benar, Irina tahu mereka harus bicara. Lagipula, Irina memang ingin mencari waktu yang tepat untuk bisa bicara berdua dengan Rian.


"Irina...." tegur Rian yang masih menunggu jawaban dari Irina.


Irina menghela nafas berat dan mengusulkan untuk mereka bertemu di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah.


"Baiklah, besok aku akan menjemputmu," ucap Rian lalu melepaskan lengan Irina dan membiarkan Irina berlalu meninggalkannya.


***


Hari minggu pagi,


Jam di kamar Irina menunjukkan pukul 10.30 waktu setempat. Irina tengah bersiap sembari menunggu Rian datang menjemputnya.


Kemarin sepulang sekolah Irina sudah meminta izin kepada orangtuanya bahwa ia akan pergi bersama Rian. Rencananya mereka berdua akan mengobrol sekaligus menikmati makan siang di kafe yang telah ditentukan oleh Irina. Kafe di dekat sekolah yang juga selalu digunakan Irina untuk menghabiskan waktu bersama Veronica, sahabatnya. Kafe yang sama digunakan Adrian untuk berbicara dengan Revano sebelumnya.


Tepat jam 11.00 waktu setempat, Rian sampai di depan rumah Irina. Irina segera keluar dari kamarnya dan berpamitan dengan ayah dan ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga.


Melihat sosok Adrian yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca buku, Irina merasa canggung harus melewatinya untuk menuju pintu utama rumah mereka. Mau tidak mau Irina menghampiri Adrian dan berpamitan padanya dengan kikuk. Adrian tak banyak bicara, hanya mengiyakan Irina lalu kembali sibuk membaca bukunya.


Marinka beranjak dari ruang keluarga dan menyusul Irina keluar rumah, sedikit basa-basi kepada Rian sebagai bentuk formalitas "menitipkan" anak gadisnya keluar rumah.


Rian tersenyum santun dan berjanji akan menjaga Irina dengan baik selama mereka di luar.


Setelah Irina dan Rian pergi hingga sosok keduanya menghilang dari tikungan gerbang halaman rumah, Marinka kembali memasuki rumahnya dan mendapati Adrian menatapnya penuh tanda tanya.


"Kenapa?" tanya Marinka kepada Adrian.


"Apa Adrian perlu mengawasi mereka, Bu? Menyusulnya? Membawanya pulang?" cercah Adrian.


Marinka tertawa kecil melihat kelakuan Adrian. Sebuah playing victim, menunggu ibunya memerintahkannya padahal Adrian sendiri yang jiwa dan raganya bergejolak tak ingin melepaskan Irina di tangan Rian.


"Biarkan saja, beri Irina waktu menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap Marinka dengan tenang.


"Tapi..." sanggah Adrian tidak terima keputusan ibunya.


"Sudahlah Adrian, ibu bilang kau tidak perlu khawatir. Memangnya kau pikir Irina mau pergi kawin lari? Dia terlalu dini berpikiran begitu." canda Marinka dan menutup kata-katanya dengan tawa cekikikan.


Adrian menunduk malu, wajahnya merona dan panas mendengar ledekan yang dilontarkan oleh ibunya. Memang saat ini Adrian hampir kehilangan akal dibakar rasa cemburu. Adrian hanya terlalu ahli menyembunyikan kekalutan perasaannya di depan Irina.


***


Di Kafe,


Irina dan Rian duduk berhadapan sambil menikmati makan siang mereka. Tidak seperti biasanya yang riang saat mereka bersama, suasana saat ini terasa canggung dan hening. Rian yang telah lebih dulu selesai makan kali ini hanya diam menunggu Irina menyelesaikan hidangan di depan matanya.


Ketika akhirnya sesi makan siang mereka telah benar-benar selesai, Rian mulai membuka pembicaraan.


"Irina, aku minta maaf," ucap Rian tanpa basa-basi.


Irina menggeleng pelan, ia merasa tidak nyaman dengan ungkapan rasa bersalah yang diberikan Rian. Bukan, bukan begini seharusnya.


"Kamu nggak salah apapun Rian, kejadian waktu itu bukan hal yang harus kita bahas, itu sudah selesai. Aku yang harusnya minta maaf," cercah Irina cepat dengan perasaan gugup, jari jemarinya saling bertautan satu sama lain. Irina sibuk memilin jari-jemari lentik miliknya.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Rian tak mengerti.


Irina menghela nafas panjang, mempersiapkan diri untuk menjelaskan segala berita yang juga baru-baru ini membuatnya terpukul.


Pelan-pelan Irina menceritakan pada Rian tentang komitmen dalam keluarganya, tentang Adrian yang bukan kakak kandungnya, tentang Adrian yang adalah TUNANGANNYA.


"Begitu ceritanya," ucap Irina lirih mengakhiri cerita dan menundukkan wajahnya tak sanggup melihat reaksi Rian.


Irina terus menunduk menunggu Rian menyampaikan sepatah dua kata, namun yang kali ini didengarnya adalah tawa kecil dari Rian. Suara tawa yang terdengar getir namun juga membuat Irina bertanya-tanya kenapa Rian malah tertawa?


Rian menepuk dahinya sendiri, menikmati tawa miliknya dan ketika dirasa puas ia pun mulai angkat bicara.


"Kenapa nunduk? Liat aku," celetuk Rian.


"Aku menertawakan diriku sendiri Irina, jangan takut, aku juga tidak marah," lanjutnya lagi.


Irina mengernyitkn dahinya ketika kini memilih menatap wajah Rian dengan seksama. Rian memang terlihat seperti merasa lucu akan dirinya sendiri. Rian menyeruput secangkir cappucinno hangat di depan matanya sebelum akhirnya mulai berceloteh.


"Irina, apa kau mau dengar ceritaku?" tanya Rian sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Irina hanya mengangguk pelan sebagai tanda dirinya siap mendengarkan cerita Rian.


"Kau tahu aku ini keren kan? Aku tampan, aku anak dari pemilik yayasan sekolah yang dianggap hebat, aku seorang idola walaupun aku sendiri tak nyaman dengan semua itu," ucap Rian serius namun dihias dengan canda.


"Irina, ketika masih duduk di bangku SMP, semua keistimewaan yang kumiliki kugunakan dengan sombong, aku juga seorang playboy. Mereka yang mengejarku, kenapa tidak kuterima untuk bersenang-senang? Betulkan?" lanjut Rian lagi dan kali ini Irina terbelalak terkejut dengan pernyataan Rian.


"Kau sendiri merasa, kan? Saat pertama bertemu sikapku mungkin tergolong menyebalkan. Aku tidak ikut aturan, aku cuek, aku suka-suka. Bedanya ketika duduk di bangku SMA aku tidak begitu tertarik berkawan karena pengalaman waktu SMP, aku sadar mereka semua hanya silau dengan apa yang kumiliki. Mereka tidak tulus." celoteh Rian lagi.


"Tapi berbeda saat bersama denganmu Irina," Rian menghentikan sejenak kalimatnya, melihat Irina yang memandang wajahnya dengan terpana.


"Kau ingat waktu pertama kali kita kerja kelompok di taman hijau? Kata-katamu begitu tulus mempedulikanku dan aku merasa ingin membuktikan bahwa aku orang yang lebih baik, aku juga menyukaimu." ucap Rian lagi tegas membuat Irina tersanjung.


"Aku memang sudah memikirkan beberapa hari ini, bahkan sebelum-sebelumnya sudah merasa aneh dengan sikap kakakmu. Yaa, walaupun aku tak menyangka bahwa kenyataannya semacam ini. Tapi sejujurnya aku tidak keberatan, bagiku semua ini bukan masalah meskipun aku kecewa tapi hidup terus berjalan, kan?" ucap Rian berusaha bijak serta tersenyum lembut kepada Irina.


"Kau tidak ingin mempertahankan hubungan kita?" ucap Irina lirih.


"Kau mau?" Rian balik mempertanyakan perasaan Irina.


Irina terdiam, ia benar-benar tak menyangka pria di depannya yang selama ini terlihat cuek dan hanya haha-hihi bersamanya bisa lebih bijak dari yang dia kira. Irina membendung air matanya.


"Jangan nangis, jangan drama, nanti jelek lho...." canda Rian.


Irina tertawa kecil, sedikit air matanya tumpah dari sudut matanya, namun segera berhasil mereda ketika mendengar candaan receh milik Rian.


"Receh!" celetuk Irina.


"Tapi berhasil, hehehe...." celetuk Rian cengengesan sembari membanggakan dirinya.


Suasana mereka berdua mulai terasa lebih hangat dan riang, mereka memilih menghabiskan sepotong kue cokelat sambil bercerita banyak meskipun kali ini mereka memulai akrab sebagai teman.


Yaa, teman yang istimewa, saling mengajarkan hal yang mereka berdua tak sadar ada pada mereka masing2, menjadi pengingat akan blindspot yang mereka miliki.


***


Waktu berlalu dan kehidupan terus berjalan. Irina dan Rian yang kini beralih dari sepasang kekasih menjadi teman biasa, Irina yang masih menimbang-nimbang perasaannya terhadap Adrian, keputusannya untuk memilih menerima komitmen bertunangan dengan Adrian atau tidak, serta kali ini Irina sudah memiliki Veronica sebagai teman untuk berbagi masalahnya setelah ia akhirnya menyelesaikan masalah hubungannya dengan Rian.


Tentu saja Veronica sempat terkejut, bahkan ketika ia tak tahan untuk menyimpan rahasia kepada kakaknya, Revano, lalu kemudian tak menyangka bahwa kakaknya malah lebih dulu tahu dari dirinya, Veronica sempat merasa terkejut habis-habisan. Tapi kemudian Veronica yang menyayangi sahabatnya, Irina, kini setia mendengarkan keluh kesah Irina.


Veronica selalu mencoba menenangkan Irina yang setiap hari merasa kalut akan kehadiran Adrian yang telah dilihatnya dengan kacamata berbeda. Adrian seorang pria asing tak sedarah dengannya yang dipilih untuk menjadi tunangannya.


Irina jarang bertemu dengan Adrian di rumah. Selain karena Irina sibuk sekolah, Adrian juga selalu sibuk ikut ayah mereka ke kantor untuk belajar sedikit demi sedikit mengenai seluk beluk perusahaan. Jika tidak ikut bersama ayahnya, Adrian biasanya disibukkan dengan berbagai persiapan berangkat ke Inggris. Banyak hal yang harus diurus oleh Adrian hingga ia bisa mengalihkan perasaan kalutnya terhadap keputusan yang nantinya akan diberikan Irina.


Sudah hampir dua bulan dan selama itu pula Irina diam-diam selalu memperhatikan Adrian setiap kali ada kesempatan bersamanya seperti saat makan bersama, duduk di ruang keluarga, atau hanya berpapasan di dalam rumah. Mereka berdua tak banyak bicara, tak satupun yang berusaha memulai bicara.


Irina pun kesulitan, entah sejak kapan jantungnya selalu berdebar kencang setiap berada di dekat Adrian. Ia tak sanggup melihat Adrian sebagai seorang tunangan, pria yang akan dinikahinya nanti. Irina merasa malu. Lagipula Adrian jadi semakin terlihat tampan dimatanya. Irina tak pungkiri, bahkan sebelumnya ia selalu bangga dengan ketampanan dan kehebatan "kakak"-nya itu.


Sama seperti beberapa hari lalu, di suatu malam ketika Irina melihat Adrian yang berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas untuk menghadiri acara perpisahan sekolah. Irina terpesona dengan Adrian namun hanya menyembunyikan semburat merah di wajahnya.


Malam itu setelah selesai acara, Adrian pulang membawa sebuah piala yang katanya adalah sebuah penghargaan "king of the school". Mereka semua yang berkumpul di ruang keluarga terpesona dengan apa yang dibawa oleh Adrian, termasuk Irina. Marinka, tiba-tiba saja menggoda Adrian.

__ADS_1


"Lalu, siapa queen of the school? Kalian pasti dianggap serasi," goda Marinka, ibunya.


"Senna Zain, dia memang perempuan yang cantik," jawab Adrian enteng.


"Wah, pasti banyak yang mengambil foto kalian saat berdiri berdampingan di atas panggung," goda Marinka lagi.


Entah kenapa Irina merasa tak nyaman dan tak senang. Sebuah emosi yang tak dimengerti Irina merasukinya.


"Apa-apaan sih? 'Kan Kak Adrian tunanganku! Kenapa bahas perempuan lain?" celetuk Irina dalam hatinya. Cemburu.


Irina berlalu ke kamar dan saat itulah mulai menyadari perasaannya, bahwa sebenarnya ia telah menerima keputusan keluarga menjadikan Adrian sebagai tunangannya. Hanya saja, Irina belum mengutarakan apapun.


"Tok... Tok..."


Suara ketukan kamar membuat Irina tersadar dari lamunannya.


"Irina, besok aku berangkat," ucap Adrian lirih ketika menyadari bahwa Irina masih terjaga di balik pintu kamar.


Irina tak menjawab dan mengetahui bahwa Adrian telah pergi setelah mendengar derap langkah kaki Adrian menjauh dari kamarnya.


Irina menghela nafas berat, dia bingung besok harus bagaimana?


***


Bandara Internasional Kota X,


Marinka terus-terusan mengusap air mata yang sedikit demi sedikit terus membasahi pipinya, ia tak tega melepas Adrian dari sisinya.


Riffan yang selalu menjadi sosok pria bijak merangkul istrinya dan berbisik lirih menenangkan istrinya, "Sudahlah sayang, Adrian masih bisa sesekali mengunjungi kita jika memungkinkan."


Irina yang sejak berangkat dari rumah dan kini tengah berdiri di belakang ayah dan ibunya hanya bisa mematung bingung harus berpamitan seperti apa dengan Adrian.


Jantungnya juga tak bisa berhenti berdegup kencang tak karuan. Bahkan rasanya jantungnya seperti ingin lompat dari tempatnya.


Adrian yang terlihat tampan dengan jaket denim biru gelap dan kacamata hitam menghampiri Irina dan Irina tahu bahwa ia seharusnya bisa memberi kepastian.


Sosok yang ternyata sangat tinggi itu kini hanya berada beberapa senti di hadapannya. Nafas Irina terasa sesak, ia terlalu panik. Adrian yang menyadari gelagat Irina berusaha menenangkannya dengan menggenggam kedua tangan mungil Irina yang sudah basah oleh keringat dingin.


"Tanganmu?" ucap Adrian kaget merasakan hawa yang begitu dingin dari tangan Irina.


Irina berusaha menarik tangannya namun Adrian malah menggenggam dengan lebih erat.


"Ini akan menghangatkan tanganmu," ucap Adrian sebagai bentuk perhatian pada Irina. Semburat merah di wajah Irina tak bisa lagi ia sembunyikan.


"Irina, maaf aku selalu bersikap buruk dan maaf karena akhir-akhir ini aku sibuk sendiri dan mengabaikanmu," ucap Adrian lirih.


Adrian ingin menuntaskan segala kekalutan dalam dirinya sebelum pergi.


"Maaf aku egois selama ini, aku tidak keberatan jika kau meno...."


"Aku terima!" sanggah Irina dengan cepat. Jantungnya kali ini benar-benar seperti melompat dari tempatnya dan semburat merah diwajahnya terasa sangat panas.


"Apa?" Adrian memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Aku terima pertunangan ini," ulang Irina tak kalah lebih cepat ritmenya dari sebelumnya.


Adrian tersenyum lega, sejujurnya ia sudah pesimis dengan keputusan Irina. Bahkan selama ini setiap ia sibuk di kantor mempelajari bisnis bersama ayahnya, ia tak lagi memposisikan dirinya sebagai seorang penerus perusahaan Domino melainkan hanya seseorang yang berjanji akan berkontribusi dengan loyalitas tinggi setelah berhasil mengenyam pendidikan di Inggris sebagai rasa terimakasih atas kasih sayang dan kepedulian kedua orangtuanya akan kehidupan yang dia miliki.


"Kau bercanda?" tanya Adrian dengan nada tidak percaya.


Irina sudah tak sanggup mengatakan apapun lagi dan ketika sadar Adrian sudah harus pergi memasuki ruang tunggu keberangkatan, Irina tak mau lagi berbasa-basi. Dilepasnya secara paksa genggaman tangan Adrian lalu segera memeluknya dengan erat.


"Bersungguh-sungguhlah disana, Kak... Aku menunggumu," bisik Irina lirih.


Adrian merasakan kehangatan merasuki seluruh tubuhnya, perasaan yang bahagia dan begitu lega. Adrian membalas pelukan Irina dengan lebih erat seakan ia ingin menyalurkan seluruh perasaan cintanya yang telah ia simpan sejak lama ke tubuh Irina tanpa harus mengucapkan sepatah kata apapun.


"Aku berjanji akan menjadikanmu permaisuriku, Irina...."


***

__ADS_1


TAMAT~


__ADS_2