
KELAS 10-2
SMA DHARMA BHAKTI, KOTA X
"siiiing~"
Siang itu kelas begitu hening, hanya goresan pena di atas kertas dari para murid yang mengisi keheningan.
Guru di depan kelas terus fokus di hadapan papan tulisnya, sibuk menulis berbagai teori dari dalam buku yang digenggamnya.
Para murid dalam kelaspun seperti sedang tak berminat membuat keributan. Sebenarnya mereka hanya lelah dan mengantuk. Siang itu sangat panas, mereka sedang di jam pelajaran terakhir. Tentu saja tidak ada yang lebih mereka harapkan kecuali bunyi bel yang menandakan kegiatan belajar hari itu telah selesai alias PULANGAN.
Namun tidak begitu dengan apa yang ada di dalam isi kepala Irina, gadis yang terlihat tenang mencatat di bukunya sebenarnya menyimpan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya.
"Jadi, ternyata Rian Ini anak ketua pemilik yayasan sekolah?"
"Walaupun dia bebas uang SPP, tapi seharusnya dia tetap bayar uang kas kelas, kan?"
"Tapi kenapa dia nggak jelasin aja dari awal siapa dirinya?"
"Hmm... Kenapa aku mikirin dia?"
"Astaga, aku kayaknya terlalu berpikir keras tapi sia-sia, bodoh!"
Irina menggelengkan kepalanya dalam waktu sekejap, kemudian mencoba kembali fokus menulis cacatan di dalam lembaran bukunya.
***
"Nih...."
Rian menyodorkan selembar uang di meja Irina. Mereka sedang membereskan semua alat tulis dan buku-buku mereka ke dalam tas karena telah waktunya pulangan.
Irina tertegun memandang selembar uang di mejanya.
"Uang kas," Rian menjelaskan singkat sambil tetap sibuk memasukkan buku ke dalam tas.
"Oh iyaa, maaf aku tadi agak nggak fokus." Irina tersenyum konyol, salah tingkah.
"Catat, jangan tagih lagi," Rian mengingatkan dengan datar.
"Apaan sih?" Irina hanya membatin, kesal.
***
Semua murid berhamburan keluar kelas, begitupun dengan Irina. Sesampainya di halaman sekolah, Irina melihat sosok Rian yang bersiap untuk mengendarai motornya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Irina kepikiran untuk minta maaf atas kekeliruannya menilai Rian sepanjang hari ini. Irina segera buru-buru menghampiri Rian.
"Rian!"
"Ada apa lagi?" Rian bersiap menggunakan helmnya.
"Masih mau nagih apa lagi?" lanjutnya lagi sambil memperbaiki posisi duduk.
"Nagih? Memangnya aku terlihat seperti tukang tagih yaa?" Irina merengut.
"Bendahara tugasnya apa?" Rian bertanya dengan datar.
"Eh? Itu.... Eng... Itu... " Irina terlihat sangat konyol dan salah tingkah.
"Pffft...." Rian menahan tawanya.
"Eh? Rian bisa tertawa?" Irina menutup mulutnya dan merasa bersalah karena keceplosan.
"Haa? Kamu ini mengira aku orang yang seperti apa? Aku kan manusia, lagipula kamu harus lihat gayamu sekarang, konyol, makanya aku tertawa. Hahahaha... "
Irina hanya cengengesan sekaligus terkejut melihat sosok Rian saat ini, berbeda dari sejak pertama dia bertemu dengan Rian yang berkesan dingin dan angkuh. Irina merasa sedikit lebih nyaman bersama Rian.
"Ada apa? Aku mau pulang," Rian menyadarkan Irina yang masih salah tingkah.
"Rian, aku hanya mau minta maaf. Jadi, maaf karena tadi pagi aku sudah mengira kamu yang bukan-bukan. Maaf," Irina menundukkan sedikit kepalanya dihadapan Rian.
"Kenapa dia terasa lucu yaa?" batin Rian.
"Eng... Tidak perlu minta maaf, lupakan saja." Rian bersiap untuk pergi. .
"Iyaa, terimakasih..." Irina masih mematung di posisinya.
"Emm, Kamu? Namamu?"
"Oh, namaku Irina,"
"Emm.. Irina, sampai kapan kamu mau berdiri disini, aku mau pulang,"
"Eh? Oh iya, maaf,"
__ADS_1
"Hahahaaaa... Kamu mau aku antar pulang?"
"Apa? Tidak, aku,"
Belum selesai Irina melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba saja Adrian telah muncul di dekat mereka. Adrian terlihat tidak bersahabat dan dingin.
Rian menatap Adrian dengan perasaan heran, rasanya ada aura tidak wajar yang diperlihatkan Adrian kepada dirinya.
"Pacarmu?" Rian bertanya dengan santai.
"Apa? Pacar?" Irina terkejut dengan pertanyaan Rian.
"Bukan... Bukan... Ini kakakku, Adrian. Aku pulang sama kakak, terimakasih tawarannya."
"Ooh...." Entah kenapa Rian merasa lega.
"Irina, ayo kita pulang." Adrian menarik lengan Irina dengan dingin.
"Hei, Senior! Kenalin, aku Rian. Teman sebangku Irina!" Rian sedikit berteriak ketika Adrian dan Irina telah pergi agak jauh dari sisinya.
Adrian tidak menoleh sedikitpun seolah-olah tidak mendengar sedangkan Irina sedikit menoleh dan menunjukkan raut wajah seolah-olah minta maaf atas sikap kakaknya.
"Ada apa sama orang itu? Posesif sama adik sendiri? Aneh!" Rian tidak begitu ambil peduli dan bergegas pulang dengan mengendarai motornya.
***
Irina sudah duduk di boncengan motor bersama Adrian.
Sepanjang perjalanan Irina dan Adrian hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Keadaan semacam ini memang terjadi setiap hari, mereka hanya saling bicara ketika ada hal yang benar-benar penting untuk disampaikan, misalkan ada sesuatu yang tertinggal di rumah sehingga mereka harus kembali.
Irina biasanya sangat ceroboh, berbeda dengan Adrian yang disiplin dan teliti. Namun, meskipun begitu, Adrian tidak akan membiarkan Irina dalam masalah. Adrian akan tetap kembali ke rumah demi keperluan Irina, walaupun dengan sikap yang dingin.
***
Di kamar...
"Tok... Tok..."
Seseorang mengetuk pintu kamar Irina. Irina bergegas membuka pintu kamarnya. Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian.
"Eh? Kakak, ada apa?"
Irina terkejut namun tidak diperlihatkannya. Irina merasa aneh dengan sikap Adrian, bukankah biasanya dia tidak peduli? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang surat?
Lagipula kemarin Adrian sendiri yang meminta Irina untuk berhenti menerima surat dari fans-fans Adrian. ANEH!
"Bukannya kakak sendiri yang minta aku untuk menolak semua surat?" Irina mencoba mengingatkan Adrian akan larangannya di malam sebelumnya.
"Oh, itu..." Adrian berusaha bersikap tenang walaupun pada akhirnya menjadi sedikit salah tingkah.
Saat ini Adrian memang sedang kacau. Mengenai surat-surat, tentu saja hanya alasan yang sengaja dipilih oleh Adrian untuk memulai topik pembicaraan yang sesungguhnya.
Adrian hanya terganggu dengan kejadian sepulang sekolah tadi. Adrian sebenarnya memperhatikan dari kejauhan sejak Irina terlihat terburu-buru menghampiri Rian. Baru kali itu, Adrian melihat Irina bersikap salah tingkah di depan laki-laki, di depan Rian.
Yaa, Adrian tentunya sudah sangat kenal dengan sifat Irina. Adrian bisa merasakan ada kesan yang diberi oleh Rian kepada Irina. Tak dipungkiri, Irina bukan lagi anak kecil. Irina seorang gadis remaja tingkat SMA.
Bukankah ada saat dimana Irina mulai merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis?
Dan, mungkin Adrian sedikit khawatir. Mungkiiiiin....?
"Lupakan. Aku cuma berpikir mungkin kamu lupa menuruti perintahku semalam."
"Perintah?!" Irina hanya membatin, sedikit tidak terima dengan pilihan kata Adrian.
"Siapa dia?" Adrian tak mau lagi basa-basi.
"Siapa?" Irina bertanya balik karena bingung.
"Temanmu di parkiran tadi, siapa?"
"Ooh, Rian. Dia teman sebangkuku."
"Untuk apa kamu menghampiri dia di parkiran?"
Pertanyaan Adrian terasa kaku dan mengintimidasi. Irina merasa tidak nyaman, seolah-olah dia sedang melakukan kesalahan. Irina kesal.
"Aku ada urusan sama dia, makanya aku samperin dia." Irina menjelaskan dengan datar.
"Kalian teman sebangku, urusan kalian bisa di kelas kan?" Adrian lebih datar bicaranya.
"Kak, aku salah apa lagi?" Irina semakin kesal.
Adrian terkejut, dia menyadari saat ini lagi-lagi dia hanya membuat keadaan semakin tidak nyaman diantara mereka berdua. Adrian merasa bodoh.
__ADS_1
Sesungguhnya Adrian sedang berusaha menciptakan keadaan yang lebih baik bagi mereka berdua.
Adrian sudah merenungkan kata-kata Ayahnya, sudah saatnya bersikap lebih baik kepada Irina. Adrian mungkin tetap tidak bisa sehangat dulu sewaktu mereka masih kecil, tapi setidaknya Adrian harus mulai mencoba memberi kesan yang lebih baik kepada Irina.
Kakak yang jahat bukanlah sebuah imej yang ingin terus-terusan dibangun oleh Adrian. Tapi masalahnya kali ini Adrian menyadari sesuatu, bukan hanya Adrian yang terbiasa bersikap dingin, melainkan Irina pun terbiasa menerima sikap dingin Adrian.
Butuh waktu dan proses agar keadaan menjadi lebih hangat diantara mereka berdua. Adrian tidak punya banyak waktu lagi.
"Irina, maaf kalau aku membuatmu kesal,"
"Eh?" Irina tertegun, baru kali ini Adrian berkata maaf atas sikapnya.
"Irina..."
"Kakak, kamu kenapa?" Irina merasa aneh dengan sikap kakaknya.
"Irina, kamu nggak boleh pacaran!" Adrian berkata tegas.
"Apa? Kak, jangan menuduh sembarangan!" Irina kembali kesal.
"Pacaran hanya membuatmu semakin bodoh,"
"Apa?!!" Irina mulai emosi.
Adrian tak lagi mengucapkan sepatah katapun, berlalu begitu saja pergi meninggalkan Irina sendirian di kamarnya. Dia masih bisa mendengar Irina mengomel sendiri di dalam kamarnya.
Sebenarnya Adrian sedang mengurungkan niatnya untuk bersikap baik kepada Irina. Adrian belum siap dan merasa lebih nyaman bersikap dingin, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Adrian belum memiliki ide yang matang untuk memulai sikap yang lebih baik kepada Irina.
"Rian bukan pacarku!"
"Rian teman sebangkuku, aku bahkan baru kenal sama dia!"
"Kakak, kamu kurang kerjaan!"
"Kakak, menyebalkan!"
Meskipun Adrian telah meninggalkan Irina sendirian di kamar, Irina tetap memilih mengomel sendiri, tidak peduli apakah Adrian mendengarkan atau tidak dari kejauhan. Irina hanya ingin meluapkan emosi kekesalannya terhadap Adrian.
Irina benar-benar dibuat kesal dengan sikap Adrian, kini dia memilih berbaring malas di tempat tidurnya. Berbaring membuat Irina menerawang ke kejadian yang sudah dialaminya dua hari ini. Irina tersenyum sendiri dan merasa bodoh dengan kelakuannya dua hari belakangan ini.
Menagih Rian,
Memaksa Rian,
Mengadukan Rian,
Memarahi Rian,
Memikirkan Rian,
"Rian?" Irina tersadar dari lamunannya.
"Kenapa aku mikirin dia yaa?" Irina menepuk jidatnya sendiri.
"Hmm.. Rian sebenarnya cakep sih... Eh??" Irina semakin merasa aneh dengan pikirannya
Irina teringat kata-kata Veronica sebelumnya ketika mereka sedang makan di kantin sambil memperhatikan Rian dari kejauhan.
"KAMU NAKSIR SAMA DIA?"
Kata-kata Veronica itu sederhana, tapi entah mengapa menggelitik di telinga Irina saat mengingatnya kembali.
Bukan!
Bukan sekedar telinga Irina yang saat ini terasa geli, ada perasaan menggelitik yang dirasakan Irina. Mungkin seperti ada kupu-kupu sedang terbang menari-nari di ruang perasaannya.
Irina menepuk-nepuk kecil jidatnya, "Aku ini kenapa yaa? Masa siih aku lagi naksir Rian?"
"Aku baru dua hari bertemu kan?"
Irina bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan entah kenapa dia teringat wajah Rian diparkiran ketika menertawakan dirinya, saat itu Irina merasakan kenyamanan, mungkin terpesona dengan Rian.
Saat itu terasa menyenangkan meski jika diingat kembali dengan saksama, waktu itu dirinya terkesan... BODOH!
***
.
.
.
BERSAMBUNG...!
__ADS_1