
Sebelumnya,
Adrian memarkir motornya di halaman rumah. Setelah mengantar Irina pergi sekolah, Adrian merasa ingin melakukan sedikit olahraga ringan seperti lari pagi di taman komplek perumahan. Pagi itu cuaca sangat cerah, sangat mendukung rencana Adrian untuk mengisi liburannya. Adrian bergegas masuk rumah untuk mengganti baju dan mengenakan sepatu olahraga.
Baru saja membuka pintu rumahnya, Adrian langsung terkejut mendapati Ayah dan Ibunya tengah duduk bersama di ruang tamu. Mungkin bukan hal aneh bila mendapati Ibunya di pagi hari telah duduk manis di ruang tamu, tapi Ayahnya?
Meskipun Adrian setiap hari selama ini juga selalu tak ada di rumah untuk bersekolah, Adrian tahu Ayahnya pun seharusnya sudah berangkat kerja. Ini masih hari senin, tentu saja Adrian mempertanyakan keberadaan Ayahnya di rumah saat ini. Adrian menduga ada hal penting yang harus dibicarakan kedua orangtuanya saat ini.
Riffan dan Marinka melihat ke arah Adrian yang terdiam mematung sambil tetap menggenggam gagang daun pintu rumahnya. Marinka hanya tersenyum melihat Adrian sedangkan Riffan yang sedaritadi tengah membaca majalah bisnis di tangannya segera meletakkan majalahnya di atas meja, membenarkan letak gagang kacamata sebelum akhirnya menyapa dan menawarkan Adrian untuk duduk di hadapan mereka.
"Duduklah, Nak...." ucap Riffan serius.
Debaran jantung Adrian mulai tak beraturan, seperti terhipnotis Adrian pun segera duduk di sofa berhadapan dengan Ayah dan Ibunya.
"Ehm... Adrian," ucap Riffan memulai percakapan.
"Ayah tidak ingin berbasa-basi, seharusnya saat ini Ayah sudah berada di kantor namun Ayah menyisihkan waktu untuk bisa bicara seperti ini," ucapnya lagi.
"Jadi, kapan kamu akan memberitahu Irina yang sesungguhnya?"
"DEG!"
Adrian merasakan jantungnya seperti tertancap belati, matanya menatap ubin lantai dengan nanar. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata apapun.
Sebenarnya, Adrian juga tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan status dirinya yang sesungguhnya ke Irina.
Bisakah Irina menerimanya?
"Adrian, apa kau keberatan dengan komitmen ini?" tanya Marinka dengan nada khawatir.
"Pertanyaan ini lagi?!" pekik Adrian di dalam hatinya.
"Ayah, Ibu, jangan khawatir, sebelum Adrian berangkat pasti akan mengatakannya."
***
"Kak, kita mau kemana?" tanya Irina ketika menyadari jalan yang mereka lalui bukanlah arah menuju rumah.
"Ada tempat yang ingin aku datangi, kita bisa ngobrol disana," jawab Adrian dengan suara yang ditinggikan agar terdengar oleh Irina.
"Ngobrol? Aku kan baru pulang sekolah, memangnya harus sekarang?" batin Irina agak tidak senang dengan rencana sepihak Adrian.
Jalan yang mereka tempuh terasa sangat jauh hingga sepanjang perjalanan membuat Irina bertanya-tanya mau kemana sebenarnya mereka?
Mereka sudah menghabiskan waktu menempuh perjalanan hingga setengah jam lamanya. Ketika melihat sebuah tempat yang tidak asing beberapa meter di depan mereka, entah kenapa Irina langsung menyadari bahwa itulah tujuan mereka.
"Mau ke situ yaa?" batin Irina menduga tujuan perjalanan Adrian.
Benar saja, Adrian membelokkan motor memasuki area yang diduga Irina sebagai tempat pemberhentian mereka. Sebuah papan putih besar di sisi kanan area menyambut mereka dengan tulisan, "SELAMAT DATANG DI PANTAI KOTA".
Sesuai dengan namanya, pantai ini memang terletak di tengah kota. Luasnya tidak begitu besar, lebih seperti deretan beberapa kafe atau foodcourt yang memiliki pemandangan keindahan pantai dan suasana yang berangin sejuk namun jika pengunjung ingin, mereka tetap bisa menikmati tepi pantai, bermain air dan pasir, atau sekedar duduk-duduk manis.
__ADS_1
***
Irina telah turun dari motor dan hanya diam berdiri mematung sembari memerhatikan Adrian yang tengah memperbaiki posisi parkir motor miliknya. Wajah Irina sedikit tidak senang, ia merasa tidak nyaman dengan menggunakan seragam ketika bepergian agak jauh. Adrian membuka tas ransel yang dibawanya, mengeluarkan sebuah bungkusan dan menyerahkan pada Irina.
"Ini, gantilah bajumu. Aku tahu kau tidak merasa nyaman," ucap Adrian datar.
Irina menyambut pemberian Adrian dan ingin segera menuju kamar ganti yang tersedia di pantai tersebut yang biasanya digunakan pengunjung untuk membilas diri setelah bermain air di pantai. Sebelum kakinya melangkah pergi, tiba-tiba Irina menyadari sesuatu.
"Ini bajuku? Berarti kakak?" Irina mematung dan sorot matanya terlihat terkejut.
"Ibu yang memilihkan baju, aku tidak masuk kamarmu dan membuka lemarimu."
Adrian mengucapkan kata-katanya sambil membuang muka, ia ingat bagaimana tadi dirinya meminta tolong pada ibunya untuk memilihkan baju untuk Irina dan meminta izin membawa Irina untuk bicara di luar sepulang sekolah.
Adrian sempat mendengar omelan ibunya ketika melihat lemari pakaian Irina yang berantakan. Karena itulah Adrian segera menyadari reaksi Irina saat ini bisa dipastikan takut dan malu Adrian mengetahui keadaan isi lemarinya yang seperti terkena serangan gempa. Irina sendiri merasa lega mendengar kata-kata Adrian, ia melangkahkan kakinya dengan ringan menuju kamar ganti di dekat mereka memarkir motor.
***
Adrian dan Irina kini tengah duduk di salah satu kafe yang tersedia di Pantai Kota. Irina terlihat manis dengan pakaian yang telah dipilihkan oleh ibunya. Mereka berdua kini tengah asyik menikmati makan siang. Adrian sengaja memilih menu makan besar karena hari sudah siang dan Irina baru saja pulang sekolah.
Tepat ketika mereka berdua telah selesai makan, pelayan datang membawakan pizza berukuran sedang yang telah dipotong menjadi 6 bagian.
"Wah, pizza!" sorak Irina spontan begitu senang mendapati makanan kesukaannya kini tersaji di depan matanya.
"Buat cemilan, itu juga ada secangkir cokelat panas untukmu," jelas Adrian setelah pelayan pergi.
Irina hanya mengangguk dengan ceria sembari menggigit potongan pizza seakan lupa bahwa ia baru saja selesai menghabiskan makan siangnya.
"Ehm..." Adrian berdehem sejenak setelah meneguk segelas air mineral dan bermaksud memulai pembicaraan.
Irina menghentikan kegiatan makannya, matanya kini mengikuti titik fokus yang tengah dilihat oleh Adrian. Lalu Irina teringat saat usianya masih sepuluh tahun dimana ayah dan ibunya membawa mereka berdua rekreasi di pantai ini dan irina tak sadar bahwa dirinya tergulung-gulung oleh ombak. Saat itu Adrian lah yang datang menghampiri dan menariknya untuk ke tepian.
"Kau ingat, kau malah marah karena menurutmu kau sedang asyik bermain dengan ombak?" ucap Adrian lagi kini dengan sedikit terkekeh.
Wajah Adrian yang terkekeh membuat Irina merasa senang namun juga tersipu malu. Dia ingat saat itu dirinya memang bukannya berterimakasih malah sebaliknya marah-marah kepada Adrian.
"Jelas tenggelam, masih bilang sedang bermain dengan ombak. Bocah!" ledek Adrian lagi.
"Ih apaan sih, kak! Jadi kesini mau ngingatin itu?" celetuk Irina bersungut-sungut lalu mengalihkan rasa kesalnya dengan menggigit potongan pizza digenggamannya dengan kasar.
Adrian kembali terkekeh dan kali ini semakin menjadi tawa yang terbahak-bahak. Irina sedikit merasa terkejut namun juga merasa bahagia dengan suasana mereka berdua saat ini.
"Makanmu jangan begitu, celemotan," ledek Adrian.
"Kau tahu tidak? Kau sering celemotan begitu, sampai sekarang tidak memperhatikan cara makanmu dengan baik," terang Adrian masih terus cekikikan.
"Kenapa nggak pernah bilang?" celetuk Irina lalu kemudian membersihkan sisi wajahnya yang terkena saus tomat dengan tissue.
Adrian terdiam mendengar pertanyaan sepele yang dilontarkan Irina dan Irina juga menyadari bahwa dirinya tak perlu jawaban.
Sudah jelas, selama ini kakaknya selalu bersikap dingin padanya, mana mungkin mau berbasa-basi menegur cara makannya. Tapi jika itu suatu yang lucu, apa selama ini Adrian selalu menahan tawanya?
__ADS_1
Untuk apa?
"Irina..." ucap Adrian dan kali ini mimik wajahnya berubah serius.
"Apa kau ingat bagaimana pertama kali kita bertemu?" lanjutnya lagi.
Irina mengernyitkan dahinya, pertanyaan Adrian terasa aneh untuknya. Pertama kali bertemu? Maksudnya?
"DEG!"
Irina tersentak, tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu yang selama ini diabaikan olehnya. Pertama kali bertemu dengan Adrian adalah ketika ia berusia lima tahun dan Adrian datang sebagai orang asing yang dikenalkan oleh orangtuanya untuk menjadi kakaknya.
Benar, Irina tidak memikirkannya selama ini, lagipula saat itu ia masih kecil.
"Apa kau sadar aku bukan kakak kandungmu?" cercah Adrian.
Irina hanya mengangguk pelan. Pikirannya mulai mempertanyakan sikap dingin kakaknya kembali dan mulai membuat spekulasinya sendiri.
"Apa kakak bersikap dingin karena mungkin kakak kecewa bukan saudara kandungku? Kecewa dengan ayah dan ibu?" tanya Irina sembari menatap Adrian lekat-lekat.
Adrian tersenyum simpul. Senyuman yang tidak terasa dingin ataupun penuh amarah sesuai dugaan Irina melainkan sebaliknya terasa hangat dan ramah.
"Bukan begitu Irina, kau salah, apa kau mau dengar yang sesungguhnya?" tanya Adrian.
Irina hanya kembali mengangguk pelan. Tentu saja ia mau tahu apa yang membuat batinnya terasa sesak bertahun-tahun lamanya. Sikap dingin Adrian selama ini terasa menyakitkan.
Jantungnya terasa berdebar-debar, firasatnya mengatakan bahwa ia akan mendengar sesuatu yang sangat diluar dugaannya.
"Irina, aku ingin kau melihatku sebagai pria asing, bukan kakakmu," ucap Adrian tegas.
"Ha?" Irina ternganga.
"Kenapa? Karena bukan kakak kandungku?" tanya Irina dengan lugunya, begitu merasa heran dengan kemauan kakaknya.
"Karena aku adalah TUNANGANMU!"
Mata Irina terbelalak, ia mengerjapkan matanya berulang kali, kedua telapak tangannya menutup mulutnya yang tak bisa menahan diri untuk terbuka dengan perasaan tidak percaya.
Adrian mengucapkan kata-katanya tanpa basa-basi. Adrian tidak peduli dengan reaksi Irina yang terkejut, kali ini cepat atau lambat Irina memang harus tahu, sekarang ataupun nanti, sama saja.
"TUNANGAN?!"
Irina benar-benar terkejut dengan apa yang didengarnya. Dilihatnya sosok Adrian dengan perasaan yang tidak menentu. Sosok pria tampan yang selama ini dikenalnya sebagai seorang kakak meskipun sudah bertahun-tahun lamanya terasa seperti pria asing, tetap saja terasa aneh ketika meng-klaim dirinya sebagai tunangan Irina.
Seakan tidak peduli dengan reaksi Irina yang masih diam mematung karena terkejut, Adrian memilih tetap menjelaskan panjang lebar bagaimana komitmen pertunangan mereka terbentuk.
Irina berusaha mendengarkan dengan seksama sambil terus menenangkan dirinya dari debaran jantungnya sendiri yang berdentum tak karuan. Tak ada rasa kesal, namun tak juga ada rasa senang. Hanya perasaan tak menentu yang campuraduk.
Setelah Adrian selesai dan terlihat lega dengan semua penjelasannya, Irina hanya bisa berkata,
"Aku.. Aku... Aku mau pulang...."
__ADS_1
***
Bersambung~