
Irina merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, matanya menatap nanar ke langit-langit kamar. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya. Irina masih begitu terpukul mengingat semua kata-kata Adrian. Bahkan ketika tiba di rumah, Irina sengaja melewati ibunya begitu saja. Yang ia inginkan saat ini hanyalah menenangkan diri.
"Kak Adrian, TUNANGANKU?!"
Terlalu banyak penjelasan yang harus dicerna Irina dalam waktu yang singkat. Sekelibat peristiwa-peristiwa di masa lalu pun mulai bermunculan dan tanpa belas kasihan mengguncang otaknya hingga lelah. Irina tak kuat lagi, matanya mulai basah, meredup, dan ia pun tertidur.
***
Irina mengerjapkan matanya ketika tersadar oleh suara ketukan pintu. Sebuah suara yang dikenalnya memanggil namanya berkali-kali. Suara milik Adrian. Irina menghela nafas berat, mengambil posisi duduk di tepi tempat tidurnya dan menyahut panggilan Adrian dengan rasa malas.
"Waktunya makan malam," ucap Adrian lalu langkah kakinya terdengar menjauhi pintu kamar Irina.
Irina merapikan rambutnya lalu bercermin untuk memastikan bahwa wajahnya tidaklah terlihat buruk. Matanya sedikit sembab, Irina memutuskan untuk membasuh wajahnya dengan air dan beranjak turun menuju ruang makan. Ia sudah lama tertidur dan perutnya kini terasa sangat lapar.
Sesampainya di ruang makan, Irina segera duduk di bangkunya dan mulai makan tanpa banyak bicara. Kedua orang tuanya begitupun Adrian telah lebih dulu menikmati makan mereka.
Hening, seakan mereka semua sedang fokus menikmati makanan yang tersaji dihadapan mereka masing-masing. Kenyataannya, mereka semua termasuk Irina sedang menyiapkan diri untuk memulai pembicaraan yang rumit setelah selesai makan malam.
Riffan yang telah lebih dulu selesai makan segera bangkit dari tempat duduknya dan setelah keheningan yang begitu lama, ia pun mulai angkat bicara sebelum beranjak pergi menuju ruang kantor pribadinya.
"Semuanya tolong ke ruangan Ayah setelah selesai makan."
Marinka hanya tersenyum dan mengangguk halus kepada suaminya. Sedangkan Irina dan Adrian, mereka berdua diam-diam menyembunyikan debaran jantung yang berdetak tak karuan sembari mempercepat ritme makan mereka.
***
Marinka kini tengah duduk dengan tenang di sofa empuk ruangan pribadi suaminya. Riffan sendiri duduk dengan elegan di kursi kerja di balik meja terkokoh di ruangan tersebut.
Sedangkan Irina dan Adrian mau tidak mau duduk di sofa yang sama, berdua berdampingan tepat menghadap ayah mereka sesuai instruksi ibunya.
"Irina," ucap Riffan memulai pembicaraan.
"Jadi kau sudah tahu kan kalau Adrian adalah tunanganmu?" tanyanya lagi tanpa basa-basi.
Irina mengangguk pelan, tak ada hal yang harus dipertanyakannya lagi, Adrian sudah cukup banyak menyampaikan segalanya. Irina hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.
Namun saat ini, ego mulai merasukinya. Rasa tidak terima atas ketidaktahuan yang sengaja diciptakan untuknya membuatnya terdorong memberontak tanpa alasan.
"Sejak kapan Irina setuju? Irina bahkan tidak tahu adanya komitmen ini!" ucap Irina tegas sembari menatap lurus ke arah ayahnya yang terlihat terkejut atas reaksi Irina.
Adrian yang duduk dengan wajah tertunduk di samping Irina diam-diam menyembunyikan mimik wajah yang seketika tercengang dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan Irina. Perasaan Adrian goyah, merasa rendah dan seakan mengalami penolakan yang nyata.
Mata Irina menatap sepasang mata milik ayahnya dengan tatapan tajam dan berkaca-kaca. Kekecewaan dan perlawanan jelas sekali terpancar di wajahnya. Meskipun begitu, di dalam hati Irina sendiri tak mengerti apa sebenarnya yang sedang dia lakukan.
"Irina!" bentak Riffan akibat tak menyangka akan sikap anak gadisnya yang tak seperti biasanya.
Marinka segera bangkit dari tempat duduknya dengan sikap yang tenang, menghampiri suaminya, menyentuh kedua pundak suaminya dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah, biar aku saja yang bicara dengan Irina. Percayalah, ini bukan suatu yang perlu dipermasalahkan," ucap Marinka dengan lemah lembut.
Mengingat istrinya adalah seorang master psikologi yang tentunya memahami reaksi kejiwaan setiap pribadi manusia, ditambah lagi yang akan ditanganinya adalah darah dagingnya sendiri, Riffan tak keberatan membiarkan Marinka mengambil alih keadaan.
Riffan sendiri saat ini merasa tak sanggup untuk menengahi keadaan. Kekecewaan Irina tak sepenuhnya karena dirinya, melainkan adalah komitmen Adrian yang terpaksa disetujuinya selama ini. Riffan juga pernah berpikir memberitahu Irina sedini mungkin tapi ia juga tidak yakin mana tindakan yang lebih tepat sehingga ia serahkan pilihan kepada Adrian beserta resikonya.
Tak ingin lagi mengikuti drama keluarga yang menyesakkan batinnya, Irina melengos pergi dari ruangan dan memilih menyendiri di kamarnya.
***
"Adrian, apa kau baik-baik saja?" tanya Marinka dengan lemah lembut ketika mereka kini tengah duduk berdua di ruangan kerja Riffan.
Riffan memilih untuk pergi beristirahat di kamarnya setelah ditenangkan oleh sang isteri. Dan saat ini tinggallah Adrian yang duduk mematung sendirian dan Marinka menemaninya sembari terus menganalisa perasaan Adrian dari gelagatnya.
Marinka tahu bahwa saat ini Adrian sedang terpukul dan mempertanyakan perasaannya bukanlah cara yang tepat. Saat ini bisa dipastikan anak istimewanya itu sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri yang kacau oleh perasaan yang menghancurkan logikanya.
"Adrian, ibu yakin Irina tidak bermaksud begitu," ucap Marinka lemah lembut berharap mampu menyejukkan perasaan Adrian walau sedikit saja.
Adrian mengangkat wajahnya, menoleh ke arah ibunya dan mendapati goresan senyum manis ibunya yang terasa hangat. Adrian memang merasa sedikit lega. Bagaimanapun juga ibunya lebih tahu Irina. Mempercayai kata-kata ibunya adalah yang terbaik saat ini.
"Saat ini, Irina sedang terpukul. Sama denganmu, dia sedang kacau. Pikirannya sedang tidak jernih sehingga dia bersikap impulsif. Ibu akan bicara dengannya dan kau sebaiknya tidak berpikir yang tidak-tidak," pinta Marinka kepada Adrian sambil menepuk pundak Adrian dengan lembut.
Adrian hanya mengangguk pelan.
"Apa kau sungguh-sungguh setuju untuk bertunangan dengan Irina?" tanya Marinka tiba-tiba.
***
Di kamar Irina,
Marinka kini tengah duduk ditepi ranjang Irina dan mendapati gadis kesayangannya itu sedang berbaring memunggunginya, meringkuk lemah sambil menangis tersedu-sedu.
"Irina...." ucap Marinka lirih dan telapak tangan kanannya digunakan untuk mengusap kepala Irina dengan lembut.
Irina yang menyadari kehadiran ibunya segera memelankan suara tangisnya. Irina menoleh ke arah ibunya dan menatap sepasang mata penuh kehangatan milik ibunya lekat-lekat.
"Kemarilah," ucap ibunya sembari merentangkan tangan agar Irina bangkit dari tidurnya dan memeluknya.
Marinka membiarkan Irina untuk beberapa saat kembali menangis tersedu-sedu dipelukannya. Ia tahu saat ini cara menghibur Irina yang paling tepat adalah membiarkan Irina meluapkan seluruh perasaan negatifnya dengan menangis sepuasnya.
Setelah Irina merasa puas menangis dipelukan ibunya, Irina mulai melepaskan pelukannya dan duduk bersisian di tepi tempat tidur bersama ibunya.
"Irina, ibu tahu kau sangat kecewa. Tapi apa kau tahu, kecewamu saat ini tak ada apa-apanya dibandingkan beban yang ditanggung Adrian selama ini,"
Irina diam mematung dan mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan ibunya. Baginya, setiap kata-kata ibunya akan selalu berhasil menenangkan jiwanya yang kalut.
"Irina, maafkan ayah dan ibu yang membuat keadaan kalian menjadi rumit seperti ini. Kamilah yang meminta Adrian untuk menjadi tunanganmu," ucap Marinka lirih.
__ADS_1
"Lalu kenapa Kak Adrian menyanggupinya?"
"Ibu rasa, Adrian memang ingin. Seringkali ayah dan ibu mempertanyakan komitmen yang dipegangnya ini, adakah Adrian merasa keberatan atau tidak? Namun, Adrian selalu berkata bahwa ia sanggup. Sekarang keputusan ada di kamu Irina, tidak ada paksaan dalam rencana pertunangan ini, Adrian juga tidak keberatan jika Irina tidak setuju," ucap Marinka dengan lemah lembut.
"Tapi bagaimana dengan Rian?" celetuk Irina tiba-tiba teringat dengan Rian, kekasihnya.
Marinka tertawa kecil mendengar pernyataan kekhawatiran yang dilontarkan Irina.
"Irina, apa kau yakin sangat menganggap Rian sepenting itu?" tanya Marinka dengan wajah jenaka.
"Maksud ibu?" Irina balik bertanya tak paham maksud ibunya.
"Karena menurut penilaian ibu, kau hanya mengisi kekosongan dan perasaan hampa atas sikap dingin Adrian dengan kehadiran Rian, bukan sesuatu yang lebih dalam dari sekedar pengganti," terang ibunya masih dengan ciri khasnya yang lemah lembut.
"Apa mungkin?" batin Irina.
"Apa kau pernah atau mungkin sering membandingkan kenyamanan saat bersama Rian dengan Adrian?" tanya ibunya lagi.
Irina tersadar bahwa ibunya benar, Irina seringkali membandingkan mereka berdua.
Irina mengangguk pelan.
"Begini saja, semua ini memang terlalu cepat buatmu. Bagaimana kalau kau mengambil waktu sesuai kesiapanmu untuk mulai menilai dengan sudut pandang yang berbeda. Mulai melihat Adrian sebagai seorang tunangan atau setidaknya calon tunangan. Juga bisa kau gunakan untuk menilai sejauh mana Rian mengambil hatimu. Manfaatkan saja waktu yang ada, anggap saja sebuah evaluasi," terang Marinka dengan bersemangat.
Irina hanya tetap diam sambil menimbang-nimbang saran dari ibunya.
"Ibu percaya, anak gadis ibu bukan anak kecil lagi. Pasti bisa melakukan pilihan yang terbaik untuk diri sendiri. Ingat, tidak ada paksaan disini, semua keputusan ada di tanganmu. Buatlah pilihan sebelum Adrian berangkat ke Inggris."
Irina tersentak, ia hampir lupa bahwa Adrian akan segera berangkat ke Inggris setelah urusan di sekolah telah selesai. Karena itulah mereka berdua berkomitmen untuk memulai dari awal, mengakrabkan diri kembali.
Tapi, setelah mengetahui kenyataan bahwa Adrian adalah tunangannya, ini merupakan sesuatu yang membuat batinnya sangat terguncang. Irina bingung harus bagaimana?
"Bagaimana Irina, apa kau mau mengambil waktu untuk berpikir sebelum memutuskan akhirnya?" tanya Marinka lagi menyadarkan Irina dari lamunannya.
Irina kemudian mengangguk setuju.
Marinka mencolek ujung hidung anak gadisnya sambil tersenyum jenaka sebagai bentuk memberi semangat kepada Irina. Irina membalas perlakuan ibunya dengan satu senyuman yang manis. Marinka tahu itu adalah senyum lega dan puas dari Irina dari tekanan yang baru saja berhasil dilepasnya.
Marinka kemudian beranjak dari duduknya, berpamitan kepada Irina untuk pergi menemui Adrian dan Ayahnya dan menjelaskan hasik dari pembicaraan mereka berdua.
Ketika telah berada di luar kamar Irina dan menutup pintunya, Marinka berdoa dalam hatinya sambil meletakkan kedua telapak tangan di dadanya.
"Semoga kau akhirnya bisa menerima Adrian, Nak...."
***
Bersambung~
__ADS_1