SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 14. Mencari Perhatian


__ADS_3

Hari ini Senna merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. Meskipun kebersamaannya dengan Adrian saat ini hanyalah kencan dadakan yang bersifat pura-pura, Senna tidak peduli. Senna sudah cukup senang bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi lebih dekat dengan Adrian, tak peduli Adrian merasa nyaman atau tidak. Senna hanya tahu satu hal, hari ini dia sedang beruntung. Itu saja, cukup.


Senna bergelayut manja di lengan Adrian. Mereka semakin mendekati titik lokasi dimana Irina dan Rian sedang duduk bersama dan masih menikmati es krim mereka masing-masing. Semakim mendekati keberadaan Irina dan Rian, Adrian merasa semakin geram walau Dia terus berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya. Senna sendiri yang sedari tadi tenggelam dalam kebahagiaannya benar-benar tak menyadari gelagat Adrian yang sebenarnya sedang dibakar rasa cemburu.


Senna hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri bahwa saat ini Adrian sedang menjadi seorang Kakak yang protektif dan posesif mengawasi Adik kesayangannya. Andai Senna tahu yang sesungguhnya, mungkin hanya ada rasa malu yang menyelimutinya bahwa Ia sedang membantu seorang Adrian mengawasi tunangannya sendiri, Irina.


Irina dan Rian masih sibuk menikmati es krim sambil saling mencuri pandang satu sama lain. Pandangan mereka saling memancarkan rasa kagum dan sedikit jenaka yang disebabkan oleh tingkah laku mereka dalam menikmati es krim masing-masing.


"Celemotan!" celetuk Rian.


"Sama, kamu juga." timpal Irina sambil menunjuk wajah Rian yang memang sedikit belepotan es krim di tepi bibirnya.


Irina dan Rian menghentikan kegiatan makan es krim mereka sejenak untuk saling sibuk menertertawakan satu sama lain. Perasaan menggelitik yang riang dan menyenangkan membuat mereka bahagia. Sore itu di keramaian suasana taman yang mereka datangi, Irina dan Rian merasa tak ada yang mengusik kebersamaan mereka seolah taman itu hanya milik mereka berdua. Bukan hal baru ketika para pasangan menghabiskan waktu berdua meskipun di keramaian mereka tetap bisa merasa nyaman. Begitu pulalah yang dirasakan Irina dan Rian.


Ketika Irina dan Rian masih asyik menertawakan kekonyolan satu sama lain, tiba-tiba sosok Senna dan Adrian sudah berada di depan mereka.


Dalam sekejap, Irina terdiam mematung dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kakaknya sedang berada di depan matanya dan menyaksikan Dirinya sedang duduk berdua dengan seorang pria.


Irina benar-benar tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun sedangkan Rian hanya memperlihatkan reaksi heran dengan sikap Irina yang tiba-tiba diam.


Rian seorang pria dengan tipikal cuek, lagipula tak ada hal yang harus ditakuti, tak perlu merasa bersalah atas apapun. Setidaknya, begitulah yang ada dipikiran Rian.


Untung ada Senna, keadaan yang baru saja menciptakan suasana canggung bisa mencair seketika setelah Senna yang tak peka dengan keadaan segera memperlihatkan gaya manjanya.


Senna masih bergelayut manja di lengan Adrian, hal ini sebenarnya juga masuk dalam pandangan Irina. Sempat terbersit di benak Irina rasa heran melihat Adrian sedang bersama dengan Senna.


"Hai Irina... " sapa Senna dengan manja.


"Wah, kalian lagi pacaran yaa? Aku dan Adrian juga. Kebetulan yaa kita bertemu disini, kita barengan aja." lanjut Senna lagi tanpa basa-basi.


Irina hanya menelan ludah dan tak tahu harus memberikan jawaban apa terhadap pertanyaan Senna. Sekilas Irina mencuri pandang ke arah Adrian yang hanya berdiri dengan mimik wajah datar dan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Emm... Bagaimana jika kita keliling taman bersama? Pasti menyenangkan." celetuk Senna manja sambil melihat wajah Adrian yang masih kaku.


"Adrian..." Senna mencoba menyadarkan Adrian dari sikap kakunya.


"Apa?" Adrian membuang pandangannya ke arah Senna yang masih saja tak bosan bergelayut manja padanya.


Sebenarnya ini juga pertama kalinya bagi Adrian ada seorang perempuan yang melakukan hal semacam ini kepadanya kecuali Irina sewaktu mereka masih kecil.


"Ayo, sekalian kita makan di dekat gerbang taman, aku lapar." celetuk Rian yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Irina untuk berjalan di sampingnya.


"Kak Adrian, aku pinjam Adiknya yaa... Jangan khawatir, kuperlakukan dengan baik. Kalau Kak Senna dan Kak Adrian mau barengan, silahkan saja." ujar Rian dengan lugas. Itulah Rian, tidak suka basa-basi dan sekali lagi bersikap cuek.


Irina sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Rian. Dalam hatinya Irina sedikit merutuk sikap cuek Rian yang tak tahu situasi bahwa saat ini Irina sedang ketakutan dengan sikap Adrian yang dingin.

__ADS_1


Irina tidak pernah bisa membaca sikap Adrian yang misterius, apakah diamnya akan berarti sesuatu yang baik atau buruk, semua itu hanya Adrian yang bisa tentukan.


*Bagaimana nasibnya sepulang dari taman?


Akankah Irina menerima kata-kata sinis dari Adrian untuk kesekian kalinya?


Tapi bagaimana dengan Adrian*?


Bukankah Adrian lebih parah, seorang Senna sedang bergelayut manja di sampingnya?


Irina dan Rian sedang berjalan berdampingan menelusuri jalan setapak yang terbentang mengelilingi taman. Mereka bermaksud berhenti di ujung jalan tepat di area gerbang masuk taman yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Rasa lapar yang mendera Rian membuatnya memiliki ide melakukan wisata kuliner bersama Irina untuk masih lanjut menikmati kebersamaan mereka sekaligus membunuh waktu hingga mencapai senja sebagai tanda mereka harus mengakhiri kencan mereka dan kembali pulang.


Adrian dan Senna pun akhirnya mengikuti Irina dan Rian dari belakang. Irina masih merasa canggung mengetahui Adrian dan Senna sedang mengikuti mereka sedangkan Rian sungguh tak peduli.


Sesekali Irina menoleh ke belakang memperhatikan kelakuan Senna yang begitu ceria dan manja kepada Kakaknya. Irina merasa tidak senang, keceriaan Senna terasa memuakkan di dalam pandangan mata Irina. Mungkin Irina hanya iri, sudah lama Irina tidak memiliki kebersamaan yang hangat dan ceria bersama Adrian.


Di sisi Adrian yang sedari tadi begitu merasa risih dengan kelakuan Senna, sebenarnya sedang berjuang keras menahan emosi yang sudah mencapai puncak ubun-ubunnya.


Melihat Rian yang begitu ceria menikmati kebersamaanya bersama Irina di depan matanya juga semakin memicu emosi Adrian. Adrian benar-benar benci terjebak dalam situasi ini. Saat ini tidak ada hal yang paling diinginkan Adrian kecuali segera pulang ke rumah dan berbaring di tempat tidurnya yang empuk untuk menenangkan diri sambil memikirkan strategi-strategi baru untuk menyikapi situasi yang sudah semakin di luar kendali dan prediksi Adrian.


Irina dan Rian kini sudah mencapai area wisata kuliner di taman. Rian menawarkan diri untuk mentraktir Senna dan Adrian untuk ikut makan bersama mereka. Senna tentu saja sudah sangat kegirangan, namun sebelum Senna mulai menjawab untuk bersedia menerima tawaran Rian, Adrian segera memberikan jawaban menolak dengan tegas.


"Kalian makanlah berdua, Kami akan segera pulang." celetuk Adrian dengan lugas.


"Sebaiknya Kalian segera pulang setelah selesai makan." ucap Adrian yang kata-katanya ditujukan kepada Rian sebagai sebuah amanat untuk segera membawa Irina pulang.


Rian cengar-cengir menatap Irina yang masih terdiam melihat sosok Adrian yang semakin jauh dari pandangannya. Setelah sosok Adrian dan Senna tak nampak lagi, Irina baru memyadari Rian sedang memperhatikan dirinya dengan ekspresi wajah yang kocak.


"Apaan?" celetuk Irina malu-malu menatap Rian.


"Lapar nih, mereka sudah nggak ada. Ayo, kita makan." bujuk Rian.


"Ayo kita lanjutkan kencan kita...."


Mendengar kata-kata Rian yang diucapkannya tanpa basa-basi membuat wajah Irina merona. Rian tertawa kecil melihat sikap Irina yang cenderung canggung, terutama saat Ia menyadari bahwa wajah Irina langsung merona hanya karena kata-kata sederhana yang dilontarkannya. Rian sangat menyukai Irina.


***


"Adrian!" Senna menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi mencoba mensejajarkan langkah Adrian yang sangat cepat.


"Adrian!" ulangnya lagi.


Adrian yang sudah berada agak jauh di depan Senna akhirnya menghentikan langkah kakinya dan menghela nafas berat. Adrian muak bila harus meladeni Senna.


"Apa?" celetuk Adrian datar tanpa kembali menghampiri Senna melainkan hanya bertahan di posisinya berhenti dengan menolehkan wajahnya ke belakang untuk melihat Senna.

__ADS_1


Senna segera berlari kecil untuk menghampiri Adrian. Senna tidak peduli apakah Adrian suka atau tidak bersamanya. Senna hanya ingin memanfaatkan kesempatan yang ada di depan matanya sebaik mungkin.


"Hosh.. Hosh.. Kok udahan sih? Bukannya mau mengawasi Irina?" celetuk Senna manja.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Aku capek dan mau pulang." jawab Adrian datar dan kembali ingin melanjutkan langkahnya.


"Adrian, tunggu!" Senna segera menarik lengan Adrian untuk menahannya pergi meninggalkannya sendiri.


"Ada apa lagi?" ucap Adrian datar sambil menghela nafas berat.


"Adrian mau tinggalkan Senna sendirian?" Senna memasang wajah memohon dengan imut untuk Adrian.


"Senna, dengarkan Aku. Aku sangat berterimakasih dengan bantuanmu tapi saat ini Aku benar-benar sangat lelah dan Aku harap Kau mau mengerti." ucap Adrian dengan lebih melembutkan suaranya sebagai penghargaan atas bantuan yang diberikan Senna kepadanya. Meskipun Adrian begitu kesal dengan sikap Senna, bukan berarti Adrian tidak tahu untuk bersikap santun dan tak mengecewakan hati perempuan di depan matanya.


Untungnya Senna akhirnya bisa mengerti meskipun menyimpan kecewa terhadap Adrian. Adrian akhirnya berpamitan dengan Senna untuk kembali pulang ke rumah.


"Adrian, Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu." celetuk Senna di dalam hatinya sambil tetap melihat Adrian yang semakin menjauh dari pandangannya.


***


Irina dan Rian sedang duduk manis di salah satu area wisata kuliner taman. Mereka berdua sedang asyik makan beberapa menu ringan untuk menemani mereka mengobrol santai. Dihadapan mereka tersaji sepiring kentang goreng ala french fries dan dua tangkup beef burger. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah lesehan di bawah pohon, beralaskan tikar dan sebuah meja berbentuk persegi berukuran kecil yang pas untuk digunakan oleh dua orang.


Irina dan Rian duduk berhadapan dan mulai menikmati makanan mereka. Rian begitu terlihat bersemangat memakan burger di hadapannya. Bisa dirasakan Irina bahwa Rian memang sangat kelaparan dari cara makannya. Kelakuan Rian menjadi pemandangan yang lucu di mata Irina hingga tanpa sadar Irina kembali tertawa kecil tanpa alasan.


"Kenapa?" tanya Rian heran dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Kunyah dulu, telan dulu burgernya sebelum bicara." ledek Irina.


Rian hanya memperlihatkan mimik wajah jenaka sambil terus makan dengan lahap burger ditangannya.


Tingkah laku yang ditampilkan Rian ini malah semakin membuat Irina senang dan menyukai Rian.


Irina lagi-lagi tersadar bahwa pria di depannya ini adalah pacarnya dan saat ini mereka sedang kencan.


Irina sedang mencoba menanamkan dalam memorinya tentang momen hari ini serta mencoba semakin membiasakan diri atas hubungan yang terjalin antara Dia dan Rian.


Menyenangkan, itulah hal yang dirasakan Irina setiap bersama Rian.


.


.


.


BERSAMBUNG...!

__ADS_1



__ADS_2