
Tak terasa sudah lebih dari seminggu berlalu sejak momen kerja kelompok yang canggung antara Irina dan Rian.
Mereka menjadi lebih akrab dari sebelumnya meskipun hanya sebatas teman sebangku, teman sekelas, dan teman satu sekolah tentunya. Iya, hanya sebatas teman. Tidak ada hal lebih diantara mereka.
Irina tak menyangka, hari dimana saat mereka duduk berdua di taman telah merubah beberapa hal terutama dari sisi rutinitas Rian.
Satu hari setelah itu, Irina dikejutkan oleh kedatangan Rian yang tak lagi sengaja terlambat masuk kelas. Rian benar-benar datang tepat waktu sesuai nasehat Irina sebelumnya.
Hal itu agak aneh, mengingat sikap Rian yang seolah tak peduli dengan nasehat Irina saat itu.
Irina mengingat kembali kata-katanya di taman saat mereka duduk berdua.
"Tapi Rian, kalau menurutku jadi dirimu sendiri saja, kalau kamu memang orang yang disiplin kenapa harus berubah karena orang lain? Kalau kamu memang cerdas kenapa harus berubah karena orang lain? Jadi dirimu sendiri saja, dengan begitu kamu tidak akan lelah berpura-pura. Menurutku siih begitu." Irina tersenyum manis.
Sama seperti saat Irina melontarkan kata-kata itu dengan tersenyum manis, kali inipun ketika Irina melihat Rian datang tepat waktu di hari berikutnya, senyuman manislah yang menjadi reaksi pertama Irina untuk perubahan Rian.
Rian duduk dengan tenang di bangkunya, melirik Irina yang masih memandanginya dengan mimik wajah yang sengaja menatap dengan menyelidik dan menggoda namun tetap memperlihatkan senyuman manis untuk Rian sebagai rasa bangga dan salut terhadap kedatangan Rian yang lebih awal alias tidak terlambat.
"Ehm.. Ehm... Tumben?" ledek Irina.
"Ehm... Ehm... Kemarin ada Ibu-Ibu cerewet yang menasehatiku." Rian meniru cara meledek yang dilakukan Irina.
"Apa?!" Irina mulai manyun.
Rian tertawa terkikik melihat reaksi Irina yang berubah cemberut setelah Rian membalas ledekkan Irina.
Irina menopang dagunya dan membuang muka dari Rian, masih memasang wajah merengut yang sebenarnya masih dapat dilihat oleh Rian.
Rian merasa lucu namun memilih mengabaikan Irina yang masih merengut dan tetap membuang muka. Rian mulai menyiapkan buku pelajarannya sambil berkata-kata tanpa melihat Irina, sedikit banyak terlihat seperti orang yang sedang bicara sendiri di sela kesibukannya mencari buku dalam tas.
"Aku hanya ingin menjadi diri sendiri. Lagipula, bukankah berpura-pura itu melelahkan?"
Setelah Rian selesai dengan kata-katanya, bel tanda mulai pelajaranpun berbunyi. Guru terlihat mulai memasuki kelas dan Irina yang sedari tadi merengut dan membuang muka sentak menoleh untuk sepersekian detik ke arah Rian setelah mendengar kata-kata yang dilontarkan Rian.
"Waktunya belajar, berhentilah memasang wajah aneh." Ucap Rian datar sambil tetap memperhatikan langkah guru yang baru saja masuk.
"Apaan sih?!" celetuk Irina dalam hati sambil mulai ikut mempersiapkan buku pelajaran dan mulai fokus dengam rutinitas harian di sekolah, be-la-jar.
Sejak hari itulah banyak perubahan yang dilakukan Rian seperti tidak datang terlambat, tidak berpura-pura tak memahami pelajaran, mulai antusias belajar di kelas, dan mulai berteman.
Ya! Rian tak lagi sengaja duduk menyendiri di sudut kantin atau berjalan sendirian di jam istirahat. Dia mulai berteman dengan semua orang.
Perubahan itu juga yang membuat Irina semakin akrab dengan Rian. Terlebih lagi, sebagai teman sebangku Irina dan Rian banyak dihadapkan pada posisi sebagai teman satu tim dalam kegiatan kerja kelompok.
Seperti hari ini, lagi-lagi mereka mendapatkan tugas kerja kelompok yang harus diselesaikan.
"Irina, sore ini apa sebaiknya aku ke rumahmu?"
"Hmm... Aku rasa kita memang harus selesaikan hari ini juga, besok harus dikumpulkan."
"Jadi, aku ke rumah saja yaa..."
"Iya, sepertinya begitu. Nanti aku tuliskan alamat rumahku."
"Oke."
Rian berlalu dari hadapan Irina. Saat itu sedang berlangsung jam isitirahat. Irina masih duduk di bangkunya, sedang menulis alamat rumahnya untuk Rian.
__ADS_1
Ya! Hari ini untuk pertama kalinya Rian akan datang ke rumahnya untuk kerja kelompok. Entah kenapa Irina merasa senang, mungkin karena Ia menyadari hari ini Ia akan punya waktu lebih di luar jam sekolah bersama Rian meskipun karena keperluan menyelesaikan tugas kelompok.
Sore harinya di rumah Irina.
.
.
.
"Ting Tung! Ting Tung!"
Bel rumah berbunyi, Irina bergegas turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Irina sangat tahu pasti bahwa Rian yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya dan membunyikan bel.
Irina begitu ceria menghampiri pintu utama rumahnya hingga tak menyadari bahwa Adrian yang sedari tadi duduk malas di ruang keluarga sambil menonton TV melihat tingkah laku Irina dengan keheranan.
"Kenapa semangat sekali sih?" Batin Adrian.
Adrian melihat ke arah ruang tamu, dia menemukan sosok Rian yang berdiri di depan pintu yang telah di buka oleh Irina. Adrian merasa kesal melihat kedatangan Rian dan semakin bertambah kesal melihat sikap Irina yang terlihat begitu riang namun juga malu-malu menerima kedatangan Rian.
Irina dan Rian duduk di ruang tamu. Mereka berdua terlihat sibuk mempersiapkan tugas kelompok mereka sedangkan Adrian di sela-sela kesibukannya menonton TV dengan malas, dirinya terus memperhatikan gerak-gerik Irina dan Rian di ruang tamu.
Sebenarnya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, hanya saja Adrian kesal melihat sikap Irina yang ramah dan riang bersama Rian.
Yaa, Irina sudah lama tak bersikap seperti itu kepada Adrian. Lagi-lagi Adrian harus menerima kenyataan bahwa dialah yang ingin menjaga jarak dengan Irina, maka tak pantas untuknya merasa iri dengan keramahan Irina untuk orang lain.
Sebenarnya Adrian tidak pernah merasa iri sebelumnya. Adrian sudah melihat bagaimana Irina bersikap riang dengan Veronica bahkan dengan Revano yang juga seorang laki-laki. Tapi, entah kenapa kali ini berbeda. Adrian merasa begitu kesal melihat kebersamaan Irina dengan Rian. Saat inipun Adrian merasa bosan menghitung waktu selesainya mereka berdua mengerjakan kerja kelompok mereka di ruang tamu.
"Huffh~" Adrian menghembuskan nafas berat di posisi duduknya yang malas.
"Ibu?"
Marinka mengambil posisi duduk di samping Adrian. Memperhatikan Adrian dengan seksama yang masih memasang wajah datar sambil menonton TV.
"Ada apa?" Marinka mengulang pertanyaannya.
"Tidak ada apa-apa, Bu..."
"Baiklah, kalau tidak mau cerita. Hmm, Irina mana?"
"Lagi di ruang tamu, ada tugas kelompok dengan temannya."
"Lho, ada tamu? Siapa?"
"Rian!"
Adrian menjawab dengan agak ketus dan mengakhiri kata-katanya dengan mematikan TV dan pergi menuju kamarnya di lantai atas. Marinka menggelengkan kepalanya dan tertawa lucu melihat sikap Adrian. Baru kali ini Marinka melihat Adrian terlihat tidak fokus menjaga sikapnya yang terbiasa santun.
Marinka memilih beranjak pergi ke ruang tamu untuk melihat keadaan Irina dan Rian. Marinka tak lupa meminta Bi Anah untuk membawakan cemilan dan minuman untuk mereka berdua.
Tak terasa waktu telah begitu banyak berlalu, hari sudah menjelang senja. Rian dan Irina begitu lega karena mereka telah menyelesaikan tugas kelompok mereka tepat pada waktunya.
Rian pun berpamitan untuk pulang. Irina mengantar kepergian Rian hingga depan rumahnya, menunggu Rian yang sedang memperbaiki posisi duduk di motor besarnya dan sedang sibuk menggunakan helm.
"Baiklah, aku pulang dulu."
"Iya, hati-hati di jalan yaa... Nggak disangka kita bisa selesaikan tugas dengan baik."
__ADS_1
"Itu karena Irina dan Rian cocok bersama, kan?" canda Rian sembari terkekeh.
DEG!!!
Irina merasa canggung, begitupun Rian.
"Eh! Maksudku kita cocok sebagai tim!" Rian menjelaskan maksud kalimat sebelumnya yang terkesan ambigu.
Rian menyembunyikan semburat merah di wajahnya di balik helm dan buru-buru menutup kaca helmnya. Sedangkan Irina memilih sedikit menundukkan wajahnya dan terdiam sejenak.
Rian buru-buru berpamitan dan meninggalkan rumah Irina. Sedangkan Irina sendiri akhirnya masuk rumah dengan sedikit linglung. Irina beranjak menaiki tangga dan menuju kamarnya dengan tersenyum tanpa alasan.
"Kamu terserang penyakit gila?!"
"Eh?" Irina terkejut.
Adrian telah berdiri di depan pintu kamar Irina, menatap ke arah Irina dengan wajah datar dan dingin. Irina yang sedari tadi merasa riang gembira seketika menjadi merasakan aura kesuraman, membuatnya takut.
Irina bertanya-tanya dalam hatinya, "Aku salah apalagi?"
Adrian mendekati Irina.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Adrian dingin.
"Jangan berpikir untuk naksir dengan lelaki manapun. Jangan berpikir untuk berpacaran dengan lelaki manapun!" lanjut Adrian lagi masih dengan sikap dingin.
"Hah?!" Irina merasa kaget dan ingin marah.
"Masih kurang jelas?!" celetuk Adrian.
Irina begitu kesal dengan sikap dingin dan menyebalkan milik Adrian. Irina sudah cukup kecewa dengan sikap acuh Adrian selama ini dan kini apa harus ditambah dengan sikap yang menyebalkan semacam ini? Sikap yang terkesan diktator, mengatur dan melarang tanpa alasan yang tidak jelas.
Irina merasa sikap Adrian sudah tidak masuk akal. Irina melewati Adrian dan berhenti sejenak sebelum membuka pintu kamarnya.
"Memang kenapa? Cemburu?!" Irina segera masuk ke kamarnya.
"Astaga?! Aku ngomong apa barusan?!" Irina memekik dalam hati dari dalam kamar.
Adrian yang kini sendirian, terdiam mematung. Entah kenapa kata-kata Irina terasa menusuk tepat di jantung Adrian.
Kata-kata Irina untuk beberapa saat terasa berputar berulang kali di dalam otak Adrian.
Adrian segera menuju kamarnya sendiri dan merebahkan dirinya di tempat tidur.
Pikirannya mulai mempertanyakan perasaannya sendiri, mempertanyakan sikap anehnya sendiri.
"Aku, cemburu???" Adrian menghela nafas berat sejenak.
.
.
.
BERSAMBUNG...!
__ADS_1