
"Kau harus berhenti bersikap kaku dan dingin. Mulailah menjadi pribadi yang lebih hangat, menjadi seseorang yang dulu Irina kenal. Kembalikan rasa akrab dulu lagi, lalu kemudian pelan-pelan bersikap sebagai seorang pria yang pantas dicintai."
Kata-kata Revano masih menggema dengan gaung yang tak putus-putusnya di ruang pikiran Adrian. Setiap kata yang diucapkan Revano begitu membebani Adrian yang kini tengah berbaring malas di kasur empuknya.
Malam semakin larut, namun Adrian seperti masih terjebak di suasana pagi ketika Ia akhirnya kalah mempertahankan kemandiriannya menyimpan rasa yang begitu menguasai hatinya, bahkan hampir mengusik logika yang selalu memimpinnya dalam bertindak.
Rahasia hati yang terlalu lama disembunyikannya dalam relung hati paling dalam kini terkuak di depan sahabatnya, Revano.
Dan sekarang, Adrian ingin mencoba melakukan apa yang dikatakan oleh sahabat baiknya itu, mulai bersikap lebih hangat pada Irina.
Adrian menghela nafas panjang, menutup rapat-rapat kedua kelopak matanya kemudian mengutuk dirinya sendiri untuk segera tidur. Adrian menyadari, membiarkan dirinya terjaga semalam suntuk takkan membuat keadaan membaik dan menyelesaikan masalah. Cukup sekian kebimbangan hari ini, besok ketika matahari bersinar hangat di pagi yang cerah, maka Ia memutuskan akan menjadi sehangat matahari.
***
"Tok... Tok...."
Suara ketukan pintu menyadarkan Adrian dari tidurnya. Rasanya belum lama Adrian terlelap dan memeluk mimpi, Adrian masih ingin lebih lama lagi memanjakan jiwa dan raganya dalam tidur panjang yang membuatnya lari sejenak dari beban pikiran yang tak tahu diri terus menerus mengganggunya.
"Kakak...."
Suara Irina yang lemah lembut terdengar memanggilnya dari balik pintu kamar. Adrian terkesiap, melihat ke arah jam kecil yang berada di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat, sudah pagi.
Adrian bangkit dari tempat tidurnya, duduk sejenak di tepi tempat tidur guna mengumpulkan kesadarannya. Teringat akan Irina yang pastinya masih berdiri di balik pintu kamarnya, Adrian segera bersuara.
"Iya, ada apa?" tanyanya datar yang kemudian diikuti rasa kegagalan untuk mulai bersikap hangat.
Adrian terlalu terbiasa menjadi sosok yang dingin dan kaku bila berurusan dengan Irina. Bodoh!
"Kakak baik-baik saja? Ibu memanggil untuk sarapan," tanya Irina dengan nada bicara yang bisa dirasakan Adrian penuh rasa takut dan keragu-raguan untuknya.
Adrian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kali ini Ia berpikir keras untuk menciptakan sikap yang lebih baik dari sebelumnya.
Adrian bangkit dari posisi duduknya, menghampiri pintu dan membukanya perlahan. Irina masih berdiri di depan pintu, menatap ke arahnya dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
Adrian tahu raut wajah itu sedang mempertanyakan keadaannya pagi ini mengingat dirinya selalu biasa bangun di awal pagi, salah satu makhluk yang masuk kategori sang penyambut matahari terbit.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja dan akan segera turun," sahut Adrian kemudian tetap kembali menggunakan nada yang datar seolah sikap dinginnya telah diatur untuk muncul secara otomatis ketika berhadapan dengan Irina. Sial!
"Emm, kalau begitu aku akan sampaikan pada Ibu." sahut Irina yang kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan Adrian.
Masih ada rasa kesal yang meliputi Irina bila mengingat kelakuan Adrian yang merusak kencannya dengan Rian sebelumnya.
Adrian kembali menutup pintu kamarnya, Ia merasa harus mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Barangkali Ia juga kemudian beruntung bisa menyegarkan pikiran kusutnya setelah selesai mandi nantinya.
***
Di ruang makan,
Adrian melihat tak ada satupun penghuni rumah yang tengah duduk manis menikmati sarapan pagi namun Marinka segera beranjak dari ruang keluarga untuk mendatangi Adrian di ruang makan ketika menyadari Adrian telah turun dari lantai atas dan kini tengah duduk sendiri untuk mulai menikmati sarapan yang terlambat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Marinka sembari mengatur seluruh hidangan menu sarapan pagi untuk disajikan pada Adrian.
"Ibu, Adrian baik-baik saja," sahut Adrian sembari mulai makan.
Marinka memilih duduk di depan Adrian, memandangi Adrian yang tengah sibuk makan sambil meraba pikiran Adrian yang nyatanya bisa dibaca Marinka dari setiap raut wajahnya.
Kenyataannya Marinka tahu ujian yang baru saja dilewati oleh Adrian takkan menjadi beban yang menguras pikiran.
Adrian hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tetap menikmati makanannya. Adrian sengaja memperlihatkan dirinya tengah sibuk dengan sarapannya meski Ia sadar ada tatapan menyelidik dari kedua bola mata Ibunya.
Adrian juga tahu bahwa pertanyaan sebelumnya hanyalah basa basi untuknya. Ibunya sedang membangun jembatan kecil untuk bisa menyeberang lebih jauh melewati jurang yang dibangun Adrian untuk menutupi keresahannya.
Marinka melirik sedikit dari sudut matanya ke arah ruang keluarga dimana Irina tengah duduk manis dan sibuk dengan layar gadgetnya sebelum Ia mulai angkat bicara lagi.
"Adrian, maafkan Ayah dan Ibu yang mempersulitmu dengan keinginan yang terkesan memaksakan kehendak. Kalau semua ini membuatmu...." Marinka memberi jeda pada kalimat yang tengah diutarakannya.
Adrian menghentikan kegiatan makannya yang sedari tadi digunakannya sebagai cara menghindari pembicaraan dengan Ibunya.
"Ibu, tak ada yang perlu dikatakan. Bisakah membiarkan Adrian memikirkan semua ini dengan cara sendiri? Lagipula, Ayah dan Ibu tidak pernah memaksa Adrian, jika Adrian ingin menyerah, akan Adrian katakan dengan terang-terangan." ucap Adrian tegas namun tetap menjaga etika sopan santun dihadapan Ibunya lalu kemudian kembali menikmati makanannya.
"Baiklah...." ucap Marinka mengakhiri pembicaraan singkat mereka. Marinka tahu bahwa tak mudah bicara dengan Adrian dari hati ke hati. Lebih baik cukup mengawasi perkembangan tindak tanduk Adrian daripada berusaha mengulik terlalu dalam cara berpikir anak lelakinya itu.
__ADS_1
Marinka tersenyum hangat pada Adrian, mencoba menetralkan suasana yang tadinya sempat terasa agak dingin.
Sebuah susu cokelat hangat sengaja Ia sajikan untuk Adrian dengan harapan kandungan theobromin yang berkolaborasi dengan kafein dengan kadar ringan mampu membantu menciptakan suasana hati yang baik untuknya.
Semoga saja fenitelamin dalam segelas susu cokelat yang Ia sajikan bekerja dengan baik dalam menghasilkan dopamin dan endorfin untuk Adrian yang dilanda kekalutan tak terkira saat ini.
Itulah harapan Marinka, membuat Adrian senang dan bersemangat. Benar saja, setelah menghabiskan segelas susu cokelat miliknya, Adrian merasa lebih tenang, entah karena murni dari khasiat susu cokelat atau didukung oleh rasa segar setelah mandi dan rasa kenyang setelah makan.
***
Adrian menuju sofa empuk panjang yang berada di ruang keluarga. Sofa empuk panjang berwarna abu rokok yang cukup digunakan untuk duduk oleh tiga orang kini menjadi tempatnya berbaring malas seperti biasanya. Sebuah tempat favorit Adrian untuk bersantai di dalam rumahnya selain kamar tidur.
Irina yang tengah duduk manis di sofa lainnya sembari terus asyik bercengkerama dengan layar gadgetnya kini menjadi sasaran utama pengamatan Adrian. Cara Irina yang terlihat begitu asyik sendiri sembari sesekali memperlihatkan senyum manis dari bibir mungilnya membuat Adrian tersulut emosi cemburu.
"Pasti lagi chatting sama Rian!" rutuk Adrian dalam hatinya, mulai merasa tak senang meski mungkin dugaannya tak sesuai kenyataan.
Bisa saja kan Irina tengah asyik chatting dengan sahabat karibnya, Veronica?
Bisa saja kan Irina hanya sedang merasa lucu akan sesuatu yang dilihatnya?
Mungkin sebuah video, foto, artikel, cerita fiksi, atau apapun yang mampu menggelitik perasaannya?
Sayangnya, Adrian dibutakan oleh rasa cemburu yang sudah sangat bersarang dalam hatinya sehingga apapun yang terlihat menyenangkan di mata Irina terasa seperti disebabkan oleh Rian, saingannya.
Logika yang dikalahkan dan dibutakan oleh rasa cinta.
Cinta itu buta, klasik tapi tepat sekali.
Adrian mulai mengambil gadget miliknya dari dalam saku celana, memasang earphone, dan mulai bermain game online kesukaannya.
Tentu saja ini dilakukannya untuk mengalihkan perasaan emosi yang berkecamuk dalam dadanya.
Perasaan ingin beramah-tamah dengan Irina pun akhirnya Ia urungkan. Rencana Adrian untuk menjadi sehangat matahari pagi hari ini pun gagal.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG~