SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 27. Sakit Hati


__ADS_3

"Kriiiiiiiiiiiing....."


Bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring hingga menggema di seluruh penjuru area sekolah. Seluruh murid kelas sepuluh dan sebelas yang berdiam diri di ruangan kelas masing-masing sentak bersorak gembira layaknya anak-anak sekolah TK yang begitu bahagia karena asyik bermain.


Padahal, mereka semua adalah remaja tingkat akhir yang dibalut seragam putih abu-abu.


"Tante, aku antar pulang yaa?" tawar Rian sembari cengengesan ke arah Irina yang tengah mengemas seluruh buku-bukunya ke dalam tas sekolah miliknya.


Irina berhenti sejenak dari kesibukannya ketika mendengar tawaran Rian. Wajahnya menoleh ke arah Rian yang masih menatapnya dengan cengengesan.


Rian sadar bahwa mulai hari ini hingga dua minggu kedepan tak ada Adrian di sekolahan, karena itulah Rian merasa sangat percaya diri menawarkan tumpangan kepada Irina. Rian juga bermaksud menawarkan diri untuk mengantar jemput Irina kedepannya.


Bukankah ini saat yang tepat untuk selalu bersama kekasih dari mulai mengawali hari dengan pergi sekolah hingga kembali pulang ke rumah?


Irina menatap wajah Rian lekat-lekat. Dahinya sedikit mengernyit karena ia sedang berpikir. Hampir saja Irina menyatakan setuju dengan tawaran Rian kalau saja Ia tidak langsung ingat kata-kata Adrian tadi pagi sebelum berangkat sekolah.


"*Aku akan mengantarmu," celetuk Adrian sembari tetap menikmati sarapannya.


"Juga akan menjemputmu sepulang sekolah." lanjutnya lagi*.


Irina menghela nafas sebelum akhirnya menyatakan penolakan dengan berat terhadap tawaran Rian. Sungguh kalau tidak karena komitmen dengan Adrian, saat ini Irina akan sangat kegirangan dan dengan suka rela bahkan suka cita menerima tawaran Rian, kekasihnya.


"Maaf, om.. Aku dijemput Kak Adrian," ucap Irina lirih.


"Ha? Kakakmu itu nggak bisa yaa sehari saja membebaskanmu?" ledek Rian sambil menepuk dahinya pelan dan tetap cengengesan untuk menyembunyikan rasa kecewanya.


Irina tak membalas ledekan Rian, ia memilih tersenyum tipis dan mengenakan tas punggungnya. Guru kelas sudah lebih dulu pergi meninggalkan ruangan, begitupun anak-anak lainnya di kelas Irina. Hanya segelintir yang masih berada di dalam kelas termasuk Irina dan Rian.


"Hei, kalian sampai kapan mau disini? Kami mau membersihkan kelas!" celetuk Veronica kepada Irina dan Rian yang masih terlihat nyaman berduaan di bangku mereka.


Veronica terlihat sangat kesal. Ia kesal bukan karena melihat Irina dan Rian yang tengah asyik berduaan di bangku mereka. Sebenarnya itu sama sekali tak mengganggunya.


Veronica sedang kesal karena kewajiban yang harus dilaksanakannya saat ini, tugas piket kelas.


Tugas piket kelas adalah pekerjaan yang paling tidak disukainya. Meskipun beberapa anak yang bertugas bersamanya seringkali meringankan Veronica yang selalu nampak seperti tuan puteri yang harus diistimewakan dengan memberikan pekerjaan yang ringan seperti merapikan taplak meja guru atau hanya menghapus papan tulis, tetap saja Veronica merasa kesal setiap kali harus melakukannya. Veronica memang manja dan sedikit malas, hanya sedikit.

__ADS_1


Beruntung Veronica adalah sosok murid perempuan yang baik dan ramah terhadap siapa saja, ditunjang dengan tampilannya yang sangat menawan hingga menjadi kandidat salah satu idola di sekolah maka itulah tak satupun teman yang merasa keberatan memperlakukannya dengan istimewa.


"Pacaran di luar sana!" celetuknya lagi melampiaskan kekesalannya kepada Irina dan Rian.


"Veroooo!" rutuk Irina di dalam hatinya. Wajah Irina tampak begitu memerah akibat kata-kata Veronica yang berhasil menusuk telinga dan hatinya. Saat ini rasanya Irina tak sanggup melihat wajah Rian.


"Buru!" celetuk Veronica lagi yang sedikit cekikikan menyadari sahabatnya mulai malu-malu dan salah tingkah.


"Iya," ucap Irina cepat dan menunjukkan tatapan kesal kepada Veronica lalu segera pergi meninggalkan kelas bersama dengan Rian yang segera menyusulnya.


***


"Apa besok aku bisa menjemputmu, berangkat bareng?" tanya Rian setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dan berjalan bersisian dengan Irina.


"Emm, sepertinya nggak bisa," ucap Irina lirih.


"Kenapa begitu? Kenapa tidak bisa?" cercah Rian sebagai tanda ia memaksa tawarannya.


"Om, kamu kan tahu aku selalu pergi dan pulang sekolah dengan Kak Adrian," ucap Irina sambil tetap berjalan menyusuri koridor sekolah.


"Iya, tapi Kak Adrian tetap akan mengantar dan menjemputku," ucap Irina lagi.


"Haah...?! Kakakmu itu kenapa sih? Memangnya kamu anak kecil yang harus selalu berada di bawah pengawasan dia? Meskipun aku akui dia seorang senior yang istimewa di sekolah tapi sebagai seorang kakak dia sangat aneh. Sudah berapa kali dia selalu intervensi, interupsi, intera-intera lainnya setiap kali kita bersama?! Dia posesif! Dan kamu harusnya apa-apa jangan tergantung sama dia, kamu sudah dewasa!" celetuk Rian sedikit kesal namun tetap mengutarakan kekesalannya dengan nada cuek dan santai sambil meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala.


Irina tersentak dan segera menghentikan langkah kakinya. Rian yang menyadari Irina tengah mematung segera ikut berhenti. Perasaannya tiba-tiba merasa tidak nyaman, Rian merasa salah bicara.


"Kenapa bicara begitu?" ucap Irina dingin dengan kepala menunduk, membuang pandangannya ke lantai tempatnya berpijak.


Irina memang tiba-tiba saja merasa sakit hati dengan ucapan Rian. Entah karena Irina menangkap dan menarik kesimpulan ocehan Rian yang seolah mengartikan dirinya sebagai anak kecil yang tak memiliki kebebasan atau karena Rian terasa telah menghina Adrian atau mungkin karena sebab keduanya, yang jelas Irina saat ini tidak suka dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Rian.


Ya, kau mungkin bisa kesal dengan saudaramu kan?


Kau mungkin bisa mengeluh tentang kekurangan dan kelemahan saudaramu tapi kau takkan suka ketika orang lain yang mengutarakan keburukan atau kekurangan saudaramu. Itulah ikatan unik dari sebuah hubungan persaudaraan.


Bukankah begitu?

__ADS_1


Rian terdiam, tak sedikitpun mengucapkan sepatah kata apapun untuk menjawab pertanyaan Irina. Rian menyadari bahwa ia salah bicara dan berpikir jika dirinya berbicara untuk membela diri adalah suatu hal yang terlalu mengambil resiko. Akan menjadi suatu keberuntungan jika Rian bisa mengatakan kata-kata yang membuat keadaan saat ini menjadi lebih baik, tapi bagaimana kalau akhirnya hanya memperburuk keadaan?


Tidak, Rian tak ingin mengambil resiko.


"Aku akan tetap pulang dan pergi sekolah dengan Kak Adrian," ucap Irina singkat lalu meninggalkan Rian yang masih mematung tak bergeming sedikitpun.


"Sial!" rutuk Rian kesal terhadap dirinya sendiri.


Rian mengakui kata-katanya tadi adalah sebuah bentuk keegoisan yang berhasil muncul dan menjelma dalam lisannya tanpa pikir panjang. Sebagai anak tunggal dengan orang tua berada yang bahkan adalah pemilik yayasan sekolah tempatnya mengenyam pendidikan saat ini, tentu saja Rian tak paham dengan ikatan persaudaraan. Rian juga tak begitu memahami aturan-aturan yang harus dijunjung ataupun dipatuhinya. Rian hidup bebas tanpa kekangan bahkan pengawasan tak berlaku baginya.


Rian sungguh menyesal telah membuat Irina terluka perasaannya.


***


"Kak..."


Irina menyapa Adrian yang telah menunggunya di parkiran sekolahan yang kemudian dibalas Adrian dengan senyum yang masih terasa kaku.


Sebelum akhirnya Irina duduk di atas motor milik Adrian, Irina menyempatkan dirinya melihat ke arah belakangnya, mencoba mencari sosok Rian yang mungkin tengah mencoba menyusulnya. Tapi, Irina tak menemukan sosok yang dicarinya.


Ada rasa kecewa mengetahui Rian tak menyusulnya, namun Irina juga merasa bersyukur. Kalau sampai harus ada drama diantara mereka ketika berada di depan Adrian, Irina tak tahu harus bagaimana. Irina sudah cukup paham bahwa Adrian tak menyukai eksistensi Rian dalam kehidupannya.


"Maaf Rian," batin Irina.


"Sebaiknya aku menenangkan diriku dulu, tadi rasanya sangat tidak menyenangkan, hatiku sakit."


***


Adrian tengah melaju di jalan raya agar segera sampai ke tempat tujuan yang diinginkannya. Terpaan angin yang berhembus kencang hingga menembus tubuh Irina seolah berusaha menghapus perlahan-lahan rasa tak nyaman yang Irina rasakan sebelumnya.


Meskipun tak ada pembicaraan yang dilakukan Irina dan Adrian sepanjang perjalanan, Irina kali ini tak merasa begitu canggung. Kali ini Irina lebih memilih berprasangka baik bahwa diam mereka saat ini dikarenakan situasi tidaklah kondusif untuk berbincang-bincang santai.


"Lho? Inikan bukan jalan pulang?" sentak Irina dalam hati, menyadari bahwa Adrian memilih jalur yang berbeda dari yang biasa mereka telusuri untuk pulang ke rumah.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG~


__ADS_2