SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 15. Menjadi Mandiri


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya, di waktu yang sama, cara yang sama, Irina bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di kamar pribadinya Irina mempersiapkan dirinya dengan riang. Sejalan dengan gerakan tubuhnya yang seolah tak perlu diberikan perintah lagi dalam menjalani rutinitas paginya, pikiran Irina juga sedang melayang mengingat kembali momen-momen menyenangkan bersama Rian di akhir pekan kemarin.


Sebuah pesan singkat yang masih terlihat muncul di layar hp milik Irina yang tergeletak begitu saja di meja belajar sudah pasti adalah alasan utama mengapa wajah Irina begitu riang.


"Pagi, kesayangan... Tunggu Aku duduk di bangku kelas kesayangan Kita. Pagi-pagi banyak senyum, jangan merengut," tulis Rian di dalam pesan singkatnya.


"Iya, Om..." canda Irina sebagai balasan untuk pesan singkat dari Rian.


"Hahahaha," gelak tawa Rian yang memang sedang dilakukannya Ia coba sampaikan pada Irina dalam bentuk tulisan. Tentu saja, Irina pun ikut tertawa kecil di balik layar gadgetnya.


Irina berhenti membalas pesan dari Rian setelah menyadari waktu yang Ia miliki untuk bersiap pergi sekolah sangatlah singkat bila harus diinterupsi dengan kegiatan balas membalas chat. Lebih baik sekarang Irina fokus mempersiapkan dirinya agar segera berjumpa Rian di sekolah. Toh, mereka akan punya banyak waktu bersama di sekolah nanti. Mulai hari ini, bertambah lagi alasan baik mengapa Irina senang pergi ke sekolah.


Yaa, tentu saja karena ada Rian, kekasihnya yang akan menemaninya menjalani hari yang panjang dengan warna warni kebersamaan mereka di sekolah.


***


Irina keluar dari kamarnya dan bergegas turun menuju ruang makan. Sebelum berangkat sekolah, Irina dan Adrian memang selalu menyisihkan waktu untuk sarapan, kegiatan pagi ini sudah menjadi budaya yang dibiasakan sejak dini oleh Marinka, Ibu yang selalu memperhatikan Mereka berdua dengan sepenuh hati. Irina bahkan selalu ingat bagaimana Marinka mengatakan bahwa sarapan sebelum belajar di sekolah bisa membuat mereka pintar. Entah apakah itu hanya karangan Marinka atau memang begitulah fakta yang ada dalam teori ilmu pengetahuan manusia di muka bumi ini, yang jelas kata-kata Marinka telah tertanam jauh di pikiran alam bawah sadar Irina dan Adrian sehingga mereka berdua memilih bersiap lebih awal untuk kemudian sarapan sebelum berangkat sekolah daripada melewatkan sarapan dan menjadikan jam istirahat pertama di sekolah sebagai waktu pengganti sarapan seperti murid-murid lain pada umumnya. Faktanya entah karena kebetulan atau karena budaya sarapan sebelum berangkat sekolah yang mereka lestarikan, Irina dan Adrian tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berkualitas sebagai murid di sekolah.


Baru saja Irina tiba di area ruang makan dan mendekati kursinya untuk duduk, Adrian sudah berada di tempat duduknya dan sedang menikmati sepiring nasi goreng yang jelas dari pengamatan sekilas Irina sudah hampir habis dari sajian di piringnya. Irina bisa melihat hanya butuh satu hingga tiga suap lagi, Adrian bisa mengakhiri kegiatan sarapannya. Buru-buru Irina mengambil sepiring nasi goreng dengan porsi sedikit dan telur dadar yang sudah di orak-arik sebagai lauk. Tak ada pembicaraan apapun antara Irina dan Adrian walaupun mereka duduk bersebelahan, hanya ada denting-denting antara gesekan sendok garpu dengan dasar piring sebagai wadah mereka makan yang mengisi keheningan di ruang makan. Canggung? Tidak. Sudah biasa.


Sesekali Marinka memecah keheningan dengan menawarkan hal-hal kecil sambil tetap sibuk menyiapkan berbagai hal terutama sembari mengawasi kedua anak remajanya sarapan, Marinka juga mengutamakan menyiapkan dengan sepenuh hati sarapan sempurna untuk suaminya, Riffan.


"Irina, mau minum susu?"


"Adrian, mau tambah telur dadar lagi?"


"Makan yang benar, biar nggak gagal fokus belajarnya."


Kira-kira begitulah kata-kata yang dilontarkan Marinka untuk Adrian dan Irina setiap pagi sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya sebagai seorang Ibu kepada kedua anaknya.


Irina berusaha makan dengan sedikit terburu-buru untuk mengimbangi Adrian yang sudah hampir selesai dengan sarapannya. Jelas sekali, Irina takut ditinggal Adrian. Bukan, ditinggal bukan masalah besar, Irina masih bisa berangkat sekolah dengan Pak Jo, supir mereka. Yang menjadi masalah adalah harus mendengar Adrian mengeluarkan kata-kata yang menusuk setiap kali Irina bersikap yang tak sesuai dengan kemauan Adrian.


"Aku siap sesuai waktu yang biasanya kok, tapi kenapa Kak Adrian sudah hampir selesai sarapan?" gumam Irina dalam hatinya sambil tetap fokus menikmati sarapannya.


"Apa mungkin Aku terlambat karena sempat meladeni chat Rian?" gumamnya lagi.


Belum selesai Irina memikirkan dugaan-dugaan lain yang berputar di dalam kepalanya, Irina dikejutkan oleh Adrian yang menggeser kursinya untuk beranjak berdiri. Spontan Irina segera menoleh ke arah Adrian yang duduk disampingnya dengan mata terbelalak dan sesuap nasi di sendoknya yang seharusnya segera masuk ke dalam mulutnya kini hanya mengawang di udara dengan mulut mungilnya yang terbuka tanpa sambutan.


"APA?!" pekik Irina dalam hati.


Piring putih milik Adrian yang tadinya masih tersaji sepaket lengkap hidangan nasi goreng memang sudah kosong melompong. Hanya tinggal sepasang sendok garpu yang ditelungkupkan Adrian sebagai tanda bahwa Ia telah selesai dengan sarapannya. Tanpa melihat ke arah Irina sedikitpun, Adrian berpamitan pada Marinka dan menghampiri Riffan, Ayah mereka yang baru saja turun dari lantai atas dan sedang berjalan menuju ruang makan.

__ADS_1


Irina terdiam dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah Ia memanggil Adrian dan memintanya untuk menunggunya? Kenyataannya, Adrian memang selalu bertindak sesuka hatinya, sesuai kemauannya, dan Irina selalu diabaikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya tersisa untuk dirinya sendiri tanpa jawaban.


Irina menunggu Adrian menghampirinya kembali atau setidaknya menjelaskan apa maksud keadaan yang sedang terjadi saat ini. Namun, yang terjadi Adrian malah pergi tanpa bicara sepatah kata apapun menuju teras rumah untuk kemudian berangkat pergi.


Irina masih mematung di posisi duduknya untuk sepersekian detik, hingga akhirnya tersadar untuk melanjutkan kegiatan sarapannya setelah Riffan datang menghampiri lalu duduk di kursi miliknya dan membuka pembicaraan dengan Irina.


"Lanjutkan sarapanmu, Irina... Mulai hari ini Adrian akan berangkat sekolah dan pulang sendirian. Pak Jo yang akan mengantarmu ke sekolah dan menjemputmu jika waktu sekolahmu sudah berakhir," ucap Riffan dengan lembut sambil mulai menikmati sarapan di hadapannya.


Irina tidak mengucapkan sepatah kata apapun selain kembali melanjutkan kegiatan sarapannya sesuai perintah Ayahnya. Sedikit anggukan halus dilakukannya sebagai tanda Ia mengerti dengan apa yang disampaikan Riffan.


Sebenarnya Irina masih ingin tahu alasan Adrian pergi sendiri dan membiarkan Irina diantar oleh Pak Jo. Irina sedikit khawatir apakah semua ini karena momen kemarin di taman, mengingat Irina berduaan dengan Rian sedangkan Adrian belum lama ini mengingatkan Irina untuk tidak berpacaran dengan siapapun.


Tapi, demi mempersingkat waktu, Irina memilih untuk mengurungkan niatnya. Namun seolah mengerti kebingungan Irina, Marinka yang kini telah duduk di hadapan Irina untuk mendampingi Riffan, suaminya yang sedang menikmati sarapan pagi mulai menjelaskan dengan penuh kasih sayang kepada Irina.


"Irina..." ucap Marinka dengan lemah lembut hingga membuat Irina menghentikan kegiatan sarapannya yang hampir selesai untuk kemudian menatap lekat ke arah Ibunya yang kali ini tersenyum manis ketika menyadari bahwa Irina sedang menatap padanya.


"Adrian sudah mau lulus, sekarang harus fokus untuk kegiatan persiapan ujian. Semalam Adrian bilang kalau jam belajarnya di sekolah bertambah sehingga Adrian harus pulang lebih terlambat dari waktu seharusnya," lanjut Marinka lagi.


"Jadi, mulai hari ini sampai masa ujian berakhir biarkan Adrian fokus yaa... Irina biar Pak Jo yang antar-jemput," Marinka masih menjelaskan dengan tenang.


Irina hanya mengangguk kecil dan kembali melanjutkan sarapannya untuk kemudian berpamitan dengan Ayah dan Ibunya. Sudah waktunya untuk berangkat ke sekolah, Adrian lebih cepat darinya 15 menit yang lalu, tapi Irina sebenarnya juga tidak keberatan sama sekali setelah mengetahui alasannya. Lagipula, rasanya lebih menyenangkan jika harus pulang dan pergi sekolah tanpa Adrian yang selalu saja membuat Irina canggung.


"Kakak macam apa yang membuat hati Adiknya tertekan setiap detik?" rutuk Irina dalam hati sambil mulai mengenakan sepatunya.


"Sudah siap berangkat, Mbak?" tanya Pak Jo basa-basi dengan wajah jenakanya.


Irina terkikik melihat wajah Pak Jo dan sekilas mengingatkannya pada Rian yang saat ini sedang menantinya di sekolah. Pak Jo memang seorang pria paruh baya yang lucu. Sejak Irina masih kecil sudah mengabdi pada Keluarga Domino dan meskipun Irina sudah beranjak dewasa, Pak Jo masih suka menyikapi Irina dan Adrian seperti anak kecil yang dulu dijaganya dengan sepenuh hati.


"Rasanya sudah lama sejak Mas Adrian dan Mbak Irina berangkat dan pulang sekolah tanpa diantar, jadi rindu masa lalu," kenang Pak Jo yang disambut dengan senyum simpul dari Irina yang dapat dilihat Pak Jo dari pantulan cermin spion tengah di atas dashboard ketika mobil telah berjalan menyusuri separuh rute perjalanan menuju sekolah.


"Mendingan diantar sama Pak Jo deh daripada pulang pergi bareng sama Kak Adrian, suka bikin kesal." celetuk Irina.


Pak Jo hanya tertawa kecil menanggapi celetukan Irina.


Tak perlu mengambil waktu lama kini mereka sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Irina memperbaiki tatanan rambutnya lalu berpamitan dengan Pak Jo.


Irina melangkahkan kakinya dengan riang ketika memasuki halaman sekolah yang masih ramai dengan hiruk pikuk murid-murid yang juga baru datang, tepat waktu dan tidak terlambat. Sebuah senyum tipis tergores dibibirnya yang mungil ketika Ia mengingat Rian sudah menunggunya di dalam kelas.


***


Irina memasuki ruang kelas miliknya yang sudah mulai ramai dengan hiruk pikuk murid di dalamnya. Mengingat mereka semua baru saja selesai melaksanakan ujian, maka tidak ada pelajaran yang perlu mereka risaukan, tidak perlu ada PR yang mereka perjuangkan untuk diselesaikan pagi itu seperti biasanya. Wajah mereka semua terlihat sumringah seolah beban berat yang harus mereka pikul selama seminggu kebelakang telah berakhir.

__ADS_1


Wajah Irina pun kini ikut sumringah ketika mendapati Rian telah duduk di bangkunya dan menyambut Irina dengan senyuman hangat yang mempesona. Wajah jenakanya mulai menggoda Irina yang malu-malu duduk di sampingnya.


"Ciee... Malu yaa sama pacar sendiri?" goda Rian yang membuat Irina salah tingkah dan agak kesal dengan sikap Rian yang tak sungkan membaca perasaan Irina.


Meskipun sedikit kesal, Irina tetap memaklumi sikap Rian. Irina memasang wajah cemberut sambil sengaja menyibukkan dirinya mengambil buku dari dalam tas nya dengan agak kasar dan jelas terlihat bahwa dirinya salah tingkah diperhatikan Rian.


"Nggak ada pelajaran Tante, nggak usah sibuk jadi murid teladan gitu," ledek Rian sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya di atas meja, lengkap dengan gayanya yang santai dan cuek namun tetap menampilkan sosok pria dengan kharismatik yang unik.


"Iya, Om...."


Tak lama muncul seorang guru memasuki kelas mereka, seorang wanita paruh baya dengan tampilan rapi dan sederhana yang adalah Ibu Vina dan merupakan wali kelas dari mereka.


Ibu Vina yang kini sudah duduk di tempatnya tepat di depan kelas, menunggu sejenak para muridnya untuk bersikap lebih tenang hingga menciptakan keheningan di dalam kelas yang tadinya masih penuh dengan gelak canda tawa.


"Anak-anak, pertama-tama Ibu ingin mengucapkan selamat atas selesainya ujian semester ganjil yang telah kalian laksanakan seminggu ke belakang. Semoga kalian mampu mengerjakan dengan baik dan hasil ujian kalian memuaskan," ucap Ibu Vina dengan lemah lembut namun tetap tegas sebagai pembuka untuk memulai arahannya pagi itu.


Para murid pun bersorak gembira dan bertepuk tangan dengan riang sebagai tanda terimakasih atas ucapan yang dilontarkan oleh wali kelas mereka, Ibu Vina, sekaligus sebagai perayaan atas keberhasilan Mereka melewati ujian.


Keramaian di kelas tak berlangsung lama dan perlahan-lahan kembali hening setelah Ibu Vina mengisyaratkan dengan kedua tangannya agar semua murid kembali tenang kemudian melanjutkan kembali kalimatnya.


"Tiga hari kedepan Ibu akan mengisi kelas Kalian dengan berbagai arahan dan mengenalkan berbagai rencana pembelajaran untuk semester berikutnya. Ibu juga akan membagikan hasil ujian Kalian yang kemungkinan akan bisa Kalian terima di hari ketiga nanti, hari Rabu."


Para murid kembali bersorak gembira ketika mengetahui hasil ujian Mereka akan segera diterima dengan cepat. Lalu secepat kilat juga Mereka kembali menciptakan keheningan di kelas setelah lagi-lagi Ibu Vina mengisyaratkan dengan kedua tangannya agar para murid kembali tenang.


"Setelah hari ketiga, mengingat pihak sekolah harus fokus mempersiapkan murid kelas 12 untuk menghadapi ujian kelulusan maka Kalian diliburkan selama dua minggu."


Spontan seluruh murid di kelas bersorak gembira lebih keras daripada sebelumnya. Irina dan Rian pun saling bertatapan dengan wajah sumringah seolah liburan panjang kali ini akan menjadi waktu yang menyenangkan bagi Mereka berdua.


Rian meraih tangan Irina dan menggenggamnya erat di bawah meja hingga tak terlihat oleh guru maupun teman-teman Mereka. sedangkan Irina sedikit terkejut dan menatap Rian dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. Rian hanya tersenyum jahil dan lebih erat menggenggam tangan Irina.


"Kenapa, nggak boleh?" goda Rian lirih yang hanya dibalas oleh semburat merah panas di wajah Irina dan debaran jantung Irina yang diam-diam berdegup lebih kencang.


Ibu Vina masih sibuk memberikan berbagai arahan di depan kelas ketika Irina sudah tak lagi sanggup memperhatikan kata-kata Ibu Vina dengan seksama. Kali ini konsentrasinya telah terpecah oleh debaran jantungnya yang semakin keras bersuara di dalam benaknya sembari merasakan hangat dan eratnya genggaman tangan Rian, kekasihnya.


***


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...!



__ADS_2