
Di kamar Adrian,
Adrian terbaring di kasurnya yang saat ini tak terasa nyaman seperti biasanya. Meskipun raganya sudah terbaring tenang di kamar namun jiwanya masih berada di ruangan lain, seolah masih ingin menyaksikan kebersamaan Irina dan Rian di ruang tamu.
Mengawasi mereka berdua adalah keinginan yang menjadi fokus utamanya saat ini. Hanya saja, rasanya Adrian terlalu lelah untuk melakukannya.
Kesal? Tentu.
Ingin sekali rasanya Adrian menghambur kebersamaan Irina dan Rian di ruang tamu.
Adrian juga ingin sekali mengatakan dengan lantang bahwa dirinya adalah tunangan Irina. Namun Adrian tahu, tidak akan mudah mengungkapkan yang sesungguhnya secara mendadak dan berlandaskan rasa impulsif semata.
Selain itu, tentu saja bila Adrian nekat melakukannya, akan sulit bagi Irina menerima kenyataan dan memang belum tepat bila Adrian harus mengungkapkan rahasia yang sudah lama dijaganya dengan sangat baik saat ini.
Adrian masih harus mencari waktu yang tepat.
Adrian harus bersabar dan mengatur strategi terbaik meskipun dirinya sendiri sudah mulai gerah dengan kehadiran Rian.
Adrian merasa harus waspada.
***
Di ruang tamu,
Irina dan Rian masih berusaha menyibukkan diri masing-masing dalam keheningan. Mereka sedang saling mengendalikan perasaan tak tentu yang menyerang mereka karena kejadian yang baru saja terjadi.
"Ini semua gara-gara Kak Adrian!" Rutuk Irina dalam hatinya.
Suasana jadi terasa sangat canggung dalam keheningan. Rian terus menyibukkan diri menyalin seluruh catatan milik Irina di bukunya. Sedangkan Irina, hanya duduk manis sambil sesekali mencuri pandang ke arah Rian yang terlihat sangat fokus menulis.
Saat ini yang dirasakan Irina hanyalah kebingungan, mau menyapa sekedar bertanya apakah ada yang sulit dibaca dari tulisan tangannya pun dirinya terasa berat, lidahnya kelu, semburat rona merah di wajahnya masih terasa panas.
Begitupun untuk duduk mendekati Rian terasa sangat berat untuk dilakukan. Situasi yang sangat canggung.
Rian sendiri yang terlihat tenggelam dalam konsentrasinya menyalin catatan Irina sesungguhnya juga sedang menyembunyikan perasaan canggung.
Diam-diam Rian merasa senang dengan ketidaksengajaan yang membuat wajahnya dan wajah Irina saling bertatapan dengan sangat dekat.
Rian sadar bahwa dirinya menyukai Irina, dan baginya sesegera mungkin dia akan mengungkapkan perasaannya, tapi belum waktunya.
Rian bukan tipe laki-laki yang ingin berlama-lama menikmati perasaan yang disembunyikan dalam hatinya. Dia harus segera mengutarakannya, setidaknya begitulah yang ada dalam rencananya saat ini.
Satu waktu untuk saling mengenal dan satu waktu untuk mengutarakan perasaannya. Rian sudah bertekad bulat akan mengajak Irina meluangkan waktu berdua di taman atau dimanapun yang mungkin mendukungnya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Irina di akhir pekan nanti.
***
SMA DHARMA BHAKTI, KOTA X
KELAS X-2
.
.
.
Siang ini, bersamaan dengan bunyinya bel tanda berakhirnya ujian mid semester yang sedang dilaksanakan hari ini, maka berakhirlah seluruh rangkaian ujian mid semester SMA Dharma Bhakti yang telah berlangsung selama seminggu lamanya.
Seluruh siswa di setiap kelas termasuk kelas Irina saat ini, merasa sangat lega.
Setiap siswa mulai berhamburan mengumpulkan pekerjaan mereka kepada masing-masing guru pengawas kelas, sembari mulai berkicau riuh membuat rencana untuk refreshing di akhir pekan, secepatnya malam ini mereka semua sudah mulai membuat rencana masing-masing sesuai selera.
Irina telah selesai mengumpulkan lembar kerja ujiannya kepada guru pengawas kelas. Kini Irina terlihat mulai sibuk merapikan semua perlengkapan alat perang ujiannya ke dalam tas.
Rian yang sedari tadi sudah lebih dulu selesai mengerjakan ujian terakhirnya telah duduk manis dan tenang di bangkunya sendiri.
Seharusnya Rian sudah bisa segera keluar kelas dan pulang, hanya saja saat ini Dirinya tertahan di kelas karena ingin menyampaikan niat akhir pekannya kepada Irina.
Rian sedang mengamati situasi dan menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan maksud dan tujuannya itu kepada Irina.
Ketika Irina masih sibuk merapikan seluruh barang yang berserakan di atas mejanya, Veronica datang menghampiri. Veronica yang selalu berpenampilan modis dan terkesan elegan itu sudah berdiri di depan meja Irina dan mulai berperan menjadi gadis manja yang seolah merengek kepada Ibunya.
Yaa, siapa lagi Ibu yang dimaksud disini kalau bukan Irina.
"Irinaaaaa~" rengek Veronica dengan manja yang hanya mendapatkan balasan mimik wajah datar dari Irina.
"Hmmm..." balas Irina sambil masih sibuk merapikan barang di dalam tasnya.
"Irinaaaa... Jangan cuekkin aku dong..." rengek Veronica bertambah kini berubah sambil menarik lengan Irina yang seketika membuat Irina sedikit kehilangan keseimbangan.
"Eh... Eh...." Irina mencoba menahan tubuhnya agar tetap kokoh.
"Irinaaaa... Besok temani aku? Mau yaa?" Veronica melepaskan tangannya dari Irina dan mulai menempatkan posisi kedua telapak tangannya seolah sedang memohon kepada Irina. Raut wajahnya begitu manja dan membuat Irina sedikit gemas namun juga kesal.
Irina menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai menatap Veronica dan angkat bicara.
"Vero, aku sudah bilang aku tidak suka pergi ke tempat semacam itu."
"Aaah... Irina! Sekali ini saja. Kalau sama kamu, aku pasti diizinkan. Hehehe..."
"Tapi...." Irina mulai berpikir sejenak.
"Aku akan traktir kamu, apapun yang kamu mau aku belikan."
"Huffh~" Irina menghela nafas berat.
"Ayolaah Irina... Konsernya malam ini, aku mau! Temani..." rengek Vero lagi.
Rian yang sedari tadi memerhatikan kelakuan Veronica dalam diamnya sedikit terkejut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Veronica.
Setelah tenggelam lama dalam pikirannya sendiri yang sibuk mencari kesempatan mengajak Irina bepergian keluar rumah malam ini atau mungkin besok sambil masih bingung menentukan tempat yang baik, kata-kata Veronica mendadak memberinya ide cemerlang.
Secepat kilat Rian segera ikut bicara ditengah drama sahabat antara Veronica dan Irina.
"Konser?" tukas Rian tiba-tiba.
Veronica yang sedari tadi sibuk merengek segera merubah raut wajahnya menjadi sedikit lebih tenang lalu menoleh ke arah Rian yang baru saja mengintervensi drama miliknya. Begitupun Irina. Rian yang merasa kedua perempuan di hadapannya sedang memfokuskan perhatian kepada dirinya, kembali melanjutkan angkat bicara dengan tenang dan gayanya yang cuek.
"Konser Marshall, Kan? Band dari Kota S yang sedang melambung tinggi namanya karena single terbarunya? Vokalisnya Dion itu?" ucap Rian cuek sambil menopang dagu dengan malas.
"Iya... Iya..." ucap Veronica berbinar-binar.
"Aku dengar konsernya di ruang terbuka, aku tidak suka keramaian walaupun diizinkan orangtuaku." Ucap Irina dengan serius.
"Ayolah Irina, aku cuma bisa pergi kalau sama kamu..." rengek Veronica lagi.
"Huffh~ aku bisa membawa kalian kesana tanpa terganggu keramaian, paling tidak kita bisa berdiri di posisi yang aman, di baris depan." Ucap Rian mantap dan tetap cuek namun dalam hati sangat berharap Irina akan setuju.
"Jadikan berempat, boleh?" ucap Veronica cengengesan.
"Ah, sudah kuduga! Kamu tadi mau menjadikan aku alat mendapatkan izin dari orangtuamu dan nantinya aku hanyalah obat nyamuk disana!" omel Irina.
"Tapi.... Sekarang kan ada Rian, lagipula Rian menjanjikan posisi yang nyaman. Boleh, Yaa?" rengek Veronica.
Irina masih mengambil waktu sejenak untuk berpikir sedangkan Veronica menunjukkan sikap penuh harap Irina akan menyetujui ajakannya begitupun Rian.
Diam-diam dibalik sikap cueknya Rian sangat berharap Irina bersedia. Ini adalah kesempatan emas bagi Rian, kalau saja Dia tidak mendengar Veronica merengek untuk mengajak Irina ke konser itu, mungkin Rian masih harus berpikir keras bagaimana caranya mengajak Irina keluar malam ini sedang Rian juga masih tidak ingin terlihat mengajak kencan Irina.
Belum sampai Irina memutuskan untuk setuju atau tidak dengan ajakan Veronica yang dibumbui jaminan keamanan dan kenyamanan dari Rian, hiruk pikuk para murid di kelas yang berlomba-lomba mengumpulkan lembar kerja ujian masing-masing telah berakhir. Guru pengawas segera meminta semua untuk kembali duduk di bangku masing-masing.
Veronica akhirnya kembali duduk di bangkunya dengan malas dan Irina menjanjikan akan memberikan keputusan sepulang sekolah setelah Ia minta izin kepada Ayah dan Ibunya.
Rian yang diam-diam juga tidak sabar ingin Irina menyetujui untuk menghadiri konser malam ini akhirnya hanya bisa menunjukkan sikap seolah tidak begitu peduli apakah Irina bersedia atau tidak. Gengsi? Iya.
***
Kediaman Keluarga Domino,
__ADS_1
Sepulang sekolah dan telah selesai mengganti seragamnya serta makan siang, Irina segera menghampiri Ibunya yang sedang duduk di ruangan keluarga sembari menonton TV.
Nampak Adrian juga sedang merebahkan dirinya di salah satu sofa panjang di ruangan itu sambil memainkan gadgetnya.
Irina duduk di dekat Ibunya dan mulai meminta izin sesuai rencananya yang diputuskan di kelas tadi.
Adrian melirik sekilas menyadari kehadiran Irina yang agak canggung.
Adrian tahu sekali sikap Irina, bahasa tubuhnya yang seperti itu menandakan Ia ingin minta izin atau mungkin minta sesuatu kepada Ibunya.
Rasa ingin tahu mulai menyerang Adrian, sengaja Ia mengecilkan volume suara hp-nya yang sedari tadi tingkat volume suaranya sangat maksimal meskipun hanya terdengar oleh telinganya sendiri dari headset yang dikenakannya.
Adrian mendengarkan dengan seksama setiap percakapan Irina dan Ibunya sambil berpura-pura masih sibuk bermain hp.
"Ibu...." Irina menggenggam tangan Marinka dengan manja.
"Ada apa? Pasti minta sesuatu," canda Marinka melihat ke arah tatapan Irina.
"Ah... Ibu! Begini, Veronica mengajak pergi ke konser Marshall malam ini, hitung-hitung refreshing akhir pekan setelah ujian. Boleh?" Irina menatap dengan penuh harap kepada Ibunya.
"Hmmm... Kenapa tidak? Boleh, asal bersama Adrian," ucap Marinka dengan mantap.
"Ha??" Irina tersentak.
"Tapi Ibu...." Irina melirik sekilas ke arah Adrian dan mulai mengecilkan suaranya.
"Ibu... Kali ini saja, biarkan aku pergi tanpa Kakak. Kumohon...." lanjut Irina sedikit merengek manja.
"Hmmm..." Marinka berpikir sejenak, melihat ke arah Adrian dan mendapati Adrian diam-diam memberi kode agar dirinya mengizinkan Irina pergi tanpa dirinya.
"Baiklah... Sekali ini saja yaa," ucap Marinka akhirnya memberikan izin dengan mantap.
"Yes!!! Terimakasih Bu... Irina ke kamar dulu yaa Bu, mau chat sama Vero," ucap Irina dengan riang.
***
Irina kini telah berada di kamarnya dan mulai mengutak-atik hp miliknya yang sedari tadi hanya tergeletak di meja sudut tempat tidurnya. Wajahnya begitu riang, bukan semata-mata karena diizinkan untuk pergi ke konser malam ini namun juga ada rasa berbunga-bunga di hatinya mengingat malam ini Dia akan pergi bersama Rian.
Irina mulai melayangkan pesan whatsapp kepada Veronica dan Rian bahwa malam ini Dirinya mendapatkan izin untuk menghadiri konser Marshall Band. Balasan pesan whatsapp miliknya mulai muncul di layar hpnya.
Veronica: Baguslah! Malam ini aku bisa kencan dengan Axel!
Rian: Ok. Kita semua ketemu di pintu utama hall malam ini.
Irina tersenyum kecil dengan perasaan yang berbunga-bunga melihat balasan pesan whatsapp dari Rian. Rasanya Irina tak sabar menunggu waktu malam.
Tak disangka akhirnya dia bisa menghabiskan waktu dengan Rian di luar jam sekolah untuk kedua kalinya setelah sebelumnya dia dan Rian sudah menghabiskan waktu bersama di rumah Irina meskipun hanya untuk keperluan merangkum catatan pelajaran.
Pada akhirnya Irina merasa harus berterimakasih kepada Veronica. Jika bukan karena rengekan manja dari Veronica untuk ditemani pergi ke konser Marshall Band malam ini, mungkin Irina tidak punya kesempatan untuk bersama Rian.
Iya, Irina memang akui bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Rian.
***
Di ruang keluarga,
Setelah Irina pergi ke kamarnya dengan riang, Adrian mulai bangkit dari posisi santainya di atas sofa panjang. Marinka bisa membaca bahasa tubuh Adrian yang tidak sabar ingin mendapatkan penjelasan darinya.
"Apa?" ledek Marinka.
"Ibu, Irina mau apa?" tanya Adrian penasaran.
"Seperti yang kamu curi dengar tadi, minta izin ke konser malam ini. Konser di Satria Hall yang dekat komplek rumah kita," Marinka menjelaskan dengan tenang.
"Apa dia bilang, pergi dengan siapa?" Adrian masih kurang puas dengan jawaban Ibunya.
"Hmm.. Setahu Ibu mau pergi sama Veronica. Entah kalau ada yang lain?" Marinka masih menjelaskan dengan tenang dan kali ini sambil sibuk memainkan remote TV untuk menggonta-ganti saluran TV di depannya.
"...." Adrian terdiam sejenak.
"Sudahlah, pergi saja. Daripada kamu tidak tenang mengkhawatirkan Irina. Lagipula Ibu juga tenang kalau kamu mengawasinya," ucap Marinka lembut seolah mengerti kekhawatiran Adrian.
"Apa mungkin Irina pergi bersama Rian juga, yaa?" batin Adrian.
Adrian melirik ke arah jam dinding yang ada di ruangan keluarga. Jam bulat besar berwarna hitam yang dihiasi bingkai emas polos dan tergantung kokoh di salah satu dinding ruangan tepatnya di atas meja TV menunjukkan pukul 04.00 PM. Masih ada waktu beberapa jam sebelum jadwal bepergian Irina yang diketahui Adrian adalah jam 07.00 PM.
Sebenarnya Adrian tadi memberi kode kepada Ibunya untuk mengizinkan Irina karena sesekali Adrian tidak ingin berkesan sebagai seorang Kakak yang menyebalkan dan overprotective terutama di waktu-waktu belakangan ini.
Waktu terus berjalan dan tak terasa kelak Adrian harus mulai mengungkapkan semua kepada Irina serta memantapkan hatinya atas rencananya kedepan yang sudah pernah didiskusikan dengan matang bersama Riffan, Ayahnya.
Adrian beranjak pergi ke kamarnya setelah izin kepada Marinka, Ibunya. Melewati kamar milik Irina, Adrian bisa mendengar sayup-sayup suara musik lembut sedang berkumandang yang bisa ditebak Adrian berasal dari speaker hp milik Irina. Adrian berhenti sejenak di depan pintu kamar milik Irina, menempelkan daun telinganya lekat-lekat di pintu kamar Irina. Adrian mencoba mendengarkan dengan seksama lagu yang diputar oleh Irina.
"Lagu Cinta!" pekik Adrian dalam hati.
Adrian menghela nafas panjang dan berat. Adrian sudah bisa menduga kemungkinan nanti malam Irina akan bertemu dengan Rian di konser tersebut.
Adrian mendengar bagaimana Irina bersenandung kecil dengan riang.
Adrian sangat mengerti hal-hal kecil dan remeh dari kebiasaan Irina dan cukup tahu bahwa saat ini Irina sedang sangat bersemangat.
Adrian sangat tahu bahwa Irina sedang jatuh cinta dengan Rian, hanya saja Adrian masih ingin bermain halus untuk menyadarkan Irina dan tak ingin mengusik kebahagiaan Irina.
Selain itu, hal ini juga menjadi PR untuk Adrian, bagaimana Dia harus mulai bertindak untuk membuat Irina melihatnya tak hanya sekedar sebagai seorang Kakak, melainkan sebagai tunangan.
Tapi nanti, belum saatnya.
Adrian masih harus fokus dengan ujian akhir sekolahnya yang tinggal hitungan minggu saja.
***
SATRIA HALL
KONSER MARSHALL BAND
.
.
.
Pukul 07.00 PM Irina dan Veronica sudah berdiri di pintu masuk Satria Hall. Satria Hall sendiri adalah sebuah gedung stadiun indoor yang sangat besar. Hanya saja konser tidak diadakan di dalam gedung melainkan di area outdoor tepat di depan gedung Satria Hall.
Irina dan Veronica nampak cantik dengan gaya tampilannya masing-masing.
Seperti biasa, Veronica selalu nampak mempesona walaupun menggunakan pakaian casual. Rambutnya yang panjang dan bergelombang diikat seperti ekor kuda menggunakan ikat rambut bewarna hijau stabillo. Itu adalah ikat rambut yang sangat unik, menyala dalam gelap.
Veronica juga menggunakan kaos kasual berwarna hijau yang nampak girly dipadukan dengan celana panjang jeans biru yang terlihat modis. Ia terlihat seperti perempuan cantik yang energik.
Berbeda dengan Veronica, Irina terlihat lebih kalem dengan rambut panjangnya yang terurai. Irina menggunakan baju kaos casual berwarna putih polos yang dipadukan dengan rok kain selutut berwarna biru dongker. Irina terlihat bergaya feminim dan sederhana.
Matanya mencari-cari sosok Rian yang belum juga terlihat, sedangkan Axel kekasih Veronica sudah lebih dulu datang dan sudah asik bercanda berdua dengan Veronica.
Irina terus mencari sosok keberadaan Rian sambil sesekali melihat jam tangannya. Pada akhirnya Irina memilih untuk membuka layar hpnya dan sibuk memperhatikan pesan yang masuk di whatsapp miliknya.
Terlalu sibuk hingga Ia tidak sadar seorang pria tampan telah berada di dekatnya dan menepuk pundaknya pelan. Hampir saja Irina melepaskan hp dari tangannya karena sedikit terkejut dan pada akhirnya kini bertambah sedikit gugup setelah menyadari Rian lah yang berdiri tepat di belakangnya.
"Sorry, sedikit telat," ucap Rian datar yang sebenarnya menyimpan rasa kagum melihat Irina.
"Oh... Iya, nggak apa-apa," ucap Irina mencoba menanggapi dengan tenang.
"Hai Rian.... Kenalin ini cowok aku dari SMA S, namanya Axel," Axel tersenyum sembari menjabat tangan Rian.
"Hai, kenalin Rian," balas Rian.
"Oh, cowoknya Irina yaa?" goda Axel.
"Bukan!" Irina segera menjawab pertanyaan Axel dengan salah tingkah.
__ADS_1
"Sudah... Ayo ikuti aku," ucap Rian datar seolah tak ingin lebih jauh saling bercanda.
Irina, Veronica, dan Axel mengikuti Rian menuju depan panggung. Meskipun mereka bertanya-tanya bagaimana bisa Rian mendapatkan akses istimewa namun sekarang dengan hiruk pikuk keadaan sekitar bukanlah waktu yang tepat untuk meminta penjelasan.
Di area yang luas dengan banyaknya manusia yang di dominasi para kawula muda sudah berdiri berhamburan dimana-mana, mereka berempat mencoba menerobos masuk melalui sisi pinggir area untuk menuju area depan bagian penonton tepat di depan panggung.
Rian yang lebih dulu maju kini sedang menemui seorang panitia yang berdiri di dekat panggung. Setelah bicara beberapa saat, dua orang panitia bersama Rian menghampiri Irina, Veronica, dan Axel. Kali ini mereka berempat digiring dengan perlindungan untuk dapat berdiri di depan panggung yang hanya berbatas pagar.
Setelah dirasa aman dan mendapatkan posisi yang nyaman, kedua panitia izin mundur untuk kembali ke tugas mereka masing-masing. Veronica berdiri berdampingan dengan Alex, mereka berdua seperti sudah lupa untuk sekedar berbasa-basi mengucapkan terimakasih kepada Rian dan tenggelam dengan kesenangan mereka berdua saling bercanda riang sembari menunggu idola mereka muncul di atas panggung.
Irina yang berdiri di samping Rian menjadi kikuk, sedangkan Rian berusaha bersikap tenang dan menatap fokus ke arah panggung entah untuk apa. Sekilas Ia melihat Irina yang menunduk malu-malu dan mencuri pandang ke arahnya.
"Apa? Aku terlalu tampan?" goda Rian sambil tetap menatap lurus ke depan.
"Apa?" Irina bertanya balik sambil merasakan panas di wajahnya.
"Kamu melihat aku seperti itu, kenapa?" goda Rian lagi.
Irina hanya menuduk malu sedangkan dibalik cara Rian menggoda Irina sebenarnya Rian sedang menutupi perasaannya yang begitu gugup untuk mencari waktu yang tepat menyatakan perasaannya.
Setidaknya Rian sudah tahu bahwa Irina juga menyukainya cukup dengan melihat sikap Irina selama ini, hanya masalah waktu saja.
Belum sempat Rian mencoba menikmati obrolan ringan bersama Irina, idola panggung mereka mulai naik ke atas panggung dan membuat hingar bingar teriakan para kawula muda semakin menggema.
Rian tahu saat ini Ia harus sedikit bersabar sampai konser selesai untuk menuntaskan rencananya, menyatakan perasaan.
***
Dua sosok pria tampan nampak berdiri di barisan belakang keramaian para penonton konser malam itu. Mereka berdua berdiri agak jauh dari barisan seolah tidak berminat untuk bergabung dengan para penggemar lainnya yang terlihat begitu asik menikmati lagu-lagu bawaan dari kelompok band kesayangan mereka.
Kedua sosok pria tampan itu adalah Adrian dan Revano. Adrian sibuk mencari sosok Irina yang tak nampak di matanya.
"Aduh... Adrian! Mereka ada di depan sana. Tadi di rumah Vero sudah cerita kalau mereka akan berada di baris depan atas bantuan teman mereka. Siapa yaa namanya, Rina.. Rizal.. Rika.. Ri..." omel Revano tak memperhatikan ekspresi dingin milik Adrian.
"Rian?!" potong Adrian langsung menyambar kalimat terakhir Revano.
"Ahh.. Iya! Rian!" ucap Revano ringan seolah mendapatkan jawaban dari sebuah tebakan yang sangat sulit baginya.
"Sudah kuduga," Blbatin Adrian.
"Adrian, makan aja yuuk.." ajak Revano yang memang tidak berminat menyaksikan konser.
Adrian menghela nafas panjang dan berpikir Dirinya juga tidak berminat untuk berdiri lama menyaksikan konser.
Akhirnya Adrian memilih untuk pergi makan bersama Revano sembari menunggu konser selesai. Adrian dengar, konser band tersebut tidak akan lama, hanya satu jam dengan memainkan beberapa lagu andalan.
Jadi, menunggu konser sambil makan sepertinya adalah cara yang baik untuk membunuh waktu dan rasa bosan mereka.
"Ayolah Adrian.. Kalau Vero tahu aku menguntitnya seperti ini, Dia pasti ngambek." tukas Revano ringan.
"Jlebb!" jelas sekali kata-kata Revano menusuk perasaan Adrian. Apa bedanya yang dilakukan Adrian saat ini, Irina juga bisa marah besar, bahkan lebih parah daripada marahnya Veronica kepada Revano.
Adrian dan Revano akhirnya pergi mencari makan di tenda-tenda yang menyediakan makanan dan minuman masih di dalam area yang sama dengan area konser berlangsung.
***
1 jam kemudian,
Konser terbuka yang selama satu jam telah berhasil menciptakan suasana hingar bingar di area outdoor Gedung Satria Hall kini telah berakhir.
Satu persatu kawula muda yang tadinya berkumpul untuk bersama-sama mendengarkan lantunan musik dari band kesayangan mereka kini mulai mundur dari area.
Kebanyakan dari mereka mulai mengisi tenda-tenda yang menyediakan makanan dan minuman sedangkan sebagian lagi segera pulang bersamaan dengan band kesayangan mereka pamit mundur diri dari atas panggung.
Sebagai pasangan sejoli, Veronica dan Axel ingin memiliki waktu berdua. Mereka tanpa segan pamit dari Irina dan Rian dan pergi entah kemana.
Tinggalah Rian dan Irina berdua yang kebingungan. Rian mencoba mencairkan suasana kikuk dengan memulai pembicaraan.
"Irina, kamu mau makan?" Rian bertanya dengan ragu-ragu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal serta mengalihkan pandangannya ke ujung sepatunya sendiri.
"Emm.. Boleh..." Irina hanya menjawab singkat dengan malu-malu.
"Ayo, aku sudah lapar," Rian dengan cekatan menarik tangan Irina memasuki salah satu tenda terdekat.
Rian sengaja mengambil tangan Irina untuk digenggam olehnya. Rian bukan pria yang suka bertele-tele dan bersikap misterius. Rian lebih ingin Irina tahu sedikit demi sedikit bahwa ada rasa yang istimewa darinya untuk Irina.
Rian juga menyadari Irina semakin kikuk dan semburat merah nampak jelas diwajah Irina. Belum lagi, dari genggaman tangannya, Rian menyadari telapak tangan Irina ternyata sangat dingin. Rian tersenyum tipis yang tak disadari oleh Irina. Rian semakin mantap untuk menyatakan perasaannya.
***
Usai makan dalam keadaan yang canggung dan hening meskipun sekitar Irina dan Rian sangatlah bising dengan hiruk pikuk keramaian manusia, mereka memilih duduk diam sejenak sambil menikmati minuman masing-masing. Rian tak lagi ingin berbasa-basi, buru-buru Ia menghabiskan minumannya dan mulai menggenggam tangan Irina hingga membuat Irina sedikit terkejut.
"Rian?!" Irina mencoba melepas genggaman Rian.
"Irina, sorry kalau aku lancang," Rian segera melepas genggamannya.
"Ada apa?" Irina menyimpan kedua tangannya di atas pahanya sendiri di balik meja.
"Aku nggak pandai bersikap baik apalagi bicara manis, tapi aku mau kamu tahu aku suka sama kamu..." Rian berhenti sejenak dan memperhatikan reaksi Irina.
"......" Irina hanya diam dan menunduk menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Irina... Kamu mau nggak jadi pacarku?" Rian mengatakan dengan mantap sambil menatap Irina lekat-lekat dan menunggu jawaban Irina.
Irina hanya diam seribu bahasa, sejenak berpikir mempertimbangkan kesediaan dirinya menjadi kekasih Rian. Tentu saja Irina sangat bersedia tapi tiba-tiba saja Ia teringat ucapan Kakaknya, Adrian di waktu lalu yang melarangnya untuk menjalin hubungan dengan seorang pria dalam artian berpacaran.
Tapi pada akhirnya Irina tidak peduli dan menyatakan kesediaannya dengan menganggukkan kepalanya pelan diikuti dengan mimik wajah Rian yang begitu bahagia mendapati keinginannya untuk berpacaran dengan Irina tercapai.
"Jadi, sekarang kita pacaran, kan?" tanya Rian memastikan.
"Iya..." ucap Irina pelan.
Mereka berdua kini memilih keluar dari tenda kuliner dan berkeliling sejenak menghirup udara malam dan menikmati kebersamaan mereka berjalan berdampingan dengan status baru mereka yang baru saja mereka patenkan sebagai sepasang kekasih.
Lelah mengelilingi seluruh area, kini mereka duduk manis di tepi kolam air mancur yang berada kokoh di tengah area luas Gedung Satria Hall.
Mereka hanya duduk diam, Rian mencoba mencairkan suasana dengan membeli es krim untuk dimakan berdua.
Ketika sepasang sejoli tersebut sedang menikmati es krim sambil bersenda gurau bersama, sesungguhnya sedari tadi ada dua sosok pria yang terus mengikuti gerak-gerik mereka. Tentu saja dua pria itu adalah Adrian dan Revano.
"Mau disamperin atau nggak?" tanya Revano dengan polos.
"Nggak. Kita lihat saja," ucap Adrian dingin yang tak disadari Revano sebenarnya merupakan sikap cemburu terhadap kebersamaan Irina dan Rian.
"Kamu berlebihan, biarkan saja mereka. Irina sudah dewasa, wajar bila akhirnya punya pacar," ucap Revano dengan ringan.
"Diam!" celetuk Adrian datar.
"Dasar, overprotective!" celetuk Revano.
Adrian terus memerhatikan Irina dari kejauhan. Menepis semua rasa cemburu dan kesal dalam Dirinya, serta berusaha tenang. Adrian merasa bahwa dirinya tidak boleh gegabah dan bersikap impulsif.
Strateginya sudah sangat matang, Ia tak boleh merusaknya dengan tindakan yang memancing emosinya sekecil apapun.
Semua sudah diperhitungkan Adrian. Kali ini Ia hanya berencana mengawasi Irina hingga pulang ke rumah.
***
.
.
.
BERSAMBUNG...!
__ADS_1