SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 24. Berdua di Kafe


__ADS_3

Adrian telah sampai di sebuah toko yang khusus menjual keperluan bepergian, mulai dari bantal leher, tas jinjing, mantel, koper dan lainnya. Mata Adrian tak tertarik untuk melihat ke barang-barang dagangan yang ditampilkan dengan menarik. Adrian hanya fokus pada kebutuhannya, koper.


Ya, Adrian sedang membutuhkan koper.


Deretan koper yang dominan berbentuk kotak dan memiliki roda-roda kecil di keempat sudut sisi bawahnya terlihat tersusun dengan rapi, mulai dari yang warna hitam polos hingga warna-warna cerah beragam corak, mulai dari yang ukuran kecil hingga sangat besar sehingga rasanya mampu memuat seisi lemari pakaian.


Beragam pilihan untuk mewakili karakter pemiliknya, kira-kira begitulah kesan yang ingin ditampilkan dari ragam koper yang ditawarkan.


"Halo Kak, ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang wanita muda yang merupakan salah satu karyawan toko tersebut lengkap dengan bahasa tubuh yang santun dan senyum manis.


Adrian yang sedaritadi hanya diam dan tenggelam dalam lamunannya kini tersadar bahwa seseorang sedang menuntutnya untuk berinteraksi sosial.


Adrian berdehem sejenak, suaranya sudah lama tercekat di tenggorokan karena sejak tadi hanya diam sehingga Ia harus sedikit melakukan pemanasan sebelum membuka suara.


"Saya sedang membutuhkan koper," jawab Adrian singkat sambil menunjuk secara acak kepada deretan koper yang tersedia.


"Ukuran seperti apa kak? Untuk kakak sendiri atau bagaimana? Kita memiliki beragam pilihan koper yang bisa disesuaikan dengan selera kakak." ucapnya lagi sesuai dengan standar operasi pelayanan yang telah dipelajarinya sebagai strategi marketing.


Adrian tidak terlalu suka situasi interaksi yang muluk-muluk semacam ini, toh Adrian lebih tahu yang dibutuhkannya dan tak perlu rasanya merincikan apapun hanya untuk sebuah koper.


Yang paling diperlukan dalam kegiatan konsumtif hanyalah keseimbangan antara kebutuhan dan biaya. Sudah, itu saja cukup.


Adrian membutuhkan koper dengan biaya sekian yang mampu dikeluarkannya, maka Ia akan mencari titik temu keseimbangan diantara keduanya.


"Saya hanya memerlukan koper kecil," ucap Adrian singkat lalu mendekati sebuah koper hitam polos kecil dan memusatkan perhatiannya pada label harga. Sesuai kebutuhan dan sesuai harga yang sanggup dibelinya.


"Ini saja," ucapnya lagi singkat.


Wanita pelayan toko kembali tersenyum manis dan bersiap untuk mengemas koper pilihan Adrian. Transaksi terjadi secara singkat dan cepat, itu membuat pelayan toko merasa senang karena tak perlu berbasa-basi ria untuk melayani pembeli sejenis Adrian namun tetap memberi hasil yang diperlukan: barang dagangan terjual.


"Terimakasih kakak," ucap pelayan toko dengan senyum manis sembari menangkupkan kedua telapak tangan sebagai rasa hormat kepada pelanggan setelah menyerahkan koper pilihan Adrian.


***

__ADS_1


Di kafe,


"Mau pesan apa, tante?" tanya Rian dengan senyum jahil ketika Irina telah duduk manis dihadapannya.


"Chocoforest frappe ice blended aja deh," ucap Irina setelah membaca dengan seksama beragam menu yang tertera tepat di atas area bartender.


"Siap tante! Tunggu yaa..."


Rian segera beranjak dari tempat duduknya, mendekati meja bar tempat memesan makanan dan minuman di kafe tersebut.


Untungnya antrian yang tadinya terlihat panjang telah habis hanya menyisakan dua orang di depannya. Beruntung sekali Irina, dia akan segera mendapatkan pesanannya tanpa harus menunggu lama.


"Chicken pastry puff, om!" ucap Irina agak menyaringkan sedikit suaranya agar terdengar oleh Rian yang sudah sedikit jauh dari posisi meja mereka.


Rian hanya menoleh ke arah Irina secara singkat dan menunjukkan jempol kanannya tanda paham dengan perintah Irina yang kemudian dibalas Irina dengan senyum termanisnya.


Bagi Irina, bersama Rian sangat menyenangkan.


Baru saja bertemu, Irina merasa senang, tidak tegang, tidak kaku. Intinya tidak seperti saat dia bersama dengan....


Tak butuh waktu yang lama sampai Rian datang kembali dengan membawa satu wadah berisi chicken puff pastry di tangan kanannya dan segelas chocoforest frappe ice blended di tangan kirinya.


Rian sengaja menunjukkan gesture tubuh seperti seorang pelayan bangsawan ketika meletakkan bawaannya di atas meja tepat dihadapan Irina.


"Silahkan tante, selamat menikmati," ucap Rian dengan nada usil bak pelayan kelas elit yang dihadiahi cubitan kecil oleh Irina di lengannya.


"Usil!" celetuk Irina segera menyeruput minuman dinginnya.


Rian hanya meringis yang dibuat berlebihan sembari mengusap lengannya berulang kali lalu kembali duduk di kursinya sendiri. Irina sendiri tahu cubitannya tidaklah menyakitkan karena itu ia tak begitu peduli dengan kelakuan Rian yang terkesan kesakitan.


"Ternyata, tante satu ini sangat kasar sekali, ck.. ck..." Rian berdecak usil sambil terus memperhatikan Irina.


"Baru tahu yaa, om?" celetuk Irina dengan angkuh.

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu sambil bercanda bersama, menikmati makanan dan minumannya, melepas rindu yang sesungguhnya tak perlu sebab esok hari mereka mulai bertemu kembali secara terus menerus di sekolah sebagai teman sebangku dan sebagai sepasang kekasih tentunya.


Tapi...


Mereka tak peduli.


Hari ini mereka ingin duduk bersama, bersenda gurau, menikmati indahnya suasana mall yang memanjakan jiwa-jiwa manusia haus akan hiburan dan rasa nyaman.


"Ting!"


Gawai milik Rian berdenting, membuat Irina dan Rian sentak terdiam setelah sebelumnya asyik cekikikan menertawakan canda tawa receh milik mereka berdua. Rian mengambil gawainya, membuka pesan masuk yang kemudian membuat air mukanya berubah serius.


"Ada apa, om?" tanya Irina yang merasakan perubahan wajah Rian setelah membaca pesan masuk dari gawai miliknya.


Rian menepuk halus jidatnya lalu melihat ke arah jam tangan digital berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


"Tante, aku lupa kalau tadi Bunda memintaku menjemputnya, sekarang sudah telat lima belas menit!" ucap Rian cengengesan sembari menggaruk topinya.


Iya, topi. Maksudnya Rian ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal tapi lupa sedang memakai topi. Tingkahnya membuat Irina cekikikan.


"Ya ampun, buruan dijemput!" usir Irina yang sebenarnya juga tak ingin dilakukannya tapi masalahnya Irina tahu diri, siapalah Irina sampai berani menahan Rian dari urusan keluarganya.


"Pantas saja, tadi Rian tidak keberatan bertemu langsung di mall. Bisa dipastikan tadi dia pergi bersama bundanya," batin Irina.


Rian tak henti-hentinya mengucap kata maaf sebelum benar-benar meninggalkan Irina sendiri di dalam kafe. Irina sendiri mengimbangi rasa bersalah Rian dengan berkali-kali juga mengatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan.


Irina yang tengah duduk sendiri kini menyadari bahwa hampir satu jam kebersamaannya dengan Rian membuatnya lupa dengan Adrian. Dengan cepat Irina meluncurkan pesan singkat kepada Adrian agar segera menemuinya di kafe dan menjelaskan bahwa Rian sudah pergi.


Sebenarnya, Irina tidak sadar bahwa Adrian sejak selesai membeli koper dalam waktu yang sesingkat-singkatnya telah duduk manis di sebuah kafe lainnya yang berhadapan dengan kafe yang ditempati Rian dan Irina.


Sejak tadi, Adrian sibuk menyeruput secangkir espresso sembari memperhatikan Rian dan Irina dari kejauhan. Adrian menantang diri menjadi masokis.


"Cih, sekarang baru ingat diriku!" rutuk Adrian setelah membaca pesan singkat dari Irina lalu segera beranjak dari tempat duduknya setelah meneguk habis espresso miliknya untuk kemudian mendatangi Irina.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG~


__ADS_2