SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 9. Cinta Pertama


__ADS_3

Malam hari di kamar yang hening dan hanya diterangi oleh sedikit cahaya remang dari lampu tidur, terlihat sosok lelaki tampan terbaring di tempat tidurnya.


Yaa! Dialah Adrian.


Ia berbaring terlentang di kasurnya. Satu lengannya digunakan untuk menutupi kedua matanya. Adrian sedang berpikir keras. Masih terngiang-ngiang di telinganya setiap kata yang dilontarkan Irina tadi sore.


"Memang kenapa? Cemburu?!"


Ah! Kata-kata Irina benar-benar membuat Adrian tertohok. Membalas perkataan Irina pun, Adrian tidak sanggup. Adrian hanya bisa terdiam dan melihat sosok Irina yang berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri dan meninggalkan Adrian yang masih berdiri mematung sesaat lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya juga.


Adrian kesal dengan dirinya sendiri. Kehidupannya terasa begitu rumit. Terkadang Ia ingin menyerah dengan komitmennya sendiri. Menyerah untuk menutup rapat-rapat rahasia yang harus dia tanggung sendiri sejak enam tahun yang lalu, saat dia beranjak remaja awal.


Kala itu, sebagai seorang anak laki-laki remaja yang beranjak dewasa, memikul beban rahasia yang dia alami tentunya bukan suatu yang mudah. Bagaimana dirinya harus bersikap, bagaimana dirinya harus menerima keadaan, bagaimana dirinya harus memilih komitmen yang ingin dipegang, semua itu harus dia fikirkan matang-matang di usianya yang masih belia.


Jika bukan karena ketulusan kasih sayang Marinka dan Riffan Domino kepadanya, mungkin Adrian sudah memilih untuk mundur dan menyerah.


Ah... Tidak! Bukan begitu sebenarnya!


Sebenarnya itu hanya alasan klise Adrian saja. Ada hal lain yang mampu membuat Adrian bertahan dengan komitmennya, sedangkan semua curahan kasih sayang Marinka dan Domino menjadi bentuk dukungan terbaik bagi dirinya. Hal yang membuat Adrian yakin bahwa serumit apapun beban yang harus dia pikul, bertahan dengan komitmennya adalah pilihan yang terbaik.


Lagipula Riffan Domino sebagai Ayahnya, tidak pernah memaksanya untuk memikul komitmen yang dipilih olehnya. Meskipun berat, Adrian tidak merasa terpaksa, hanya ada kalanya Dia sendiri sedikit kelelahan dan kesal dengan situasi yang Dia hadapi. Setiap kali Ia ingin menyerah, Ia teringat satu hal penting yang membuat dia sadar bahwa semua yang telah Ia alami dan harus ia hadapi adalah sebuah TAKDIR.


"AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!!"


Adrian memantapkan perasaannya kembali, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu kemudian meletakkannya di bawah kepalanya. Kini matanya menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Dirinya mengingat kembali masa-masa dimana Ia menyadari akan satu hal yang membuatnya bertahan dengan komitmen pilihannya.


***


Kediaman Keluarga Domino, enam tahun yang lalu....


"Adrian, ada yang harus Ayah bicarakan denganmu..."


"Ada apa, Ayah?


"


"Duduklah dulu, Nak..."


Adrian yang sedari tadi berdiri, kini duduk di sofa yang terletak di dekatnya. Saat ini Adrian dan Riffan sedang berada di ruangan kerja pribadi milik Riffan. Riffan duduk dengan penuh wibawa di kursi kantornya. Menghela nafas berat dan terlihat bingung harus memulai pembicaraan darimana.


Ia mencoba mengendalikan rasa canggungnya dengan membenarkan letak gagang kacamatanya.


"Ada apa, Ayah?" Adrian menatap dengan wajah polosnya.


Pertanyaan singkat yang diucapkan Adrian menyadarkan Riffan dari kebingungannya. Perlahan tapi pasti, Riffan mulai kembali fokus menyampaikan maksud dan tujuannya memanggil Adrian untuk bicara empat mata.


"Adrian... Tak terasa sekarang kamu sudah beranjak dewasa. Sekarang kamu sudah resmi menjadi anak SMP, di usiamu sekarang Ayah yakin kamu sudah bisa memahami apa yang akan Ayah sampaikan."


Adrian hanya diam dan terus menunggu kelanjutan kata-kata Ayahnya. Adrian mulai memasang mimik wajah serius.


"Adrian, di dalam bisnis keluarga ada aturan yang harus dijunjung tinggi, salah satunya adalah mewariskan harta dan kekuasaan pada anak kandung, dan Irina adalah satu-satunya anak kandung yang Ayah miliki,"


"Ayah, kenapa Ayah membahas hal ini? Aku sangat sadar posisiku, Ayah tidak perlu khawatir,"


"Adrian... Ayah tidak khawatir. Justru karena Ayah sangat bangga dan sayang kepadamu, Ayah sangat menginginkan kelak kamulah yang akan menjadi penerus Ayah."


"Maksud Ayah?"


"Ayah ingin kelak bila waktunya tiba, kamu menikahi Irina. Ayah akan siapkan kamu menjadi seorang pebisnis yang handal dengan segala pendidikan yang berkualitas. Dengan menikahi Irina, maka secara otomatis kamulah yang memegang kendali perusahaan sebagai suami dari anak kandung Ayah."


"Tunggu, itu... aku... maksudku... Irina adalah adikku,"


"Bukan adik kandungmu,"


"Tapi, Ayah...."


"Adrian, dengarkan Ayah. Apa kau menyayangi Irina?"


"Iya, aku sayang Irina Ayah, tapi maksudku sebagai adik,"


"Kalau begitu, mulailah melihatnya sebagai seorang perempuan asing dalam hidupmu."


"Apa???"


"Huffh... Adrian, Ayah tahu ini seperti memaksamu. Tapi Ayah, bahkan juga Ibumu percaya, pertemuan Kami denganmu di masa lalu adalah sebuah takdir. Kami percaya padamu, kau juga memperlihatkan bakat yang semakin membuat Kami yakin bahwa Kami tidak salah. Tapi, semua Ayah kembalikan kepadamu, Nak."


"Kenapa Ayah sampaikan hal semacam ini sekarang? Bukankah aku terlalu muda untuk urusan begini?"


"Justru inilah saat yang tepat. Karena jika Ayah menundanya, kelak kau akan terus melihat Irina sebagai sekedar adik. Adrian, lihatlah Irina sebagai tunanganmu."


Adrian terdiam. Baginya topik pembicaraan kali ini begitu membingungkan, begitu berat dan tak pernah disangka olehnya. Baru saja sebulan dia beradaptasi sebagai seorang siswa SMP, kali ini dia harus beradaptasi pada sesuatu yang terasa tak lazim.


Dia harus melihat Adik yang sangat disayanginya sebagai seorang tunangan. Yaa, tunangan!

__ADS_1


"Adrian... " Riffan menyadarkan Adrian dari diamnya.


Entah Adrian tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang bisa dia pikirkan saat ini hanyalah Ia butuh waktu untuk memikirkan hal yang disampaikan oleh Ayahnya.


"Ayah, bisakah beri aku waktu setidaknya seminggu?"


"Baiklah, Nak. Ayah tidak keberatan. Tapi Adrian, walaupun Ayah dan Ibumu sangat menginginkan kamu kelak menjadi penerus bisnis Ayah dan menjadi suami dari Irina, kami tidak akan memaksamu. Pikirkanlah baik-baik."


***


Keesokan harinya...


Sejak pembicaraan yang terjadi antara Adrian dengan Ayahnya, entah kenapa Adrian menjadi agak canggung dengan Irina.


Adrian tidak tahu harus bersikap seperti apa, Ia melihat Irina sebagai adik yang dia sayangi namun kali ini Ia harus melihat Irina sebagai seorang tunangan.


Walaupun belum dipastikan karena tetap menunggu kesediaan Adrian sendiri, tapi tetap saja.... rasanya aneh!


Di usianya yang masih baru beranjak dewasa, itu sungguh sangat aneh. Adrian bahkan belum mengerti rasanya jatuh cinta, memandang seorang teman perempuan sebagai makhluk yang mengagumkan pun belum pernah dialaminya. Dan sekarang, tiba-tiba saja Dia sudah memiliki seorang tunangan??


Beradaptasi menjadi murid SMP saja sudah cukup menguras tenaga dan pikiran, kali ini Adrian harus memikirkan sebuah pilihan yang rasanya terlalu dini untuk Dia jalani.


Seperti pagi ini, Adrian jadi begitu kesal dengan sifat manja Irina sebelum berangkat sekolah di dalam mobil. Irina bergelayut manja ditangannya, bercerita dengan ceria, juga berkeluh kesah sedih karena tak satu sekolah dengan Adrian lagi. Irina juga dengan lugunya memuji Adrian yang terlihat tampan dengan seragam barunya. Semua itu hanya membuat Adrian semakin canggung.


Komitmen yang ditawarkan Ayahnya membuat Adrian merasa ada dinding tipis tak kasat mata antara dirinya dan Irina. Adrian hanya diam membuang pandangannya ke luar kaca jendela mobil.


Tak lama, Irina tersadar sikap Adrian agak aneh. Biasanya Adrian akan meladeni cerita-cerita ringan milik Irina sembari menunggu waktu tibanya mereka di sekolah masing-masing. Tapi kali ini, Adrian hanya diam.


"Kakak, ada apa?" Irina menatap Adrian dengan lugu.


"Hah?" Adrian menoleh ke arah Irina, tersadar akan lamunannya.


Irina memicingkan mata ke arah Adrian, menatap lekat wajah Adrian. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Adrian.


"Kakak, kenapa sih?" Irina menyelidik.


Adrian hanya menelan ludah, merasa sangat canggung. Mendadak hari ini sejak Ia terbangun dari tidurnya, Adrian tak bisa bersikap lebih lepas terhadap Irina. Belum sempat Adrian menjawab, mobil berhenti.


Ternyata mereka telah sampai di gedung sekolah Irina. Adrian segera memperbaiki posisi duduk dan mengingatkan Irina untuk segera turun dari mobil.


"Cepat turun, nanti kamu terlambat!"


Irina menunjukkan wajah manyunnya. Namun Ia segera mengenakan tasnya dan turun dari mobil.


Bagaimanapun juga Irina masih anak-anak, seorang murid kelas 5 SD. Meskipun dia merasa kakaknya sedang tidak asik diajak bicara, Ia tidak memikirkan terlalu jauh penyebabnya.


"Daaah... Kakak~" Irina menunjukkan wajah ceria.


"Dadaaah, Pak Jo...." Irina tak melupakan supir mereka.


Mobil kini melesat meninggalkan sekolah Irina, hanya memerlukan beberapa menit lagi untuk tiba di sekolah baru Adrian. Adrian masih termenung sendiri, sedikit terbayang kelakuan Irina.


Adrian merasa kesal dengan Irina yang terlalu lugu juga kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa bersikap lepas terhadap Irina. Menyebalkan!


***


Sudah memasuki hari kelima sejak pembicaraannya dengan Ayahnya. Setiap hari, Adrian masih terus bersikap canggung dan semakin dingin terhadap Irina.


Tumbuh rasa kesal yang begitu tinggi melihat Irina yang selalu bersikap lugu dan ceria di depan Adrian. Itu seperti sebuah gangguan yang menyebalkan untuk Adrian yang sedang menata diri. Sikap canggung tak bisa dikendalikan oleh Adrian, ditambah lagi dengan semua kegiatan sekolah yang harus dia jalani.


Lelah membuatnya semakin kebingungan.


Riffan dan Marinka menyadari sikap Adrian namun mereka tak ingin mengusik Adrian hingga waktu yang telah diminta oleh Adrian yakni 7 hari.


Irina mulai menyadari sikap dingin dari Adrian. Irina begitu merasa aneh dan kehilangan sosok kakaknya yang hangat.


Setiap malam Irina mengadu pada orangtuanya namun yang Ia dengar hanyalah nasehat harus memaklumi Adrian yang lelah dengan rutinitasnya sebagai anak SMP.


"Apa sekolah SMP sesibuk itu?" Batin Irina.


***


Setiap hari Irina melihat dengan iba terhadap Adrian. Adrian begitu terlihat lelah dan sulit diajak bicara. Dia begitu dingin.


Hal ini membuat Irina menjadi sedih, sesekali dia menangis di kamarnya karena merasa kehilangan kakak yang memanjakannya. Irina jadi malas makan, dan ternyata di sekolah pun Irina tidak makan dengan baik dan tidak begitu bersemangat belajar di sekolah.


Hari ini pelajaran olahraga di sekolah Irina. Irina dan teman-temannya berbaris di lapangan melakukan pemanasan. Entah kenapa, hari itu matahari sudah begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Pagi itu terasa lebih terik dari biasanya. Irina tiba-tiba saja merasa begitu pusing, penglihatannya terasa gelap, lalu....


"BRUKKKK!!!"


"Irina!"


"Irina!"

__ADS_1


"Irina!"


Irina terjatuh ke lantai lapangan dengan keras. Naas, lantai lapangan berbahan semen keras dan Irina berdiri di tepi lapangan yang terdapat bebatuan kecil dipinggirannya.


Kepala Irina terluka, menghantam bebatuan. Sayup-sayup Irina hanya mendengar suara teman-teman sekelilingnya memanggil namanya. Suara yang lambat laun menghilang, hanya ada keheningan dan gelap hingga waktu terasa berhenti, sebuah ruang hampa.


"Irina.... Irina...."


Irina mendengar sayup-sayup sebuah suara yang sangat dikenalnya. Suara yang telah lama tak di dengarnya dengan lembut. Irina merasakan aliran kehangatan dalam genggaman tangannya, seseorang menggenggam tangannya.


Dia mencoba membuka matanya yang terasa berat, samar-samar cahaya masuk kedalam penglihatannya. Dia tahu bahwa saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Ia melihat sosok Ibunya yang menangis di pelukan Ayahnya. Dan Irina melihat Adrian! Iya, Adrian lah yang duduk disampingnya, menggenggam tangannya, dan terus memanggil namanya dengan lembut.


"Kakak.... " Irina tersenyum lembut melihat Adrian.


"DEG!" Adrian merasa debaran jantungnya berhenti seketika.


Baru saja Adrian merasa sangat takut kehilangan Irina dan kini Ia merasa begitu bahagia melihat Irina telah sadarkan diri.


Sekilas Adrian melihat ke arah Ayah dan Ibunya. Dia sangat tahu betapa bahagianya orangtuanya melihat senyum Irina yang begitu bahagia saat ini.


Adrian kembali merasa canggung. Pelan-pelan Ia melepas genggaman tangannya. Tersenyum simpul terhadap Irina agar Irina tidak merasa tersinggung.


Adrian izin ingin membeli minuman di luar sebentar, tak lama Ayahnya mengikutinya dan menghentikan langkah Adrian. Mereka duduk berdua di kursi ruang tunggu.


"Adrian, apa kau baik-baik saja?"


"Ayah, aku baik-baik saja. Aku hanya...."


"Apa kau membenci Irina?"


"Hah? Mana mungkin!"


"Lalu kenapa? Kenapa kau jadi dingin?"


"Ayah, aku tidak tahu aku kenapa? Sejak aku tahu mengenai usulan bertunangan dengan Irina, aku jadi begini dan aku tidak tahu aku kenapa?"


"Apa kita batalkan saja?"


"JANGAN!!!"


Riffan melihat Adrian dengan heran sedangkan Adrian sendiri merasa aneh dengan jawaban refleks yang dikeluarkannya.


"Kenapa? Kenapa aku tidak mau dibatalkan?" Adrian bertanya-tanya dalam hatinya sendiri.


Riffan tersenyum lembut dan mengusap kepala Adrian. Ia pamit untuk kembali ke dalam ruangan dimana Irina dirawat.


"Adrian, kamu masih punya waktu 2 hari untuk membuat keputusan, santai saja. Tetaplah bersekolah, Irina hanya terbentur ringan, nanti sore mungkin sudah keluar dari rumah sakit."


Riffan berlalu meninggalkan Adrian. Sedangkan Adrian memilih kembali ke sekolah diantar oleh Pak Jo, supir mereka.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, jantung Adrian terus berdebar-debar mengingat spontanitas jawabannya ketika bersama Ayahnya.


Semburat merah merona juga menghiasi wajahnya yang sedari tadi hanya membuang muka ke luar jendela mobil.


"Astaga, aku ini kenapa?!"


Adrian perlahan memegang dadanya, debaran jantung tak bisa Ia kendalikan. Sikap canggung, kesal, bahkan dingin terhadap Irina tak bisa Ia kendalikan. Adrian mengira selama ini Ia jadi membenci Irina sejak Ia merasa ada dinding batas tak kasat mata yang membuatnya tak bisa melihat Irina murni sebagai seorang adik lagi.


Tapi kenyataannya, melihat Irina terluka dan terbaring lemah, ada rasa takut kehilangan. Sungguh berlebihan mengingat Irina hanya cedera ringan akibat jatuh pingsan. Bahkan ketika Ayahnya menawarkan pembatalan perjanjian, Adrian tak bersedia. Perasaan yang kacau!


***


Sejak hari dimana Irina terluka, Adrian masih sama dalam bersikap dingin. Tidak ada yang berubah.


Hanya satu hal yang berubah, Adrian menyadari perasaannya dan hari ini setelah memasuki hari ketujuh yang disepakati, Adrian menyampaikan kesanggupannya untuk menjadi tunangan Irina.


Ya, Adrian bersedia!


Hanya saja, Adrian memiliki beberapa hal yang harus disepakati oleh kedua orangtuanya yakni membiarkan dirinya bersikap dingin terhadap Irina dan melarang mereka untuk memberitahukan hal ini kepada Irina sampai waktu yang tepat bagi Adrian untuk menyampaikan rahasia komitmen ini.


Riffan dan Marinka tahu, Adrian adalah anak yang cerdas dan dewasa, mereka tak keberatan dengan semua keputusan Adrian. Mereka yakin semua itu adalah yang terbaik bagi keluarga mereka.


Mereka sudah cukup bahagia atas kesediaan Adrian. Terutama Riffan, dia sangat tahu Adrian sangat berbakat untuk meneruskan bisnis miliknya.


Adrian adalah permata yang mereka temukan dari banyak tumpukan bebatuan. Jatuh sendiri dari tumpukan batu yang begitu banyak tanpa perlu Riffan berusaha merogoh tumpukan bebatuan tersebut dengan susah payah. Kehadiran Adrian adalah takdir dalam kehidupan keluarganya, juga kelak bagi Irina putri kesayangannya.


***


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...!



__ADS_2