SWEET COVENANT

SWEET COVENANT
Sweet Covenant - 12. Sepasang Kekasih


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Domino,


Irina masih terlelap di tempat tidurnya ketika sinar matahari pagi telah samar-samar mengintip dari balik jendela kamarnya, memberikan kehangatan yang menembus seisi ruangan kamar.


Jam kecil sederhana berbentuk kubus berwarna merah muda yang selalu setia bertengger di atas meja sudut tempat tidurnya telah menunjukkan pukul 09.00 AM.


Irina telah tidur lebih lama dari biasanya. Dan hal pertama yang bisa dipikirkannya pagi ini adalah kebersamaannya dengan Rian semalam.


Ini adalah hari minggu.


Setelah semalam menghabiskan malam minggu bersama Rian di acara konser Marshall Band, kini Irina hanya ingin bermalas-malasan sejenak.


Momen semalam membuat Irina harus tidur lebih larut dari jam tidur biasanya. Itupun bukan karena Irina terlalu lama menghabiskan waktu bersama Rian, melainkan sepanjang perjalanan pulang arus lalu lintas sangat padat, sehingga menghabiskan waktu lebih lama untuk tiba di rumah. Untungnya, Irina tidak mendapati teguran dari Ayah dan Ibunya, semua berkat Rian yang begitu santun bersikap dan memberi penjelasan kepada kedua orangtuanya didukung oleh sifat dasar keduanya yang penuh dengan kasih sayang.


Irina yang masih merasa malas untuk beranjak dari tempat tidurnya tersenyum kecil mengingat kejadian semalam, bagaimana Ia terpesona dengan sikap Rian yang terasa begitu bertanggung jawab terhadap dirinya.


Rian memang tipe pria yang tak suka basa basi, cuek dan apa adanya. Segala kemauan, keinginan, kesukaan, maupun sebaliknya langsung diutarakan begitu saja. Tidak ada kepalsuan.


"Om, Tante... Maaf saya terlambat mengantar Irina kembali pulang. Saya sudah berusaha membawanya pulang di jam 9 malam, tapi perjalanan sangat macet. Jadi, akhirnya jam pulang menjadi meleset. Salahkan saya saja bila Om dan Tante merasa kecewa." Rian berucap dengan tegas di hadapan Riffan dan Marinka yang berdiri berdampingan di depan pintu masuk rumah mereka.


"Oh, Tidak... Kami mengerti. Mari, mampir dulu." Ucap Riffan ramah sekedar basa-basi diikuti senyuman hangat dari Marinka sebagai sambutan ramah untuk Rian.


"Nggak usah Om... Tante... Ini sudah sangat malam dan saya hanya ingin memberi penjelasan atas keterlambatan saya mengantar Irina pulang." Rian buru-buru menolak sambil memberi tanda dengan lambaian tangannya yang berulang bahwa Dia tidak bisa menerima tawaran Riffan.


Malam itu dalam diamnya Irina merasa bahagia dan begitu terpesona dengan sikap Rian. Semburat rona merah di wajahnya tak bisa Ia sembunyikan, terasa panas dan membuatnya ingin segera berlari ke dalam kamarnya serta tenggelam dalam kebahagiaan sendiri.


***


Di ruang kerja Riffan,


Pagi itu Riffan sudah duduk manis di kursi kerjanya. Penampilannya sudah nampak rapi, suasana hari libur yang cerah tak membuatnya tergoda untuk bermalas-malasan seperti kebanyakan manusia pada umumnya dalan menikmati hari libur.


Ia baru saja selesai sarapan sebelum kemudian Ia memilih memasuki ruang kerjanya dan mengajak Adrian untuk turut serta mengikutinya.


Sosok pria remaja tingkat akhir yang juga begitu tampan dan rapi terlihat berdiri tenang menatap keluar jendela di ruangan kerja itu.


Tentu saja sosok itu adalah Adrian, sedang menatap indahnya pagi yang cerah hari ini dengan menyembunyikan pikiran kalut di kepalanya. Suasana ini terasa seperti dejavu yang sebelumnya pernah dilewati bersama Ayahnya.


Entah apa yang akan dibicarakan oleh Ayahnya kali ini mengingat kejadian semalam dimana Adrian membiarkan Irina menghabiskan waktu bersama dengan Rian meskipun diam-diam masih dalam pengawasannnya.


"Jadi, semalam Irina menghabiskan waktu bersama anak itu?" Tanya Riffan tanpa basa basi sambil membetulkan gagang kacamatanya kemudian menatap sosok Adrian yang terpaku sembari menunggu jawabannya.


"Iya, Ayah." Jawab Adrian singkat, hanya tetap menatap keluar jendela.


"Adrian, apa yang kau pikirkan? Membiarkan Irina bersama laki-laki lain? Kau lupa, siapa dirimu? Kau tunangannya. Apa kau berubah pikiran?" Cercah Riffan yang kini mulai beranjak dari kursi kerjanya yang nyaman dan memilih untuk bersandar di salah satu tepi meja kerjanya yang kokoh yang tak mungkin bergeser meskipun menopang berat tubuhnya.


"Ayah, aku tetap mengawasi Irina dari kejauhan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Percayalah." Adrian mencoba meyakinkan Ayahnya.


"Iya, Ayah paham. Tapi bagaimana denganmu? Apa kau berubah pikiran?" Riffan masih menekankan pada pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, belum puas dengan jawaban Adrian.


Adrian menghela nafas berat, kali ini dirinya membutuhkan jeda waktu untuk menjawab pertanyaan Ayahnya.


Adrian mencoba mencari kenyamanan dengan memilih duduk terlebih dulu di sofa empuk di dalam ruangan kerja tersebut. Sedangkan Riffan masih tetap dengan posisinya dan menatap Adrian tajam. Riffan masih menunggu jawaban Adrian.


"Ayah, aku tidak berubah pikiran. Aku... hanya tidak ingin terus-terusan menjadi figur seorang kakak yang dingin dan diktator untuk Irina. Bukankah Ayah sendiri yang memintaku untuk bersikap lebih hangat kepada Irina?" Adrian balik bertanya.

__ADS_1


Kini gantian Riffan yang menghela nafas berat mendengar kata-kata yang diucapkan Adrian. Riffan akhirnya memilih untuk ikut duduk di sofa empuk yang sama dengan sofa yang sedang diduduki oleh Adrian. Mereka kini duduk berhadapan. Riffan menatap Adrian dengan seksama tanpa meninggalkan kesan hangat yang penuh kasih sayang.


"Adrian... Apa sebenarnya yang kau pikirkan saat ini?" Tanya Riffan singkat dan tak bertele-tele.


"Ayah, Irina dan Rian mungkin setelah semalam telah memutuskan menjalin hubungan. Aku rasa mereka berpacaran."


"APA?!"


Riffan begitu terkejut, hingga hampir beranjak dari sofa yang belum ada semenit didudukinya.


Adrian hanya bisa diam membisu dan mematung. Sedangkan Riffan segera melepas kacamatanya dengan kasar dan mengusap wajahnya.


"Ayah, tenang dulu. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan Irina. Tidak untuk saat ini." Ucap Adrian sedikit lirih, tak yakin dengan keputusannya.


"Adrian....... Ayah tidak bisa memikirkan solusi apapun saat ini." Riffan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Ayah, biarkan Irina bahagia dengan kesenangannya, saat ini aku juga butuh fokus untuk ujian akhir. Lagipula, aku masih butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa bersama Irina sebagai tunangan. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk merusak semuanya. Aku rasa aku hanya bisa mengikhlaskan Irina, membiarkannya merasakan indahnya menjadi sepasang kekasih di masa SMA-nya. Percayalah padaku, aku tidak pernah berubah pikiran." Adrian mencoba menjelaskan dengan tenang dan penuh keyakinan.


Riffan kembali duduk dengan posisi tegap di sofanya, menggunakan kacamatanya kembali, menunjukkan sosok pria paruh baya yang kharismatik dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai angkat bicara.


"Nak, memang Ayah tidak pernah meragukanmu. Kemampuanmu, kecerdasanmu, bakatmu, semua tidak bisa dipungkiri kualitasnya. Tapi Ayah khawatir semua itu tidak sejalan dengan caramu menggunakan perasaan. Ayah khawatir sikapmu yang pasif hanya membuatmu sulit kedepannya."


Adrian terdiam sejenak.


"Tidak Ayah, aku memilih membiarkan Irina bahagia dengan caranya sendiri. Apa Ayah dan Ibu tidak sedih melihat Irina selama ini yang diam-diam merasa tertekan dengan sikapku?" Tanya Adrian cepat.


"Nak, masih ada cara lain untuk membuat Irina bahagia. Bukan seperti ini. Kau mungkin tidak sadar, saat ini sepertinya Kau hanya merasa kalah karena kenyataannya Irina kini mulai jatuh cinta tapi bukan untukmu."


"JLEB!"


Sungguh pernyataan Riffan membuat Adrian merasa tertohok. Mungkin memang benar adanya, lagipula hati Irina yang kini jatuh cinta tidak pernah dalam prediksi Adrian selama ini.


"Sudahlah, Ayah percaya padamu. Nanti Ayah akan bicarakan dengan Ibumu ketika luang. Dan, sebaiknya Kau jangan lupa mempersiapkan berkas yang harus Kau siapkan untuk langkahmu setelah selesai sekolah SMA-mu. Minggu depan Kau juga mulai ujian, belajarlah dengan baik."


Riffan bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Adrian yang masih terpaku di posisi duduknya. Adrian menunduk menatap kakinya sendiri yang masih terdiam di pijakannya pada ubin lantai. Riffan menepuk pundak Adrian sebanyak dua kali dengan lembut, mencoba menunjukkan sikap mendukung sebelum akhirnya memilih keluar dari ruangan kerjanya, meninggalkan Adrian sendirian.


***


Irina sudah selesai mandi dan merasakan perutnya sudah mulai meronta-ronta ingin mendapatkan asupan makanan untuk memanjakan gerak peristaltik pada sistem pencernaannya. Irina buru-buru keluar dari kamar dan ingin sekali segera menuju ruang makan untuk menikmati masakan kolaborasi karya Ibunya dan Bi Anah yang sudah siap sedari pagi.


Aroma sisa kegiatan memasak di dapur masih menguar di seluruh ruangan meskipun sudah mulai menipis. Irina bisa menebak menunya hari ini setidaknya salah satunya adalah ayam goreng tepung kesukaannya.


Digenggamnya hp ditangannya. Sembari menyusuri anak tangga untuk turun ke ruang makan, Irina tersenyum memperhatikan layar hpnya. Sebuah pesan singkat dari Rian muncul dan membuat Irina lebih memilih fokus membalas pesan singkat dari kekasihnya tanpa memperhatikan susunan anak tangga.


Terlalu fokus hingga langkah kakinya tak benar-benar menginjak anak tangga dengan tepat dan nyaris terpeleset.


"Argh!!!" Irina memekik cepat.


Hampir saja Irina jatuh dari tangga jika tidak ada Adrian yang tiba-tiba datang menahan tubuhnya. Entah sejak kapan Adrian sudah ada di depannya hingga membuat Adrian tak terlambat untuk menahan tubuh Irina. Hp ditangannya sudah lebih dulu terjatuh. Kini hanya ada Irina dan Adrian yang terkesan seperti berpelukan di atas tangga.


"Ceroboh!" Bisik Adrian dingin di telinga Irina yang begitu dekat dengan bibir Adrian.


Irina segera memperbaiki posisi berdirinya, rasanya begitu canggung. Kedekatan yang sungguh aneh antara dia dan kakaknya. Seharusnya Irina bisa merasa biasa saja, tapi sudah lama Irina tidak merasakan kehangatan sikap Adrian sebagai seorang kakak. Dan, entah sejak kapan Irina merasa Adrian hanya seperti pria asing yang hidup serumah dengannya.


Keadaan kali ini seolah semakin membuat Irina menyadari bahwa sudah lama dirinya tak memposisikan Adrian sebagai kakak yang penuh kehangatan, hanya seorang pria asing dingin yang lebih tua darinya.

__ADS_1


Irina masih tenggelam dalam rasa canggung yang menderanya. Sedangkan Adrian sudah sedari tadi memilih mengambil hp Irina yang jatuh tergeletak di salah satu anak tangga. Menyerahkan kepada Irina setelah sebelumnya sengaja mengintip layar hp milik Irina yang tak disadari Irina.


"Rian?!" Batin Adrian.


"Pergilah makan sebelum perutmu sakit dan membuatmu menjadi cengeng seharian. Kau sudah telat makan." Ucap Adrian dingin sambil lalu menyusuri anak tangga untuk naik ke kamarnya.


Irina hanya cemberut dan sedikit malu dengan kecerobohannya, memilih untuk tak meladeni Adrian dan segera pergi ke ruang makan, perutnya memang sudah terasa sangat lapar. Lambat sedikit lagi, mungkin asam lambungnya akan naik dan maagh yang dibencinya akan datang merusak hari liburnya.


***


Irina kini duduk santai di ruang keluarga, rasa kenyang membuatnya merasa nyaman. Kini Ia fokus dengan layar hpnya. Sebagai sepasang kekasih baru, sudah hal biasa obrolan ringan apapun menjadi begitu menyenangkan dan rasanya tak ingin berhenti hingga tak ada lagi topik untuk dibahas.


TV yang menyala di ruang keluarga hanyalah hiasan yang tak memanjakan indera penglihatan Irina. Ia masih tetap sesekali terlihat tersenyum tersipu menikmati balasan chat dari Rian yang begitu konyol dan tak ada basa basi. Sepertinya mereka takkan pernah kehabisan topik pembahasan untuk dinikmati berdua.


"*Bagaimana kalau sore ini kita ke taman?" Tulis Rian dalam pesan singkatnya tiba-tiba.


"Emmm.. Boleh. Aku izin dulu sama Ibu, yaa?" Jawab Irina cepat*.


Irina segera berlari kecil menghampiri Ibunya yang sedang duduk manja di ruang tamu. Itu adalah kebiasaan Marinka setiap hari, menyendiri di ruang tamu dengan secangkir teh panas dan sibuk menulis catatan keuangan rumah tangga di buku jurnalnya.


Irina menyampaikan rencananya dengan sangat hati-hati. Matanya berkilat penuh harap bisa mendapatkan izin dari Ibunya. Marinka menyadari kesungguhan Irina dan setelah tadi sudah mendapatkan cerita terbaru dari suaminya selagi Irina sedang menikmati sarapannya yang kesiangan, Marinka memilih mengizinkannya.


Irina yang lugu begitu bahagia, kini Ia memilih menghabiskan waktu di kamar dan menikmati obrolan dengan berbagai topik random yang tak ada akhirnya bersama kekasihnya dari layar hp miliknya. Mencoba membunuh waktu hingga sore menjelang dimana dia dan Rian sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersama di taman tidak jauh dari tempat tinggalnya.


"Ingat, jam 4 sore aku jemput. Jangan terlambat." Tulis Rian dalam pesan singkatnya lagi yang membuat Irina cekikikan bahagia.


***


Di ruang tamu,


Marinka memilih untuk mengirimkan pesan singkat kepada Adrian yang sedang berada di kamarnya. Memanggil Adrian untuk mendatanginya ke ruang tamu terasa sangat merepotkan. Marinka rasa cukup pesan singkat saja untuk Adrian.


"Adrian, sore ini Irina akan pergi ke taman bersama Rian. Tolong kamu awasi."


Adrian yang sedari tadi hanya berbaring malas di tempat tidurnya sedikit mengernyitkan dahinya ketika membaca pesan singkat dari Ibunya.


"Kalau begini terus, ini pasti akan merepotkan!" Adrian memukul ringan pada dahinya. Ia merasa konyol dengan tugas baru yang dari semalam resmi disandangnya.


Ya, menjadi pengawas dadakan untuk Irina yang sejak semalam telah menjadi sepasang kekasih dengan pria lain.


Adrian tersenyum kecut di bakar rasa cemburu dan menahan emosi yang masih ingin Ia kendalikan dengan logikanya.


Adrian kemudian menghempaskan hp ditangannya yang selamat mendarat di sudut atas tempat tidurnya yang masih dalam kategori empuk. Diliriknya jam dinding di kamarnya yang masih jauh dari waktu yang dijanjikan.


Adrian memilih kembali bermalas-malasan sejenak di kamarnya yang tak lagi terasa nyaman. Memikirkan kebahagiaan Irina membuatnya sangat kesal.


"SEPASANG KEKASIH! CIH!!!" rutuk Adrian.


***


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...!



__ADS_2