
Irina sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia begitu asyik chatting dengan Rian, kekasihnya. Iya, Adrian benar, Irina memang sedang chatting dengan Rian.
Mengingat hari ini adalah hari minggu, alias akhir pekan terakhir sebelum besok mereka harus kembali ke rutinitas seperti biasanya, yakni sekolah, Rian bermaksud mengajak Irina untuk menghabiskan waktu bersama di sebuah mall.
Marinka yang baru saja bergabung bersama Irina dan Adrian di ruang keluarga memperhatikan kelakuan kedua anaknya.
Mereka begitu asyik dengan gawai masing-masing. Pemandangan yang sungguh menyedihkan, bagaimana keduanya bisa bersanding sebagai sepasang kekasih nantinya di masa depan bila tak terlihat akur begini. Mungkinkah?
"Ibu, boleh tidak sore ini Irina jalan dengan Rian?" tanya Irina tiba-tiba.
"Rian?" tanya Marinka mencoba memastikan pertanyaan Irina sembari sudut matanya melirik ke arah Adrian.
"Iya Bu, Rian."
Marinka diam sejenak, terlihat berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Irina. Adrian yang seperti biasa berpura-pura sibuk dengan gawainya namun sesungguhnya tetap memasang mata dan telinga terhadap percakapan Ibunya dan Irina kini menghentikan kegiatannya.
Adrian melepas headset yang digunakannya untuk menutup kedua telinganya, membetulkan posisinya dari berbaring menjadi duduk tegak sempurna di sofa favoritnya.
"Ada apa?" tanya Adrian memberanikan diri untuk ikut andil dalam percakapan kedua perempuan kesayangannya.
"Irina mau pergi dengan Rian siang ini, mau ke mall," kata Marinka menjelaskan ulang sekaligus secara tersirat ingin tahu reaksi Adrian.
Marinka secara tidak langsung sedang meminta persetujuan Adrian atas rencana yang dilontarkan Irina.
Irina merasa sangat kacau. Mengingat kejadian sebelumnya juga perasaannya yang masih tersulut kesal atas sikap Adrian, rasanya Irina tak ingin Adrian ikut campur lagi untuk kedua kalinya.
Irina mencuri pandang ke arah Adrian, berharap Adrian tak angkat bicara yang membuat rencana siangnya kali ini rusak atau lebih parahnya lagi gagal total.
"Adrian, apa Kau bisa menemani Irina?" tanya Marinka tiba-tiba yang membuat Irina terkesiap sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya.
*Meminta Adrian menemaninya?
Untuk apa*?
"Apakah harus?" sahut Irina menyambar pertanyaan ibunya sebelum Adrian sempat menjawab dengan sepatah kata apapun sembari menatap lekat kedalam sepasang bola mata milik Ibunya, berharap Ibunya akan memahami bahwa Ia sungguh sangat tidak ingin pergi bersama Adrian.
__ADS_1
"Irina, Aku akan menemanimu, lagipula ada beberapa barang yang harus kubeli."
Adrian tak mempedulikan reaksi Irina yang jelas sekali memperlihatkan rasa keberatan akan inisiatif yang diambil oleh Adrian.
Tidak!
Adrian tidak akan memberikan kesempatan lagi untuk Irina berduaan dengan Rian. Sudah saatnya mengakhiri drama hubungan sepasang kekasih semu diantara mereka.
Cepat atau lambat, mau tidak mau, Adrian harus segera mengambil tindakan tegas atas komitmen yang dijaganya selama ini.
"Jadi, kapan rencananya Kau akan pergi? Katakan pada Rian untuk menunggu di mall saja. Aku akan pergi bersamamu," cercah Adrian tanpa memandang wajah Irina sedikitpun.
Irina mulai mengutak-atik layar gadgetnya, mencoba menjelaskan hasil yang sudah disepakati secara sepihak oleh Ibu dan Kakaknya kepada Rian. Jelas sekali Irina tidak bisa menolak dua suara yang mengunggulinya ketika hanya dirinya sendiri yang berbeda pendapat. Irina hanya berharap Rian bisa mengerti keadaannya. Sungguh semua ini bukan keinginan Irina.
"Emm... Ibu, Kakak, kata Rian jam 2 nanti ketemu di mall saja," ucap Irina dengan nada lemas seolah sudah tak ada semangat untuk melanjutkan rencananya.
"Apa benar Kak Adrian mau ikut denganku?" tanya Irina lagi. Kali ini jelas tersirat maksud menghentikan niat Adrian untuk ikut bersamanya yang dikemas dengan kalimat tanya.
"Sudahlah Irina, Ibu juga lebih tenang jika ada Adrian bersamamu."
***
"Yang mau jalan kan Aku, kenapa jadi Dia yang begitu terburu-buru?" rutuk Irina dalam hatinya sambil kemudian berlari kecil menuju mobil.
"Jadi, apa kau sudah siap?" tanya Adrian dengan nada yang lebih tenang dari biasanya.
"I... iya, Kak..." jawab Irina gugup dan ada rasa sedikit heran karena nada bicara Adrian terasa lebih ramah dari biasanya.
Adrian mulai menyetir dan mobil perlahan meluncur meninggalkan area pekarangan rumah mereka.
Dari kejauhan Marinka yang tengah berdiri di teras rumah tak melepaskan pandangannya dari mobil yang dikendarai Adrian dan Irina hingga menghilang dari balik gerbang rumah.
Marinka melepas mereka dengan penuh harap bahwa rasa canggung diantara keduanya bisa sirna perlahan. Sesungguhnya Marinka begitu prihatin dengan cara Adrian membangun hubungan yang begitu dingin dengan Irina.
"Apa mungkin Irina nantinya bisa menerima komitmen Adrian?" batin Marinka.
__ADS_1
Marinka mengusap lembut ke dahinya sendiri dan sedikit menggelengkan kepalanya secara halus, seakan Ia tak sanggup memprediksi lebih jauh lagi hubungan yang bisa terbangun antara Adrian dan Irina nantinya.
***
Mobil melaju perlahan menuju mall yang menjadi tempat janji temu Irina dan Rian. Waktu terasa begitu lambat, hanya ada keheningan diantara Irina dan Adrian selama mereka menempuh perjalanan.
Dalam diamnya sebenarnya Adrian sedang berpikir keras bagaimana memulai hubungan yang baik dengan Irina.
Lagi-lagi Adrian teringat kata-kata Revano sebelumnya yang memintanya untuk bersikap lebih hangat kepada Irina. Rasanya saran yang diberikan oleh Revano terasa berat untuk dilakukan. Adrian mengalihkan kekalutan pikirannya dengan berusaha fokus menyetir mobil.
"Aku harus bicara!" rutuk Adrian dalam hatinya.
"Aku tidak boleh begini terus!" rutuknya lagi mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Irina, apa kau membenciku?" tanya Adrian tiba-tiba, sungguh tak tahu bagaimana caranya berbasa-basi.
"Astaga! Apa yang kukatakan?" rutuk Adrian dalam hatinya.
Adrian tetap memandang lurus ke depan seolah begitu fokus menyetir mobilnya walaupun sebenarnya Ia hanya tak berani melihat reaksi Irina setelah mendapati Adrian melempar pertanyaan yang sangat tidak disangka-sangka.
Benar saja, saat ini Irina hanya bisa terkesiap dengan mata terbelalak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Adrian untuknya.
Irina menoleh ke arah Adrian dan mendapati Adrian tak sedikitpun bergeming dari pandangan lurusnya ke depan.
"Apa, Kak?" Irina memastikan bahwa Ia tidak salah dengar atas apa yang dikatakan Adrian sebelumnya.
Adrian menarik nafas berat, Ia tak mungkin mundur lagi apalagi menarik kata-katanya kembali. Sudah terlanjur.
"Apa kau membenciku?" Adrian mengulangi pertanyaan lagi dengan tegas.
Kali ini Irina terdiam beberapa saat, Ia mulai berpikir keras karena tak tahu harus menjawab apa?
***
BERSAMBUNG~
__ADS_1