
“Ada lagi yang mau menantangku?” teriak Vic Zhou dengan menunjuk ke semua murid dalam yang sedang terkapar kesakitan.
Mereka semua menjawab menggeleng dengan raut muka seputih kertas. Pertanda mereka tidak berani menerima tantangan dari Vic Zhou.
Pria berambut hitam acak tersebut pergi meninggalkan mereka menuju ke dalam paviliun naga putih untuk mencari misi, terutama misi yang bisa meningkatkan poin kontribusi dengan cepat.
Vic Zhou bertanya pada pria berjenggot putih yang menjaga paviliun naga putih, “Guru, apakah paviliun naga putih juga menerima pil atau menjual beberapa tanaman obat?”
“Tentu saja bocah tengik. Kau murid baru ya?” jawab Po Chi Lam bernada ketus sambil membaca sebuah kitab sastra puisi.
“I-iya, Guru. Apakah aku bisa membeli bubuk bulan purnama, dan —”
“Bodoh, pengguna artefak sepertimu itu lama jika menggunakan pil berbahan tanaman obat. Beli ini!” putus Po Chi Lam dengan memberikan kitab seni meramu pil menggunakan inti kristal hewan spiritual bernama seni bulan purnama.
“Bolehkah aku memegang kitab ini, Guru?” tanya Vic Zhou karena merasa tertarik dengn isi dari kitab seni bulan purnama yang dipegang oleh Po Chi Lam.
“Memangnya kau seorang alkemis tingkat grand master, hah?” ketus Po Chi Lam dengan tatapan sinis, “Walaupun kau bisa seorang alkemis tingkat murid pun, kau harus membayar 50.000 poin kontribusi padaku.”
Vic Zhou yang merasa kesal dipermainkan oleh Po Chi Lam memejamkan matanya. Untuk masuk ke dalam ruang batin pagoda serigala mencari pengetahuan dari seni kitab bulan purnama, tetapi tidak menemukannya.
Akan tetapi Vic Zhou punya cara lain untuk mendapatkan kitab seni bulan purnama secara gratis dari Po Chi Lam.
“Guru, aku lihat wajahmu pucat, jantungmu berdebar. Beberapa minggu ini anda melakukan kultivasi, tapi malah membuat aliran darah di tubuh guru bergejolak, dan beberapa kali muntah darah —”
__ADS_1
“Cukup!” Po Chi Lam melebarkan mata, dan langsung membungkam mulut Vic Zhou, “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku seperti itu?”
“Kalau aku bisa mengatasi semua masalah tubuh Guru, apakah Guru mau memberikanku kitab seni bulan purnama itu padaku secara gratis?” tawar Vic Zhou dengan senyuman licik.
“Tentu. Namun buktikan dulu kalau kau bisa menyembuhkannya!” tantang Po Chi Lam yang masih belum percaya dengan kemampuan penyembuhan yang dimiliki oleh Vic Zhou.
“Siap, aku tidak masalah. Tapi jangan disini ya Guru. Satu hal lagi, Guru harus merahasiakan semua ini dari para tetua, Patriark, janji?” tegas Vic Zhou.
“Eleh, bocah tengik ini banyak gaya. Memangnya bisa apa dia ini? Pakai acara janji-janji segala seperti ini?” batin Po Chi Lam dengan tatapan sinis ke arah Vic Zhou.
“Benar-benar kakek tua ini sangat menyebalkan. Awas saja setelah ini kau akan bertekuk lutut padaku, hmph!” batin Vic Zhou dengan senyuman licik ke arah Po Chi Lam.
Po Chi Lam mengajak Vic Zhou ke lantai dua paviliun naga putih. Tepatnya kamar milik Po Chi Lam, dan tanpa basa-basi lagi Vic Zhou mengeluarkan jarum ungu yang terbuat dari energi Qi miliknya, dan langsung dilemparkan ke arah bagian dada, diafragma, serta perut Po Chi Lam.
Suara tulang di ketiga bagian tersebut terdengar bergemeretak, dan dari jarum-jarum ungu tersebut keluar asap hitam yang langsung menyeruak memenuhi ruangan kamar Po Chi Lam. Untung saja asap hitam itu tidak bau, hanya membuat bersin-bersin saja.
“Hahaha ….” Po Chi Lam mendekati Vic Zhou dengan tertawa puas, lalu menepuk-nepuk pundaknya, “Aku tak menyangka kau bocah tengik seorang tabib yang handal. Aku dengar jurus naga ungu ini hanya keluarga lan yang bisa melakukannya?”
“Lebih tepatnya aku memiliki artefak dewa, Guru. Aku mohon Guru berjanji untuk tidak menceritakan rahasia ini,” pinta Vic Zhou dengan berlutut sambil menunduk hormat ke arah Po Chi Lam.
“Baiklah, Guru kencing berdiri, dan murid kencing berlari. Ludah yang sudah jatuh ke tanah mana mungkin ditelan kembali.
“Aku sudah berjanji untuk memberikan kitab seni bulan purnama ini padamu, dan aku juga berjanji akan menyimpan rahasia ini dari siapapun. Kalau aku melakukannya, maka jantung ini akan meledak,” tegas Po Chi Lam.
__ADS_1
“Namun, bisakah kau meramu pil mahkota dewa untukku yang berada di tahapan kultivasi kaisar perang? Sebagai gantinya aku akan memberikanmu misi yang mudah tapi memiliki poin kontribusi yang tinggi, bagaimana?” tawar Po Chi Lam dengan menaik-turunkan alisnya.
“Pil mahkota dewa?” tanya Vic Zhou bingung, karena ia hanya mengetahui pil yang digunakan para kultivator di tahapan kaisar perang adalah pil mahkota bukan pil mahkota dewa.
“Ya, pil mahkota dewa adalah pil khusus yang digunakan kultivator di tahapan kaisar perang, dan pengguna artefak. Kalau pil mahkota digunakan hanya untuk tahapan kultivasi kaisar perang yang bukan pengguna artefak,” terang Po Chi Lam, dan membuat Vic Zhou manggut-manggut seperti kepala burung pelatuk.
“Aku paham. Lalu apa yang dibutuhkan untuk meramu pil mahkota dewa?” tanya Vic Zhou menelisik, dan merasa sangat penasaran sampai kepalanya condong ke wajah Po Chi Lam.
“Biasa saja kali, ah!” Po Chi Lam merasa jijik, dan mendorong muka Vic Zhou, “Carikan aku inti kristal dari hewan badak bercula lima di bukit Griffin emas. Cepat pergi!”
“Baik, guru!”
Vic Zhou segera melesat secepat mungkin menggunakan jurus langkah embun naga ke bukit Griffin. Untuk mendapatkan inti kristal badak bercula lima, sebagai bahan utama pembuat pil mahkota dewa.
“Lebih baik memberi makan ******, ketimbang menampar lebah. Kalau bisa mendapatkan teman dengan cara yang mudah, kenapa harus mencari musuh dengan cara yang susah?” gumam Vic Zhou dengan mengulum senyuman licik.
Tetua Xu Zhu yang sedang menginvestigasi puncak bukit Griffin emas bertemu dengan Vic Zhou, dan langsung menekan pria berambut hitam acak tersebut dengan aura membunuh yang sangat kuat.
"Kenapa kau datang ke bukit ini?" berang Tetua Xu Zhu dengan tatapan tajam setajam silet.
Vic Zhou langsung berlutut satu kaki dengan dada sesak dan menjawab sambil mengeluarkan token misi tingkat sulit ke arah Tetua Xu Zhu, "T-tunggu, Gu-guru. Aku disuruh oleh Guru Po Chi Lam di pa-paviliun naga putih un-untuk mencari inti kristal bad-badak bercula lima."
Aura ungu yang menyelimuti tubuh tetua Xu Zhu yang mendesis kuat hilang, dan aura membunuh yang menekan tubuh Vic Zhou ditarik kembali oleh pria berbadan gemuk tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang pergi dari sini! Cari di tempat lain!" titah tetua Xu Zhu sambil mengibaskan tangan kanannya, dan dari kibasan tersebut mengeluarkan angin berbentuk siluet sabit yang menghantam permukaan tanah di depan Vic Zhou.
"Lihat saja nanti! Kalau aku sudah menembus tahapan saint, aku akan menghabisimu pria gendut,” batin Vic Zhou dengan wajah tertunduk, dan mengeraskan rahang.