
(Continue)
Setelah menginap sehari di tempat Tommy, sekarang Ray sedang siap-siap untuk pergi melanjutkan perjalanannya.
Tap
Tap
Tap
"Hai Kak Ray, sini kita sarapan dulu." ucap Luna.
"Baiklah." ucap Ray sambil berjalan ke arah kursi dan duduk.
"Ohh ya Luna, aku pengen nanya dong, kenapa kamu pergi dari rumah?" tanya Ray.
"Hmpp, itu si tukang kerja, mentingin kerja terus, Lunanya gak di ajak main, mending aku pergi jalan-jalan, untung ketemu kak Ray, jadi bisa terbang sama makan banyak." ucap Luna.
"Ohh gitu toh." ucap Ray sambil melihat Tommy.
"A-..ada apa?" tanya Tommy gelagapan.
"Pemintaanku itu, kamu ngertikan." ucap Ray.
"Hahh, baiklah." ucap Tommy.
....
....
....
"Baiklah aku sudah selesai makan, saatnya berangkat." ucap Ray.
"Tunggu bentar kak." ucap Luna.
Namun, karena Ray tidak ingin mengajak Luna kedalam bahaya, ia langsung berlari menggunakan langkah YinYang.
"Hahh, saatnya pergi menjadi kuat, Griffe." ucap Ray yang telah di hutan.
Di Sisi Luna..
"Kak Ray...kak Ray, mana kak Ray?" tanya Luna.
"Maafin kakak ya Luna, kakak enggak akan mentingin kerjaan lagi dan akan main bersama Luna, oh ya..Kak Ray pergi sendiri, katanya perjalanannya bakal berbahaya." ucap Tommy.
"Hahh,..kak Ray..hiks..Kak Ray." ucap Luna sambil berlari keluar.
Namun belum sampai keluar ruangan, Luna langsung di tangkap olah Tommy agar tidak mencari Ray.
"Luna, perjalanan Ray sangat berbahaya, dan juga kak Ray minta sesuatu dari kamu." ucap Tommy.
"Apa..hiks?" tanya Luna.
"Katanya kalau mau ikut jalan-jalan, kamu harus jadi kuat, ini buku sama inti core dari Ray." ucap Tommy sambil menyerahkan pemberian dari Ray.
"Pelajarilah dan seraplah buku dan core itu." ucap Tommy.
"Baiklah, aku akan menjadi kuat agar bisa ikut perjalanan bersama kak Ray." ucap Luna semangat.
___________________________________________
"Hah, baiklah saatnya ke selatan Griffe." ucap Ray.
Kiakkk
Swushhh
....
....
"Hoii keluarin aku, si naga hebat ini mau melihat dunia." ucap Seiryu dengan telepati.
"Hah, baiklah naga mungil." ucap Ray sambil membuka ruang dimensi.
"Hey naga mungil, kamu tau gak tempatnya teman kamu?" tanya Ray.
"Teman?, maksudnya siapa?" ucap Seiryu bingung.
"Si burung api, kalian itu penjaga mata anginkan." ucap Ray.
"Kok tuan bisa tau." ucap Seiryu kaget.
__ADS_1
"Rahasia." Ray.
"Dasar tuan pelit." ucap Seiryu cemberut.
"Hahahah..udah ah cepet antar kita kesana." ucap Ray.
"Ya sudah, tuan tinggal lurus saja, nanti dia ada di gunung berapi." ucap Seiryu.
"Ohh..okelah, aku udah tau tempatnya, sisanya palingan di gunung berdanau dan berpohon." ucap Ray.
"Kok tuan bisa tau juga dimana tempat teman-teman ku yang lain." ucap Seiryu.
"Cuma nebak doang, soalnya kamu tinggal di gunung, si burung di gunung, pasti sisanya di gunung juga." ucap Ray.
"Hah..baiklah, emang tuan mau buat apa kalau semua corenya sudah terkumpul?" tanya Seiryu.
"Ya buat di serap, dan biar novelnya cepet selesai, jadinya cepat kuat." ucap Ray.
"yaa..baiklah, saya bantu tuan biar cepet selesai novelnya." ucap Seiryu.
"Yosh, percepat kesana Griffe." ucap Ray.
Kiakk
Beberapa Jam Kemudian...
"Waw..panas sekali, padahal belum terlalu dekat sama gunungnya, tapi panasnya kayak lagi di pantai." ucap Ray.
"Iyalah, namanya juga burung api." ucap Seiryu.
"Emm..Griffe kamu kepanasan gak?" tanya Ray.
Griffe mengangguk.
"Masih kuat atau enggak?" tanya Ray lagi.
Griffe menggeleng.
"Ya sudah, kita turun saja di sini, kamu cari makan aja dulu Griffe." ucap Ray.
Kiaakkk
...
...
"Tunggu tuan, itu namanya lari, oiii." ucap Seiryu yang ketinggalan.
Setelah berlari beberapa menit, akhirnya Ray sampai di pintu gua yang memiliki retak berwarna merah lava.
"Baiklah, ayo kita masuk Seiryu." ucap Ray sambil berjalan masuk.
"Hah, baiklah." Seiryu.
"Wahh, sudah lama sekali saya tidak kedatangan teman lama aku, tapi bentar lagi kamu gak akan bisa tinggal lama-lama disini." ucap si Burung api.
"Hahh, ngomong aja terus, palingan kita nanti jadi teman perjalanan yang tidak dapat di pisahkan." ucap Seiryu.
"Hah?..maksudnya?, ah tau lah dan kenapa tubuhmu kecil?" tanya Burung api.
"Kamu bentar lagi juga sama kayak aku kok." jawab Seiryu.
"Ngomong apasih kamu naga mungil, mana mungkin aku berubah jadi kecil, dan siapa yang ada di sebelahmu itu." ucap Burung api.
"Ohh dia tuanku, entar kamu liat aja bentuk dia, bentar lagi aku sampai di tempatmu." ucap Seiryu.
"Kau jadi tambah lemah ya, sampai bisa kamu memiliki tuan." ucap Burung api.
"Sebaliknya juga." ucap Seiryu.
"Holla burung, perkenalkan aku Ray, sebentar lagi aku akan menjadi tuanmu." ucap Ray yang sudah sampai di depan pintu masuk menuju Burung api.
"Hah dasar makhluk lemah, ingin menjadikan kamu tuanku, mimpi saja." ucap Burung api.
"Ohh gitu kah, baiklah rasakan element air ku." ucap Ray sambil mengeluarkan elementnya di ujung telunjuk.
"Pfftt..hahahaha, hey mana bisa air sekecil itu mampu membuatku takut, aku kira airnya banyak ternyata cuma setetes." ucap Burung api tertawa terbahak-bahak.
"Tuan, masa tuan ngasih air cuma setetes doang, mana bisa tenggelam dia." ucap Seiryu.
"Ya aku tau, aku gak bisa ngalahin burung api kalau pakai air setetes, tapi kata siapa aku bakal menggunakan air yang ada di telunjukku." ucap Ray.
"Hah?..maksudnya apa??" tanya Seiryu dan burung api.
__ADS_1
"Mau tau, coba lihat ke atas." ucap Ray.
Setelah mereka di suruh melihat keatas untuk memeriksa ada apa, ternyata mereka melihat gumpalan air yang sangat banyak, hampir sebesar gunung itu sendiri.
"Gimana, mau aku jatuhin ini airnya atau jadi peliharaanku?" tanya Ray.
"Emmm, ja-..jadi peliharaan saja." ucap Burung api.
"Benarkan kata aku juga, kamu bakal jadi teman perjalanan, hahahaha." tawa Seiryu terbahak-bahak.
"Baiklah, namamu Suzaku dan serahkan inti coremu." ucap Ray.
"Ta-..tapi nanti aku mati." ucap Suzaku.
"Gak usah lama, nanti kamu jadi kayak aku kok." ucap Seiryu.
"Hah?..baiklah aku percaya padamu Seiryu." ucap Suzaku.
"Ya sudah, habis ini kita akan ke Kura-kura." ucap Seiryu.
"Baiklah, 1...2...3..aaaa." teriak Suzaku.
"Baiklah, sudah ke kumpul dua inti core, kerja bagus burung kecil." ucap Ray sambil memasukan core kedalam inventori.
"Hah?..aku masih hidup..yeyyyy, dan maksudnya burung kecil?" ucap Suzaku bingung.
"Coba aja liat ke arah kristal itu." ucap Seiryu.
"Emm, iya dong aku jadi mirip sama kayak kamu." ucap Suzaku saat melihat penampilannya.
"Ya, kata tuan, kamu gak bakal mati, tapi gantinya badan sama kekuatan kamu mengecil." jelas Seiryu.
"Baiklah, saatnya kita ke arah Utara, kita bertemu dengan si Kura-kura dan si Ular." ucap Ray.
"Griffe." panggil Ray.
Kiakkkk
"Ohh ya Griffe, kita ke desa terdekat dulu, kita makan dulu." ucap Ray.
Angguk Griffe
Swusshhh
___________________________________________
Di Sisi Carlla...
"hup..huftt." hela nafas Carlla.
"Ray, aku enggak bakal manja lagi, tolong pulanglah, aku kangen." gumam Carlla.
"Hiks...Pulanglah cepat..hiks..aku kangen." ucap Carlla.
"Hey Carlla, kenapa mikirin si Ray terus, kita latihan saja, nanti kalau dia kembali kita hajar saja." ucap Rumi.
"Iya, kita hajar saja dia, biar gak pergi-pergi lagi." ucap Riel.
"Benar, mending kita latihan sambil menunggu Ray pulang kembali." ucap Ryu.
"Baiklah, kita latihan yang keras, biar dia kembali kesini dan enggak bakal pergi lagi." ucap Carlla yang asalnya sedih menjadi bersemangat.
"Gimana kalau kita seperti Ray saja, kita minta izin beberapa bulan untuk latihan, kita latihan di hutan sekitar saja, tapi tidak usah jauh-jauh." ucap Misaki.
"Wah ide bagus itu Misaki, terima kasih." ucap mereka serempak.
"Y-..ya, sa-..sama-sama." ucap Misaki malu.
"Baiklah, kita hajar Ray." ucap mereka semangat.
___________________________________________
"Hachhii." bersin Ray.
"Kenapa tuan, sakit??" tanya Seiryu dan Suzaku.
"Hmm, kayaknya ada yang lagi membicarakanku dan juga ada firasat buruk kalau aku kembali setelah latihanku." ucap Ray sambil merinding.
"Kalau ada apa-apa, jangan bawa-bawa kami ya boss." ucap Suzaku dan Seiryu.
________________________________________________________________________________________
Bersambung.
__ADS_1