Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 15


__ADS_3

"Aa, dipanggil sama Umi. Aa teh disuruh pulang dulu ke rumah," ucap Zahrani di seberang telepon.


Ustadz Destaqi yang sedang menyurah kitab kuningnya itu pun bergegas menutupnya. "Baik. Aa segera ke rumah," jawabnya tanpa membuang waktu.


Ustadz Destaqi memang anak yang selalu mendahului panggilan Uminya. Ia tak ingin menjadi anak yang durhaka karena menunda-nunda panggilan wanita yang sudah mengandung serta melahirkannya. Ia pun gegas memakai pecinya lalu keluar dari pendopo itu. Berjalan menuju rumah yang tak begitu jauh dari pendopo itu.


Sesampainya di rumah, Ustadz Destaqi langsung menemui sang Umi yang sedang duduk di ruang keluarga dengan adiknya yaitu Zahrani.


"Assalamu'alaikum," ucap Ustadz tampan itu dengan lembut.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh," sahut Nyai Hajah Suranih dengan Zahrani secara bersamaan.


Ustadz Destaqi langsung duduk setelah mencium bulak balik punggung tangan serta telapak tangan Uminya itu. "Umi memanggil Desta?" tanyanya dengan sopan.


"Sudah tahu kok nanya sih, A?" sosor Zahrani yang selalu bersikap ceria.


Ustadz Destaqi mendelikan matanya dan menatap penuh ancaman pada adiknya itu. Sedangkan sang adik hanya tersenyum santai tanpa beban.


"Iya, benar Umi memanggilmu, Taqi." Nyai Hajah Suranih menatap serius pada putra sulungnya itu.


Ustadz Destaqi langsung mengangguk dan menunggu apa yang ingin Uminya bicarakan padanya.


"Sebentar, Umi. Sepertinya agak tegang dan serius begini, ya. Ada apa ini?" ucap si bungsu Zahrani sambil menatap heran dan penuh selidik pada Uminya itu.


Nyai Hajah Suranih mengangguk. "Ya, ini memang sangat penting dan serius. Maka dari itu sebaiknya kau masuk saja sana ke kamarmu! Kerjakan tugas kuliahmu dulu, sebentar lagi dzuhur. Nanti shalat lalu jangan lupa ngajar para santri," jawabnya penuh penegasan.

__ADS_1


Zahrani mengangguk pasrah tanpa banyak bertanya. Anak-anak Nyai Hajah Suranih dengan Abah Haji Muhajir memang sangat penurut semua. Mereka selalu patuh pada perintah kedua orang tua yang sudah mendidik dan membesarkan ketiganya.


Selepas Zahrani berlalu, Nyai Hajah Suranih mulai kembali menatap serius pada putra sulungnya itu. Sedangkan Ustadz Destaqi sendiri pun tampak menunggu apa yang akan Uminya itu bicarakan padanya.


"Nak, sebenarnya Umi ingin membicarakan soal perjodohan kamu dengan Khanidah," ucap Nyai Hajah Suranih to the point.


Ustadz Destaqi tampak sedikit tersentak kaget mendengar ucapan Uminya itu. Namun, ia tetap berusaha tenang dan santai.


"Perjodohan? Jadi, ada rencana apa, Umi? Sebenarnya Desta masih sulit memikirkan soal perjodohan ini, sebab Desta merasa jika masih ingin menikmati masa lajang," ujar Ustadz tampan itu dengan tenang namun tegas.


"Iya, Nak. Umi sudah berunding lagi dengan Bu Hajah Anwar soal perjodohan yang kami sepakati. Jadi begini, kami akan mengajak kalian bertemu di taman Nusantara. Tenang saja, kami pun akan turut menemani kalian berdua," ungkap Nyai Hajah Suranih penuh percaya diri.


Ustadz Destaqi mengerutkan dahinya dan menatap sedikit kurang yakin. "Apakah Umi sudah bicarakan hal ini dengan Abah?" tanyanya penuh selidik.


"Jangan begitu, Umi. Abah berhak tahu akan hal ini. Lagipula Destaqi membutuhkan saran dan nasihat dari pemimpin keluarga yaitu Abah," ujar Ustadz Destaqi penuh penegasan.


"Bukan begitu, Nak. Tentu saja nanti Umi akan bicara dan membujuk Abah agar mengizinkan apa yang Umi dan Bu Hajah Anwar rencanakan. Jadi, Umi harap kamu pun mau membantu Umi untuk membujuk Abahmu itu, ya." Nyai Hajah Suranih menatap penuh permohonan pada putranya itu.


Ustadz Destaqi mengusap wajahnya pelan dan seperti sedang bingung. Sungguh ia berat untuk menolak keinginan Uminya itu. Tetapi, ia juga sangat sulit untuk menerima apa yang Uminya lakukan padanya.


"Kalau menikah hanya karena sebuah nafsu belaka, Abah terang-terangan tidak akan mengizinkan." Tiba-tiba terdengar suara Abah Haji Muhajir yang berhasil membuat Nyai Hajah Suranih dan putranya tersentak kaget.


"Abah," ucap Ustadz Destaqi sambil menatap Abahnya.


"Aduh! Ada Abah lagi," desis Nyai Hajah Suranih dalam hati.

__ADS_1


"Ingat ya, Umi. Abah itu hanya ingin menikahkan putra putri Abah kelak hanya karena kemaslahatan agama. Jika hanya karena nafsu dan popularitas, maka Abah tidak akan mengizinkan putra putri Abah untuk menikah," ujar Abah Haji Muhajir penuh penegasan.


Nyai Hajah Suranih tampak mengangguk kecil dengan pasrahnya. "Tentu saja Umi pun tidak bermaksud hanya karena nafsu semata, Abah. Umi hanya ingin memberikan seorang menantu yang baik dan yang akan menemani putra kita berjihad di jalan Allah," ucapnya dengan tatapan mengiba.


"Jihad di jalan Allah itu tidak perlu dengan seorang istri, Umi. Justru malah kalau seorang lelaki yang sudah punya istri, biasanya akan sedikit terhambat apa pun yang dia kerjakan karena istrinya itu. Semestinya Umi paham sampai sini," ujar Abah Haji Muhajir dengan jelas dan tegas.


Nyai Hajah Suranih manggut-manggut tanda mengerti. "Maksud Umi, agar Destaqi punya penghibur di kala penat, di kala malam yang gelap dan di kala kesedihan melanda," ucapnya mengeluarkan pembelaan.


"Destaqi mengerti dengan semua yang Umi katakan. Tapi, jujur saja Desta masih belum siap menjadi seorang imam. Tapi, jika memang itu yang akan membuat Umi senang, maka Desta akan menerima perjodohan ini. Desta ikhlas Umi yang carikan jodoh untuk Desta," ujar Ustadz Destaqi yang mulai pasrah.


Abah Haji Muhajir menoleh pada putra sulungnya. Ia tahu bahwa sebenarnya putranya itu sangat berat untuk menuruti apa yang istrinya inginkan.


"Pikirkan lagi, Taqi. Menikah itu bukanlah suatu permainan. Kau tahu bukan bahwa pernikahan itu adalah jalan yang sangat panjang?" ucap Abah Haji Muhajir mengingatkan putranya.


Ustadz Destaqi mengangguk paham. "Ya, Abah. Mungkin Umi ingin Taqi menjalankan ibadah yang sangat panjang itu. In Syaa Allah Taqi ikhlas, Abah. Asalkan Umi dan Abah memberikan doa dan restu pada Taqi, maka apa pun akan Taqi lakukan," ujarnya penuh penjelasan.


Abah Haji Muhajir menatap kagum pada putranya yang selalu menurut pada Uminya. Tetapi, ia sangat kasihan pada putranya karena mungkin Ustadz Destaqi sedikit terpaksa dan tertekan.


"Umi selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak. Jangan ragu, ya. Bukannya Rosulullah shalallahu alaihi wasallam menyuruh umatnya untuk mencari calon istri yang cantik rupanya, bagus nasabnya, banyak hartanya dan bagus agamanya. Jadi, Umi rasa Khanidah adalah wanita yang cocok untukmu. Khanidah memiliki empat kriteria itu," ucap Nyai Hajah Suranih penuh percaya diri dan tampak tersenyum sumringah.


"Itu benar. Abah hanya berdoa agar Taqi tetap tabah atas segala Qudrat dan Irodat Allah," timpal Abah Haji Muhajir penuh penegasan.


"Aamiin,"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2