Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 27


__ADS_3

Setelah diurut oleh Mak Armah, kaki Alinda semakin terasa membaik. Namun, masih ada sedikit ngilu yang sesekali ia rasakan saat hendak melangkah atau hanya sekedar menggeser saja. Sejak tadi, ia hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Rencananya hendak pergi ke gubug akhirnya terlupakan dan terhalang oleh kecelakaan yang tak disengaja. Jika ia harus kesal, pasti ia sudah kesal sedari tadi pada sosok lelaki yang konon tak pernah ingin memiliki istri yang satu kampung dengannya. Ya, orang itu adalah Maher Sanjaya.


"Ya Allah, siapa sebenarnya lelaki yang terus-menerus menggangguku itu? Kenapa dia seperti menginginkan sesuatu dariku? Jika seperti ini terus, aku pasti akan terus merasa terganggu dan tidak tenang," ucap Alinda seraya menatap gusar pada langit-langit kamarnya.


Alinda sama sekali tak pernah tahu asal-usul lelaki bernama Maher itu. Walaupun saat masih kecil ia sering berkunjung dan bahkan sering dititipkan di kampung itu oleh kedua orang tuanya, tapi ia tak pernah mengenal atau tahu pada lelaki yang ternyata adalah putra juragan kaya di desa itu. Alinda juga tidak tahu bahwa Maher adalah putra juragan kaya yang pemilik kebun tempat bibinya bekerja setiap hari.


"Jangan sampai lelaki itu menghalangiku untuk mengisi gubug itu setiap hari. Aku takut dia akan berbuat jahat padaku. Eh, astaghfirullahaladzim! Ampuni hamba-Mu yang dhoif ini, Yaa Allah. Bukan maksud hamba suudzon pada makhluk-Mu. Akan tetapi, ketakutan hamba sungguh karena hamba ingin menjaga harga diri dan kehormatan hamba sebagai seorang wanita. Hamba takut akan ternoda, Yaa Allah. Tapi, di samping itu pun, hamba sungguh yakin bahwa Engkau akan selalu ada melindungi hamba. Aamiin Allahumma aamiin," ucap Alinda yang merasa tertekan dengan ketakutannya sendiri.


Gadis mana yang tidak merasa takut dan curiga pada seorang lelaki asing yang tiba-tiba saja mendekati dan sering mengganggu tanpa kenal waktu. Begitupun yang Alinda rasakan saat ini. Ia begitu was-was dan selalu merasa jika ketenangan serta kenyamanannya sedang terancam lenyap. Namun, jika dipikir-pikir menggunakan otak waras dan suci, gelagat dan tindakan Maher tidak terlihat kriminal atau trouble maker apa lagi psikopat. Sungguh tak terlihat dari tindakan Maher padanya.


"Tunggu dulu, kalau benar lelaki itu ingin merusak diriku, tidak mungkin dia sampai merasa bersalah dan tadi begitu serakah ingin bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan padaku. Aku wanita normal, dari gelagat dan tatapannya, dia seperti seorang lelaki yang sedang ingin mendekati wanita cantik yang ia suka. Oh Ya Allah, kenapa aku bisa berpikiran seperti ini, sih? Terlalu percaya diri sekali aku ini. Tapi, sepertinya memang dia tidak ada niatan untuk menyakiti. Hm, entahlah," lanjut Alinda yang kembali mengoceh sendiri.


Berkat pertemuannya dengan Maher, wanita cantik itu merasa dirinya berubah wujud menjadi Alinda yang kemarin sempat hilang. Ya, rasa kepercayaan dirinya kembali hadir. Ia pun sudah mulai banyak bicara seperti reporter. Hal itu dikarenakan tadi ia sempat memarahi Maher berkali-kali.


"Tok tok tok! Assalamu'alaikum." Terdengar suara ketukan pintu yang disusul dengan ucapan salam.


Alinda setengah terperanjat kaget. Terpaksa ia meninggalkan aktifitasnya yang sedang bermonolog sendiri dengan hati dan pikirannya. Wanita cantik itu pun bergegas merapikan khimarnya yang semula asal pakai seperti emak-emak zaman dulu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Bibi sudah pulang, ya? Masuk saja Bi, tidak apa-apa," sahut Alinda dengan suara yang lembut.


Bi Herni memutar handle pintu, dengan pelan ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar keponakannya. "Neng, sudah makan belum? Kenapa itu sandal Neng kotor banyak tanahnya?"


"Alhamdulillah belum, Bi. Oh itu, tadi...." Alinda menghentikan ucapannya. Sepertinya ia bingung harus bicara apa. Apakah harus jujur atau harus menyembunyikan?


"Kok belum makan, kenapa? Neng dari tadi di rumah saja? Tumben nggak ke gubug. Terus, tadi kenapa?" tanya Bi Herni yang tampak penasaran.


Alinda menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Alin belum sempat, Bi. Soalnya tadi itu, aaaaaaa!" Wanita cantik itu tiba-tiba saja menjerit histeris saat tiba-tiba Bi Herni mendudukkan bokongnya di sisi ranjang sembari menekan kaki Alinda yang sedang terluka dalam.


Alinda mengatur napasnya yang naik turun tak beraturan. Untuk sesaat ia hanya diam. Tangannya kini menutupi kakinya memberi batas agar Bibinya itu tak sembarangan menyentuhnya lagi. Jelas Bi Herni belum tahu jika keponakannya itu sedang terluka.


"Neng, kenapa diam? Ada apa, sih? Bikin Bibi kaget saja," tegur Bi Herni sekali lagi.


Alinda membuang napasnya kasar. "Tidak ada apa-apa, Bi. Cuma tadi itu Alin kaget dan merasa sakit saat Bi Herni tiba-tiba menekan kaki Alin." Ia bicara dengan tergopoh karena masih merasakan sakit di kakinya.


Bi Herni tampak mengerutkan dahinya dan menatap tak mengerti. Kini, manik matanya beralih menatap kaki Alinda yang sengaja tidak ia tutup pakai ujung gamis ataupun oleh selimut dan benda lain. Hal itu bertujuan agar ia tak lupa jika kakinya sedang cedera.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim! Itu kenapa kaki Neng biru dan bengkak? Neng habis ikutan pencak silat?" tanya Bi Herni yang tiba-tiba kaget saat melihat kaki Alinda yang sedikit membiru dan sedikit membengkak.


Alinda hanya menyengir kudanil dan rasanya ingin sekali ia menangisi keadaannya saat ini. Bingung apakah ia harus tertawa karena pertanyaan konyol Bibinya, atau ia harus menangis karena menahan sakit? Ah, entahlah.


"Ja–jangan disentuh, Bi. Sakit banget ini," cegah Alinda saat Bi Herni terlihat hendak menyentuh kakinya.


"Ya Allah, memang ini kenapa, Neng? Apa yang sebenarnya terjadi? Bicara atuh sama Bibi," desak Bi Herni yang kini terlihat panik dan cemas.


"Ini ... tadi itu Alin...." Kembali, Alinda menggantung ucapannya. Ia bingung dengan keadaan saat ini. Jika ia mengatakan yang sejujurnya, ia takut Bibinya itu akan semakin cemas padanya dan sampai melarangnya untuk kembali ke gubug yang akan menjadi istana baginya.


Bi Herni menatap serius dan penuh keingintahuan. Namun, keponakannya itu terus saja menggantung dan membuat dirinya semakin penasaran. "Ayo atuh Neng katakan. Kalau gitu biar Bibi urut dulu."


"Ti–tidak usah repot-repot, Bi. Ini sudah diurut sama Mak Armah tadi. Alhamdulillah ini pun sudah mulai membaik," ujar Alinda kembali mencegah sang Bibi untuk melakukan sesuatu terhadap kakinya yang sedang cedera.


"Sudah? Kok bisa tahu sama Mak Armah? Siapa yang mengantar?" tanya Bi Herni yang terus-terusan dibuat penasaran oleh keponakannya itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2