Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 31


__ADS_3

Maher memainkan jari jemarinya pada layar ponselnya. Ia begitu senang karena sudah berhasil mengirim bingkisan pada wanita berniqab yang memiliki mata indah dan mempesona. Lelaki tampan itu memerintahkan anak buahnya untuk mengirim bingkisan pada Alinda. Memang sengaja ia lakukan itu agar Alinda tidak terlalu terkejut dan sampai membuat wanita cantik itu kian membenci dirinya.


Maher berniat untuk terus mendekati Alinda. Lelaki tampan itu akan melakukan cara apa pun agar bisa dekat dengan sosok wanita berniqab yang berhasil membuat dirinya tertarik dan penasaran. Namun, tentu saja ia akan melakukannya dengan perlahan dan begitu rapi. Bagaimanapun, ia harus bisa mendekati wanita berniqab itu dan mendapatkan hatinya. Sekali lagi, ini sangat aneh. Dengan mudahnya Maher tertarik pada seorang wanita yang bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana rupa wajah wanita berniqab itu.


"Bos, sepertinya saya pernah melihat si pemilik rumah yang ditempati oleh wanita incaran Anda, Bos," ucap Lugi yang tak lain adalah anak buah Maher.


Maher mengerutkan keningnya. "Siapa? Di mana kau melihatnya?"


"Sepertinya dia masih pekerja di kebun milik orang tua Anda, Bos," jawab Lugi.


"Apakah kau tidak salah?" tanya Maher memastikan.


Lugi menggeleng. "Tidak, Bos. Saya yakin sekali bahwa orang itu pekerja di kebun milik juragan Sanjaya, papa Anda."


Maher tampak manggut-manggut tanda mengerti. Seketika senyumnya kembali mengembang. Tentu saja ini adalah informasi yang sangat menyenangkan dan akan menguntungkan baginya.


"Bagus! Itu artinya aku akan semakin mudah dekat dan mendapatkan wanita itu, Gi!" sorak Maher penuh semangat.


Lugi mengangguk. "Benar sekali, Bos. Tapi, tadi saya tidak melihat wanita yang Bos maksud."


"Untuk apa kau melihatnya? Nanti kau akan jatuh cinta! Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebab, wanita itu sudah menjadi incaranku!" ujar Maher penuh penegasan dan penekanan.


Lugi tampak menelan ludahnya kasar dan mengangguk mantap. "Mohon maaf, Bos. Saya belum pernah melihat wajahnya, jadi ... tidak mungkin saya akan jatuh cinta."


"Kata siapa? Kau pikir aku pun sudah pernah melihat wajahnya?" seloroh Maher.

__ADS_1


Lugi tampak mengerutkan dahinya tak mengerti. "Kalau belum pernah melihat wajahnya, bagaimana bisa Bos jatuh cinta? Katanya Bos sering bertemu dengannya dan bahkan tadi—" Ia menggantung ucapannya saat tiba-tiba Maher menyelanya.


"Aku hanya bilang bahwa sering bertemu dengannya. Bukan berarti aku pernah melihat wajahnya, Gi!" ujar Maher seraya menjentikkan jarinya pada kening anak buahnya itu.


"Auwh!" Lugi meringis kecil seraya mengusap keningnya. "Saya bingung dan pusing memikirkannya, Bos. Bagaimana bisa Anda bertemu tapi tidak melihat. Benar-benar membingungkan!"


Maher tersenyum kecil. Seketika ia kembali teringat pada sosok Alinda yang selalu bersikap jutek padanya. Tidak banyak bicara dan hanya menjawab singkat setiap kali ditanya.


"Gusti! Malah senyum-senyum sendiri," desis Lugi yang semakin tak habis pikir.


Maher menoleh dan menatap sinis pada anak buahnya itu. "Dengar! Aku belum pernah melihat wajahnya, karena wanita itu...." Ia kembali menahan ucapannya agar membuat Lugi semakin penasaran.


"Karena wanita itu selalu buang muka?" tanya Lugi.


Maher menggeleng. "Bukan! Tapi ... dia memakai penutup wajah seperti wanita Arab."


Plak!


Maher melayangkan tangannya pada wajah Lugi. Namun, tentu saja tidak dengan kekuatan ekstra. Ia memang sering memukul anak buahnya itu jika sedang kesal.


"Jangan asal bicara! Memang kau pikir semua wanita yang berpakaian seperti wanita Arab itu adalah *******, hah?" omel Maher dengan tatapan tajamnya.


Lugi menggeleng. "Tidak, Bos. Maafkan saya." Ia berkata lirih.


"Sudah, diam! Pokoknya, mulai sekarang, kau akan sering datang ke rumah itu untuk mengirim makanan pada wanita cantik itu, paham?" tegas Maher.

__ADS_1


Lugi mengangguk. "Siap paham, Bos!"


"Bagus. Aku rasa, Alinda sekarang sedang bingung saat mendapatkan bingkisan dariku. Hm, sepertinya aku sudah harus mengirim pesan whatsapp padanya. Tadi sudah kutelepon, nomornya aktif," ucap Maher seraya meraih ponselnya.


"Bagaimana kalau makanan itu tidak dia makan, Bos?" tanya Lugi.


"Itu tidak masalah. Yang penting aku sudah memberikannya bingkisan. Karena, itu semua suatu bentuk kepedulianku padanya," jawab Maher.


Lugi manggut-manggut tanda mengerti. Sejujurnya ia sangat bingung dan heran pada Bos mudanya itu. Mengapa bisa semudah itu jatuh cinta pada wanita yang tidak pernah menampakkan wajahnya.


"Maaf, Bos. Apakah Bos yakin pada wanita itu? Emh, maksud Lugi ... apakah Bos benar-benar jatuh cinta padanya? Secara, Bos kan belum tahu bagaimana rupa wajah wanita itu," ucap Lugi yang pada akhirnya memberanikan diri bertanya.


Maher menghempaskan punggungnya pada kepala ranjangnya. "Aku juga tidak tahu, Gi. Masalahnya, dadaku selalu berdebar kencang saat aku menatap matanya. Aku selalu tertarik dan ingin melihat mata indah milik wanita itu. Ini memang aneh dan gila. Tapi, semua itu nyata kurasakan!"


"Aneh tapi nyata. Masalahnya, Bos belum pernah melihat setiap inci wajah wanita itu. Bagaimana kalau misalnya sebenarnya wanita itu memakai penutup wajah guna untuk menutupi wajahnya yang ... maaf, buruk?" ucap Lugi dengan seribu tebakan dan andai-andainya.


Maher menggeleng cepat. "Tidak! Aku yakin dia adalah wanita yang sangat cantik, Gi."


"Dari mana Anda bisa meyakini bahwa wanita itu sangat cantik, Bos?" tanya Lugi lagi.


"Dari matanya! Kau tahu, mata wanita itu sangat indah dan menyejukkan jiwa saat aku melihatnya. Selain itu, aku melihat kecantikan dari sikap dan tingkahnya. Dia selalu menunduk dan seperti malu-malu setiap kali aku memperhatikan wajahnya yang tertutup kain tipis itu," jawab Maher dengan mantap dan penuh percaya diri.


Lugi hanya mengangguk paham dan tak lagi berkomentar. Ia hanya berharap, wanita yang disenangi oleh Bos mudanya itu benar-benar cantik dan tidak sedang menutupi keburukan apa pun. Ya, karena di zaman ini, para wanita yang memakai niqab, banyak yang melenceng dari tujuan sebenarnya. Niqab atau penutup wajah itu sebenarnya digunakan oleh wanita untuk bertujuan agar melindungi wajah mereka dari tatapan lelaki yang bukan mahram.


Namun, dari masa ke masa, niqab dan cadar kini seakan menjadi trend tersendiri bagi kaum hawa. Mereka yang memakai niqab, tak malu menampilkan sisi kemolekannya dengan berjoged dan berperilaku seperti wanita-wanita di zaman jahiliah. Padahal, niqab dan cadar merupakan benda untuk melindungi para wanita dari tatapan lelaki yang bukan mahram. Sayang sekali, di zaman ini banyak yang menyalahgunakannya. Bahkan, terkadang seorang pencuri menggunakan niqab untuk menutupi wajahnya agar menyembunyikan identitas mereka. Na'udzubillah.

__ADS_1


Alinda sendiri memakai niqab guna untuk menutupi wajahnya yang sangat cantik. Dulu saat ia belum memakai niqab, banyak para lelaki yang senang menatap wajahnya. Banyak para lelaki yang satu pertamanan tiba-tiba menjadi bermusuhan karena merebutkan dirinya. Ia mulai berpikir jika kecantikannya itu telah banyak membawa bencana. Hingga pada akhirnya, ia pun memantapkan dirinya untuk menutupi wajahnya menggunakan niqab atau cadar.


BERSAMBUNG...


__ADS_2