Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 24


__ADS_3

"Assalamu'alaikum. Maaf terlambat, Om Haji, Tante Haji," ucap Arafat saat ia baru saja tiba


"Eh, Arafat. Si ganteng ini. Tadi ke mana, Ceng?" tanya Pak Haji Anwar.


"Tadi ke sana sebentar, Om Haji." Arafat menjawab sambil duduk di samping Kakaknya.


Manik mata Arafat kini berkeliaran mencari sosok Khanidah. Namun, tidak ada di hadapannya. Sepertinya memang benar, Khanidah yang baru saja ia temui adalah Khanidah calon istri kakaknya. Begitu pikir Arafat.


"Tidak ketemu sama Khanidah? Tadi dia izin ke toilet sebentar katanya. Tapi sampai sekarang nggak datang-datang," tanya Bu Hajah Anwar dengan wajah kesalnya. Ia sangat takut putrinya itu akan melarikan diri. Sebab, Khanidah memang sempat menolak perjodohan itu.


"Emh, Arafat tid—" Arafat tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba seorang wanita cantik datang ke sana. Hal itu membuatnya menjeda ucapannya secara tiba-tiba.


"Assalamu'alaikum," ucap Khanidah saat ia telah menghampiri keluarga Ustadz Destaqi dengan Bunda dan Ayahnya.


"Waalaikumsalam." Semua orang menyahuti. Tak terkecuali Arafat yang saat itu tampak kaget.


"Hah, jadi benar. Ini Khanidah yang tadi aku temui. Maa syaa Allah," ucap Arafat dalam hati. Ia tampak menatap setengah tak percaya.


"Silakan duduk, Neng. Maa syaa Allah, makin cantik saja ini si Neng," ucap Bu Hajah Suranih dengan tatapan hangat dan sopannya.


Khanidah mengangguk. Ia pun menyalami tangan Bu Hajah Suranih dengan sopan dan takdzim. Matanya benar-benar tak lirik-lirik ke sana kemari. Ia memang sedikit malas dengan perjodohan yang saat ini ia alami.


Ustadz Destaqi tampak hanya melirik sejenak. Setelah itu, ia kembali memalingkan wajahnya dan tidak menatap lama wajah Khanidah yang tak membuat dadanya bergetar. Bukan itu yang ia pikirkan saat ini. Menikah, tentunya tak melulu soal perasaan dan cinta. Namun, dengan perasaan dan cinta, tentunya pernikahan akan lebih terasa hangat dan menyenangkan.


Khanidah sendiri matanya tidak jelalatan ke mana-mana. Ia hanya menunduk saat duduk di dekat kedua orang tuanya. Ia hanya akan mengangkat wajahnya dan melihat lelaki yang dijodohkan padanya saat nanti disuruh oleh sang Bunda atau oleh calon mertuanya.


"Tadi kenapa lama sekali, Nida!?" tanya Bu Hajah Anwar dengan suara yang berbisik.


"Emh, tadi ... cari tempat foto dulu sebentar, Bun," jawab Khanidah tanpa berbohong.


"Owalah, Bunda kira kamu akan kabur," ucap Bu Hajah Anwar yang berhasil membuat Khanidah tertawa kecil.

__ADS_1


"Hahaha, jauh banget sih Bun pikirannya. Gini-gini juga, Khanidah masih punya rasa takut pada Allah. Hehe," ujar Khanidah dengan suara yang pelan nyaris berbisik.


"Oh ya, Khanidah, gimana kuliahmu sekarang?" tanya Nyai Hajah Suranih basa-basi. Sepertinya ia sudah ingin membahas soal perjodohan.


"Alhamdulillah lancar, Umi. In Syaa Allah wisuda tahun depan," jawab Khanidah dengan hangat dan sopan.


"Maa syaa Allah, sebentar lagi dong. Kalau masih kuliah, bisa menikah tidak, Neng?" ucap Nyai Hajah Suranih.


Khanidah tersenyum simpul. "Kebetulan di kampus Nidah, tidak ada peraturan tak boleh menikah sebelum lulus, Umi."


"Jadi, boleh?" tanya Abah Haji Muhajir.


"Ya, boleh, Abah." Khanidah menjawab lembut.


"Alhamdulillah, kalau gitu Umi bisa tenang," ucap Nyai Hajah Suranih dengan senyuman bahagianya.


"Iya dong, nanti kan kita bisa langsung nikahin anak kita, Umi," timpal Bu Hajah Anwar. Agar lebih hangat, ia memanggil Umi saja.


"Aamiin Yaa Allah. Itu yang diharapkan," timpal Pak Haji Anwar.


"Kalau gitu, ayo kenalan dulu, Destaqi sama Khanidah," ucap Nyai Hajah Suranih.


"Iya, ayo kenalan. Aa Desta, ini loh putri sulung Bu Hajah sama Pak Haji. Namanya Khanidah." Bu Hajah Anwar mengenalkan putrinya pada Ustadz Destaqi.


"Iya, Bu Hajah," jawab Ustadz Destaqi.


"Ayo dong, dilihat dulu ini calon istrinya. Khanidah, tidak apa-apa loh tatap wajah Ustadz Destaqi, kalian kan memang harus saling melihat dulu," ucap Bu Hajah Anwar yang tampak semangat empat lima.


Ustadz Destaqi tampak tersenyum masam dan malu-malu. Sementara Khanidah pun kini tengah tersenyum. Ia tahu jika calon suami yang kedua orang tuanya pilih tidak akan buruk. Namun, tetap saja rasanya tidak seru jika menikah bukan dengan lelaki pilihan hatinya sendiri.


"Wah, mereka akan saling tatap. Moment yang sangat langka. Ayo, tataplah wajah calon suamimu, Khanidah. Beberapa waktu lagi kau akan menjadi Teteh iparku," ucap Arafat dalam hati.

__ADS_1


Perlahan-lahan Ustadz Destaqi mengangkat wajahnya. Begitupun dengan Khanidah, ia tampak sedikit salah tingkah dan malu-malu. Dalam waktu yang sama, mata keduanya pun saling beradu. Ustadz Destaqi memberikan senyum hangat pada wanita muslimah di hadapannya. Sementara Khanidah pun tersenyum hangat namun tidak setulus Ustadz Destaqi. Sejenak keduanya saling memperhatikan wajah. Namun, saat manik mata Khanidah meleset ke samping. Tiba-tiba saja...


"Kamu!" ucap Khanidah pada Arafat yang duduk diam dengan wajah datar.


Arafat hanya tersenyum simpul dan mengangguk kecil. Sementara semua orang yang ada di sana tampak menatap tak mengerti. Khanidah kini menatap bergantian pada Arafat dan Ustadz Destaqi.


"Loh, kamu kenal sama Arafat?" tanya Bu Hajah Anwar.


Khanidah diam dan tak segera menjawab. Dibilang kenal, tentu saja belum. Sebab, Khanidah pun belum tahu siapa nama lelaki yang tadi membantunya berpose. Dibilang tidak kenal, tadi ia sudah bertemu dan bahkan banyak berbincang. Ya, walaupun bukan perbincangan yang penting.


Ustadz Destaqi menoleh pada adik pertamanya. Tentu saja ia sangat butuh penjelasan. "Kamu kenal, Ar?" Ia bertanya dengan pelan.


Arafat menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. Sepertinya ia memang harus menjelaskan dengan detail. Dilihat dari segi mana pun, semua orang tampak kaget dan penasaran.


"Jadi begini, Arafat tidak kenal sama Teh Khanidah. Cuma, tadi itu tidak sengaja kami bertemu di pusat tempat berfoto. Teh Khanidah minta tol—" Arafat belum selesai bicara, dengan cepat Khanidah menyelanya.


"Minta tolong tunjukkan jalan ke toilet. Ya! Kami bahkan tidak menyadari jika ternyata akan bertemu di sini," sela Khanidah beralasan.


Arafat tampak mengerutkan dahinya tak mengerti. Namun, saat Khanidah mengedipkan mata dan memberi kode, akhirnya ia pun paham bahwa mereka harus bersandiwara. Mungkin Khanidah malu jika ketahuan minta difotokan olehnya.


"Owalah, begitu ya. Pantas saja Khanidah kaget tadi," ucap Nyai Hajah Suranih.


Khanidah tersenyum simpul dan sedikit kaku. Namun, ia sudah bisa bernapas lega karena semua orang percaya. Sementara Arafat hanya tersenyum kecil dan entah mengapa ia sedikit tertarik pada sosok wanita cantik yang menurutnya sangatlah unik.


"Menarik sekali," gumam Arafat dalam hati.


"Ya sudah, kita kembali fokus sama tujuan utama," ucap Pak Haji Anwar.


"Yang pasti, Abah hanya tekankan bahwa tidak boleh ada paksaan dari pihak manapun," ujar Abah Haji Muhajir penuh penegasan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2