
Alinda semakin heran dengan keberadaan Maher di dekatnya. Apa maksud dan tujuan lelaki itu terhadap dirinya. Entah mengapa, ia merasa jika Maher benar-benar akan selalu mengganggu kehidupan dirinya. Mengenai alasan Maher kembali ke desa dengan cepat setelah urusan lelaki itu selesai di Jakarta, tentu saja sampai saat ini pun ia tidak tahu apa sebabnya. Padahal, ia bukan siapa-siapa bagi Maher dan Maher pun bukan siapa-siapa bagi dirinya. Akan tetapi, ia begitu merasa jika Maher kini melibatkan dirinya dalam kehidupan lelaki itu.
"Baiklah, karena ukhti sudah tahu alasan aku kembali ke desa dengan cepat setelah urusanku selesai di Jakarta, jadi ... sekarang aku sudah harus berangkat. Doakan Aa Maher agar sampai tujuan dengan selamat dan kembali lagi ke desa ini pun dengan selamat dan baik-baik saja. Agar kita dapat bertemu kembali," ucap Maher panjang lebar tanpa ditanya sepatah kata pun oleh Alinda.
Alinda hanya diam dan membiarkan lelaki tidak jelas itu berkicau apa saja. Yang pasti, ia hanya ingin lelaki itu cepat pergi dari hadapannya. Selain mengganggu aktivitasnya, lelaki itu juga akan membuat yang melihat mereka berpikir yang tidak-tidak. Tentu saja itulah yang tidak Alinda inginkan.
"Oh ya, aku sampai lupa, ukhti. Ini, ada camilan enak yang harus ukhti nikmati. Kali ini Aa Maher sendiri kan yang mengantarkan langsung pada ukhti. Hehehe," ucap Maher seraya memberikan sekantung plastik makanan berupa camilan dan minumannya.
Alinda tampak memutar bola matanya malas. "Terima kasih, ya. Tapi, sebaiknya dibawa saja makanannya untuk bekal di Jakarta."
"Jangan gitu, dong. Ini khusus buat ukhti. Jangan menolak rezeki yang datang, lho! Kalau soal bekal Aa Maher di Jakarta mah atuh ya gampang pisan. Tapi, terima kasih lho karena sudah perhatian pada Aa Maher. Hihihi," balas Maher diiringi cengengesnya. Ia sampai lupa jika harus segera ke Jakarta.
Alinda membuang napasnya kasar. "Ya sudah, saya terima. Kalau gitu, terima kasih banyak dan ... setelah ini Anda tidak perlu lagi mengirim makanan-makanan kepada saya, ya. Karena, saya sudah sembuh dan tanggung jawab Anda sudah berakhir." Ia pun menerima bingkisan dari lelaki tampan di hadapannya itu.
Maher tersenyum gemas dan mengangguk pelan. "Oke, sama-sama. Tidak apa-apa, ukhti. Aa Maher akan terus mengirim makanan pada ukhti. Jangan sungkan kalau ada apa-apa bilang saja sama Aa Maher, ya. Semuanya pasti beres." Ia pun kembali menutup kaca helmnya.
Alinda tak menanggapi. Ia hanya diam dan menatap jauh ke sembarang arah. Sementara Maher kini sudah berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
"Bye! Assalamu'alaikum," ucap Maher saat ia sudah berada di atas kuda besinya.
Alinda menoleh. "Waalaikumsalam." Menjawab sedikit terlambat.
Selepas kepergian Maher, Alinda tampak mematung dan memikirkan apa sebenarnya yang Maher inginkan. Wanita cantik itu pun kembali mengingat ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Maher. Tentu saja hal itu pun membuatnya harus mencerna dan memikirkan lebih dalam lagi. Entah mengapa, hatinya kini merasa senang saat Maher mengatakan jika lelaki itu akan terus mengirim makanan dan meminta dirinya untuk tidak sungkan.
Ada apa ini? Apakah wanita berniqab itu sudah membuka hati untuk Maher? Tidak. Bukan membuka hati karena memiliki perasaan khusus. Akan tetapi, membuka hati untuk menjadi teman. Jika dipikir-pikir, selama ini ia memang belum memiliki teman di desa itu. Berteman dengan Zahrani pun baru beberapa hari ini. Lagi pula, di dunia ini manusia pasti membutuhkan teman untuk bercerita dan berbagi keluh kesah. Apakah Maher akan menjadi teman bagi Alinda? Entahlah.
***
Setelah menyaksikan bagaimana sikap Khanidah terhadap dirinya, Ustadz Destaqi merasa berkecil hati dan sungguh yakin jika wanita putri sulung sahabat Abahnya itu tidak menyukai dirinya. Bukan masalah suka atau tidak suka, yang membuat Ustadz muda itu berkecil hati karena Khanidah terkesan tidak setuju dengan perjodohan yang terjadi di antara mereka berdua. Tentu saja hal ini tak luput dari kegelisahan dirinya.
Ya, beberapa hari lalu saat ia mengantar undangan ke rumah Pak Haji Anwar, ia sedikit kaget dengan sikap Khanidah. Terlebih saat keluarga itu membahas Ustadz Ilyas. Ustadz Destaqi menyangka jika sebenarnya Khanidah suka pada Ustadz Ilyas yang kabarnya pernah hendak melamar Khanidah.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam. Sekian detik kemudian, pintu kamar itu terbuka.
Ustadz Destaqi menolehkan wajahnya ke ambang pintu. "Waalaikumsalam." Menjawab pelan dan gegas membangunkan tubuhnya saat ia melihat sosok pria tua yang tak lain adalah Abahnya sendiri.
__ADS_1
Abah Haji Muhajir melangkahkan kakinya menghampiri putra sulungnya itu. "Sedang apa, Nak? Kenapa belum siap-siap mengajar ngaji?"
"Abah, silakan duduk." Ustadz Destaqi bergegas turun dari ranjangnya dan mempersilakan Abahnya untuk duduk. "Anu, sebentar lagi siap, Bah. Lagi pula, ngajinya juga setengah jam lagi."
Abah Haji Muhajir mengangguk lalu mendudukkan bokongnya di bibir ranjang. "Kenapa akhir-akhir ini Abah melihat kegelisahan di wajahmu, Taqi."
Ustadz Destaqi tampak menundukkan wajahnya dan melipat bibirnya ke dalam. Sepertinya sang Abah dapat melihat dan merasakan kegelisahan yang ada pada dirinya. Ia sendiri memang belum bicara apa pun pada Abahnya itu. Namun, sepertinya ini saat yang tepat bagi dirinya mengungkap uneg-unegnya pada lelaki tua yang tepat untuk diajak musyawarah.
"Ada masalah apa, Nak?" tanya Abah Haji Muhajir dengan tatapan penuh selidik.
Ustadz Destaqi menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. "Rupanya Abah sangat peka terhadap kegelisahan putra Abah ini."
"Tentu. Untuk itu, ceritakan apa yang membuatmu gelisah, Nak. Karena, kegelisahan itu tidaklah baik jika sampai membuatmu malas beribadah kepada Allah," ucap Abah Haji Muhajir dengan lembut.
Ustadz Destaqi mengangguk. "Ini tentang perjodohan antara Taqi dengan Khanidah, Abah."
Abah Haji Muhajir mulai memasang indera pendengarannya dengan tajam. "Perjodohan? Ada apa di dalamnya? Abah sudah paham jika kamu sedikit merasa keberatan atas perjodohan ini. Abah mengerti jika saat ini kamu belum ingin menikah, Nak."
__ADS_1
"Abah selalu mengerti dan peka. Tapi, Taqi tetap harus patuh pada keinginan Umi. Taqi terima perjodohan ini, Abah. Namun, sepertinya Khanidah sendiri tidak menginginkan perjodohan ini. Taqi hanya khawatir jika kami benar-benar akan sampai menikah, pernikahan kami hambar dan tak tentu arah," ungkap Ustadz Destaqi pada akhirnya mengungkap kegelisahan dirinya.
BERSAMBUNG...