
Sesampainya di Taman Nusantara, keluarga Abah Haji Muhajir langsung mencari tempat duduk yang nyaman dan lapang. Sebab, mereka akan berkumpul dengan keluarga Pak Haji Anwar. Mereka pikir, Pak Haji Anwar beserta istri dan putrinya sudah tiba di sana. Rupanya, mereka belum terlihat batang hidungnya.
"Mereka belum sampai. Sepertinya kita harus menunggu," ucap Nyai Hajah Suranih.
"Tidak ditelepon saja, Mi?" tanya Arafat.
"Benar juga. Sebentar, Umi telepon Bu Hajah Anwar dulu," ucap Nyai Hajah Suranih yang kemudian meraih ponsel di dalam tas jinjingnya.
"Semestinya mereka sudah sampai di sini. Kenapa kita yang jadi menunggu. Sungguh tidak profesional!" cicit Abah Haji Muhajir yang tampak dingin.
Nyai Hajah Suranih mendelikan matanya dan tak menggubris. Ia tahu jika suaminya itu kurang setuju dengan keinginannya. Namun, hal itu tidak ia pedulikan. Pokoknya ia hanya ingin putranya menikah dengan cepat dan tentunya dengan putri Bu Hajah Anwar yang cantik dan berasal dari keluarga terhormat seperti dirinya.
"Sabar sedikit, Bah. Mungkin ada kendala di perjalanan. Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa," ucap Ustadz Destaqi menenangkan.
"Tidak wajar saja kalau kita yang menunggu mereka, Qi." Abah Haji Muhajir masih ngedumel.
"Sudah lah, Bah. Jangan cerewet," tegur Nyai Hajah Suranih penuh penekanan.
"Bukan cerewet, Umi. Tapi, tidak sabaran. Hehe," timpal Arafat sambil nyengenges tanpa dosa.
Nyai Hajah Suranih hanya memutar bola matanya malas dan fokus pada telepon genggamnya. Ya, ia sedang menelepon Bu Hajah Anwar saat ini. Namun, sepertinya teleponnya tidak tersambung. Mungkin whatsapp Bu Hajah Anwar sedang tidak aktif.
"Ini masih lama tidak, Mi?" tanya Arafat.
Nyai Hajah Suranih mengangkat bahu. "Tidak tahu, Araf. Memangnya kenapa? Kau juga sama seperti Abahmu yang tidak sabaran?" Ia sedikit menyindir. Telepon genggam masih ia dekatkan di telinganya.
Arafat tampak menelan ludahnya kasar dan menggeleng kecil. "Bukan seperti itu atuh, Mi. Arafat teh mau ke toilet sebentar, ya. Sepertinya kebelet buang air kecil."
__ADS_1
"Oh, begitu. Ya sudah sana. Lagi pula, yang mau ta'arufan 'kan Aa mu, bukan kamu," ucap Nyai Hajah Suranih yang kini tampak menatap kesal pada layar ponselnya.
Arafat mengangguk kecil. Ia pun bergegas melangkahkan kakinya menuju toilet. Sementara Ustadz Destaqi, Abah Haji Muhajir dan Nyai Hajah Suranih masih duduk di tempat semula.
"Teleponnya tidak diangkat atau bagaimana?" tanya Ustadz Destaqi penuh selidik.
"Bukan tidak diangkat, Qi. Tapi, tidak tersambung. Dari tadi memanggil terus. Sepertinya sedang tidak aktif," jawab Nyai Hajah Suranih dengan tatapan cemasnya.
"Kalau mereka tidak datang, bagaimana?" tanya Ustadz Destaqi lagi.
"Itu artinya mereka hanya bercanda dan mempermainkan kita, Qi. Lebih tepatnya mempermainkan Umimu, sih." Abah Haji Muhajir menyambar penuh sindiran.
"Hust! Abah kok bicara seperti itu, sih? Tidak boleh suudzon sama siapa pun. Mungkin mereka sedang kejebak macet atau ada sedikit halangan lain," ujar Nyai Hajah Suranih penuh penegasan.
"Hm, mungkin seperti itu. Tapi, Abah merasa ada hal lain," ucap Abah Haji Muhajir seraya memainkan setiap helai janggutnya.
"Hal lain apa, Bah?" tanya Ustadz Destaqi antusias.
"Abahmu memang selalu tidak jelas, Qi." Nyai Hajah Suranih terlihat kesal pada suaminya.
Ustadz Destaqi tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Ia mengerti mengapa akhir-akhir ini kedua orang tuanya seperti saling mempertahankan egonya masing-masing. Akhir-akhir ini kedua orang tuanya memang selalu beradu mulut dan sering bersikap sama-sama cuek. Tentu saja hal itu karena keduanya memiliki pendapat yang berbeda mengenai perjodohan yang akan dilakukan antara Ustadz Destaqi dengan Khanidah.
Di satu sisi, sang Umi sangat ingin menjodohkan Ustadz Destaqi dengan Khanidah. Namun, di sisi lain sang Abah seperti tidak setuju dengan keinginan sang Umi. Sementara Ustadz Destaqi sendiri hanya bisa pasrah dan tetap menuruti perintah orang tuanya. Ia tak bisa menolak perintah sang Umi yang akan menjodohkan dirinya dengan putri sahabat Abahnya yaitu Khanidah. Abah Haji Muhajir pun bukan suami atau orang tua yang suka mengekang. Ia lebih suka menghargai setiap pendapat istri atau putra putrinya.
Di sudut lain, keluarga Bu Hajah Anwar tampak baru saja tiba di Taman Nusantara. Mereka langsung mencari keluarga Abah Haji Muhajir. Mengingat mereka sudah membuang waktu lama di jalan tadi.
"Bun, Nidah mau ke toilet sebentar, ya," ucap Khanidah pada Bundanya.
__ADS_1
Bu Hajah Anwar mengangguk kecil. "Ya sudah sana. Tapi jangan lama-lama ya. Nanti langsung nyusul."
"Siap, Bun!" jawab Khanidah dengan sigap.
Wanita cantik berhijab segiempat warna dusty itupun bergegas mencari toilet. Ia memang baru pertama kali mengunjungi Taman Nusantara itu. Wajar saja jika ia masih kesulitan mencari di mana letak toilet.
"Nah, itu dia toiletnya." Khanidah bersorak saat manik matanya menangkap toilet. Ia pun bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju toilet itu.
"Lega!" ucap Khanidah saat ia sudah membuang hajatnya.
Gadis cantik itu kini kembali melangkahkan kakinya. Karena ia belum hafal dengan kawasan Taman Nusantara itu, ia sedikit kesulitan dan kembali harus celingukan mencari sang Bunda yang sudah lebih dulu menghampiri keluarga Abah Haji Muhajir. Akhirnya ia pun memilih mencari dengan menyusuri setiap jengkal area taman itu.
"Di mana Bunda sama Ayah? Kenapa aku tidak menemukan mereka. Argh! Menyebalkan sekali. Aku sungguh tidak akan mau menerima perjodohan ini," celoteh Khanidah yang tampak kesal.
Ia terus mencari. Sesekali berswafoto dengan pemandangan yang indah. Bunga-bunga yang mekar mewangi menjadi objek terindah saat ini. Gadis cantik itu pun sangat terlena dan keenakan swafoto di sana.
"Cantik banget sih. Tapi, sepertinya kalau foto di dekat sini sambil memegang bunganya akan lebih cantik. Namun, bagaimana caranya? Ah, sepertinya aku harus mencari seseorang untuk membantuku berfoto," ucap Khanidah yang kemudian mengedarkan pandangannya ke sana kemari.
Di sebuah batu besar, seorang lelaki tampan tampak sedang duduk sembari memainkan benda pipih di tangannya. Sesekali lelaki tampan itu tersenyum lalu disambung dengan tawa. Lelaki itu adalah Arafat. Setelah buang air kecil, ia tak segera kembali menemui kedua orang tua dan Aanya.
"Pemandangannya indah sih di sini. Tapi, sayang banget aku cuma sendiri. Huhuhu," ucap Arafat saat ia menatap pemandangan indah di Taman Nusantara itu.
"Assalamu'alaikum. Permisi, Kang." Terdengar suara seorang wanita yang sangat asing bagi Arafat.
"Waalaikumsalam, ya ada apa, Teh?" sahut Arafat seraya menoleh ke belakang.
Khanidah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kaget pada sosok lelaki tampan di hadapannya. "Subhanallah! Tampan sekali."
__ADS_1
Bukannya menjawab, Khanidah hanya diam dengan tatapan fokus pada lelaki tampan di hadapannya. Sementara Arafat tampak bingung menghadapi wanita asing yang tadi mengucapkan salam padanya. Tentu saja ia sangat heran pada wanita asing di hadapannya itu.
BERSAMBUNG...