
Alinda terdiam di depan jemuran. Entah mengapa ia merasa sangat sedih karena bh bibinya tidak mengizinkan untuk bekerja. Padahal, ia hanya ingin mengisi hari-hari dengan hal yang bermanfaat. Lagi pula, kehidupan bibinya itu tidaklah seberuntung keluarga Sanjaya. Bi Herni dan Mang Agus sering mengeluhkan pengeluaran yang terbilang banyak sementara pemasukan terbilang sedikit. Tentu saja hal itu membuat Alinda ingin membantu sang bibi dengan sang paman. Mengingat usianya masih muda dan tenaganya masih kuat, Alinda merasa layak untuk bekerja.
"Kenapa bibi tidak mengizinkan aku untuk bekerja. Apakah beliau tidak tahu kalau setiap hari aku memikirkan hal ini. Aku juga punya perasaan, tidak mungkin selamanya akan menyusahkan bibi dan mang Agus. Maka dari itu, aku ingin bekerja," ucap Alinda dalam hati.
Maher menghentikan kuda besinya di depan halaman rumah Bi Herni. Matanya menatap tajam pada seorang wanita yang sedang berdiri di dekat jemuran. Seketika senyumnya mengembang saat ia melihat wanita itu. Sudah dapat ia tebak jika wanita yang sedang memakai gamis dusty dan hijab hitam itu adalah Alinda. Untuk sesaat ia pun membiarkan matanya menatap si wanita yang hanya diam sambil menatap pada jemuran.
"Apa yang sedang wanita itu pikirkan? Kenapa dia mematung seperti itu?" gumam Maher di dalam hati.
Alinda sendiri sepertinya tidak menyadari kehadiran Maher di sekitarnya. Ia yang masih melamun tentu saja tidak fokus pada objek di sekelilingnya. Pikirannya hanya berputar pada pekerjaan dan bagaimana caranya meluluhkan hati bibinya itu.
"Sebaiknya aku turun saja. Hari ini aku sendiri yang akan memberikan bingkisan ini padanya," ucap Maher seraya turun dari kuda besinya. Helmnya masih terpasang di kepalanya.
Tanpa pikir panjang, Maher pun melangkahkan kakinya menghampiri Alinda. Senyumnya terus mengembang. Walau ia belum melihat wajah wanita itu, tapi ia yakin jika Alinda adalah wanita yang sangat cantik.
"Assalamu'alaikum, ukhti," ucap Maher dengan suara yang lembut namun cukup keras agar Alinda tersadar dari lamunannya.
Benar saja, Alinda pun sontak saja menolehkan wajahnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok lelaki di hadapannya. Namun, lelaki itu tidak menampakkan wajahnya karena tertutup oleh helm. Sementara pakaiannya sungguh rapi.
"Waalaikumsalam. Astaghfirullah!" Alinda refleks melangkahkan kakinya mundur lalu menundukkan wajahnya yang tertutup oleh sehelai kain.
__ADS_1
Maher tersenyum gemas di balik helmnya. Melihat sikap Alinda yang selalu menghindar dan menundukkan pandangan, sungguh membuat Maher kagum dan semakin penasaran. Ia pun kini membuka kaca helmnya dan menampakkan wajah tampannya.
"Maaf karena sudah membuatmu terkejut," ucap Maher.
Alinda tampak mengerutkan dahinya saat mendengar suara si lelaki yang datang padanya. Tentu saja ia sudah hafal suara lelaki itu. Akhirnya, ia pun mengangkat wajahnya dan menatap si lelaki itu.
"Kamu!" ucap Alinda seraya menatap tajam.
"Ya, ini aku. Aa Maher," jawab Maher penuh percaya diri.
Alinda memalingkan wajahnya. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan lelaki yang sama sekali tidak ia kenali. Padahal, ia tak ingin lagi bertemu dengan lelaki itu. Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Allah kembali mempertemukan dirinya dengan lelaki itu.
"Wow, benarkah? Apa itu tandanya kita bisa berduaan di dalam rumah, ukhti?" goda Maher tanpa diduga mengundang kemarahan Alinda.
"Tidak sopan!" desis Alinda seraya menatap tajam pada lelaki di hadapannya itu, "jangan pernah menilai saya seenak jidat Anda! Apa yang telah Anda ucapkan tadi, sungguh sebuah penghinaan untuk saya. Lebih baik sekarang Anda pergi dari sini sebelum saya teriaki Anda seorang maling!" lanjutnya yang kini tampak berapi-api. Ia begitu kesal pada Maher yang terlalu bar-bar dan seolah menganggap dirinya seorang wanita murahan yang bisa diajak bermaksiat dalam ruang kosong dan penuh nafsu.
Maher tampak tersenyum kecil dan tetap santai menanggapi kekesalan Alinda. "Maaf jika ucapanku tadi telah membuatmu tersinggung, ukhti. Aku hanya bercanda. Sebaiknya tarik lagi ancamanmu tadi. Sebab, itu sangat percuma. Semua orang tidak akan ada yang percaya dengan ucapanmu."
Alinda terdiam dan mengatur napasnya yang sudah naik turun tak beraturan. Ia sangat jengah pada lelaki tengil di hadapannya itu. Jika ia pandai ilmu bela diri, sudah pasti ia pites lelaki tengil itu. Sayangnya ia tidak pandai ilmu bela diri. Rasanya sangat menyesal karena dulu ia menolak saat teman-teman sebayanya mengajak dirinya untuk latihan bela diri.
__ADS_1
"Oh ya. Aku cuma mau tanya, kenapa tidak pernah membalas chat dariku, ukhti? Sebenarnya, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin kenal dan dekat denganmu. Itu saja," sambung Maher.
Alinda mengangkat wajahnya dan menatap heran. "Jangan lancang ya, kamu! Tidak ada faedahnya kamu dekat dengan saya. "
"Hehehe, maafkan aku karena sudah lancang, ukhti. Tapi ... kalau tidak lancang, sepertinya aku tidak akan pernah bisa mengenal dirimu. Sayang sekali," ucap Maher dengan santai.
"Kalau sudah selesai bicara, silakan tinggalkan tempat ini!" Alinda sudah tak bisa lagi membiarkan Maher berada di dekatnya. Ia sungguh takut akan menjadi fitnah dan dosa di hadapan Allah.
"Baik, aku akan pergi. Hari ini aku akan ke Jakarta sebentar, ukhti. Tapi, tidak akan lama. Setelah urusanku selesai, maka aku akan langsung pulang. Kamu tahu karena apa?" ucap Maher seraya menatap manis dan gemas pada Alinda.
Alinda hanya diam tak menanggapi. Ia tetap memalingkan wajahnya dan berusaha untuk menahan pandangannya. Pertanyaan Maher sungguh membuat dirinya muak dan sebal. Tentu saja ia tidak tahu mengapa Maher akan langsung kembali ke desa setelah urusannya selesai di Jakarta.
"Alasannya karena kamu, ukhti." Maher kembali berbicara setelah melihat Alinda tetap diam tak menjawab.
Sontak saja Alinda tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tak mengerti pada lelaki yang tak lain adalah putra tunggal juragan kaya di desa itu. Tentu saja ia tak mengerti mengapa dirinya menjadi alasan kembalinya Maher dengan cepat setelah urusan lelaki itu selesai di Jakarta. Mengapa ia seolah terlibat dalam kehidupan Maher? Sungguh sulit dimengerti bagi gadis berniqab itu.
"Aku? Kenapa aku pun terlibat? Apa urusannya?" tanya Alinda yang begitu heran.
Maher tersenyum kecil dan dalam keadaan seperti itu, ia pun memanfaatkan untuk memandang mata indah milik wanita berniqab di hadapannya itu. Sungguh dadanya kembali bergetar hebat saat ia menatap kedua mata indah itu. Jujur saja, hal ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jika sebelumnya ia merasakan getaran dalam dadanya, itu karena ia melihat dan menginginkan seorang wanita yang seksi dan binal.
__ADS_1
BERSAMBUNG...