Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 26


__ADS_3

"Sudah bisa dibawa pulang, Den," ucap Mak Armah pada Maher.


"Oh iya, Mak. Ini biayanya, ya. Hatur nuhun," balas Maher seraya memberikan beberapa lembar uang pada Mak Armah.


"Terima kasih banyak, Den," ucap Mak Armah.


Maher tak menanggapi. Ia bergegas masuk ke dalam rumah milik tukang urut itu. Tentu saja ia ingin melihat kondisi wanita pemilik mata indah itu.


"Jangan masuk!" pekik Alinda saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia tahu itu adalah Maher. Tentu saja beda cara jalannya dengan Mak Armah.


Maher tampak mengusap wajahnya kasar dan meletakan satu tangannya di pinggangnya. "Ck!" Berdecak sebal. Tadinya ia ingin menerobos masuk dan berharap bisa melihat wajah asli wanita pemilik mata indah itu tanpa memakai niqab.


"Emang kurang sopan si holang haya ini," desis Zahrani seraya membuka pintu.


"Aku nggak pernah ajak kamu ngomong, Rani. Jangan suka nyosor kayak bebek!" omel Maher yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Habisnya Aa Maher itu keterlaluan. Sudah jelas Teh Alin itu nggak mau loh didekatin sama Aa Maher. Sudah jelas semua penolakan yang Teh Alin lakukan! Ih, nggak ngerti!" ujar Zahrani dengan tatapan tajamnya.


Maher tampak mengerutkan keningnya dan menatap heran pada muslimah muda di hadapannya itu. "Loh, kenapa kamu yang ngotot? Ukhti itu saja nggak ngotot begini. Aneh!"


"Itu karena beliau nggak kenal sama Aa Maher!" jawab Zahrani dengan berani.


"Berhenti memanggilku Aa! Memangnya aku kakakmu!?" seloroh Maher seraya menatap tajam pada Zahrani.


Zahrani memutar bola matanya malas. "Panggilan Aa itu bukan hanya untuk seorang kakak. Tapi, bisa digunakan untuk orang yang lebih tua dari kita. Paham, holang haya?"


Maher mendelikan matanya dan menatap sebal. "Terserah! Aku hanya ingin melihat ukhti, apakah kakinya sudah membaik atau belum." Ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Alhamdulillah sudah. Terima kasih karena sudah bersedia bertanggung jawab," ucap Alinda yang tiba-tiba saja keluar dari sebuah kamar.


Sontak saja Maher menurunkan tangannya dan menatap binar pada Alinda yang kini sudah berada di hadapannya. "Ukhti! Apakah kakinya masih sakit?" Ia refleks berjongkok di hadapan Alinda dengan tatapan cemas.


Alinda tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kaget pada sosok lelaki yang berjongkok di hadapannya. Sontak saja wanita cantik itu mundur dan membuat kakinya terasa nyeri. "Aw!"

__ADS_1


"Ukhti!" Maher begitu terkejut melihat Alinda yang meringis kesakitan. Ia pun berdiri dan menatap cemas.


"Teh Alin tidak kenapa-kenapa? Ya Allah, baru saja mendingan," ucap Zahrani seraya menyentuh tangan Alinda agar tidak oleng.


"Tidak apa-apa, Zahra. Ini sedikit nyeri karena mungkin refleks bergerak cepat. Kata Mak Armah kan tadi harus pelan-pelan saja kalau digerakin," jawab Alinda.


"Kalau gitu ayo pulangnya kugendong saja, ukhti," tawar Maher penuh semangat.


Alinda tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Mendengar ucapan Maher, ia merasa terhina dan seperti direndahkan sebagai wanita. Mungkin yang Maher tawarkan memang karena kepeduliannya terhadap Alinda. Namun, Alinda yang sama sekali tidak mengenal dekat sang putra tunggal juragan kaya itu sungguh merasa jika Maher hanya mempermainkan harga dirinya.


"Jangan macam-macam! Saya masih punya harga diri! Sebaiknya sekarang Anda pergi dari sini!" usir Alinda yang sudah geram dengan sikap Maher yang selalu sok kenal dan sok dekat dengannya.


Wanita cantik yang lemah lembut itu pun bisa menunjukkan kemarahannya pada sosok lelaki yang membuatnya geram. Maher yang mendapatkan usiran dan perilaku kurang hangat oleh Alinda tampak merasa kecewa. Apa yang ia lakukan seolah dipandang hanya sebatas omong kosong dan bualan belaka. Padahal, Maher benar-benar tulus dan begitu peduli pada wanita pemilik mata indah itu.


"Maaf, ukhti. Tapi, aku hanya—" Maher belum selesai bicara, dengan cepat Alinda menyelanya.


"Saya tidak butuh penjelasan kamu! Kita tidak pernah saling mengenal. Jadi, jangan lagi ganggu hidup saya!" ujar Alinda dengan tatapan tajamnya.


"Ayo, Zahra. Bila berkenan, tolong antarkan saya, ya. Mohon maaf karena telah merepotkan," ajak Alinda yang terpaksa harus meminta Zahrani untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah sang bibi.


"Iya, Teh. Pasti saya antarkan," jawab Zahrani yang kemudian menggandeng tangan Alinda. Membantu wanita berniqab itu agar bisa berjalan ke luar rumah.


Maher terpaku di tempatnya. Ia tak habis pikir, mengapa wanita yang ia kagumi itu begitu membencinya? Apakah karena ia terlalu banyak bicara dan banyak tindakan? Entahlah! Maher sungguh bingung mencerna setiap yang ia alami.


"Maaf, Den. Sepertinya wanita itu penduduk baru ya di desa ini? Apa itu temannya Den Maher dan Neng Zahra?" tanya Mak Armah dengan sopan.


Maher menggeleng cepat. "Saya tidak mengenalnya." Ia menjawab dingin. Hal itu membuat Mak Armah semakin heran dan tak paham.


"Teteh tinggalnya di mana, ya?" tanya Zahrani saat ia sudah mengendarai motornya.


"Di rumahnya Bi Herni, Teh," jawab Alinda.


"Oh. Saudaranya Bi Herni?" tanya Zahrani lagi.

__ADS_1


"Saya keponakannya, Teh. Kedua orang tua saya sudah meninggal. Jadi, saya sekarang tinggal dengan Bi Herni dan Mang Agus," jawab Alinda dengan jelas.


"Ya Allah, maaf ya, Teh. Zahra nggak bermaksud buat Teteh sedih. Kalau gitu, kita bisa sering bertemu ya," ucap Zahrani yang sedikit merasa tidak enak karena telah membuat Alinda membahas kedua orang tuanya yang sudah tiada.


"Iya Teh tidak apa-apa. Tentu saja, berteman pun kita bisa," balas Alinda.


"Panggil Zahra saja, Teh. Wah, yang benar ini? Memangnya Teh Alin mau temanan dengan Zahra?" tanya Zahrani seolah tak percaya jika Alinda bersedia menjadi temannya.


Alinda mengangguk. "Ya benar, Zahra. Lagi pula, di sini saya belum punya teman."


"Asyik! Zahra dapat teman baru," sorak Zahrani yang tampak senang.


"Alhamdulillah. Eh, sebentar lagi sampai," ucap Alinda.


Zahrani mengangguk. "Iya, Teh. Kalau siang-siang begini, Bi Herni sama Mang Agus biasanya nggak ada di rumah ya?"


"Iya. Mereka masih sibuk di kebun dan sawah," jawab Alinda.


"Nah, sudah sampai. Oh ya, kata Mak Armah, nanti sering-sering dikasih hangat-hangatan kakinya, Teh," ucap Zahrani mengingatkan.


"Iya, Zahra. Mampir dulu yuk ke dalam," ajak Alinda.


Zahrani tersenyum. "Terima kasih, Teh. Tapi, lain kali saja ya."


"Loh, kenapa nggak mampir dulu? Saya loh yang berterima kasih karena sudah ditolong," ucap Alinda.


Zahrani tersenyum. "Iya teh sama-sama. Ya sudah kalau gitu Zahra pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Oh, ternyata dia tinggal di sini. Hm," gumam Maher yang memantau dari kejauhan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2