Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 40


__ADS_3

Alinda menolehkan wajahnya saat ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan whatsapp masuk. Ia pun meraih ponselnya itu. Sejurus kemudian, dahinya berkerut saat ia melihat sebuah nomor yang sudah ia kenali setiap angkanya. Ya, itu adalah nomor Maher. Setiap hari, Maher memang selalu menghubungi dirinya. Sehingga hal itu membuat wanita berniqab itu sudah hafal dengan deretan angka yang menjadi nomor telepon Maher.


"Ada apa lagi lelaki tengil ini," gumam Alinda dengan ekspresi sebalnya.


Walau sebal dan tidak ingin mendapat chat dari Maher, Alinda tetap membuka chat itu. Seketika dahinya kembali berkerut dan sejurus kemudian ia pun memalingkan wajahnya dari layar ponselnya. Lelaki tampan yang bernama Maher itu ternyata tengah mengirim sebuah foto pada Alinda. Tentu saja hal itu membuat gadis cantik pemilik mata indah itu semakin jengkel dan muak dengan apa yang Maher lakukan. Padahal, ia sama sekali tidak meminta lelaki itu untuk mengirim foto padanya.


[Assalamu'alaikum, ukhti. Sekarang Aa Maher masih di Jakarta. Sebentar lagi akan meluncur ke desa. Tunggu dengan sabar, ya.]


Begitu pesan yang Maher kirim beserta sebuah foto dirinya yang sedang menyandar pada kursi. Siapa yang tidak jengkel dengan sikap Maher yang sok akrab dan terlalu lancang? Tentu saja Alinda pun tak dapat menahan kesalnya. Selain ia kaget, wanita cantik itu pun tak ingin mengotori matanya dengan memandang wajah Maher walau hanya sekedar foto di layar ponselnya.


"Kamu enggak balik lagi ke desa pun aku sungguh enggak peduli. Ya salam!" gerutu Alinda sebal.


Tak ingin mendapat gangguan dari Maher lagi, Alinda pun akhirnya memblokir nomor lelaki tampan itu. Bukan karena ia benci, tapi karena ia ingin menjaga jarak dengan lelaki yang bukan siapa-siapa baginya. Lagi pula, ia sering terganggu oleh pesan yang sering Maher kirim padanya.


"Syukurin! Aku blokir nomormu biar enggak bisa ganggu-ganggu aku lagi!" desis Alinda dengan ekspresi sebalnya.


Sementara itu di Jakarta, Maher tampak tersentak kaget saat ia mengetahui pemblokiran yang dilakukan oleh Alinda. Terdapat tulisan jika ia sudah tak dapat lagi mengirim pesan pada nomor Alinda. Tentu saja hal ini membuat lelaki tampan itu kesal dan tak habis pikir pada wanita yang ia kejar-kejar itu.

__ADS_1


"Benar-benar lancang! Berani sekali wanita itu memblokir nomor whatsappku. Awas saja kau, Alinda! Semakin kau menjauh, maka semakin semangat aku mendekatimu! Kamu akan terkejut dengan apa yang aku lakukan!" ucap Maher dengan tatapan tajamnya. Ia sungguh kesal karena Alinda sulit diluluhkan. Terlebih saat ia tahu bahwa wanita itu memblokir nomor whatsappnya.


"Bunganya sudah selesai, Kak," ucap seorang wanita dengan sopan dan ramah.


Maher sedikit tersentak kaget dan terpaksa harus meninggalkan lamunannya. "Oh, iya. Mana bunganya?"


"Ini, Kak. Silakan lakukan transaksi di bagian kasir," ucap si wanita itu.


Maher mengangguk. Ia pun meraih bucket bunga yang indah itu. Seketika senyumnya mengembang dengan sempurna. Ada sebuah tulisan yang terbuat dari Henna craft warna gold di bucket bunga itu. Ia pun begitu puas dengan hasil kerja karyawan toko bunga itu. Setelah melakukan transaksi di bagian kasir, ia pun memberikan sejumlah uang pada wanita yang tadi membuat bucket bunga itu.


"Tidak apa-apa, Kak. Ini sudah tugas saya dan tentunya saya sudah mendapat gaji dari toko ini," ucap si karyawan itu menolak dengan halus.


"Ya Allah, kalau gitu terima kasih banyak, Kak," ucap si karyawan itu penuh rasa syukur.


"Ya, sama-sama." Setelah dirasa cukup, Maher pun bergegas menancap gas motornya. Hari sudah sore, kemungkinan nanti malam ia baru akan sampai di desa kelahirannya itu.


***

__ADS_1


Sore ini Alinda kembali melangkahkan kakinya menuju gubug tempatnya menyendiri. Rencananya, ia akan menginap di gubug itu. Tentu saja ia sudah izin pada bibi serta mamangnya. Wanita cantik itu pun tak lupa membawa mukena, baju tidur dan bekal untuk makan jika ia merasa lapar. Camilan dan minuman yang Maher berikan padanya pun ia bawa.


Sesampainya di gubug, Alinda bergegas membuka pintu lalu mengucapkan salam. Setelah itu, ia pun masuk dan mulai menata barang-barangnya. Dari hari ke hari, gubug itu semakin terasa hangat dan bersahabat dengan Alinda. Ia sudah menghias gubug itu dengan kaligrafi buatannya sendiri. Selain itu, ia juga sudah merapikan gubug agar terlihat bersih dan nyaman untuk ditempati. Rencananya, ia akan mengajak Zahrani untuk bersantai di gubug itu. Namun, tidak untuk saat ini. Sebab, ia sendiri belum bertemu lagi dengan Zahrani setelah hari itu saat Zahrani mengundang Bi Herni untuk datang ke acara haul Abah Haji Musthofa.


"Malam ini aku akan tidur di sini. Semoga makhluk-makhluk Allah yang lainnya bersahabat dan menerima kehadiranku. Aku tidak akan merusak atau mengganggu. Kita semua sebagai mahluk yang sama-sama diciptakan oleh Allah, patut untuk saling menghargai dan menghormati. Jadi, masing-masing saja, ya. Hehe," ucap Alinda bicara sendiri.


Wanita cantik itu pun kini melepas niqabnya. Ia berdiri di dekat jendela yang terbuka. Manik matanya menatap anak sungai yang jernih dan damai. Sungai kecil itu aman dari binatang-binatang buas yang membahayakan seperti buaya dan ular. Karena, sungai itu airnya dangkal dan jernih. Terdapat banyak bebatuan kecil maupun besar.


Matahari kini benar-benar menyembunyikan dirinya dari dunia. Sinarnya yang indah itu pun sudah tidak terlihat lagi. Waktu maghrib sudah tiba, Alinda pun bergegas keluar dari gubug itu lalu mengambil air wudhu. Suasana gubug sudah tidak begitu dingin dan menyeramkan. Mungkin karena Alinda sudah sering datang dan menetap di sana. Area gubug itu pun cukup terbilang aman. Sebab, gubug itu berada di tengah-tengah pemukiman warga. Jadi, tidak akan ada yang bahaya. Apa lagi, masyarakat di desa itu tidak pernah macam-macam dan saling melindungi dan bergotong royong jika ada seorang warga yang tertimpa musibah.


"Alhamdulillah, aku sudah tidak mendapat gangguan lagi dari lelaki tengil dan tidak jelas itu. Habis ini pasti lelaki itu tidak akan bisa lagi menghubungi diriku," ucap Alinda saat ia sudah selesai melaksanakan shalat maghrib dan mengaji. Kini, ia sedang menunggu waktu isya.


Tok tok tok!


Terdengar ketukan pintu. Tentu saja hal itu membuat Alinda tersentak kaget dan langsung bangun dari duduknya. Siapa yang datang ke gubug itu? Ia sungguh takut lelaki itu adalah Maher.


"Assalamu'alaikum, Neng." Terdengar suara Bi Herni yang berhasil membuat Alinda membuang napasnya lega.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," sahut Alinda yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati pintu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2