Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 33


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, kaki Alinda kini sudah kembali sehat seperti semula. Sudah dapat berjalan dengan baik dan benar. Setiap saat ia mengolesi kakinya dengan minyak yang diberi oleh Mak Armah. Setiap hari pula Maher mengirim makanan padanya. Seakan tak mengenal yang namanya lelah dan bosan, walaupun Alinda mengabaikan dan bahkan tak pernah menanggapi chat dari Maher, akan tetapi lelaki tampan itu terus saja menghubungi wanita pemilik mata indah itu. Sampai detik ini pun, Maher terus mengirim pesan dan sering pula ia menelepon Alinda. Namun, sekali pun tak pernah Alinda jawab.


Walaupun abai dan tak pernah menanggapi Maher, kendati demikian makanan yang setiap hari lelaki tampan itu kirimkan padanya tetap ia makan dan habiskan. Bi Herni dengan Mang Agus pun tak luput dari kebagian makanan-makanan yang setiap hari dikirim oleh putra juragan kaya itu. Tentu saja mereka tidak ingin membuang-buang makanan, karena itu mubazir. Lagi pula, rezeki itu tidak bagus ditolak. Maka dari itu Alinda selalu mengajak Bi Herni dengan Mang Agus untuk menikmati makanan yang dikirim pada mereka.


"Sebenarnya, siapa sih pengirim makanan ini, Neng?" tanya Bi Herni dengan ekspresi herannya.


Ya, selama ini Alinda memang tidak memberitahu siapa sosok pengirim makanan itu. Ia belum berani mengungkap tentang Maher. Sebab, ia yakin Bibi dan Pamannya itu akan terkejut dan melarangnya untuk keluar rumah lagi. Termasuk datang ke gubug yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan.


"Emh, itu ... ada seseorang, Bi. Hamba Allah yang baik," jawab Alinda yang terus menutupi siapa pengirim makanan itu.


"Siapa namanya, Neng? Orang mana dan anak siapa? Bibi juga harus tahu, dong!" desak Bi Herni.


Alinda mengusap wajahnya. "Untuk apa Bibi tahu?"


"Ya kalau sudah tahu kan enak, Neng. Ini makanan, Bibi sama Mamang juga menikmati, loh. Kalau Bibi sudah tahu siapa orangnya kan misalnya kalau ketemu, setidaknya bisa ngucapin terima kasih gitu, Neng," ujar Bi Herni penuh penekanan.


Alinda manggut-manggut tanda mengerti. Hal wajar jika Bibinya itu sangat ingin tahu. Namun, tetap saja ia masih belum siap dan tak ingin memberitahu sosok yang sering mengirim makanan padanya.


"Pokoknya ada hamba Allah, Bi. Alin nggak bisa sebutkan namanya," ucap Alinda seraya mengupas kulit jeruk.


"Hm, ya sudah kalau begitu. Tapi, Bibi akan tetap menunggu Neng untuk mengatakan siapa orang yang mengirim makanan-makanan ini," ujar Bi Herni seraya berlalu meninggalkan Alinda yang masih duduk di ruang tamu.


"Maaf, Bi. Bukannya Alin bermaksud untuk bersandiwara dan berbohong. Tapi ... Alin sungguh tidak siap dan tidak akan mengatakan siapa yang sudah mengirim makanan itu pada Alin," ucap Alinda dalam hati.


"Assalamu'alaikum!" Terdengar seseorang mengucapkan salam di depan rumah.


Sontak saja hal itu membuat Alinda terpaksa harus meninggalkan lamunannya. "Waalaikumsalam." Ia menjawab seraya bangun dari duduknya. Dapat ia dengar jika itu suara seorang wanita.


"Siapa itu, Neng?" tanya Bi Herni yang kembali dari dapur.


"Tidak tahu, Bi. Biar Alin saja yang membukanya," jawab Alinda yang kemudian mendekati pintu.


Bi Herni mengangguk. Ia pun hanya berdiri di depan kamarnya. Sementara Alinda kini sudah membuka pintu.

__ADS_1


"Zahrani!" ucap Alinda saat ia melihat sosok wanita yang mengucapkan salam tadi.


Zahrani tersenyum. "Teh Alinda. Gimana kabarnya, Teh?" Ia pun menyalami tangan Alinda lalu cipika cipiki.


"Alhamdulillah sehat. Ayo silakan masuk," jawab Alinda seraya mengajak Zahrani masuk.


Zahrani mengangguk. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sederhana itu. Ini kali pertamanya Zahrani berkunjung ke rumah Bi Herni.


"Maa syaa Allah, ada Neng Zahra." Bi Herni tampak antusias saat melihat Zahrani.


Zahrani tersenyum. "Iya, Bi. Zahra baru tahu kalau Bi Herni teh punya keponakan yang tinggal di rumah ini."


"Hehe, makanya sering main ke sini, Neng," ucap Bi Herni.


Zahrani tersenyum hangat. "Ini juga sedang main, Bi. Hehe."


"Main juga setelah kenal dengan Neng Alin," sindir Bi Herni seraya tersenyum usil.


"Hehe, benar juga ya. Neng Zahra mau minum apa?" tanya Bi Herni.


"Emh, tidak usah repot-repot, Bi. Ke sini juga cuma sebentar doang kok," tolak Zahrani dengan halus.


"Loh, kok sebentar?" tanya Bi Herni.


"Iya, Bi. Zahra ke sini ingin menyampaikan undangan ini pada Bi Herni," ucap Zahrani seraya memberikan secarik kertas undangan pada Bi Herni.


"Undangan apa ini teh, Neng?" tanya Bi Herni seraya meraih undangan yang Zahrani berikan padanya.


"Undangan dari Abah sama Umi, Bi. Minggu depan kan haul almarhum Abah tua," jawab Zahrani.


"Oh, haul Abah Musthofa, ya. Ya Allah, sampai lupa Bi Herni ini," ucap Bi Herni seraya menepuk jidatnya sendiri.


"Masih muda kok sudah pikun, Bi. Hehe," ledek Zahrani, "oh ya, Teh Alin juga nanti hadir, ya. Acaranya ramai, loh. Nanti bakalan ada Habib yang ceramah," lanjutnya bicara pada Alinda.

__ADS_1


"In syaa Allah ya, Zahra," ucap Alinda dengan lembut.


"Harus dong, Teh. Kan sudah diundang," ujar Zahrani mendesak.


"Tuh dengar, Neng. Harus datang! Ini kan acara haul akbar," timpal Bi Herni.


Alinda tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bi. In syaa Allah nanti ikut sama Bibi."


"Teh Alin belum pernah ke pendopo baru, ya? Nanti acaranya juga di sana," ucap Zahrani.


"Belum, Zahra," jawab Alinda.


"Waktu itu sudah Bi Herni ajakin, Neng. Tapi Neng Alinnya yang nggak mau ikut. Malu katanya," ucap Bi Herni.


"Oh, gitu. Kali ini harus ikut ya, Teh. Kalau bisa ikut pengajian rutinan juga. Kalau malu, nanti Zahra jemput deh," ujar Zahrani.


"Hehehe, tidak usah repot-repot sampai ngejemput segala, Zahra. Nanti pasti ikut kok sama Bi Herni," ucap Alinda.


Tok tok tok!


Ketukan pintu membuat ketiga wanita yang sedang berbincang itu teralihkan perhatiannya. Mereka saling beradu pandang dan memberi pertanyaan satu sama lain. Hingga pada akhirnya Bi Herni bangkit dan mendekati pintu.


"Selamat siang, Ceu. Ini kiriman hari ke lima belas untuk ukhti Alinda," ucap seorang laki-laki yang sudah tak asing lagi bagi Bi Herni. Ya, karena lelaki itu yang setiap hari mengantarkan bingkisan dari Maher untuk Alinda.


"Selamat siang. Baik, terima kasih, ya. Lain kali kalau datang lagi, tolong ucapkan salam, ya," ujar Bi Herni penuh penegasan.


"Oh iya, Ceu," jawab lelaki itu seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. Setelah itu, ia pun langsung pergi kembali.


"Siapa, Bi?" tanya Alinda.


"Biasa, Neng." Bi Herni menjawab sambil meletakkan bingkisan di atas meja.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2