
"Ada apa ya, Teh?" Kembali, Arafat membuka suaranya. Sejak tadi, Khanidah diam dan hanya melongo menatap pria tampan itu.
Sontak saja Khanidah tersentak kaget mendengar ucapan lelaki tampan di hadapannya itu. Rupanya ia tadi mendadak menjadi patung. Kini, ia mengerjapkan mata dan mengutuki kecerobohannya sendiri. Ya, malu sekali ia pada pria di hadapannya itu. Terlihat jelas jika ia tadi tercengang dan terpukau melihat sosok pria tampan yang baru saja ia jumpai.
"Ah, maaf. Tadi aku sedikit melamun," ucap Khanidah beralasan.
Arafat tersenyum kecil dan mengangguk sopan. "Ada yang bisa saya bantu?" Ia bertanya dengan lembut dan hangat.
"Emh, tidak ada, Kang." Khanidah menjawab singkat. Namun, ekspresi wajahnya kini sangat kaku dan seperti ada yang membuatnya kebingungan.
Arafat mengernyitkan dahi menatap tak mengerti. "Kalau tidak ada, kenapa tadi memanggil saya, Teh?"
Sontak saja Khanidah menelan ludahnya kasar dan merasa tertampar oleh pertanyaan lelaki tampan di hadapannya itu. "Ah iya, kok aku mendadak amnesia, ya." Ia kini menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal.
Arafat hanya tersenyum simpul dan sungguh ia mengerti mengapa wanita cantik di hadapannya itu terlihat kikuk dan salah tingkah. Hm, Arafat memang tampan. Semua orang mengakui ketampanannya. Maka tak heran jika wanita cantik di hadapannya itu pun tampak terpesona padanya.
"Tadi aku mau minta tolong sih sebenarnya," lanjut Khanidah yang akhirnya memberanikan dirinya.
"Ya, minta tolong apa, Teh? Kebetulan saya juga pengunjung di Taman Nusantara ini." Ia memberi kode keras bahwa dirinya bukanlah petugas Taman Nusantara itu.
Khanidah mengangguk mengerti. Tidak mungkin pula seorang petugas di Taman Nusantara mengenakan pakaian ala santri seperti itu. Ada-ada saja.
"Ya, aku sudah tahu," ucap Khanidah enteng.
"Alhamdulillah kalau sudah tahu. Berarti si Teteh hebat. Bisa tahu walau saya belum memberitahu," kata Arafat seraya memasukkan benda pipih bernama telepon seluler ke dalam saku kemeja kokonya.
Khanidah ingin tertawa lepas, merasa lucu dengan ucapan pria tampan di hadapannya itu. Namun, hal itu harus ia tahan karena sedang menjaga imej. Tentu saja karena ia baru pertama kali bertemu dengan lelaki tampan yang membuatnya terpana.
"Hehehe, itu karena penampilan dan wajah kamu, Kang," ucap Khanidah seraya menunduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya ke kanan dan ke kiri dengan santai seperti di pantai.
__ADS_1
"Ada apa dengan penampilan saya, Teh? Dan dengan wajah saya?" tanya Arafat yang berhasil membuat Khanidah sedikit tersentak kaget.
"Ah itu ... anu, emh!" Khanidah tergagap. Bingung dengan situasi saat ini.
"Hayo, kenapa hayo!" Arafat bahkan seperti orang yang sudah lama kenal dengan wanita cantik di hadapannya. Padahal, namanya saja ia tidak tahu.
"Karena tidak pakai seragam petugas atuh," jawab Khanidah dengan penuh percaya diri. Ia telah mendapatkan jawaban yang tepat.
"Oh iya, benar juga." Arafat menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Manis banget sih," gumam Khanidah dalam hati.
"Jadi, butuh bantuan apa? Kalau bisa, maka akan saya bantu. Tapi, kalau tidak bisa ... saya akan minta bantuan pada orang lain. Hehe," ucap Arafat diiringi cengengesnya.
Khanidah tampak melipat bibirnya ke dalam. Menahan tawa agar tidak meledak. Lucu juga pria yang berwajah tampan di hadapannya ini.
"Hanya minta tolong fotokan," ucap Khanidah seraya menyodorkan ponselnya ke hadapan Arafat.
"Baik, Teh." Arafat pun meraih ponsel yang wanita cantik itu berikan padanya.
"Berhenti dong manggil aku Teteh. Memangnya tidak bisa lihat seberapa mudanya wajah aku ini!" omel Khanidah yang tidak terima terus-terusan dipanggil Teteh.
Arafat terkekeh. "Kalau tidak panggil Teteh. Lantas, panggil apa lagi?" Ia bertanya santai.
Khanidah tampak terdiam dan bingung harus menjawab apa. Benar juga. Bagaimanapun, mereka berdua belum berkenalan dan tentu saja tidak tahu nama masing-masing.
"Emh, kalau gitu kenalkan, aku Khanidah. Jadi, panggil saja Nidah," ucap Khanidah yang akhirnya memperkenalkan dirinya tanpa diminta oleh lelaki tampan di hadapannya itu.
Sontak saja Arafat membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kaget pada Khanidah. Ya, tentu saja ia seperti mengingat sesuatu. Khanidah! Nama itulah yang membuatnya terkejut. Seingat dia, wanita yang saat ini akan bertemu dengan kakaknya—Destaqi, memiliki nama serupa dengan wanita di hadapannya itu.
__ADS_1
"Khanidah? Allahu Akbar! Apakah wanita ini yang akan dijodohkan dengan Aa Taqi?" gumam Arafat dalam hati.
Diam dan bengongnya Arafat membuat Khanidah keheranan. Ia yang tadi tersenyum manis setelah mengenalkan namanya, kini tampak mengerutkan dahinya dan menatap heran. Pasalnya, tiba-tiba saja lelaki tampan di hadapannya itu diam dan hanya menatap bengong seperti orang kaget.
"Ehem!" Khanidah akhirnya mendeham agar membuyarkan lamunan lelaki tampan di hadapannya itu.
"Astaghfirullah!" desis Arafat seraya mengusap wajahnya.
"Kok bengong? Jadi mau fotoin nggak, Kang?" tanya Khanidah yang seperti sudah kenal lama dengan Arafat. Keduanya sama-sama mudah kenal dan ramah.
"I–iya, jadi." Arafat menjawab sedikit gugup.
"Saya akan foto di sini, ya. Nanti ambil dari belakang saja. Tolong fotokan dengan baik dan benar," ucap Khanidah sudah seperti seorang model yang akan melakukan sesi pemotretan.
Arafat hanya mengangguk pasrah. Ia tak menyangka jika wanita cantik itu berani menyuruh-nyuruh dirinya. Mungkin jika tahu kalau ia adalah adik Ustadz Destaqi, maka pasti Khanidah tidak akan berani melakukan itu.
"Satu, dua, tiga!" ucap Arafat saat kamera telah fokus.
Khanidah tersenyum dan memilih pose yang lain. Sudah mendapat lima pose di tempat yang berbeda namun masih satu lingkungan. Sungguh ia seperti melupakan tujuannya datang ke Taman Nusantara ini.
Drrrt... Drrrt...
Saat Arafat masih memfokuskan kamera, tiba-tiba saja ada telepon masuk ke dalam ponsel milik Khanidah yang ada di tangannya. Tentu saja hal itu membuatnya langsung memberikan ponsel itu pada pemiliknya. "Ini ada telepon."
"Ya Salam! Mengganggu saja!" dengus Khanidah sedikit kesal.
Akhirnya Khanidah pun menggeser layar ponselnya. Menjawab telepon yang ternyata adalah sang bunda. Sementara Arafat sendiri pun mengecek ponselnya. Ternyata, sang kakak pun mengirim pesan padanya. Memintanya untuk segera gabung ke meja yang tadi karena kedua orang tua Khanidah sudah ada di sana.
"Allahu Akbar. Sepertinya memang benar. Wanita ini calon istri Aa Taqi. Hm, cantik juga. Eh," gumam Arafat dalam hati.
__ADS_1
Sementara Khanidah sedang bicara dengan seseorang di seberang telepon, Arafat diam-diam melangkahkan kakinya meninggalkan wanita cantik itu tanpa berpamitan. Tentu saja ia sudah harus lebih dulu ada di sana sebelum Khanidah. Terbersit rasa penasaran juga dari dirinya. Tidak mustahil jika Khanidah yang ia temui saat ini ternyata bukan calon istri kakaknya. Sebab, pasti di dunia ini yang memiliki nama Khanidah bukan satu saja.
BERSAMBUNG...