Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 30


__ADS_3

"Astaghfirullahaladzim! Bukan begitu maksud Bibi, Neng!" tepis Bi Herni dengan ekspresi yang serius.


"Terus, maksud Bibi apa? Ya Allah. Jujur dan demi apa pun Alin tidak punya kekasih di dunia ini, Bi. Kekasih Alin hanya Rosulullah shalallahu alaihi wasallam!" ujar Alinda penuh penegasan dan penekanan. Ia sungguh tak ingin Bibi dan Pamannya berpikir yang bukan-bukan tentangnya.


Apa mungkin kesenangan Alinda pada gubug yang ia huni itu membuat sang Bibi dan Pamannya berpikir buruk padanya? Atau ada seseorang yang membuat skenario buruk agar membuat Alinda tidak menghuni gubug yang katanya angker itu? Sungguh Alinda bingung memikirkan hal ini. Mengapa sang Bibi bisa tiba-tiba menanyakan perihal kekasih padanya.


Bi Herni menatap wajah keponakannya dengan lekat dan serius. Jika dipikir-pikir, memang tidak ada gurat kebohongan di wajah cantik Alinda. Ia pun menoleh pada suaminya yang masih berdiri di ambang pintu. Meminta persetujuan selanjutnya.


"Baiklah. Kami percaya," ucap Mang Agus pada akhirnya.


Alinda membuang napas lega. Akhirnya Paman dan Bibinya bisa mempercayai ucapannya. Pasalnya, ia sangat takut tidak diperbolehkan lagi untuk mengunjungi gubug yang menjadi tempat terindah baginya.


"Tapi, Neng. Kalau Neng tidak punya kekasih, apakah Neng punya teman laki-laki?" tanya Bi Herni lagi. Sepertinya ia masih penasaran.


Alinda menggeleng. "Di sini, Alin tidak punya, Bi. Kalau di Jakarta, Alin masih punya. Tapi, itu pun bukan teman dekat. Memangnya kenapa, Bi? Sebenarnya ada apa? Kenapa Bibi sampai menanyakan hal ini?"


"Anu, Neng. Tadi ada seorang pria datang mengirim ini untuk Neng," ucap Bi Herni seraya memberikan sebuah bingkisan pada keponakannya.


Alinda tampak mengerutkan dahinya dan menatap heran. Namun, ia tetap meraihnya dan mulai memeriksa apa isi yang ada di dalamnya. Setelah ia periksa, ternyata isinya adalah buah-buahan, susu steril kaleng, biskuit, camilan, dan makanan lainnya. Tentu saja hal itu membuat wanita pemilik mata indah itu kaget, heran dan bertanya-tanya.


"Maa syaa Allah! Dari siapa ini, Bi? Kenapa banyak sekali kirimannya," ucap Alinda setengah tak percaya.


Bi Herni menggeleng. "Bibi juga tidak tahu, Neng. Tadi yang datang ke sini seorang lelaki. Tapi, Bibi tidak mengenalnya."


"Maka dari itu kami bertanya pada Neng, apakah Neng punya kekasih atau mungkin teman laki-laki di sini. Ternyata Neng tidak punya kedua-duanya. Pertanyaannya, siapa orang yang mengirim bingkisan ini pada Neng?" timpal Mang Agus.

__ADS_1


Alinda mengusap wajahnya lalu menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Alin juga tidak tahu, Mang. Oh ya, memangnya lelaki yang datang tadi tidak bilang apa pun?"


"Dia hanya bilang ini bingkisan untuk Neng. Saat Bibi tanya dari siapa, dia jawab dari seseorang yang peduli. Begitu katanya," ungkap Bi Herni yang berhasil membuat Alinda harus memutar otaknya.


Alinda terdiam dan terus berpikir. Dari orang yang peduli? Siapa? Di tempat itu, hanya Bi Herni dan Mang Agus yang sangat peduli padanya. Lantas, siapa orang itu?


"Ya Allah! Siapa yang mengirim bingkisan ini padaku?" gumam Alinda dalam hati.


Wanita cantik itu terus berpikir keras. Ia tidak ingin sampai menghabiskan makanan yang syubhat itu. Ia sendiri tidak tahu siapa dan apa tujuan orang itu mengiriminya makanan yang banyak seperti itu. Ia juga tidak tahu apakah makanan itu didapatkan dari uang halal atau haram. Tentu saja ini masih syubhat.


"Sepertinya—" Belum sampai Bi Herni menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba telepon seluler milik Alinda berdering. Itu artinya ada sebuah panggilan masuk. Hal itu membuat Bi Herni menjeda ucapannya.


"Siapa yang menelepon," gumam Alinda seraya meraih ponselnya di sampingnya.


Alinda mengamati layar ponselnya. Beberapa angka terpampang nyata di layar telepon. Ternyata, sebuah nomor tak dikenal yang tengah menelepon Alinda.


"Nomor baru," ucap Alinda sambil mengerutkan dahinya.


"Angkat saja, Neng. Siapa tahu penting," perintah Mang Agus tanpa curiga sedikitpun.


Alinda tampak masih diam dan ragu. Jujur saja, ia paling malas menjawab telepon dari nomor baru yang tidak ia kenali. Sebab, pernah beberapa tahun lalu ia ditelepon oleh nomor baru. Saat diangkat, ternyata hanya orang-orang yang iseng dan menginginkan sesuatu dari Alinda. Tentunya hal itu membuat wanita cantik itu menjadi malas menanggapi nomor baru yang tak dikenal.


"Sudah dimatikan," ucap Alinda saat dering di ponselnya berhenti. Si penelepon sudah mematikannya.


"Teman Neng di Jakarta kali," tebak Bi Herni.

__ADS_1


"Entahlah, Bi. Tidak usah dipikirkan," ucap Alinda, "oh ya, soal bingkisan ini ... jangan dulu dimakan, ya," lanjutnya.


"Loh, kenapa begitu, Neng?" tanya Bi Herni tak mengerti.


"Ya pasti karena si pengirimnya tidak jelas, Neng. Kita kan tidak tahu siapa yang mengirim makanan itu. Entah orang jahat atau orang baik. Entah makanan ini masih bagus atau mungkin ada racunnya. Kita harus tetap hati-hati," timpal Mang Agus.


"Nah, benar. Selain itu, makanan ini masih syubhat, Mang. Kita tidak tahu ini halal atau haram. Jadi, lebih baik kita diamkan saja dulu sebelum semuanya jelas. Sebab, Allah memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan yang halalan thoyyibah. Artinya, yang halal dan yang baik. Kalau dilihat dari semua makanan dan minuman ini, in syaa Allah halal karena tidak mengandung zat haram. Tetapi ... dari status makanan ini, kita sungguh tidak tahu. Lebih baik kita tunggu sampai pengirimnya jelas," ujar Alinda panjang lebar.


Mang Agus dan Bi Herni manggut-manggut tanda mengerti. Setelah mendengar penjelasan Alinda, kedua orang itu sedikit berpikir jernih soal makanan yang halal dan baik. Tubuh manusia butuh makanan, akan tetapi, carilah makanan yang halal dan baik. Jangan sampai memakan makanan yang tidak baik. Makanan baik itu yang masih layak dikonsumsi dan tidak mengandung racun atau kotoran. Sementara makanan haram itu adalah makanan yang mengandung zat yang dilarang oleh agama dan syariat islam. Makanan yang dihasilkan dari uang haram, misalnya dari hasil mencuri dan cara curang lainnya.


"Ya sudah kalau gitu taruh di kulkas saja ya, Neng," ucap Bi Herni.


Alinda mengangguk. "Iya, Bi."


"Neng istirahat, ini sudah malam. Bibi sama Mamang juga mau istirahat," ucap Bi Herni seraya bangkit dari duduknya.


"Iya, Bi. Jangan lupa baca doa," jawab Alinda seraya mengingatkan Bibinya.


"Siap, Neng cantik," balas Bi Herni, "oh ya, jangan lupa diolesin minyak lagi nanti, Neng," lanjutnya.


"Iya, Bi. Tadi sudah Alin olesin," jawab Alinda.


Setelah dirasa cukup, Bi Herni dan Mang Agus pun berlalu. Setelah pintu tertutup, Alinda kembali meraih ponselnya. Menatap nomor telepon yang baru beberapa menit menghubunginya. Siapa penelepon itu?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2