
Alinda menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun, ia tidak bercerita jika ada seorang lelaki yang mengganggunya sehingga membuat dirinya terjatuh sampai kakinya keseleo. Jika ia bercerita, tentunya takut sang bibi akan khawatir dan membuatnya tidak diperbolehkan lagi bermalam atau menghabiskan waktu di gubug tempat berkhalwatnya.
"Jadi, Neng Zahra yang menolong Neng Alin, ya?" tanya Bi Herni kembali memastikan.
Alinda mengangguk. Terpaksa ia berbohong seperti ini. Namun, ia tak sepenuhnya berbohong. Sebab, Zahrani memang orang yang telah menolongnya. Walaupun ada Maher yang sungguh bertanggung jawab atas apa yang telah lelaki itu lakukan padanya.
"Iya, Bi. Alin dibawa ke rumah Mak Armah untuk diurut. Ini nggak apa-apa kok, cuma cedera kecil saja. Kata Mak Armah, cukup istirahat dan sering-sering diolesin minyak ini," ucap Alinda seraya menunjukkan sebotol minyak yang diberi oleh Mak Armah tadi.
"Ya Allah, untung loh ada Neng Zahra. Gimana kalau nggak ada beliau, siapa yang mau nolong, coba? Neng Zahra itu putri bungsu Abah Haji Muhajir, Neng. Itu, yang punya sawah yang sekarang diurus sama Mang Agus," ungkap Bi Herni antusias. Ia pun meraih sebotol minyak yang Alinda tunjukkan tadi.
"Oh, pantas saja orangnya ramah dan baik ya, Bi. Ternyata putri kiyai besar," ucap Alinda kagum.
"Iya. Sini Bibi olesin. Diamkan dulu beberapa menit, habis itu mandi, shalat ashar terus nanti makan, ya." Bi Herni mulai membuka tutup botol minyak obat di tangannya.
Alinda mengangguk. Ia sangat bahagia karena sang bibi begitu perhatian. Sama seperti Bundanya dulu. Perhatian dan baik sekali.
Di sudut lain, Ustadz Destaqi tampak termangu bingung di dalam kamarnya. Saat kembali dari pertemuan dengan Khanidah, ia dilanda gusar karena dalam dadanya tak ada sedikit pun pergetaran. Tentu saja itu hal yang dikatakan tidak ada rasa apa-apa. Jika ada getaran sedikit saja, maka itu artinya ia telah jatuh cinta. Namun, ini sungguh berbeda.
"Bagaimana ini? Tak ada sedikit pun getaran di hatiku saat menatap wajahnya. Kuakui, Khanidah memang cukup manis dengan wajah yang lumayan cantik. Tapi, kenapa dadaku biasa saja ketika menatap wajahnya? Apa karena aku benar-benar tidak memiliki perasaan apa-apa padanya?" gumam Ustadz Destaqi dengan tatapan kosong memandang langit-langit kamarnya.
Jatuh cinta itu memang gampang-gampang sulit. Buktinya, ada saja orang seperti Ustadz Destaqi. Walau sudah dari jauh-jauh hari indera pendengarannya dipenuhi oleh Khanidah, tapi saat bertemu, tak ada rasa cinta di hatinya. Mungkin, jika ia memaksa tetap menikah, perasaan cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Seperti kata pepatah, lama-lama hidup bersama, timbullah rasa cinta. Mungkin itu juga yang akan terjadi pada Ustadz Destaqi dengan Khanidah.
__ADS_1
"Wanita itu pun sepertinya tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Lihat, dia belum ada menghubungiku. Hm," gumam Ustadz Destaqi seraya melirik pada benda pipih di tangannya.
"Iya! Zahra nggak ke mana-mana, Umi! Zahra habis dari mengajar, langsung pulang. Nggak sengaja bertemu dengan seseorang yang sedang mendapat musibah. Zahra tolong karena wanita itu sedang kesulitan." Terdengar samar-samar suara sang adik bungsu di luar kamar. Sepertinya sedang terjadi kekacauan. Terdengar dari nada bicaranya, Zahrani sedang menjelaskan apa yang ia lakukan tadi.
"Ada apa? Sepertinya aku harus keluar," ucap Ustadz Destaqi yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Siapa wanita itu? Dan, musibah apa yang ia dapat?" selidik Nyai Hajah Suranih yang terus memojokkan putri bungsunya. Ia memang sensitif, selalu takut putrinya ikut-ikutan dengan pergaulan yang tidak benar.
"Namanya Alinda. Beliau orang baru di sini. Keponakannya Bi Herni sama Mang Agus. Di jalan tadi, Zahra menemukannya sedang terjatuh karena dikejar-kejar oleh si putra tunggal juragan Sanjaya. Akhirnya Zahra berhenti dulu, membantunya berdiri dan mengajaknya ke rumah Mak Armah. Untungnya, Aa Maher mau bertanggung jawab. Sepertinya dia memang jatuh cinta sama Teh Alinda," papar Zahrani menjelaskan dengan detail.
"Kenapa bisa begitu? Ada apa Maher ngejar-ngejar wanita itu?" tanya Ustadz Destaqi yang kini sudah berada di tengah-tengah Zahrani dan Uminya.
"Tidak tahu. Mungkin Aa Maher jatuh cinta. Tapi, Teh Alinda sendiri tidak mengenal Aa Maher. Lagi pula, Teh Alinda itu memakai niqab. Pasti wajahnya tidak terlihat," jawab Zahrani.
"Ya, sepertinya wanita yang tadi kita lihat di jalan, Mi. Kalau tidak bisa melihat wajahnya, bagaimana Maher bisa jatuh cinta?" ucap Ustadz Destaqi.
"Jatuh cinta itu tidak mesti dari wajah kali, A. Wajah itu tidak menjadi patokan. Kalau sudah ada cinta, dengan melihat matanya saja bisa langsung jatuh cinta. Atau mungkin jatuh cinta pada akhlak dan kepribadiannya," ujar Zahrani yang kini seperti pernah merasakan indahnya cinta.
"Oh, begitu ya. Tapi, sepertinya ini sedikit rumit. Biasanya 'kan, wajah yang lebih dulu membuat jatuh cinta," seloroh Ustadz Destaqi sambil tersenyum usil.
"Ini beda, A. Teh Alin memang sangat cantik. Zahra sendiri sudah melihat wajahnya tanpa niqab. Cantik banget. Nggak pakai niqab saja, sudah terlihat cantik dari matanya. Pokoknya kalau Aa bertemu dengannya, pasti akan jatuh cinta," ujar Zahrani panjang lebar.
__ADS_1
"Hust! Aa-mu sudah punya Khanidah! Tidak mungkin bisa diganggu gugat," tegas Nyai Hajah Suranih tanpa bantahan.
Zahrani nyengenges tanpa dosa sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Hehehe, maaf, Umi. Zahra lupa."
Diam-diam Ustadz Destaqi membayangkan bagaimana cantiknya wanita berniqab yang tadi siang sempat ia lihat di jalan. Seperti yang Zahrani katakan, matanya sangat indah dan wajahnya begitu cantik. Ia yakin wanita itu memang cantik, buktinya bisa membuat Maher jatuh cinta. Ya, walaupun ini hanya praduga Zahrani, tapi tetap saja membuat siapa pun bisa berpikir jika Alinda memang memiliki kecantikan yang luar biasa.
"Astaghfirullahaladzim!" desis Ustadz Destaqi seraya menggeleng kecil dan mengerjapkan matanya.
"Kenapa, Taqi? Oh ya, kalian sudah berkomunikasi lewat WhatsApp, belum?" tanya Nyai Hajah Suranih penuh selidik.
Ustadz Destaqi menggeleng kecil dan membuang napasnya berat. "Belum, Mi." Menjawab singkat dan seperti malas-malas.
"Loh, kenapa belum, A? Bukannya ini kesempatan untuk kalian berdua agar bisa saling mengenal dan memahami karakteristik satu sama lain?" tanya Zahrani heran.
"Hm, kepo kamu, Dek." Ustadz Destaqi mengacak puncak kepala adiknya.
"Benar yang adikmu katakan, Taqi. Mestinya kalian sudah saling bertukar kabar," timpal Nyai Hajah Suranih mendukung ucapan putri bungsunya.
Ustadz Destaqi mengusap wajahnya kasar. "Beliau belum ada mengabari Taqi, Umi."
"Ya kamu dong yang kabarin lebih dulu. Mungkin Khanidah malu mau ngabarin duluan," ujar Nyai Hajah Suranih penuh penegasan.
__ADS_1
Ustadz Destaqi hanya mengangguk kecil dan tak lagi menanggapi. Ia sendiri bingung harus mulai dari mana kalau misalnya menghubungi nomor Khanidah. Ditambah lagi, ia kurang bersemangat atas perjodohan ini.
BERSAMBUNG...